Gas Alam sebagai Pilar Energi Bersih dan Fondasi Industri Petrokimia Indonesia

Dipublikasikan oleh Timothy Rumoko

23 Januari 2026, 11.05

Sumber: pexels.com

Pendahuluan: Gas Alam dalam Persimpangan Energi dan Industri

Transisi energi global menempatkan negara-negara berkembang pada dilema strategis: bagaimana memenuhi kebutuhan energi yang terus meningkat, menjaga keterjangkauan harga, sekaligus menekan emisi karbon. Indonesia berada tepat di titik persimpangan tersebut. Dalam konteks inilah orasi ilmiah Prof. Ir. Sanggono Adisasmito, M.Si., PhD dari Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Bandung menjadi relevan dan strategis. Orasi berjudul “Gas Alam sebagai Sumber Energi Bersih dan Bahan Baku Industri Petrokimia di Indonesia” tidak hanya membahas aspek teknis, tetapi juga implikasi kebijakan dan ekonomi nasional.

Gas alam diposisikan bukan sekadar sebagai bahan bakar transisi, melainkan sebagai fondasi industri bernilai tambah tinggi. Narasi yang dibangun dalam orasi ini memperlihatkan bahwa gas alam memiliki dua wajah utama: sebagai sumber energi yang relatif bersih dan sebagai bahan baku strategis industri petrokimia, terutama metanol.

Sebaran Gas Alam dan Perannya dalam Transisi Energi

Indonesia memiliki sebaran sumber daya gas alam yang luas, dari Sabang hingga Merauke. Data SKK Migas yang disampaikan dalam orasi menunjukkan bahwa cadangan gas tersebar di berbagai pulau, berbeda dengan minyak bumi yang lebih terbatas. Fakta ini menempatkan gas alam sebagai aset energi nasional yang strategis, khususnya dalam agenda transisi menuju energi yang lebih bersih.

Dari perspektif lingkungan, gas alam memiliki keunggulan signifikan dibandingkan batu bara maupun bahan bakar cair. Emisi karbon dioksida (CO₂) dari pembakaran metana (CH₄) relatif lebih rendah. Selain itu, emisi polutan udara lain seperti sulfur dioksida dan partikulat juga jauh lebih kecil. Oleh karena itu, gas alam berperan sebagai bridge energy—energi jembatan—menuju sistem energi rendah karbon.

Namun, orasi ini tidak memposisikan gas alam sebagai solusi final. Gas alam dilihat sebagai langkah transisional yang realistis, terutama bagi negara yang masih sangat bergantung pada energi fosil murah seperti Indonesia.

Gas Alam dan Tantangan Biaya Listrik Nasional

Salah satu isu krusial yang dibahas adalah hubungan antara jenis bahan bakar dan biaya pembangkitan listrik. Indonesia saat ini menikmati tarif listrik yang relatif murah karena dominasi batu bara sebagai bahan baku pembangkit. Ketika gas alam digunakan sebagai pengganti, biaya pembangkitan listrik atau levelized cost of electricity (LCOE) cenderung meningkat.

Inilah alasan mengapa pemerintah mendorong kebijakan bauran energi. Gas alam tidak sepenuhnya menggantikan batu bara, tetapi dicampurkan secara proporsional untuk menekan emisi tanpa melonjakkan harga listrik secara drastis. Kebijakan ini menunjukkan bahwa transisi energi bukan hanya persoalan teknologi, tetapi juga persoalan ekonomi dan keadilan sosial.

Pemanfaatan Gas Alam untuk Transportasi: Peluang dan Kendala

Dalam sektor transportasi, gas alam menawarkan solusi yang lebih bersih dan ekonomis dibandingkan bahan bakar minyak (BBM). Contoh nyata yang disampaikan dalam orasi adalah penggunaan gas alam terkompresi (CNG) pada armada bus Transjakarta. Dengan harga setara sekitar setengah dari BBM konvensional, gas alam sebenarnya memiliki keunggulan kompetitif yang kuat.

Namun, adopsi gas alam untuk transportasi menghadapi kendala klasik: infrastruktur. Ketersediaan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) masih sangat terbatas. Distribusi gas alam jauh lebih kompleks dibandingkan BBM cair, karena memerlukan sistem kompresi, penyimpanan bertekanan tinggi, dan jaringan distribusi khusus.

Masalah teknis ini pada akhirnya bermuara pada persoalan finansial. Tanpa dukungan regulasi, investasi infrastruktur, dan sinergi lintas sektor, gas alam sulit diadopsi secara masif dalam transportasi nasional.

Gas Alam sebagai Bahan Baku Industri Petrokimia

Bagian paling strategis dari orasi ini adalah pembahasan gas alam sebagai bahan baku industri petrokimia. Gas alam, yang secara kimia didominasi metana, dapat dikonversi menjadi synthesis gas (syngas) yang terdiri dari karbon monoksida (CO) dan hidrogen (H₂). Syngas inilah yang menjadi pintu masuk ke berbagai produk bernilai tambah tinggi.

Salah satu produk kunci yang ditekankan adalah metanol. Indonesia hingga kini masih mengimpor metanol dalam jumlah besar, terutama karena meningkatnya kebutuhan biodiesel. Program mandatori biodiesel (B30, B35, hingga rencana B40 dan B100) secara langsung meningkatkan permintaan metanol sebagai bahan proses.

Metanol tidak berhenti sebagai produk akhir. Ia dapat diturunkan menjadi formaldehida, asam asetat, MTBE, bensin sintetis, hingga olefin yang menjadi bahan baku plastik. Dengan kata lain, satu molekul metana dapat menjadi fondasi rantai industri yang sangat panjang dan bernilai ekonomi tinggi.

Nilai Tambah vs. Harga Energi: Dilema Strategis

Orasi ini secara implisit menyoroti dilema klasik pengelolaan sumber daya alam: apakah gas alam sebaiknya dijual sebagai energi murah atau diolah menjadi produk industri bernilai tinggi. Harga energi berada di titik terendah dalam rantai nilai, sementara produk petrokimia berada di level yang jauh lebih menguntungkan.

Sayangnya, Indonesia menghadapi tantangan harga gas domestik yang relatif tinggi dibandingkan negara lain, seperti Amerika Serikat. Dengan harga gas sekitar USD 6 per MMBTU, produk petrokimia nasional menjadi kurang kompetitif di pasar global jika dibandingkan dengan negara yang menikmati harga gas sekitar USD 3 per MMBTU.

Kondisi ini menuntut kebijakan harga gas yang lebih strategis. Penurunan harga gas bukan sekadar subsidi, tetapi investasi jangka panjang untuk memperkuat daya saing industri nasional.

Gas Alam, Metanol, dan Biodiesel: Rantai yang Tak Terpisahkan

Hubungan antara gas alam dan biodiesel menjadi sorotan penting. Biodiesel sering dipersepsikan sebagai energi hijau, namun proses produksinya tetap bergantung pada metanol yang sebagian besar masih diimpor. Artinya, kemandirian energi tidak akan tercapai tanpa kemandirian bahan baku petrokimia.

Proyeksi kebutuhan metanol hingga tahun 2045 menunjukkan tren peningkatan yang signifikan. Jika Indonesia gagal membangun kapasitas produksi domestik, ketergantungan impor justru akan meningkat, melemahkan neraca perdagangan dan ketahanan energi nasional.

Implikasi Kebijakan: Lebih dari Sekadar Teknologi

Sebagai penutup, orasi ini menyampaikan pesan kuat kepada para pembuat kebijakan. Untuk sektor energi, pembangunan pembangkit listrik berbasis fosil seharusnya diarahkan pada gas alam sebagai pengganti batu bara. Infrastruktur distribusi gas harus diperluas agar pemanfaatannya merata, baik untuk rumah tangga maupun transportasi.

Untuk industri petrokimia, gas alam perlu dimanfaatkan secara lebih intensif sebagai bahan baku industri bernilai tambah tinggi. Penurunan harga gas domestik menjadi kunci agar industri nasional mampu bersaing di pasar global.

Kesimpulan: Gas Alam sebagai Jembatan dan Fondasi

Orasi ilmiah ini menegaskan bahwa gas alam memiliki peran ganda yang strategis bagi Indonesia. Di satu sisi, ia menjadi jembatan transisi menuju sistem energi yang lebih bersih. Di sisi lain, ia merupakan fondasi penting bagi industrialisasi berbasis petrokimia.

Tantangan utama bukan terletak pada ketersediaan sumber daya, melainkan pada keberanian kebijakan, pembangunan infrastruktur, dan konsistensi strategi nasional. Tanpa itu, gas alam hanya akan menjadi komoditas mentah, bukan penggerak kemajuan industri dan energi berkelanjutan Indonesia.

Sumber

  1. Adisasmito, Sanggono. Gas Alam sebagai Sumber Energi Bersih dan Bahan Baku Industri Petrokimia di Indonesia.
    Orasi Ilmiah Guru Besar, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Bandung (ITB). url: https://www.youtube.com/watch?v=ZHcmbrHC9W4