Insiden Penerbangan Trigana Air Service 168: Pendaratan Darurat dan Investigasi Kecelakaan

Dipublikasikan oleh Dimas Dani Zaini

28 Maret 2024, 13.27

Sumber: id.wikipedia.org

Trigana Air Service Penerbangan 168 dijadwalkan terbang dari Bandara Kalimarau ke Bandara Temindung di Indonesia. Penerbangan tanggal 11 Februari 2010 menggunakan ATR 42 PK-YRP. Pesawat ditemukan mati karena mesin mati di tengah penerbangan, sehingga kru memutuskan untuk mendarat di Bandara Sultan Azzi Muhammad Sulaiman. Pesawat mendarat 18 mil laut (33 km) dari bandaranya. Dua orang mengalami luka berat.

Pesawat

Pesawat yang digunakan adalah ATR-42-300F PK-YRP. Pesawat ini dibuat pada tahun 1987 dengan nama c/n 50. Penerbangan pertama pada tanggal 22 Mei 1987 dengan nomor registrasi F-WWER. Pesawat ini pertama kali dioperasikan oleh Pan Am Express pada 10 Juni 1987 dengan nomor registrasi N4202G. Pada tanggal 4 Desember 1991, pesawat dipindahkan ke Trans World Express. Pada tanggal 5 Desember 1995, pesawat tersebut disewakan kepada Mahalo Air. Pesawat ini ditarik dari layanan pada bulan September 1997. Pada bulan Oktober 1998 pesawat dikembalikan ke ATR dengan nomor registrasi F-WQIT. Pada tanggal 20 Oktober 1998, pesawat tersebut disewakan kepada Inter-Canadien dengan nomor registrasi C-GICB. Pesawat itu menjadi kapal feri. Pada Januari 2003, pesawat tersebut juga dihentikan produksinya. Pada tanggal 2 Agustus 2008, pesawat tersebut digunakan kembali oleh Trigana Air Service dengan nomor PK-YRP.

Kecelakaan

Penerbangan 168 lepas landas dari Bandara Kalimarau menuju Bandara Temindung. Selama penerbangan, salah satu mesin mati dan mesin mati. Para kru memutuskan untuk mengalihkan perjalanan menuju Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman yang memiliki landasan pacu sepanjang 2.495 meter hingga Bandara Temindung pada ketinggian 1.150 meter. Lokasi pendaratan terbaik adalah di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman di Temindung. Mesin kedua juga akan mengalami kehilangan tenaga mesin. Pukul 11.40 WIB, pesawat mendarat di persawahan sekitar 41 kilometer dari Kota Balikpapan dan 18 mil laut dari Bandara Sultan Azzi Muhammad Sulaiman. Dua orang mengalami patah kaki. Pesawat mengalami kerusakan namun dapat diperbaiki.

Investigasi

Dewan Keselamatan Transportasi Nasional melakukan penyelidikan. Perekam data penerbangan dan perekam suara kokpit ditemukan dan dikirim untuk dianalisis. Pesawat mendarat dengan kecepatan tinggi, namun mesinnya dimatikan. Gambar menunjukkan bahwa parser tidak lagi tersedia.

Disadur dari Artikel : id.wikipedia.com