Masa Depan Fintech di Indonesia: Memberdayakan Inklusi dan Literasi Keuangan

Dipublikasikan oleh Nurul Aeni Azizah Sari

10 Mei 2024, 23.12

Sumber: east.vc

Teknologi finansial (tekfin) telah mengalami lonjakan yang luar biasa di masa normal baru akibat pandemi COVID-19. Potensi penetrasi pengguna yang lebih tinggi dan peningkatan transaksi digital yang signifikan di masa depan telah mendorong kemajuan fintech. Sektor fintech di Indonesia memiliki masa depan yang menjanjikan dan diantisipasi untuk mendorong nilai transaksinya, seperti yang disorot dalam East Ventures - Digital Competitiveness Index (EV-DCI) 2023. Prospek positif ini terkait erat dengan hubungan yang tak terbantahkan antara volume transaksi tekfin, literasi keuangan, dan inklusi keuangan.

Literasi keuangan melibatkan pengetahuan, keterampilan, dan kepercayaan diri yang membentuk sikap dan perilaku untuk pengambilan keputusan dan perencanaan keuangan yang lebih baik, yang pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan. Literasi keuangan memberdayakan individu untuk membuat pilihan yang tepat tentang produk dan layanan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Di sisi lain, inklusi keuangan berarti individu dan bisnis memiliki akses ke produk dan layanan keuangan yang bermanfaat dan terjangkau yang memenuhi kebutuhan mereka - transaksi, pembayaran, tabungan, kredit, dan asuransi - yang disampaikan secara bertanggung jawab dan berkelanjutan.

Laporan EV-DCI 2023 mengungkapkan peningkatan yang luar biasa dalam transaksi digital, melonjak sebesar 32% dibandingkan tahun 2019. Lonjakan ini disertai dengan peningkatan literasi keuangan sebesar 17% dan peningkatan inklusi keuangan sebesar 20%, yang mengindikasikan kemajuan dalam hal kesadaran dan akses terhadap alat keuangan untuk stabilitas dan kemakmuran ekonomi yang lebih besar.

Sumber: Statista - Fintech Indonesia OJK - SNLIK 2022

Mendorong adopsi tekfin ke depan dengan momentum yang ada

Salah satu pendorong utama kesuksesan tekfin di Indonesia adalah adopsi platform pembayaran digital yang cepat. Platform-platform ini telah menyederhanakan transaksi seperti e-wallet, internet banking, dan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS), yang memfasilitasi pergeseran dari aktivitas keuangan tradisional offline ke online. Sebelum pandemi, penggunaan dompet digital hanya sekitar 10%. Namun, sepanjang tahun 2020, terjadi peningkatan persentase penggunaan dompet digital yang cukup signifikan, mencapai 44%.

Penguncian dan pembatasan sosial selama pandemi mempercepat pelukan belanja online, mengubah e-commerce menjadi garis hidup bagi konsumen dan bisnis. Hasilnya? Pertumbuhan e-commerce yang luar biasa sebesar 40% YoY dalam e-commerce selama semester pertama tahun 2022. Yang lebih mengesankan lagi adalah 53% pengguna e-commerce lebih menyukai dompet elektronik, yang menyoroti meningkatnya kepercayaan terhadap pembayaran digital.

Tantangan dalam peta jalan kemajuan tekfin

Terlepas dari pertumbuhan yang mengesankan di sektor fintech, ada beberapa tantangan yang harus dihadapi. Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), terdapat kesenjangan sebesar 8,3% antara literasi dan inklusi keuangan di platform fintech. Hal ini menandakan bahwa beberapa individu sadar akan layanan fintech tetapi membutuhkan lebih banyak cara untuk mengaksesnya.

Sumber: OJK: Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2022

Kesenjangan dalam literasi dan inklusi keuangan juga terlihat di beberapa provinsi. Bengkulu, Kalimantan Tengah, dan Sulawesi Tenggara memiliki tingkat inklusi keuangan yang tinggi namun memiliki skor literasi keuangan yang rendah. Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat memiliki akses terhadap produk keuangan namun membutuhkan pemahaman yang lebih.

komprehensif mengenai penawaran-penawaran tersebut. Kesenjangan pengetahuan ini membuat mereka terpapar pada risiko yang terkait dengan fintech lending ilegal. Antara tahun 2018 dan 2022, pihak berwenang telah menutup 4.432 kasus fintech lending ilegal, menggarisbawahi betapa seriusnya masalah ini.

Sumber: Otoritas Jasa Keuangan, 2022

Pendekatan strategis terhadap inisiatif digitalisasi

Pemerintah Indonesia telah mengambil langkah proaktif untuk mengatasi tantangan-tantangan ini dengan menerapkan strategi nasional literasi keuangan indonesia (SNLKI) untuk tahun 2021-2025. Strategi ini bertujuan untuk mencapai inklusi keuangan sebesar 90% pada tahun 2024. 

Di bawah strategi ini, beberapa inisiatif telah diluncurkan, termasuk menciptakan Massive Open Online Courses (MOOC) dan menyediakan kalkulator keuangan di situs web OJK untuk menilai kesehatan keuangan dan menyusun rencana keuangan yang sehat. 

Para pemain fintech, termasuk perusahaan dan asosiasi, telah menyelaraskan inisiatif mereka dengan strategi SNLKI. Salah satu contohnya adalah platform teknologi keuangan syariah yang didukung oleh East Ventures, Hijra (sebelumnya bernama ALAMI). Model bisnis inovatif Hijra bertujuan untuk meningkatkan inklusi dan literasi keuangan.

Strategi utama Hijra adalah mendanai UMKM, memberikan manfaat kepada lebih dari 1.000 perusahaan yang sebelumnya kesulitan mengakses pinjaman dari bank-bank tradisional, dan membantu lebih dari 4.000 perusahaan rintisan dan UMKM melalui bimbingan, kursus, lokakarya, dan pendanaan.  Inisiatif-inisiatif ini menjadi contoh bagaimana entitas tekfin menjembatani kesenjangan keuangan dan mendorong literasi keuangan di segmen populasi yang kurang terlayani.

Perjalanan menuju inklusi keuangan yang adil melalui tekfin di Indonesia ditandai dengan kemajuan, tantangan, dan solusi kolaboratif. Dengan inisiatif pemerintah yang strategis, pemain tekfin yang inovatif, dan meningkatnya penerimaan masyarakat terhadap keuangan digital, Indonesia berada di jalur yang tepat untuk menjadi negara yang lebih inklusif dan berdaya secara finansial.

Disadur dari: east.vc