Ayo Telusuri Sejarah Kultur Sepatu Cibaduyut di BSS 3.0

Dipublikasikan oleh Siti Nur Rahmawati

04 Agustus 2022, 16.05

jabar.tribunnews.com

KOMPAS.com - Kota Bandung mempunyai sejarah cukup panjang terkait sepatu. Salah satunya ditandai dengan sentra industri sepatu Cibaduyut. Sejarah sepatu di Cibaduyut dimulai pada zaman Belanda tepatnya tahun 1920 ketika beberapa warga di sana bekerja di sebuah pabrik di Kota Bandung.

Setelah mempunyai keterampilan membuat sepatu, satu per satu mereka keluar dan membangun sendiri bisnis mereka di rumahnya. Lama-kelamaan, angka perajin bertambah banyak. Cibaduyut akhirnya dikenal orang sebagai tempat orang mencari sepatu murah. Bahkan, Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri) pernah menganugerahkan Cibaduyut sebagai kawasan terpanjang khusus sentra industri sepatu.

 

Sebab, di jalan sepanjang 2 km ini, toko maupun kios industri sepatu berjejer dengan rapi. Berjalannya waktu, nama Cibaduyut kian tenggelam. Banyaknya produk sepatu impor dengan harga yang sangat murah, membuat bisnis sepatu Cibaduyut "ngos-ngosan".

Apalagi, patung sepatu sebagai ciri khasnya sudah hilang terkena proyek pembangunan fly over. Kabarnya, patung tersebut saat ini disimpan menanti proyek fly over rampung. Cerita soal Cibaduyut ini diangkat Bandung Sneaker Season (BSS) 3.0. BSS mengupas sejarah kultur sepatu Bandung di Cibaduyut, melalui kolaborasi berbentuk video. "Dikenal sebagai sentra bengkel pembuatan sepatu, nama Cibaduyut justru tenggelam, dipandang sebelah mata." Demikian kata blogger sneaker, Isser James yang turut terlibat sebagai director video teaser.

Dalam video ini, Isser memvisualisasikan Cibaduyut sebagai industri kreatif lokal. Bagaimana kehidupan para perajin di sana. "Ketika datang ke Cibaduyut, saya melihat mereka bukan hanya jualan produk, namun mereka bengkel untuk brand lain," ungkap Isser di sela-sela BSS 3.0 di Bandung, belum lama ini. Isser mengungkapkan, kolaborasi ini sebagai bentuk marketing dan belajar bersama tentang perkembangan sejarah sepatu. Sebab dalam obrolannya di lapangan, produsen Cibaduyut mempunyai kekurangan tak mengetahui caranya menjual produk.

 

Teaser video yang ditayangkan di acara BSS ini mengundang minat para pecinta sneaker yang hadir. Terlebih lagi, terdapat sebagian dari mereka yang tak mengetahui hal tersebut. "Baru tahu tentang cerita Cibaduyut ini," ujar salah satu pengunjung, Jeremi. Event BSS digelar selama 3 hari (22-24 April 2022).

Diramaikan 70 UMKM sneaker dan apparel dan berbagai komunitas. Ada Scooter, Custom Motorbike, Motor Classic, Skate, BMX, Quad, Inline, Hip Hop, Mural, Tamiya, dan Sneakers, membuat acara ini meriah. Pengunjung selalu terlihat asik memilih sepatu dan apparel yang diinginkan. Sesudah selesai berbelanja mereka melihat aksi para komunitas. Sejumlah jenis sepatu yang kerap jadi incaran pun diperlihatkan di ajang tersebut.

Sebut saja Vans Authentic 44 DX, Air Jordan 1 Low Bred Toe, Converse Chuck Taylor All Star Crater Knit High, Air Jordan 1 Mid SE Diamond, Nike Woman Air Jordan 1 Mid To My First Coach, dan juga Adidas Ultraboost 22 Running Shoes. Perwakilan penyelenggara BSS dari Maks Promotor, Aga Wirasembada mengungkapkan, BSS 3.0 kali ini hanya menargetkan 15.000 pengunjung dalam 3 hari. Lebih rendah dibanding sebelum pandemi.

"Di tahun pertama pengunjung BSS mencapai 21.000, tahun selanjutnya 25.000, tahun ketiga vakum karena pandemi, dan pada 2021 hanya 7.000," ucap dia. Sementara itu, Brand Promotion Koordinator LAzone, Bonny Sari Tresno mengungkapkan, UMKM, budaya,  dan style anak zaman sekarang di BSS merepresentasikan kebutuhan masyarakat. Bonny mengatakan, setiap tahun terdapat karakter yang berbeda sehingga selalu ada perubahan yang dimunculkan dalam event BSS.

 


Disadur dari sumber lifestyle.kompas.com