IKM Alas Kaki Membuka Pasar Ekspor dengan Meningkatnya Daya Saing Global

Dipublikasikan oleh Jovita Aurelia Sugihardja

12 Februari 2024, 14.51

Sumber: kemenperin.go.id

Kementerian Perdagangan, Perindustrian, dan Energi terus mendorong pengembangan usaha kecil dan menengah (IKM) agar produsen alas kaki meningkatkan daya saing. Selain itu, Indonesia sebagai produsen alas kaki terbesar keempat di dunia akan mampu menjadi produsen sepatu lokal yang berdaya saing di kancah dunia dengan kualitas yang sesuai dengan merek-merek ternama dunia.

Dua merek alas kaki lokal sudah menunjukkan kemampuannya menembus pasar internasional: Sagara Boots dan Pijakbumi. Keduanya merupakan mitra Badan Pengembangan Industri Alas Kaki Indonesia (BPIPI) Sidoarjo, unit implementasi teknologi yang berada di bawah arahan Kementerian Perindustrian, Usaha Kecil dan Menengah (IKMA).

“BPIPI bergabung dengan ekosistem para pelaku industri alas kaki dalam ruangan karena berhasil menjadi percontohan bagi usaha kecil dan menengah berkualitas tinggi yang bekerja sama dengan Sagara Boots dan Pijakbumi. “Kami berharap kisah sukses kedua IKM ini dapat menggugah semangat IKM lainnya untuk lebih peka terhadap peluang periklanan di pasar dalam dan luar negeri,” kata Sekretaris Jenderal Departemen Perindustrian IKMA Reni Yanita di Jakara. , Kamis (30/12).

Dalam pertemuannya dengan para pendiri Sagara Boots dan Pijakbumi, Lenny memuji prestasi Sagara Boots dan Pijakbumi dalam mendobrak kejahatan produksi sepatu di negara berkembang. desain “Boots Sagara sudah mencapai level sepatu kulit premium yang setara dengan sepatu dari Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat,” ujarnya. “Sejauh ini produk Pijakbumi telah dikirim ke 20 negara di dunia.”

Menurut Reni, kedua IKM sepatu ini menunjukkan merek sepatu lokal semakin kreatif dengan desain yang mengikuti selera pasar baru, serta selalu fokus pada kegiatan lingkungan dan keberlanjutan, serta memberikan layanan berdasarkan permintaan yang telah ditetapkan. . atau pelanggan. Permen Ia mengatakan: "Berdasarkan kualitas yang lebih baik, pengecer besar berpikir bahwa merek dalam negeri akan lebih baik dan memiliki nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan merek luar negeri."

Pada triwulan III tahun 2021, total nilai ekspor alas kaki (kulit dan non-kulit) Indonesia mencapai $4,3 miliar. Sementara itu, total PDB industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki mencapai Rp 20 triliun pada triwulan III tahun 2021, atau meningkat sebesar 7% (year-on-year).

Bagus Satrio, pendiri dan pemilik Sagara Boots, mengatakan semakin banyak investasi asing menunjukkan kemampuan industri alas kaki India dalam memproduksi sepatu bot berkualitas tinggi dan mampu bersaing dengan produk internasional. Oleh karena itu, produk alas kaki lokal dikenal oleh masyarakat internasional.

"Kita tidak hanya memilih bahannya saja, kita harus menggunakan kulit yang bagus. Selain itu, karena kita menggunakan kulit dan sepatu yang berkualitas, harga kita lebih banyak produk Amerika," Bagus. “Kami jual seharga Rp 6 juta.

Sepatu boots Sagara juga bisa custom dan semua pengerjaan sepatu dilakukan dengan tangan. Pemesanan bisa dilakukan selama empat bulan. “Kami bisa memproduksi 40 hingga 60 pasang sepatu per bulan. Ditambahkannya, “Di luar negeri, sepatu Sagara banyak diminati karena buatan tangan, custom, dan terbuat dari kulit berkualitas tinggi.”

Saat ini Pijakbumi merupakan Merek sepatu asal Bandung bercirikan kepedulian terhadap lingkungan dengan menggunakan ekstrak tumbuhan seperti kulit alami dan serbuk kayu sebagai bahan bakunya.Pijakbumi merupakan perusahaan yang didirikan oleh Rowland Asfales untuk mengurangi emisi karbon, dengan prinsip desain orisinal, kearifan lokal, dan ramah lingkungan. -Bahan Ramah Di Pijakbumi, kami mampu menghasilkan produk alas kaki berkualitas tinggi dengan memadupadankan bahan baku pilihan.

Dalam bidang manufaktur dan pemasaran, Sagara Boots dan Pijakbumi sering menghadapi kendala dalam mengakses bahan baku impor dan modal ekspor. Selain itu, Pijakbumi juga menjadikan bahan alami sebagai bahan utama pembuatan sepatunya untuk meningkatkan keberlangsungan usahanya.

“Saya berharap ada cara untuk menunjukkan pemanfaatan sumber daya alam bagi perusahaan-perusahaan inovatif dan bantuan pajak terkait industri pengolahan yang mampu mengurangi emisi karbon,” kata Rowland..

Platform digital IFN


Dirjen IKMA menegaskan, melalui BPIPI, pihaknya berkomitmen untuk terus membantu para pelaku IKM alas kaki untuk mencari solusi dalam upaya meningkatkan produktivitas dan kemudahan akses ke pasar ekspor.

“Untuk memecahkan masalah-masalah terkait ekspor produk alas kaku ini, kami akan memfasilitasi mereka untuk bisa mengakses fasilitas Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE), dan akses pembiayaan untuk ekspor melalui Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI),” ujar Reni. Sementara itu, terkait kalkulasi penggunaan bahan material ramah lingkungan, Ditjen IKMA mempertemukan IKM alas kaki dengan Pusat Industri Hijau Kemenperin.

Lebih lanjut, guna mendukung para pelaku bisnis persepatuan untuk tumbuh bersama, BPIPI membuat sebuah platform digital bernama Indonesia Footwear Network (IFN) yang bisa diakses melalui lamanhttps://ifn.bpipi.id/.IFN ini bertujuan sebagai solusi atas perubahan tatanan industri alas kaki nasional sejak pandemi Covid-19.

“Di platform ini, beragam pelaku dan komunitas industri alas kaki nasional dapat berkolaborasi sebagai mitra bisnis untuk melakukan sharing value,” ujarnya. Reni menambahkan melalui IFN, BPIPI akan mampu memberikan informasi yang relevan kepada pasar domestik dan internasional mengenai potensi industri alas kaki Indonesia dari atas hingga bawah.

Perwakilan BPIPI Edi Suhendra mengatakan, sebagai penggerak industri alas kaki nasional, BPIPI akan berkontribusi dalam memperkuat komunitas industri alas kaki Indonesia yang beragam. Dengan cara ini, IFN didorong untuk melengkapi dan mengumpulkan informasi industri di setiap komunitas. BPIPI terus membina kemitraan di bidang industri alas kaki agar ekosistem industri khususnya IKM alas kaki semakin mandiri, produktif, dan inklusif untuk go global.

“Sebagai salah satu produsen sepatu terbesar di dunia, Indonesia harus memimpin dalam mengintegrasikan informasi dari produsen, pemasok, sumber daya, merek lokal, dan organisasi yang bergerak di industri sepatu,” kata Edi. Oleh karena itu, IFNI yang dipimpin oleh BPIPI merupakan penyedia informasi yang relevan bagi pasar-pasar potensial dari atas hingga bawah industri alas kaki nasional dan internasional.

Disadur dari:

https://kemenperin.go.id/artikel/23049/Berdaya-Saing-Global,-IKM-Alas-Kaki-Dobrak-Pasar-Ekspor