Abu Batu Bara Resmi Dikeluarkan dari Kategori Limbah B3

Dipublikasikan oleh Jovita Aurelia Sugihardja

28 Februari 2024, 08.30

Sumber : kompasiana.com

Tidak asing dengan ‘batu bara’? Secara umum, batu bara merupakan sedimen yang dapat terbakar dan terbentuk dari endapan organik. Selain sebagai bahan bakar dan pembangkit listrik, manfaat lainnya di kehidupan manusia untuk mencetak uang logam hingga briket.

Di balik manfaatnya, perlu diketahui juga bahwa limbah dari batu bara ini pernah masuk dalam kategori limbah bahan berbahaya dan beracun atau B3.

Namun, baru-baru ini pemerintah mengumumkan bahwa limbah abu batu bara atau kerap disebut Fly Ash dan Bottom Ash (FABA) dihapus dari daftar limbah B3.

FABA sendiri berasal dari pembakaran batu bara pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dan industri berbahan bakar batu bara lainnya. Lewat situs resmi Badan Penelitian dan Pengembangan Energi dan Sumber Daya Mineral (Litbang ESDM), proyeksi kebutuhan batu bara hingga tahun 2027 sebesar 162 juta ton sedangkan potensi FABA-nya sebesar 16,2 juta ton.

Hal ini membuktikan bahwa banyaknya jumlah limbah disebabkan oleh kebutuhan yang semakin hari bertambah pula.

Lalu, bagaimana bisa FABA dihapus dari kategori limbah B3?

Penghapusan tersebut dilakukan lewat Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Dimana peraturan tersebut merupakan salah satu aturan turunan UU Cipta Kerja.

Awalnya, limbah FABA termasuk dalam daftar B3 pada PP 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah B3, namun kebijakan tersebut dicabut melalui PP nomor 22 bersama dengan empat PP lainnya.

Dilansir dari Tempo.co, Nani Hendrianti selaku Deputi Pengelolaan Lingkungan dan Kehutanan Kemenko Maritim pada Kamis (3/3/2021) lalu menjelaskan bahwa proses penyusunan PP 22 tersebut memerlukan proses yang tidak sebentar dan dikawal oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Keputusan ini akhirnya keluar. Judul penjelasan pada halaman 3 huruf C, pasal 459 PP 22 menunjukkan bahwa residu karbon ini bukan B3 dan dapat digunakan dalam konstruksi bangunan sebagai pengganti semen "pozzolan".

Mungkin abu limbah batubara Tapi, itu dia. Untuk semen pozzolan digunakan pada foam bed (CFB). Selain Indonesia, banyak negara lain, termasuk Amerika Serikat, Tiongkok, Jepang, India, dan Vietnam, yang telah mengklasifikasikan FABA sebagai limbah non-B3.

Sebelum laporan PP 22, 16. Anggota Serikat Pekerja Indonesia (APINDO) mereka meminta FABA dikeluarkan dari daftar limbah B3. Demikian pernyataan Presiden APINDO Haryadi B. Sukamdani yang mengatakan FABA bukanlah residu B3.

Pernyataan Haryadi bukanlah angan-angan belaka. Hasil uji model industri TCLP (Toxic Leaching Procedure) dan hasil uji toksisitas LD50 (lethal dose-50) menunjukkan bahwa FABA memenuhi persyaratan ambang batas PP 101.

"Oleh karena itu, hasil pengujian menunjukkan “FABA tidak B3.” residu,” kata Haryadi.

Disadur dari: https://www.kompasiana.com/indah91983/604c4572d541df32761fa733/kini-limbah-abu-batu-bara-resmi-dihapus-dari-kategori-limbah-b3?page=2&page_images=1