Perbaikan Tanah dan Stabilitas Tanah
Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 30 April 2025
Pendahuluan
Pertambangan bawah tanah sering kali menimbulkan risiko ketidakstabilan lereng, yang dapat berakibat fatal dengan kerugian ekonomi yang besar dan bahkan mengancam keselamatan jiwa. Untuk mencegah bencana yang mungkin terjadi akibat ketidakstabilan ini, diperlukan model evaluasi yang tidak hanya ilmiah tetapi juga praktis. Dalam konteks ini, Chen dkk. (2022) mengidentifikasi tujuh indikator utama yang mencakup berbagai aspek, mulai dari derajat tambang hingga metode penyangga atap, untuk menilai stabilitas lereng di Kabupaten Xing, Shanxi, Cina.
Metode
Metode yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari beberapa langkah. Pertama, sistem indeks evaluasi disaring menjadi tujuh indikator kunci, yaitu derajat tambang, kualitas massa lereng, curah hujan tahunan, posisi zona ekstraksi relatif lereng, sudut lereng, tinggi lereng, serta ketebalan tambang dan metode penyangga atap. Selanjutnya, penentuan bobot dilakukan melalui pendekatan subjektif menggunakan metode IAHP, di mana para pakar memberikan interval penilaian, serta pendekatan objektif dengan metode CRITIC dan Entropy untuk menghitung kontras dan korelasi. Gabungan dari kedua pendekatan ini menghasilkan bobot yang lebih representatif. Selain itu, model cloud digunakan untuk mengonversi rentang kualitatif menjadi distribusi normal terbatasi, diikuti dengan simulasi 1.000 cloud drops per tingkat stabilitas. Terakhir, tingkat stabilitas dihitung dengan mengakumulasi nilai membership dari setiap indeks untuk menentukan level stabilitas tertinggi.
Studi Kasus & Hasil
Dalam studi kasus yang dilakukan di Zona 1313 di Kabupaten Xing, kondisi geologi menunjukkan sudut lereng antara 30–80° dengan tanah kuning tebal di atas tanah merah Baode. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa lereng A, C, D, dan E berada dalam kondisi tidak stabil, sedangkan lereng B hanya mengalami retakan ringan. Validasi lapangan mengonfirmasi hasil model, di mana lereng A, C, D, dan E mengalami longsor masif, sementara lereng B hanya menunjukkan retakan minor. Hal ini menunjukkan bahwa model evaluasi yang diterapkan memiliki akurasi yang tinggi dalam memprediksi kondisi stabilitas lereng.
Pembahasan & Implikasi
Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa bobot tertinggi diperoleh dari posisi zona ekstraksi (Y₄) dengan nilai 0,249, yang menunjukkan bahwa ekstraksi di pangkal lereng dapat mempercepat kegagalan. Selain itu, fuzzy entropy yang tinggi pada lereng A, C, D, dan E (0,735–0,843) menunjukkan kompleksitas yang tinggi, sehingga memerlukan pemantauan yang intensif. Metode komprehensif yang menggabungkan pendekatan subjektif, objektif, dan model cloud terbukti jauh lebih akurat dibandingkan dengan penggunaan metode AHP atau CRITIC secara tunggal.
Kesimpulan
Dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa tujuh faktor utama yang diidentifikasi berhasil memetakan risiko longsor pasca-tambang dengan validitas yang tinggi. Penggunaan gabungan metode IAHP, CRITIC, dan Min. Discriminative Information menghasilkan bobot yang seimbang dan representatif. Akurasi model juga terbukti dengan konsistensi 100% antara prediksi dan realita lapangan. Rekomendasi yang dihasilkan mencakup prioritas mitigasi di lereng A, C, D, dan E, pengaturan zona tambang yang menjauhi pangkal lereng, serta pemantauan curah hujan dan retakan secara intensif di area dengan fuzzy entropy tinggi.
Sumber : Chen H, Guo Q, Wang L, Meng X. Evaluation of Slope Stability within the Influence of Mining Based on Combined Weighting and Finite Cloud Model. Energy Exploration & Exploitation. 2023;41(2):636–655.
Perbaikan Tanah dan Stabilitas Tanah
Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 30 April 2025
Pendahuluan: Tantangan Lama dalam Rekayasa Geoteknik
Dalam praktik rekayasa lereng, faktor keamanan (factor of safety/FS) masih digunakan sebagai ukuran utama untuk menentukan kestabilan lereng. Namun, pendekatan ini tidak secara langsung berkaitan dengan peluang kegagalan tahunan akibat hujan, sehingga menyulitkan proses mitigasi risiko secara kuantitatif. Liu dan Wang (2022) mengusulkan metode baru yang lebih akurat dan praktis untuk mengukur probabilitas longsor tahunan akibat hujan, dengan menggabungkan analisis stabilitas lereng, infiltrasi hujan, dan data statistik curah hujan lokal.
Inti Penelitian: Model CRPC sebagai Solusi Inovatif
Penelitian ini mengenalkan konsep Critical Rainfall Pattern Curve (CRPC), yaitu kurva yang menunjukkan kombinasi intensitas dan durasi hujan minimum yang dapat menyebabkan nilai FS = 1 (ambang kegagalan). Dengan menggunakan analisis numerik berulang, tim menyusun berbagai pola hujan dan menghitung FS untuk masing-masing, lalu menentukan area tidak stabil (FS < 1) dan area stabil (FS > 1).
Parameter Lereng Ilustratif:
Studi Kasus: Lereng di Jalan Bride’s Pool, Hong Kong
Kondisi Awal:
Setelah Perkuatan (stabilisasi):
Catatan Penting:
Perbaikan lereng menurunkan peluang kegagalan tahunan lebih dari lima tingkat magnitudo, dari 1:20 menjadi 1:2.400.000.
Langkah-Langkah Metode yang Diusulkan
Model Statistik Curah Hujan
Distribusi hujan di Hong Kong mengikuti distribusi Gumbel, dengan parameter yang dipasang terhadap durasi (1–168 jam). Nilai μ dan σ meningkat seiring durasi hujan. Kombinasi antara data ini dan CRPC memungkinkan kita menghitung Probabilitas Kelebihan Tahunan (AEP) untuk setiap pola hujan.
Contoh perhitungan:
Kelebihan Metode Ini Dibanding FS Konvensional
Kritik dan Saran Pengembangan
Kelebihan utama:
Namun perlu pengembangan di:
Implikasi Luas: Arah Baru dalam Manajemen Risiko Longsor
Dengan metode ini, perancang lereng bisa:
Kesimpulan
Metode CRPC yang dikembangkan oleh Liu dan Wang menyederhanakan tantangan besar dalam dunia geoteknik: menghitung probabilitas longsor tahunan akibat hujan secara kuantitatif. Pendekatan ini menggabungkan model numerik dengan data cuaca nyata, memungkinkan desainer untuk membuat keputusan berbasis risiko dan melakukan mitigasi tepat sasaran. Efektivitasnya terbukti dari studi kasus nyata, dan sangat menjanjikan untuk diterapkan secara luas di berbagai negara tropis maupun subtropis.
Sumber : Liu, X., & Wang, Y. (2022). Quantifying annual occurrence probability of rainfall-induced landslide at a specific slope. Computers and Geotechnics, 149, Article 104877.
Perbaikan Tanah dan Stabilitas Tanah
Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 30 April 2025
Pendahuluan: Ancaman Tersembunyi di Lereng Tanah Dispersif
Tanah dispersif merupakan jenis tanah yang sangat rentan terhadap pelapukan struktural ketika bersentuhan dengan air. Hal ini menjadi jauh lebih berbahaya di wilayah dengan musim beku-cair (seasonally frozen regions) seperti di China bagian timur laut, Kanada, dan sebagian besar dataran tinggi dunia. Penelitian oleh Lixiang Wang, Xiaoming Yuan, dan Miao Wang ini menyelidiki secara detail mekanisme kegagalan longsor pada lereng tanah dispersif, memanfaatkan uji laboratorium, data lapangan, dan perhitungan stabilitas lereng untuk menjawab satu pertanyaan krusial: Apa penyebab utama longsor di tanah dispersif saat siklus beku-cair terjadi?
Fakta Lapangan: Kasus Longsor Saluran Sungai Zhaolan
Lokasi:
Zhaolan New River, Kota Daqing, Provinsi Heilongjiang, China
Jenis Longsor:
Temuan Kunci:
Uji Laboratorium: Bagaimana Tanah Dispersif Gagal
Metode Uji:
Hasil Uji:
Analisis Stabilitas Lereng: Simulasi 3 Kondisi
1. Kondisi Aman (setelah konstruksi, tanpa beku dan air):
2. Kondisi setelah beku-cair:
3. Kondisi setelah beku-cair + perendaman:
Mekanisme Fisik: Kenapa Tanah Dispersif Longsor
1. Komposisi Mineral
2. Efek Freeze-Thaw
Mekanisme Longsor Dangkal
Bukti Lapangan:
Mekanisme Longsor Dalam
Kritik dan Perbandingan
Penelitian ini sangat kuat secara metodologi: kombinasi uji laboratorium, analisis mineral, dan pemodelan numerik. Namun, beberapa hal bisa diperkuat:
Relevansi Industri dan Manfaat Praktis
1. Infrastruktur Saluran dan Jalan
2. Rekomendasi Perencanaan
3. Kontribusi Teoritis
Kesimpulan
Penelitian ini menegaskan bahwa tanah dispersif sangat tidak stabil di wilayah beku musiman, terutama jika terkena air setelah beku-cair. Mekanisme longsor dangkal dan dalam berbeda, namun saling berhubungan. Kunci utamanya ada pada kerusakan struktur tanah oleh ion Na+ dan peningkatan kelembaban. Tanpa tindakan mitigasi yang tepat, risiko longsor akan terus meningkat, terutama dengan perubahan iklim global yang memperpanjang musim hujan dan meningkatkan kejadian beku-cair.
Sumber : Lixiang Wang, Xiaoming Yuan, dan Miao Wang (2020). Landslide Failure Mechanisms of Dispersive Soil Slopes in Seasonally Frozen Regions. Advances in Civil Engineering, Article ID 8832933, 13 pages.
Perbaikan Tanah dan Stabilitas Tanah
Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 30 April 2025
Pendahuluan: Mengungkap Pola Longsor di Amerika Serikat
Pegunungan Appalachian Selatan (Southern Appalachian Highlands/SAH) di Amerika Serikat merupakan wilayah dengan sejarah panjang longsoran tanah, khususnya debris flow atau aliran puing. Artikel ilmiah ini, ditulis oleh Wooten et al. (2016), membedah faktor pemicu, pola historis, dan risiko masa depan dari lebih dari 31 peristiwa besar longsor antara tahun 1876 hingga 2013, dengan fokus di wilayah North Carolina dan Virginia.
Hasil Penelitian: Studi Kasus Longsor Besar yang Pernah Terjadi
1. Peristiwa Longsor Terbesar: Hurricane Camille (1969)
2. Peeks Creek Debris Flow (2004)
3. Madison County Storm (1995)
Analisis Pemicu Longsor: Gabungan Alami dan Ulah Manusia
Faktor Geologi dan Geomorfologi
Peran Hutan
Pengaruh Aktivitas Manusia
Contoh: Dua peristiwa longsor di North Carolina terjadi meskipun hanya menerima hujan sekitar 6 mm per jam, jauh di bawah ambang batas normal, tetapi terjadi di lereng hasil reklamasi atau konstruksi.
Data Statistik dan Pola Temporal
Frekuensi Peristiwa
Ambang Hujan (Threshold)
Implikasi Lingkungan dan Manajemen Risiko
Kerusakan dan Risiko Ekosistem
Perluasan Risiko akibat Perubahan Iklim
Solusi dan Rekomendasi Praktis
1. Pemetaan Berbasis GIS dan LiDAR
2. Penilaian Zona Risiko dan Edukasi Publik
3. Integrasi dengan Kebijakan Tata Ruang
Kritik dan Nilai Tambah
Penelitian ini sangat komprehensif, menggabungkan analisis geologi, data klimatologi, dan pendekatan spasial. Namun, ada beberapa aspek yang masih dapat dikembangkan:
Kesimpulan
Penelitian ini menyajikan gambaran luas dan mendalam mengenai pola historis, penyebab utama, dan risiko longsor di Southern Appalachian Highlands. Melalui pendekatan data jangka panjang dan penggabungan analisis geologi serta hidrologi, artikel ini layak menjadi acuan utama dalam mitigasi bencana tanah longsor, tidak hanya di Amerika Serikat tetapi juga di kawasan lain dengan karakteristik geografis serupa.
Sumber : Wooten, R.M., Witt, A.C., Miniat, C.F., Hales, T.C., dan Aldred, J.L. (2016). Frequency and Magnitude of Selected Historical Landslide Events in the Southern Appalachian Highlands of North Carolina and Virginia: Relationships to Rainfall, Geological and Ecohydrological Controls, and Effects. Dalam: Greenberg, C.H., Collins, B.S. (eds). Natural Disturbances and Historic Range of Variation. Managing Forest Ecosystems, Vol. 32. Springer.
Perbaikan Tanah dan Stabilitas Tanah
Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 30 April 2025
Pendahuluan: Mengapa Penelitian Ini Penting
Tanah longsor adalah bencana geoteknik yang kompleks dan merusak. Menurut Froude dan Petley (2018), antara tahun 2004 hingga 2016, longsor menyebabkan lebih dari 4.600 kematian dan kerugian lebih dari 10 miliar USD setiap tahunnya. Penelitian ini menawarkan pendekatan eksperimental berbasis model fisik berskala kecil (1 g) untuk menguji efektivitas tiga jenis struktur remedial (dinding gravitasi, dinding bronjong, dan dinding tiang pancang) terhadap kestabilan lereng.
Metode: Replika Mini dari Dunia Nyata
Penelitian dilakukan oleh tim dari Fakultas Teknik Sipil Universitas Rijeka, Kroasia, dengan menggunakan flume berukuran 1,0 m x 2,3 m x 0,5 m. Lereng buatan dibangun dari tiga jenis tanah:
Masing-masing diuji dalam kondisi tanpa dan dengan struktur remedial. Rainfall simulator disetel dengan intensitas hujan mulai dari 32,8 mm/jam hingga ekstrem 229,9 mm/jam untuk meniru hujan lebat alami.
Teknologi Pemantauan Canggih
Untuk mendapatkan data real-time dan akurat, digunakan berbagai alat seperti:
Hal ini menjadikan penelitian ini sebagai gabungan unik antara eksperimen geoteknik dan pengukuran digital presisi tinggi.
Hasil Eksperimen dan Studi Kasus
1. Dinding Gravitasi pada Lereng Berpasir (S)
Catatan Penting: Meskipun dinding tidak roboh total, terjadi pergeseran horizontal yang memicu keruntuhan global saat beban melebihi daya dukung tanah di bawah fondasi.
2. Dinding Bronjong pada Lereng Silty (SK10)
Data Displacement: Perpindahan maksimum <2,5 cm pada bagian atas dinding bronjong, menunjukkan kestabilan struktur bahkan dalam hujan berkepanjangan.
3. Dinding Tiang Pancang pada Lereng Clayey (SK15)
Analisis Tambahan dan Implikasi Praktis
Efektivitas Relatif Struktur Perkuatan
Data Kunci
Kritik dan Opini
Penelitian ini sangat detail dan kaya akan data. Namun, tantangan utama tetap pada validitas eksternal—apakah hasil skala kecil dapat diinterpretasikan langsung ke kondisi lapangan? Meskipun prinsip scaling sudah dijelaskan, faktor kompleks seperti heterogenitas tanah dan variasi hujan lokal masih perlu eksplorasi lebih lanjut.
Hal lain yang perlu dikembangkan adalah simulasi jangka panjang untuk melihat dampak dari siklus hujan-kering yang berulang, serta potensi gempa yang disebutkan dalam latar belakang tetapi tidak diuji dalam bab ini.
Kesimpulan: Perluasan Pengetahuan dan Arah Riset Selanjutnya
Penelitian ini menunjukkan bahwa struktur remedial mampu secara signifikan memperlambat atau mencegah longsor dalam kondisi ekstrem. Data ini berguna bagi perencana geoteknik, pemerintah daerah, dan akademisi dalam:
Sumber : Željko Arbanas, Josip Peranić, Vedran Jagodnik, Martina Vivoda Prodan, dan Nina Čeh (2023). Remedial Measures Impact on Slope Stability and Landslide Occurrence in Small-Scale Slope Physical Model in 1 g Conditions. Dalam: I. Alcántara-Ayala et al. (eds.), Progress in Landslide Research and Technology, Volume 2 Issue 2. DOI: 10.1007/978-3-031-44296-4_9
Perbaikan Tanah dan Stabilitas Tanah
Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 30 April 2025
Dalam proyek infrastruktur besar seperti Etihad Rail di Abu Dhabi, keberhasilan konstruksi sangat tergantung pada kestabilan tanah dasar. Pada segmen CH66750 hingga CH67750 Marfa, ditemukan karakteristik tanah yang didominasi oleh lapisan gipsum yang bersifat tidak stabil saat kontak dengan air. Tantangan utama berupa daya dukung rendah dan potensi penurunan volume ekstrem akibat larutnya garam-garam gipsum. Maka dari itu, metode konvensional dianggap tidak memadai. Dalam makalah teknis oleh RAMY Engineering Consultants ini, dipaparkan metode perbaikan tanah komprehensif yang menggabungkan Controlled Modulus Columns (CMC), Rapid Impact Compaction (RIC), dan High Energy Impact Compaction (HEIC), serta penambahan kaolin untuk stabilisasi tanah gipsum.
Pendekatan Strategis: Kombinasi Teknik untuk Performa Maksimal
Tujuan utama metode ini adalah mencapai kekuatan tanah yang cukup untuk mendukung pondasi dangkal dengan daya dukung minimal 180 kPa. Strategi yang digunakan tidak hanya bergantung pada satu teknik, melainkan gabungan dari tiga teknologi utama. CMC digunakan untuk memperkuat dan memadatkan tanah lunak dengan menciptakan kolom semen melalui auger berlubang yang disuntikkan grout bertekanan rendah. Teknologi ini memungkinkan kontrol mutu yang sangat baik melalui pemantauan waktu nyata terhadap tekanan, torsi, kedalaman, dan volume grout yang disuntikkan. CMC juga memiliki keunggulan dibanding stone column maupun wick drain karena tidak menghasilkan getaran dan tidak mencampur tanah dengan grout, menjadikannya cocok untuk area urban yang sensitif terhadap getaran.
Selain CMC, RIC digunakan untuk pemadatan lapisan permukaan. RIC memanfaatkan beban jatuh seberat 9 hingga 16 ton dengan frekuensi 40 hingga 80 kali per menit. Alat ini memadatkan tanah melalui energi impak yang dihasilkan oleh palu yang dijatuhkan secara hidrolik, memindahkan dan memampatkan butiran tanah secara langsung. Prosedur ini melibatkan pemantauan jumlah tumbukan, energi yang diberikan, dan kedalaman penetrasi. Jika parameter yang ditentukan tidak tercapai, RIC akan secara otomatis pindah ke titik berikutnya, atau dilakukan analisis ulang terhadap jenis tanah yang tidak responsif.
Untuk kedalaman yang lebih besar dan area reklamasi, digunakan teknologi HEIC. Dengan memanfaatkan modul pemadat non-sirkular yang ditarik oleh traktor, HEIC menciptakan impak berenergi tinggi yang mampu menembus hingga kedalaman 3 hingga 5 meter. Dibandingkan metode statis seperti bulldozer atau vibratory roller, HEIC terbukti jauh lebih efektif dalam mencapai kepadatan maksimum, bahkan dalam kondisi kadar air tanah yang jauh dari kadar optimal. Energi impak yang tinggi juga memungkinkan cakupan area kerja yang lebih luas dengan produktivitas yang sangat tinggi, mencapai lebih dari 15.000 meter persegi per jam.
Masalah Tanah Gipsum: Solusi dengan Kaolin
Karakteristik tanah gipsum sangat unik. Dalam kondisi kering, tanah ini memiliki daya dukung tinggi, namun ketika kontak dengan air, garam-garam gipsum melarut, menciptakan rongga udara dan menyebabkan struktur tanah menjadi tidak stabil. Hal ini menghasilkan penurunan drastis kekuatan geser dan potensi runtuhnya struktur di atasnya, bahkan tanpa beban eksternal tambahan. Untuk mengatasi permasalahan ini, digunakan bahan tambahan alami berupa kaolin. Kaolin dipilih karena mudah diperoleh secara lokal dan mampu meningkatkan kohesi tanah serta mengurangi laju kompresi dan pelarutan garam gipsum.
Pengujian dilakukan menggunakan metode Double Oedometer Test dan uji Triaksial. Hasil uji menunjukkan bahwa dengan penambahan kaolin, kekuatan geser tanah gipsum meningkat signifikan. Proses pencucian (leaching) selama tujuh hari juga digunakan untuk mensimulasikan efek jangka panjang interaksi antara tanah dan air. Setelah tahap pencucian, dilakukan pengujian geser langsung yang menunjukkan peningkatan kohesi secara substansial seiring bertambahnya persentase kaolin yang ditambahkan.
Proses Jet Grouting dan Quality Control
Selain teknik pemadatan dan stabilisasi, proyek ini juga menggunakan metode jet grouting sebagai bagian dari penguatan tanah. Jet grouting dilakukan dengan menyuntikkan campuran grout bertekanan tinggi ke dalam tanah melalui alat khusus, menghasilkan kolom tanah-semen yang kuat dan homogen. Campuran grout terdiri dari semen Portland, fly ash, slag, air (potable atau non-potable sesuai syarat kimia), dan dalam beberapa kasus bentonit. Setiap tahap jet grouting dikendalikan melalui sistem pemantauan otomatis yang mencatat tekanan, volume aliran, laju rotasi, dan kecepatan penarikan rod.
Sebelum produksi dimulai, dilakukan program uji awal untuk menentukan parameter optimal termasuk jenis jetting (single, double, triple), tekanan cairan, kecepatan rotasi, dan tingkat pengangkatan. Selama tahap produksi, setiap elemen jet grout dicatat secara rinci. Pemantauan dilakukan dalam waktu nyata untuk menjamin kesesuaian dengan parameter yang ditentukan pada tahap uji. Data yang direkam mencakup tekanan injeksi, kecepatan aliran, jumlah grout yang digunakan, elevasi atas dan bawah kolom, serta apakah aliran kembali spoil terjadi secara terus-menerus.
Untuk memastikan mutu, dilakukan juga uji kekuatan tekan bebas (UCS) pada inti bor atau sampel grab, uji konduktivitas hidraulik, dan pemantauan penyimpangan bor secara vertikal dan horizontal. Dalam beberapa kasus, pengujian drawdown skala penuh digunakan untuk menilai efektivitas cutoff terhadap aliran air tanah. Standar penerimaan ditetapkan untuk memastikan bahwa minimal 90% sampel memenuhi syarat kekuatan pada umur 28 hari.
Studi Kasus: Gagalnya Tanah Gipsum dan Peran Modifikasi Desain
Pada beberapa lokasi proyek, ditemukan ketidaksesuaian antara data laboratorium awal dengan performa aktual di lapangan akibat ketidakseragaman tanah gipsum. Laporan FUGRO menyoroti adanya lapisan gipsum yang berubah sifat ketika terkena air. Untuk itu, selain perbaikan teknis, desain konstruksi juga dimodifikasi agar dapat menoleransi deformasi yang terjadi secara bertahap. Monitoring menggunakan piezometer dan extensometer menjadi bagian penting untuk mendeteksi pergerakan awal dan mencegah keruntuhan dini.
Kesimpulan: Efisiensi, Ketelitian, dan Ketahanan Jangka Panjang
Strategi perbaikan tanah pada proyek Etihad Rail menunjukkan bagaimana kombinasi teknologi dapat menyelesaikan permasalahan geoteknik kompleks. Penggunaan CMC, RIC, HEIC, jet grouting, dan kaolin secara terpadu memungkinkan perbaikan struktur tanah secara menyeluruh dari permukaan hingga kedalaman beberapa meter. Pemilihan metode yang tepat didasarkan pada kondisi tanah setempat, jenis permasalahan yang dihadapi, dan tujuan akhir konstruksi. Pendekatan ini tidak hanya menjamin kekuatan dan stabilitas struktur, tetapi juga memperhatikan aspek lingkungan, efisiensi waktu, dan keberlanjutan proyek secara keseluruhan. Dengan demikian, model ini dapat menjadi acuan bagi proyek-proyek besar lainnya di wilayah dengan tanah bermasalah seperti gipsum.
Sumber : Ramy Ashraf Abdelmonem. Strategy of Soil Improvement – Method Statement Etihad Rail Stage 1, GMB CH66750 to CH67750, Marfa, Abu Dhabi. RAMY Engineering Consultants, Maret 2021.