Bahan Bakar Fosil: Pengertian, Proses Pembentukan, dan Implikasinya terhadap Lingkungan

Dipublikasikan oleh Muhammad Ilham Maulana

22 April 2024, 08.55

Sumber: DW (News)

Bahan Bakar Fosil (BBF) menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan memiliki dua arti. Pertama berarti setiap deposit hidrokarbon dalam kerat dan perut bumi yang dapat digunakan untuk bahan bakar, misalnya minyak bumi, batu bara, dan gas bumi.
Arti kedua BBF merupakan bahan bakar yang terbentuk dari fosil-fosil tumbuhan dan hewan di masa lampau. BBF disebut sebagai bahan bakar yang tidak terbarukan.

Dikutip dari Ensiklopedia Britannica, proses pembentukan bahan bakar fosil terjadi karena proses geologi yang dimulai pada masa Eon Arkean atau sekitar 2,5-4 miliar tahun yang lalu. Lalu bagaimana proses pembentukannya? Ini penjelasan selengkapnya.
Proses dan Waktu Pembentukkan Bahan Bakar Fosil

Dikutip dari buku Teknologi Tenaga Surya karya Sudjito Soeparman, terbentuknya berbagai jenis bahan bakar fosil melalui proses deformasi tanpa udara atau yang disebut anaerobic. Proses ini terjadi selama perlahan-lahan selama puluhan juta tahun. Nantinya, jenis BBF akan berubah menjadi senyawa bahan bakar hydrocarbon. Karena proses yang lama inilah, makanan jenis bahan bakar ini disebut dengan bahan bakar fosil.

Semakin lama terjadinya proses deformasi, maka semakin baik pula kualitas bahan bakar yang ditandai dengan tingginya kadar Karbon dan menurunnya kadar air. Produk yang dihasilkan dari proses ini terbagi dalam bentuk padat (batu bara), cair (minyak), atau gas (gas alam). Untuk menjadi sebuah energi, bahan bakar fosil melalui proses pembakaran. Semua bahan bakar fosil seperti minyak bumi, batu bara, dan gas bumi dapat dibakar dengan oksigen yang berasal dari udara sehingga menghasilkan panas. Panas ini dapat digunakan secara langsung untuk menghasilkan uap. Sehingga bisa menggerakkan generator yang dapat menyuplai listrik.

Lama proses pembentukannya, bahan bakar fosil bisa dijelaskan sebagai berikut:

1. Batu Bara

Menurut waktunya, pembentukan batu bara dapat dikategorikan menjadi dua yaitu batu bara muda dan tua. Semakin lama umur batu bara semakin baik pula kualitasnya sebagai bahan bakar. Hal itu karena memiliki nilai kalori yang lebih tinggi sedangkan kadar air yang lebih rendah. Selain kadar air, kualitas batubara juga ditentukan oleh kadar belerang. Ketika dibakar, kadar air akan mengurangi energi panas yang dihasilkan dari proses tersebut. Namun, kadar belerang akan menghasilkan polusi udara yang berbahaya yaitu gas belerang (SOx).

2. Minyak Bumi

Tak jauh berbeda dengan batu bara, proses pembentukannya juga lama dan didapatkan dengan cara mengebor tambang minyak di bawah tanah. Cairan yang didapat dari hasil pengeboran itu adalah minyak mental (crude oil). Proses pengolahan minyak mentah dilakukan melalui langkah destilasi bertingkat menurut temperatur penguapan masing-masing produk yang dinamakan dengan oil refinery. Nantinya, ada langkah lebih lanjut untuk mendapatkan produk yang lebih tinggi nilainya yang dinamakan dengan proses reformer, cracking, dan isomerisasi. Minyak mentah yang sudah diproses akan menghasilkan berbagai produk seperti gas LPG, bensin, solar, minyak tanah, oli pelumas, dan minyak bakar.

3. Gas Alam

Proses pembentukan minyak bumi dan gas alam diperkirakan dilakukan bersama-sama. Namun, karena gas memiliki sifat yang lebih mudah berpindah makan dilakukan dalam tambah yang terpisah. Kandungan dalam gas alam terdiri dari banyak jenis gas hidrokarbon, yaitu methana, ethana, butana, propana, dan lain-lainnya. Berat jenis gas alam diketahui lebih kecil dari udara sehingga cukup aman digunakan.

Dampak Pembakaran Bahan Bakar Fosil

Meski banyak manfaat dan digunakan untuk membantu kehidupan manusia, dalam proses pembakarannya bahan bakar fosil ikut menimbulkan banyak dampak. Apa saja? Ini penjelasannya dikutip dari Universitas Medan Area.

  • Polusi pemanasan global

Bahan bakar fosil menghasilkan karbondioksida dalam jumlah besar saat dibakar. Emisi ini memerangkap panas di atmosfer dan bisa menyebabkan perubahan iklim sehingga disebut menjadi polusi pemanasan global.

  • Bentuk lain dari pencemaran udara

Pembangkit listrik tenaga batu bara disebutkan menghasilkan 42 persen emisi merkuri berbahaya di Amerika Serikat serta dua pertiga emisi sulfur dioksida yang menyebabkan hujan asam di udara kita. Selain itu, mobil, truk, dan kendaraan lain yang memakan bahan bakar fosil disebut sebagai penyumbang utama karbon monoksida yang menghasilkan kabut asap ketika hari-hari panas.

  • Pengasaman laut

Ketika proses pembakaran BBF terjadi, kita mengubah kimia dasar lautan menjadikannya lebih asam. Sejak dimulainya Revolusi Industri di Inggris dan BBF mulai digunakan, lautan disebut 30 persen lebih asam. Pengasaman laut dapat berdampak bagi komunitas pesisir, memperlambat laju pertumbuhan bagi beberapa hewan, dan membahayakan seluruh rantai makanan.


Sumber: www.detik.com