Fenomena Mengejutkan! Usaha Sepatu Cibaduyut Berguguran, Gulung Tikar, Kenapa?

Dipublikasikan oleh Siti Nur Rahmawati

04 Agustus 2022, 16.03

jabarekspres.com

Jakarta, CNBC Indonesia - Kejayaan Cibaduyut, Bandung sebagai sentra industri sepatu perlahan semakin memudar. Kini, banyak pedagang yang terpaksa gulung tikar sebab menurunnya penjualan. Pantauan CNBC Indonesia di lokasi pada akhir pekan kemarin, banyak toko sepatu yang saat ini sudah tutup.

Salah satu pedagang Sri Nilawati mengaku banyak rekannya yang sekarang tutup sebab penjualan telah jauh menurun, terutama bila membandingkannya dengan beberapa tahun lalu sebelum pandemi. Kondisi ini sangat terlihat jelas dari deretan toko di Cibaduyut banyak yang tertutup rapat.

 

"Tutup semua, sudah gulung tikar. Ada mungkin setengahnya telah berkurang," ujar Sri kepada CNBC Indonesia, akhir pekan lalu.

Keputusan para pedagang untuk menutup tokonya disebabkan penjualan yang tak sebanding dengan modal. Untuk menyewa lapak di salah satu sudut Cibaduyut membutuhkan uang yang tak sedikit. Semisal saja untuk ukuran sekitar 4m2, pedagang harus merogoh kocek belasan sampai puluhan juta per tahunnya.

"Jauh bedanya, kalau dulu lumayan, minggu hari gini bisa mendapatkan Rp. 3 juta - Rp. 5 juta, saat ini boro-boro dapat Rp. 100 ribu saja sudah untung, menurunnya jauh. Terakhir ramai 2019 sebelum covid. Sekarang sehari kadang ya penglaris kadang hanya mendapatkan Rp. 20 ribu sebab orang luar kota tidak boleh masuk," kata Sri.

 

Dengan pendapatan sebesar itu, banyak yang akhirnya tak kuat lagi menahan beban. Apalagi, pedagang juga harus menyiapkan biaya lain seperti listrik sampai biaya operasional. Meskipun pandemi, sebagian pedagang tak memperoleh keringanan biaya.

"Saya mengontrak Rp. 15 juta setahun. Dulu dan sekarang sama saja biayanya. Oleh karena itu banyak yang jualan online. Tetapi saya tidak karena belum bisa," kata Sri yang telah berjualan sepatu di Cibaduyut semenjak 2004.

 


Disadur dari sumber cnbcindonesia.com