Mengenal Lebih dalam Rumah kongsi

Dipublikasikan oleh Nadia Pratiwi

13 Mei 2024, 08.27

Sumber: en.wikipedia.org

Landhuis (bahasa Belanda untuk "rumah besar, rumah bangsawan", jamak landhuizen; bahasa Indonesia: rumah kongsi; bahasa Portugis: kas di shon atau kas grandi) adalah sebuah rumah pedesaan kolonial Belanda, yang sering kali menjadi pusat administratif sebuah tanah partikulir atau wilayah pribadi di Hindia Belanda, yang kini bernama Indonesia. Banyak rumah-rumah pedesaan yang dibangun oleh Belanda di permukiman kolonial lainnya, seperti Galle, Cape Town, dan Curaçao, tetapi tidak ada yang seluas atau serumit di Karesidenan Batavia (sebuah wilayah yang meliputi sebagian wilayah Jakarta, Jawa Barat, dan Banten saat ini). Reputasi Batavia sebagai "Ratu dari Timur" banyak bertumpu pada kemegahan rumah-rumah mewah abad ke-18 ini.

Rumah-rumah ini dibangun sebagai replika arsitektur Belanda. Belakangan, desainnya memasukkan fitur-fitur dari arsitektur vernakular Jawa, sebagian sebagai respons terhadap iklim tropis. Hasilnya, perpaduan arsitektur Barat dan Jawa, yang kemudian dikenal sebagai 'Gaya Hindia' dari Hindia Belanda. Gaya Hindia adalah bentuk pertama dari perpaduan arsitektur Belanda dan lokal yang kemudian memunculkan gaya arsitektur Rasionalis Belanda di Indonesia. Meskipun berstatus sebagai warisan budaya dan dilindungi, banyak rumah-rumah bergaya Hindia Belanda yang dibiarkan rusak atau dihancurkan, sering kali karena kurangnya perawatan. Banyak dari rumah-rumah ini berada di dalam kompleks yang dimiliki oleh Kepolisian Republik Indonesia. Banyak yang diubah menjadi asrama dengan perawatan yang tidak tepat.

Sejarah

Pada abad ke-17 Belanda, semakin pentingnya Belanda sebagai negara maritim utama dengan kerajaan komersial yang berkembang, terutama di Timur, telah menghasilkan modal bagi kelas pedagang di Amsterdam. Para pedagang yang semakin kaya ini mulai menginvestasikan keuntungan mereka di tempat tinggal kedua di luar Amsterdam. Tempat tinggal kedua ini, atau landhuizen, berkisar dari tempat peristirahatan pedesaan yang sederhana hingga rumah-rumah bangsawan yang mewah, dan biasanya terletak di sepanjang sungai Amstel dan Vecht. Di Batavia, tren serupa terjadi pada pertengahan abad ke-18. Ketika Batavia semakin tidak sehat pada abad ke-18, para pejabat VOC yang kaya raya menjadi orang pertama yang melarikan diri dan membangun rumah-rumah megah di daerah pedesaan, biasanya terletak di antara sungai-sungai dan jalan-jalan menuju Batavia.

Para pejabat VOC membangun rumah-rumah pedesaan di luar kota bertembok Batavia ketika Ommelanden (daerah pedalaman yang berada tepat di luar kota bertembok) telah berhasil ditenangkan dan dijaga agar tidak diserang oleh para pemberontak Jawa, yang berusaha mengusir penjajah Belanda. Hal ini dicapai dengan membangun barisan melingkar pos-pos berbenteng di tempat-tempat seperti Antjol, Jacatra, Noordwijk, Rijswijk, Angke, dan Vijfhoek; yang sebagian besar didirikan pada pertengahan abad ke-17.

Rumah-rumah pertama merupakan bangunan sederhana, namun seiring berjalannya waktu, rumah-rumah ini menjadi rumah pedesaan yang mewah dengan taman-taman yang mewah, sering kali dilengkapi dengan paviliun musik dan menara lonceng.

Gaya Hindia

Gaya Hindia tampak sangat menonjol di rumah-rumah pedesaan di Hindia Belanda. Gaya ini muncul pada akhir abad ke-18 dan secara bertahap beradaptasi dengan iklim tropis. Gaya ini dapat dibagi menjadi tiga pola dasar utama: Rumah bergaya Belanda, rumah bergaya Hindia Belanda Transisi, dan rumah bergaya Hindia. Setidaknya satu dari setiap gaya tersebut masih bertahan hingga tahun 2015.

  • Rumah-rumah bergaya Belanda

Rumah-rumah bergaya Belanda (Nederlandse stijl) sangat populer antara tahun 1730 dan 1770. Rumah-rumah ini biasanya berupa bangunan dua lantai yang hampir mirip dengan rumah-rumah Belanda. Pengaruh Belanda terlihat jelas pada atap berpinggul, fasad yang tertutup dan kokoh, serta jendela-jendela yang tinggi. Mereka sering kali dilengkapi dengan menara lonceng, paviliun musik, dan taman hiburan khas Eropa. Satu-satunya kelonggaran terhadap iklim tropis adalah atap yang relatif besar dibandingkan dengan aslinya. Tidak seperti rumah-rumah Belanda, rumah-rumah di Batavia memiliki ruang tambahan yang luas untuk mengakomodasi para pelayan, yang biasanya berada di bagian belakang rumah. Interiornya biasanya lebih besar daripada rumah Belanda, dengan langit-langit yang jauh lebih tinggi.

Contohnya adalah rumah negara Weltevreden, Rumah Groeneveld di Condet, rumah negara Reynier de Klerck (sekarang menjadi gedung Arsip Nasional Indonesia), dan rumah negara Jan Schreuder.

  • Rumah-rumah pedesaan pada masa transisi Hindia Belanda

Rumah-rumah bergaya Nederlands-Indische stijl ini muncul antara tahun 1750 dan 1800. Struktur dan bentuknya menunjukkan akulturasi dengan iklim tropis. Masih berupa bangunan dua lantai, fasadnya terlindung dari sinar matahari dan hujan lebat oleh atap yang menjorok ke dalam di semua sisinya. Profil atapnya menyerupai atap gaya joglo lokal yang secara tradisional diperuntukkan bagi bangsawan Jawa. Lantai atas biasanya dicapai dengan tangga eksternal dan sering kali bagian tengahnya dibiarkan terbuka untuk ventilasi maksimum; serta jendela tinggi dengan daun jendela. Gaya ini juga populer di Sumatera.

Contohnya adalah Rumah Cililitan Besar (1775), yang masih ada hingga sekarang, meskipun sudah rusak. Contoh lainnya adalah rumah pedesaan Pondok Gedeh dan rumah pedesaan Cengkareng.

  • Rumah-rumah pedesaan bergaya Hindia-Belanda

Juga dikenal sebagai rumah Indo-Eropa (Indo Europeesche Stijl)[3] atau Indische stijl, tipe ini muncul antara tahun 1790 dan 1820. Bentuknya merupakan perpaduan gaya Belanda dan pribumi (Jawa). Rumah-rumah bergaya Hindia-Belanda biasanya dibangun sebagai bangunan satu lantai dengan beranda depan (pringgitan) dan beranda belakang (gadri), ditutupi oleh atap bernada tinggi berbentuk joglo yang membentang di atas beranda. Sering kali beranda dihubungkan ke galeri samping untuk perlindungan dari cuaca. Beranda sering kali memiliki pot-pot pohon palem, ubin beton atau marmer yang dingin dan dilapisi dengan tikar bambu yang dibelah. Referensi barat muncul dalam kolom-kolom neo-klasik Tuscan yang menopang atap besar yang menggantung dan pintu serta jendela yang dihias.

Gaya ini ditiru di seluruh nusantara pada periode selanjutnya. Salah satu dari beberapa contoh yang masih ada adalah rumah Cimanggis yang bobrok, yang atapnya runtuh sebelum tahun 2013. Contoh lainnya adalah Rumah Jepang (dibangun untuk Andries Hartsinck pada akhir abad ke-18, dihancurkan pada tahun 1996), Rumah Tjitrap (Citeureup), Rumah Telukpucung, Rumah Camis, dan Rumah Tjilodong (Cilodong).

Kemunduran

Dengan bubarnya VOC, rumah-rumah pedesaan menjadi kurang populer. Selama abad ke-19, dua kelompok gerakan arsitektur menguasai Hindia Belanda: gaya Neoklasik yang diterima secara universal namun mulai memudar, yang sesuai untuk sebuah kerajaan kolonial; dan Modernis, yang memunculkan aliran neo-vernakular yang digabungkan dengan Art Deco untuk menciptakan gaya tropis yang dijuluki Gaya Hindia Baru. Jika sebelumnya Gaya Hindia pada dasarnya adalah rumah-rumah Indonesia dengan sentuhan Eropa, pada awal abad ke-20, trennya adalah pengaruh modernis yang diekspresikan dalam bangunan-bangunan Eropa dengan sentuhan Indonesia. Langkah-langkah praktis yang dibawa dari Gaya Hindia sebelumnya, yang menanggapi iklim Indonesia, termasuk atap yang menjorok, jendela yang lebih besar, dan ventilasi di dinding.

Disadur dari: https://en.wikipedia.org/