Integritas Sumur Migas dan Geothermal di Indonesia: Mengapa “Lubang di Bumi” Bisa Menjadi Risiko Terbesar dalam Transisi Energi

Dipublikasikan oleh Guard Ganesia Wahyuwidayat

19 Januari 2026, 18.49

1. Pendahuluan

Kalau kita mendengar kata “sumur,” gambaran pertama yang muncul biasanya sederhana: lubang di tanah, air di bawahnya, lalu timba atau pompa mengangkat air ke atas. Konsep ini sudah sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Sumur terasa seperti teknologi yang “selalu ada,” sesuatu yang kita warisi tanpa perlu banyak berpikir ulang.

Tetapi begitu kata sumur dipasangkan dengan migas atau geothermal, suasananya berubah total.

Sumur migas dan geothermal bukan lagi sekadar lubang vertikal yang diam dan aman. Ia bisa menembus ribuan meter, melewati banyak lapisan batuan, menghadapi tekanan dan temperatur ekstrem, dan sering kali harus dibangun di lokasi yang tidak ideal secara geografis maupun sosial. Ia adalah konstruksi bawah tanah yang bekerja di lingkungan paling tidak ramah, tetapi dituntut tetap stabil selama bertahun-tahun.

Yang lebih penting: sumur bukan hanya alat untuk mengambil energi, tetapi juga “titik lemah” yang dapat menjadi sumber bahaya jika tidak dikelola dengan disiplin.

Dalam industri migas dan panas bumi, salah satu kata kunci yang menentukan apakah operasi berjalan aman atau berubah menjadi bencana adalah integritas sumur. Integritas di sini bukan sekadar makna moral. Integritas adalah mutu, sifat, dan kondisi yang menunjukkan kesatuan yang utuh, sehingga sumur tetap punya kemampuan penuh menjalankan fungsinya. Dengan kata lain, integritas sumur berarti sumur harus tetap tertutup rapat terhadap kebocoran, tetap kuat secara mekanik, dan tetap bisa dikendalikan dalam seluruh siklus hidupnya.

Artikel ini membahas integritas sumur migas dan geothermal di Indonesia secara naratif-analitis: dari konsep dasar, desain dan pengeboran, tantangan operasional, sampai isu terbaru seperti pemanfaatan sumur untuk carbon capture, utilization and storage (CCUS). Pembahasannya diarahkan pada satu kesimpulan yang terasa penting: sumur adalah aset, tetapi ia juga bisa menjadi risiko terbesar jika standar, kompetensi, dan tata kelolanya tidak kuat.

 

2. Sumur Itu Sederhana di Permukaan, Rumit di Kedalaman

Ada paradoks menarik dalam dunia sumur. Secara konsep, sumur terlihat sangat sederhana: kita membuat lubang, memasang selubung agar dinding stabil, lalu mengambil fluida dari bawah permukaan. Itu saja. Bahkan ribuan tahun lalu, konsep serupa sudah digunakan, misalnya pada pembuatan sumur di Tiongkok. Artinya, gagasan dasar sumur bukanlah hal baru.

Namun yang membedakan sumur migas dan geothermal dari sumur air biasa adalah kompleksitas kedalaman dan risiko.

Sumur air biasanya relatif dangkal dan risikonya lebih mudah dikendalikan. Sumur migas dan geothermal bisa sangat dalam, melewati banyak jenis lapisan batuan, dan menghadapi tekanan yang bisa berbahaya jika terjadi kegagalan kontrol. Bahkan aspek yang terlihat sepele seperti “boleh merokok atau tidak” pun punya makna serius. Pada sumur air, orang mungkin masih santai. Pada sumur migas, kesalahan kecil bisa berubah menjadi kecelakaan besar.

Menariknya, perkembangan teknologi juga membuat sumur tidak lagi harus vertikal. Di kondisi tertentu, sumur bisa dibuat miring atau horizontal. Ada kasus di wilayah yang padat pemukiman, di mana membuat rig tepat di atas target reservoir menjadi tidak memungkinkan. Maka solusinya adalah membelokkan lintasan sumur. Bahkan teknologi modern memungkinkan sumur horizontal mencapai panjang belasan kilometer.

Panjang ini bukan sekadar angka. Ia adalah simbol bahwa sumur adalah proyek rekayasa presisi. Dalam jarak belasan kilometer, lubang bor tetap harus berada di jalur yang tepat, tetap stabil, dan tetap aman.

Di sisi lain, ada realitas pekerjaan pengeboran yang jarang dibicarakan di luar industri: ini adalah kerja yang berjalan 24 jam sehari, 7 hari seminggu, di lokasi terpencil, dan sering kali jauh dari kenyamanan kota. Banyak orang mengira kerja migas identik dengan gaji besar, padahal yang lebih dominan adalah kondisi kerja ekstrem, tekanan operasional, dan risiko yang tidak ringan. Dalam konteks integritas, ini penting karena keselamatan bukan hanya soal alat, tetapi juga soal manusia yang menjalankan prosedur dengan konsisten.

Hal lain yang membuat integritas sumur semakin kritikal adalah biaya.

Dalam banyak proyek migas dan geothermal, pengeboran dan konstruksi sumur memakan porsi biaya yang sangat besar. Jika satu sumur gagal, kerugiannya bukan hanya teknis, tetapi ekonomi. Dan dari sinilah integritas sumur menjadi bukan sekadar urusan keselamatan, tetapi urusan efisiensi dan keberlanjutan proyek.

 

3. Integritas Sumur sebagai Sistem: Bukan Sekadar “Tidak Bocor”, Tetapi Harus Terkendali Sepanjang Umur

Kalau kita bicara integritas sumur, orang sering menyederhanakannya menjadi satu kalimat: “yang penting tidak bocor.” Masalahnya, di industri migas dan panas bumi, definisi itu terlalu sempit. Sumur memang harus tidak bocor, tetapi integritas yang sebenarnya lebih dalam dari itu: sumur harus tetap terkendali.

Terkendali berarti sumur bisa menjalankan fungsinya tanpa membahayakan manusia, lingkungan, maupun aset produksi. Terkendali juga berarti sumur tetap punya “kesatuan yang utuh.” Ia tetap kuat, tetap stabil, dan tetap bisa diprediksi perilakunya. Dalam bahasa yang lebih lugas: sumur harus bisa diandalkan, bukan hanya saat baru selesai dibor, tetapi sepanjang hidupnya.

Dan hidup sumur itu panjang.

Sebuah sumur tidak berhenti setelah pengeboran selesai. Justru setelah itu, ia memasuki fase yang lebih menentukan: operasi. Ia diproduksikan, diinjeksikan, diintervensi jika ada masalah, dirawat, lalu pada akhirnya ditutup. Integritas sumur berarti semua fase ini harus berada dalam kontrol.

Karena itu, integritas sumur seharusnya dipahami sebagai sistem. Bukan sebagai inspeksi akhir, tetapi sebagai rangkaian keputusan yang sejak awal harus konsisten.

Ada beberapa elemen yang membuat integritas sumur menjadi sistem yang kompleks.

Pertama, desain yang tidak bisa sekadar “mengikuti buku.” Teori pengeboran memang memberi dasar, tetapi lapangan selalu punya variabel yang tidak sepenuhnya bisa diprediksi. Ada lapisan batuan yang tak seragam, tekanan yang berubah, temperatur yang ekstrem, dan kondisi operasi yang tidak selalu ideal. Maka desain sumur bukan sekadar menggambar casing dan semen, tetapi menyusun strategi pengaman.

Kedua, integritas sumur menuntut kerja multidisiplin. Sumur bukan hasil kerja satu orang atau satu tim. Ada geologi, geofisika, reservoir, drilling, completion, facility, material, hingga aspek komersial. Semua harus bergerak dalam arah yang sama. Begitu satu bagian bekerja tidak sinkron, risiko sumur meningkat.

Ketiga, integritas selalu berhubungan dengan barrier.

Dalam praktik, sumur harus punya lapisan pengaman yang mencegah fluida bergerak ke tempat yang tidak seharusnya. Fluida bisa berpindah antar lapisan, bisa merembes ke permukaan, atau bisa bocor ke jalur yang tidak terkendali. Ketika ini terjadi, konsekuensinya bukan hanya downtime, tetapi bisa menjadi kecelakaan besar.

Di dunia ideal, integritas sumur berarti sistem barrier ini kuat secara mekanik, kuat secara kimia, dan stabil dalam jangka panjang. Tetapi dunia ideal tidak selalu terjadi. Karena itu, integritas sumur juga membutuhkan kemampuan memonitor dan merespons perubahan. Sumur bisa menua, material bisa mengalami degradasi, semen bisa retak, casing bisa mengalami korosi, dan kondisi reservoir bisa berubah. Jika integritas hanya dibangun untuk kondisi awal, maka sumur akan rapuh ketika situasi berubah.

Yang membuat isu ini semakin relevan untuk Indonesia adalah kenyataan bahwa banyak sumur kita sudah tua. Dan sumur tua selalu membawa dua beban: risiko lebih tinggi dan kebutuhan perawatan yang lebih besar. Pada sumur seperti ini, integritas bukan lagi bicara “bagaimana membangun yang baru,” tetapi “bagaimana menjaga yang sudah lama agar tetap aman.”

Di titik ini, integritas sumur menjadi semacam indikator kedewasaan industri. Industri yang matang bukan industri yang hanya bisa mengebor sumur, tetapi industri yang bisa menjaga sumur dalam kondisi aman sampai akhir hidupnya.

 

4. Standar Internasional dan Tantangan Indonesia: Mengapa “Mengadopsi” Tidak Selalu Berarti Siap

Ketika berbicara tentang industri migas dan geothermal, salah satu kata yang sering muncul adalah standar. Dan standar memang penting, karena ia adalah bentuk pembelajaran kolektif dari industri yang berjalan puluhan tahun, bahkan ratusan tahun. Standar adalah hasil dari pengalaman, kegagalan, evaluasi, lalu perbaikan. Ia seperti memori institusional yang disusun menjadi aturan main.

Di tingkat global, ada banyak organisasi yang menghasilkan standar dan rekomendasi. Ada standar internasional, ada standar industri Amerika seperti API, ada standar negara lain seperti Norwegia. Keberadaan standar ini seolah memberi jalan pintas: Indonesia tidak harus mengulang semua kesalahan yang sudah terjadi di tempat lain.

Namun di sinilah tantangan sebenarnya muncul: mengadopsi tidak otomatis berarti siap.

Ada kecenderungan di banyak sektor untuk merasa aman setelah punya dokumen standar. Seolah dokumen itu sendiri sudah cukup. Padahal dalam dunia operasional, standar hanya akan berarti jika ia hidup di dalam kompetensi, prosedur, dan budaya kerja.

Ada tiga tantangan besar yang sering membuat standar tidak bekerja optimal.

Pertama, standar hanya sekuat kemampuan SDM yang menjalankannya. Kalau standar meminta prosedur tertentu, tetapi operator di lapangan tidak punya pelatihan yang cukup, maka prosedur itu menjadi formalitas. Dalam kasus sumur, formalitas adalah awal dari risiko.

Kedua, standar harus sesuai konteks. Karakteristik sumur migas atau geothermal tidak selalu identik antar negara. Geothermal Indonesia, misalnya, punya karakter reservoir dan kondisi operasi yang berbeda dengan geothermal negara lain. Maka standar yang diambil mentah-mentah berpotensi tidak cocok sepenuhnya. Dibutuhkan penyesuaian, bukan sekadar copy-paste.

Ketiga, standar membutuhkan disiplin tata kelola. Standar biasanya lahir dari proses yang berjenjang: pengalaman terbaik dikumpulkan, dibuat menjadi prosedur, lalu menjadi standar, lalu menjadi kebijakan. Di industri yang matang, rantai ini berjalan. Tetapi kalau di lapangan kebijakan tidak konsisten, audit longgar, dan evaluasi tidak rutin, standar menjadi kertas mati.

Contoh nyata dari tantangan ini bisa dilihat dari gap antara rencana dan kenyataan. Ada kasus pengeboran geothermal yang direncanakan mencapai kedalaman tertentu, tetapi berhenti jauh lebih dangkal karena peralatan tidak sesuai atau kompetensi tidak memadai. Situasi seperti ini penting bukan untuk menyalahkan, tetapi untuk menunjukkan bahwa integritas sumur tidak berhenti pada desain. Ia sangat ditentukan oleh kesiapan sistem saat eksekusi.

Dan di sinilah Indonesia menghadapi dilema yang cukup serius.

Di satu sisi, Indonesia memiliki potensi geothermal besar. Bahkan sering disebut termasuk yang terbesar di dunia. Tetapi pemanfaatannya masih jauh dari optimal. Ini berarti proyek panas bumi akan terus berkembang. Dan semakin banyak proyek, semakin tinggi kebutuhan akan sistem integritas sumur yang benar-benar matang.

Di sisi lain, Indonesia juga masih bergantung pada migas dalam periode transisi energi. Banyak sumur migas kita juga sudah berumur. Artinya, integritas sumur migas tetap menjadi isu besar, bukan isu masa lalu.

Jadi kita berada dalam situasi yang menuntut dua kemampuan sekaligus: menjaga sumur tua agar tidak menjadi masalah, dan membangun sumur baru dengan standar yang lebih baik agar transisi energi tidak membawa risiko baru.

Di titik ini, integritas sumur berubah menjadi isu strategis.

Karena transisi energi sering dibayangkan sebagai perpindahan dari fosil ke energi bersih. Tetapi transisi energi juga bisa menciptakan “risiko transisi” jika infrastrukturnya tidak aman. Dan salah satu risiko terbesar dalam sistem migas maupun geothermal adalah sumur yang kehilangan integritas.

 

5. Sumur untuk CCUS: Peluang Besar yang Bisa Gagal Total Kalau Integritas Lemah

Ada satu hal menarik dalam transisi energi yang sering bikin orang salah paham. Banyak yang mengira transisi energi itu artinya “kita berhenti pakai fosil, lalu selesai.” Padahal realitasnya lebih rumit. Dunia masih menggunakan fosil dalam beberapa dekade ke depan, bukan karena ingin, tetapi karena infrastruktur industri global belum bisa berubah secepat itu. Di sisi lain, kita juga tidak bisa membiarkan emisi terus naik.

Maka muncul jalan tengah yang terdengar teknis, tapi sebenarnya sangat politis dan sangat strategis: CCUS.

CCUS adalah upaya menangkap CO₂, lalu memanfaatkannya atau menyimpannya kembali ke bawah permukaan bumi. Di sinilah sumur kembali muncul sebagai aktor utama. Karena pada akhirnya, menyimpan CO₂ ke bawah tanah bukan soal niat baik. Itu soal jalur injeksi. Dan jalur injeksi, dalam banyak kasus, adalah sumur yang sudah ada atau sumur yang harus dibangun baru.

Di atas kertas, ide CCUS terlihat bersih: karbon ditangkap, bumi tidak terlalu panas, emisi berkurang. Tetapi dalam kenyataan teknik, CCUS punya satu titik rapuh yang bisa merusak seluruh logikanya: kebocoran.

Kalau CO₂ yang disuntikkan bocor, dua hal terjadi sekaligus:

  • manfaat lingkungannya runtuh (karena CO₂ tetap lepas),

  • reputasi teknologinya bisa jatuh (karena publik akan melihatnya sebagai “akal-akalan”).

Inilah mengapa integritas sumur dalam CCUS bukan sekadar isu teknis biasa. Ia adalah isu legitimasi.

Dalam orasi ini, CCUS digambarkan sebagai bentuk operasional sumur migas yang memanfaatkan reservoir—umumnya reservoir migas—untuk menyimpan CO₂ agar dampak pemanasan global dapat diminimalkan. Namun ada penekanan yang sangat jelas: tidak ada yang ingin CO₂ yang diinjeksikan “bocor ke mana-mana” dan tidak bisa dikendalikan. Maka standar, pengalaman terbaik, dan pemahaman mendalam tentang “roh” dari standar itu harus dikuasai sebelum teknologi ini benar-benar diterapkan luas.

Di titik ini, CCUS memaksa kita mengubah cara pandang terhadap sumur.

Kalau pada produksi migas, kebocoran adalah kecelakaan yang merugikan operasional, pada CCUS kebocoran adalah kegagalan konsep. Karena tujuan utama CCUS justru menahan fluida (CO₂) tetap berada di bawah permukaan dalam jangka panjang.

Dan jangka panjang di sini bukan 2–3 bulan. Ia bisa puluhan tahun.

Artinya, integritas sumur untuk CCUS harus lebih “paranoid” dibanding sumur produksi biasa. Ia harus memikirkan apa yang terjadi ketika:

  • casing menua,

  • semen mengalami degradasi,

  • terjadi perubahan tekanan reservoir,

  • ada retakan kecil yang pada awalnya tidak terlihat,

  • ada interaksi kimia CO₂ dengan air formasi yang dapat memengaruhi material.

CCUS membuat kita sadar bahwa sumur bukan hanya proyek konstruksi, tetapi proyek ketahanan.

Dalam paparan ini juga disebutkan contoh implementasi pembelajaran CCUS di Indonesia, salah satunya di wilayah Cepu, melalui kolaborasi banyak pihak: regulator, operator, penyedia jasa, serta dukungan institusi riset dan kampus. Ada penggunaan metode identifikasi kebocoran menggunakan inframerah (infrared) untuk mendeteksi potensi masalah, sebagai bagian dari dokumentasi dan pembelajaran ke depan.

[Indonesian (auto-generated)] O…

Ini penting, karena CCUS tidak bisa dibangun dengan “sekali coba langsung sempurna.” Ia harus dibangun dengan kultur belajar, audit, verifikasi, dan koreksi.

Yang menarik lagi, orasi ini juga menekankan bahwa Indonesia tidak sendirian. Ada negara lain yang sudah melakukan, atau sedang melakukan. Artinya, Indonesia punya peluang besar untuk belajar dari pengalaman mereka, bukan mengulang kesalahan dari nol. Tetapi peluang belajar ini hanya berguna jika kita benar-benar mau memindahkan pengalaman itu menjadi sistem lokal: standar, prosedur, kompetensi, dan pengawasan.

Karena CCUS bukan teknologi yang bisa hidup hanya dengan optimisme. Ia butuh kontrol.

Dan kontrol itu dimulai dari sumur.

 

6. Kesimpulan: Integritas Sumur Adalah Fondasi Keselamatan, Ekonomi, dan Kepercayaan Publik

Dari semua pembahasan ini, ada satu kesimpulan yang terasa paling penting: integritas sumur bukan sekadar topik teknis untuk orang migas. Ia adalah fondasi bagi keselamatan, fondasi bagi keekonomian, dan semakin ke depan, fondasi bagi kepercayaan publik terhadap proyek energi.

Sumur migas dan panas bumi memang terlihat sederhana dari atas. Tetapi ketika ia menembus ribuan meter, melewati lapisan batuan yang berbeda, menghadapi tekanan dan temperatur ekstrem, serta harus dioperasikan selama bertahun-tahun, sumur berubah menjadi sistem yang sangat kompleks. Dan sistem kompleks selalu punya risiko: bukan karena manusia ceroboh, tetapi karena kompleksitas itu sendiri menuntut disiplin tinggi.

Di titik ini, integritas sumur tidak boleh dipahami sebagai “pekerjaan akhir.” Ia harus dipahami sebagai siklus hidup:

  • sumur didesain,

  • dibor,

  • dikonstruksi,

  • dioperasikan,

  • dirawat,

  • diintervensi ketika perlu,

  • dan akhirnya ditutup.

Setiap tahap punya potensi kegagalan sendiri. Dan satu kegagalan bisa merusak seluruh operasi.

Orasi ini juga menekankan bahwa alasan integritas sumur menjadi sangat kritikal bukan hanya keselamatan, tetapi juga ekonomi. Biaya pengeboran dan konstruksi sumur dapat mengambil porsi besar dari total biaya eksplorasi dan eksploitasi wilayah kerja migas dan geothermal. Jika sumur gagal, yang runtuh bukan hanya target teknis, tetapi juga kelayakan proyek.

Namun yang paling strategis adalah arah masa depan.

Geothermal akan terus dibutuhkan sebagai sumber energi rendah emisi. CCUS akan semakin penting untuk menekan emisi dari industri yang sulit dihapuskan. Dan semua itu bergantung pada sumur. Artinya, sumur tidak hanya terkait energi hari ini, tetapi energi masa depan.

Di sini, integritas sumur berubah menjadi syarat transisi energi yang aman. Transisi energi bukan hanya soal mengganti sumber, tetapi memastikan sistem baru tidak membawa risiko baru. Sumur tua yang tidak terawat, standar yang tidak cocok, kompetensi yang tidak merata, serta budaya kerja yang longgar adalah bahan bakar kegagalan.

Karena itu, pesan penutupnya jelas: Indonesia perlu belajar dari standar internasional, tetapi juga harus berani menyesuaikan dan memperbaiki standar sendiri. Standar harus hidup dalam tata kelola operator, dalam disiplin lapangan, dan dalam sistem audit yang konsisten. Dan tentu saja, SDM yang kompeten menjadi kunci. Tanpa SDM, standar hanyalah dokumen.

Pada akhirnya, integritas sumur adalah tentang tanggung jawab jangka panjang. Sumur yang dibuat hari ini akan meninggalkan jejak puluhan tahun ke depan. Jika integritasnya dijaga, ia menjadi aset energi. Jika integritasnya gagal, ia menjadi risiko lingkungan dan keselamatan yang sulit diperbaiki.

Dan dalam era transisi energi seperti sekarang, tidak ada ruang untuk menganggap risiko itu sebagai “urusan nanti.”

 

 

Daftar Pustaka

Marbun, B. T. H. (2024). Integritas sumur migas dan geothermal di Indonesia. Orasi Ilmiah Guru Besar, Institut Teknologi Bandung.

ISO. (2017). Petroleum and natural gas industries — Well integrity. International Organization for Standardization.

API. (2019). Well integrity and well control guidelines. American Petroleum Institute.

NORSOK. (2013). Well integrity in drilling and well operations (D-010). Norwegian Technology Standards Institution.

Bachu, S. (2008). CO₂ storage in geological media: Role, means, status and barriers to deployment. Progress in Energy and Combustion Science, 34(2), 254–273.