Indonesia Siap Luncurkan Global Dana Air sebagai Pendanaan Air Berkelanjutan

Dipublikasikan oleh Nurul Aeni Azizah Sari

30 April 2024, 10.00

Sumber: worldwaterforum.org

Air adalah kebutuhan mendasar untuk mendukung produktivitas dan kesejahteraan masyarakat. Sayangnya, menurut laporan UNICEF tahun 2022, 844 juta orang di seluruh dunia masih kekurangan akses terhadap air bersih dan 2 miliar orang tidak memiliki akses terhadap air minum yang aman dan memadai.

Infrastruktur yang memadai sangat penting untuk memastikan akses yang merata terhadap air bersih. Namun, kapasitas pendanaan pemerintah untuk infrastruktur air bersih masih terbatas, sehingga perlu adanya kolaborasi antar pemangku kepentingan untuk menjembatani kesenjangan pendanaan di sektor sumber daya air.

Herry Trisaputra Zuna, Direktur Jenderal Pembiayaan Infrastruktur Pekerjaan Umum dan Perumahan, menekankan pentingnya perhatian dan investasi di sektor air dalam acara Lokakarya ke-4 tentang keuangan berkelanjutan, menuju Forum Air Dunia ke-10 di Jakarta, Senin (5/2/2023).

“Dibutuhkan lebih banyak perhatian dan investasi yang ditargetkan dalam interkoneksi antara upaya-upaya terkait iklim dan air, serta sanitasi dan kesehatan. Saat ini, kurang dari 3% dari total pendanaan iklim dialokasikan untuk inisiatif terkait air, dan hanya 1 dari 10 investasi yang didedikasikan untuk memenuhi kebutuhan air dan sanitasi masyarakat,” ujar Herry.

Indonesia dana air

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) melalui Danareksa telah meluncurkan Indonesia dana air (IWF). Program yang diluncurkan pada acara BUMN jalan menuju G-20 pada 17-18 Oktober 2022 ini merupakan salah satu upaya Indonesia untuk meningkatkan pendanaan dan investasi di bidang air bersih.

Herry menyatakan bahwa IWF akan mengelola dana sebesar 1 miliar dolar AS atau sekitar Rp 15 triliun untuk membiayai proyek air bersih bagi lebih dari 40 juta orang. Skema pendanaan yang melibatkan pihak swasta ini diharapkan dapat meringankan beban anggaran negara.

Sejalan dengan peta jalan SDGs Indonesia untuk tahun 2030, IWF akan mendukung pemerintah untuk mencapai tujuan 100% akses air minum yang aman bagi seluruh penduduk Indonesia. IWF juga diharapkan dapat mendorong minat investor untuk berkontribusi pada investasi berkelanjutan.

Mendirikan global dana air

Keberhasilan IWF akan menjadi prototipe bagi pembentukan Global dana air, dan akan dibahas pada air dunia Forum ke-10 di Bali pada tanggal 18-25 Mei 2024. Global dana air akan mengumpulkan dana untuk membiayai inisiatif terkait air di daerah-daerah yang menghadapi kelangkaan air dan kendala keuangan.

Yadi Jaya Ruchandi, CEO PT Danareksa, mengungkapkan bahwa tata kelola dan skema pendanaan IWF dapat ditiru oleh negara-negara lain. Oleh karena itu, Indonesia ingin mengembangkan IWF menjadi skema pendanaan global melalui Global dana air.

“Kita punya IWF, dan kita ingin mengembangkan skema pendanaan ini menjadi Global dana air. Hal ini akan membutuhkan proses politik, sehingga campur tangan pemerintah masih diperlukan, terutama dalam merumuskan kebijakan terkait investasi,” ujar Yadi Jaya Ruchandi.

Sejalan dengan pernyataan tersebut, Julian Smith, Pemimpin ESG pemerintah dan infrastruktur PwC Indonesia, berpendapat bahwa skema pendanaan Global dana air akan berbeda dengan investasi di sektor lain karena sifat isu air yang lintas batas. Ia mengusulkan konsep dana netral-politik, yang berarti bahwa proses pendanaan air yang dilakukan secara bersama-sama bebas dari kepentingan politik negara manapun.

“Masalah spesifik air biasanya melibatkan masalah lintas batas. Untuk itu diperlukan dana politik netral global agar Global dana air dapat bermanfaat bagi semua pihak, dan solusi yang diberikan tidak hanya berupa transfer sumber daya air dari satu negara ke negara lain,” ujar Smith.

Disadur dari: worldwaterforum.org