Inspirasi Energi: Menanti Hidrogen sebagai Sumber Energi di Masa Depan

Dipublikasikan oleh Wanda Adiati, S.E.

24 Maret 2022, 19.51

The Energy Observer, sebuah Kapal Bertenaga Hidrogen yang berlayar dari Pelabuhan Amsterdam, Belanda pada 20 April 2019.

Ketika dunia gegap gempita menyambut kendaraan listrik, khususnya mobil lsitri, ada salah satu sumber energi yang membayangi dan bisa saja menyalip di masa depan.

Sumber energi tersebut adalah hidrogen. Melansir AFP, hidrogen di masa depan bisa menjadi bahan bakar untuk kereta api, pesawat terbang, mobil, truk, atau bahkan untuk pabrik.

Pemanfaatan hidrogen sebagai bahan bakar dinilai ramah lingkungan karena sangat rendah emisi. Melansir AFP, berikut kegunaan hidrogen di masa depan.


Mobil dan Truk

Mobil listrik fuel cell hidrogen sudah ada di jalan. Pada akhir 2014, Toyota meluncurkan sedan Mirai, kendaraan listrik fuel cell hidrogen yang diproduksi secara massal pertama di dunia.

Pabrikan asal Korea Selatan, Hyundai, tak mau kalah dan meluncurkan SUV Nexo pada 2018.

Kendala utama dari mobil listrik fuel cell hidrogen adalah harganya yang tinggi. Di pasar Amerika Serikat (AS), Mirai misalnya, dibanderol dengan harga 50.000 dollar AS (Rp 726 juta).

Kendala lainnya adalah kurangnya stasiun pengisian ulang hidrogren. Untuk membuatnya pun, diperlukan modal yang besar.

Namun di satu sisi, beberapa produsen mobil dan produsen alat telah mengumumkan rencana berupa investasi berskala besar untuk mengembangkan kendaraan ini.

Salah satu segmen yang kemungkinan bisa dikembangkan adalah segmen kendaraan niaga untuk transportasi barang, yakni truk.

Di segmen ini, hidrogen dapat menggantikan mesin diesel berbahan bakar solar. Kecepatan pengisian bahan bakar merupakan salah satu kelebihan dari truk dengan hidrogen.

Hyundai telah meluncurkan prototipe truk dengan hidrogen. GM, Traton (Volkswagen), dan Toyota mempercepat pengembangan model mereka sendiri.

Perusahaan otomotif rintisan di AS, Nikola, membuat gebrakan berumur pendek dengan janjinya akan truk berbahan bakar hidrogen sebelum mengakui bahwa jalannya masih panjang.

Beberapa perusahaan mengusulkan bus yang menggunakan fuel cell hidrogen, tetapi sektor ini masih dalam tahap percobaan.


Prototipe Kereta Api

Kereta berbahan bakar hidrogen dianggap sebagai alternatif yang baik untuk kereta berbahan bakar diesel dan tidak dapat beroperasi dengan listrik.

Namun, segmen ini membutuhkan jaringan pengisian bahan bakar khusus.

Perusahaan asal Perancis, Alstom, telah menguji kereta semacam itu di Jerman sejak akhir 2018, dan kini mengaku siap untuk membangun sarana perkeretaapian.

Perusahaan perkeretaapiaan Perancis, yakni SNCF, dan empat wilayah Perancis diharapkan menandatangani kontrak untuk kereta semacam ini.

Kontrak tersebut bertujuan untuk meletakkan prototipe di rel pada 2023, diikuti oleh program percontohan pada 2024 hingga 2025.


Pesawat Terbang

Sektor transportasi udara melirik hidrogen guna untuk memangkas tingkat emisi polusi yang diproduksi hingga separuhnya pada 2050.

Ada dua opsi pengembangan hidrogen untuk pesawat. Opsi pertama adalah menggunakan hidrogen langsung sebagai bahan bakar untuk mesin jet.

Opsi ini cukup simpel karena mengatasi hambatan teknis yang serius dan tidak terlalu banyak memodifikasi desain pesawat.

Namun, opsi ini menghadapi kedala pada masalah penyimpanan bahan bakar. Pada suhu -253 derajat Celsius, hidrogen memakan ruang empat kali lebih banyak daripada bahan bakar minyak.

Opsi kedua adalah menggabungkan hidrogen dengan karbon dioksida untuk menghasilkan bahan bakar sintetis.

Bahan bakar sintetis ini dapat digunakan sendiri atau dicampur bahan bakar minyak tanpa modifikasi mesin besar-besaran.

Pabrikan pesawat asal Eropa, Airbus, telah menjadikan pesawat berbahan bakar hidrogen sebagai prioritas strategis mereka.

Perusahaan ini menargetkan tahun 2035 sebagai tahun untuk setidaknya satu dari tiga konsepnya mulai membuahkan hasil.

Kelompok riset kedirgantaraan Jerman DLR dan Boeing tertarik dengan konsep bahan bakar hibrida.


Industri Berat

Industri berat juga memiliki target iklim yang harus dipenuhi pada 2050. Dan hidrogen tampaknya memiliki keunggulan di industri semen, kimia, dan baja.

Menurut prospek Ekonomi Hidrogen yang diterbitkan oleh BloombergNEF, “hidrogen hijau” yang diproduksi dari air dan listrik berkelanjutan dapat berharga antara 0,80 dollar AS hingga 1,60 dollar AS per kilo pada 2050.

Dengan semakin murahnya harga “hidrogen hijau”, akan membuatnya kompetitif dengan gas alam di sebagian besar negara.

Hidrogen sudah banyak digunakan dalam proses pembuatan pupuk.

Perusahaan asal Perancis, Air Liquide, memperkirakan bahwa antara 2030 hingga 2040, lebih dari setengah penjualan hidrogennya akan disalurkan ke sektor industri.

Sedangkan 40 persen di antaranya akan disalurkan untuk transportasi dan 10 persen digunakan untuk beragam aktivitas.

Perusahaan raksasa yang memproduksi baja, ArcelorMittal, bertujuan untuk mengurangi emisi global hingga 30 persen dalam waktu kurang dari 10 tahun.

ArcelorMittal telah meluncurkan proyek dengan Air Liquide di sebuah pabrik di Dunkirk, Perancis, yang sudah menjadi pemimpin eksperimental di Eropa.

Di La Mede, Perancis, perusahaan energi Total dan Engie mengerjakan kilang bio bertenaga surya yang diproyeksikan menghasilkan lima ton “hidrogen hijau” dalam sehari.

Air Liquide memiliki proyek energi lain yang sedang dikembangkan di Normandia dan Kanada.


Sumber Artikel: kompas.com