Indonesia Siapkan Strategi Transisi ke Energi Terbarukan Menghadapi Naik-Turun Harga Komoditi

Dipublikasikan oleh Muhammad Ilham Maulana

22 April 2024, 07.31

Sumber: Foto: Dok. PGN

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia perlu mempersiapkan diri terhadap naik-turunnya harga komoditi serta tren dunia ke depan menuju peningkatan penggunaan energi hijau. Salah satu hal yang bisa dilakukan Indonesia menangani keadaan ini yakni dengan memanfaatkan peluang di masa transisi energi menuju energi terbarukan.

Gas bumi merupakan salah satu komoditi energi yang ikut berperan dalam mendorong ketahanan ataupun kemandirian energi dalam negeri saat ini. Di sisi lain, dengan meningkatnya pembangunan industri manufaktur dalam negeri, turun juga berdampak pada kebutuhan komoditas energi seperti gas bumi.

Umumnya, gas menggunakan pipa ke industri yang membutuhkan atau bisa juga diubah menjadi LNG yang saat ini sudah berfungsi sebagai komoditi dan bisa diperjual belikan. Berdasarkan data Kementerian ESDM, Indonesia punya cadangan gas alam sebesar 41,62 triliun kaki kubik persegi (trillion square cubic feet/TSCF) pada 2021.

Cadangan gas bumi terbukti paling banyak berada di wilayah Maluku, yakni 13.988 miliar kaki kubik persegi (billion square cubic feet/BSCF), serta Papua 11.412 BSCF. Indonesia memang memiliki cadangan gas sangat besar. Namun sayangnya cadangan itu belum bisa dimanfaatkan karena infrastruktur yang belum memadai.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Bea Cukai yang diolah Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang 2022 Indonesia melakukan impor gas bumi mencapai angka 6,8 juta ton. Angka ini naik 5,5% dibandingkan tahun 2021 sekaligus menjadi impor gas terbesar dalam lima tahun terakhir. berikut negara asal impor gas Indonesia.

Berdasarkan data di atas, Pada 2022 Indonesia paling banyak mengimpor gas dari Amerika Serikat (AS), dengan volume sekitar 2,8 juta ton. Sementara Uni Emirat Arab menjadi pemasok terbesar nomor dua, dengan volume sekitar 1,9 juta ton.
 

sumber: www.cnbcindonesia.com