Sustainability
Dipublikasikan oleh Guard Ganesia Wahyuwidayat pada 20 Januari 2026
1. Pendahuluan
Di banyak organisasi, “transformasi digital” sering diperlakukan seperti tujuan akhir. Perusahaan membangun aplikasi baru, membuat dashboard, memindahkan dokumen ke cloud, dan mengotomasi proses bisnis. Setelah itu, mereka merasa sudah modern. Tetapi semakin kita hidup di era krisis iklim, muncul pertanyaan yang lebih menuntut: modern untuk siapa, dan modern dalam cara apa?
Orasi ilmiah Prof. Kridanto Surendro mengajak kita memikirkan ulang posisi sistem informasi dalam konteks yang lebih besar, yaitu keberlanjutan. Bukan sekadar keberlanjutan dalam arti “sistemnya tidak down”, tetapi keberlanjutan sebagai cara manusia menjaga masa depan planet sambil tetap menjalankan ekonomi.
Narasinya dibuka dengan sesuatu yang sangat mendasar: karbon dioksida sebenarnya bagian dari sistem alami. Makhluk hidup menghasilkan karbon dioksida lewat pernapasan, sementara tumbuhan menyerap karbon dioksida dan menghasilkan oksigen melalui fotosintesis. Namun yang membuatnya menjadi krisis adalah laju dan skala emisi karbon akibat aktivitas manusia, terutama dari pembakaran bahan bakar fosil. Ketika emisi ini terus bertambah, gas rumah kaca menumpuk dan mendorong pemanasan global.
Dalam orasi ini juga disebutkan target yang semakin sering kita dengar dalam diskusi iklim global: emisi harus dikurangi setengah sebelum 2030, lalu mencapai kondisi net zero pada 2050 agar pemanasan global tidak melewati batas 1,5 derajat Celcius. Angka ini bukan sekadar alarm ilmiah, tetapi dasar arah kebijakan dunia, termasuk standar baru di industri.
Yang menarik, Prof. Kridanto tidak berhenti pada narasi iklim sebagai isu lingkungan, melainkan membawa kita ke ranah yang lebih “organisasi”: bagaimana perusahaan, kampus, dan institusi sebenarnya akan berhadapan dengan tuntutan data emisi karbon. Di sinilah sistem informasi menjadi relevan, karena pengurangan emisi bukan hanya keputusan moral, melainkan keputusan operasional yang butuh bukti.
Dan di era sekarang, bukti berarti data.
Tetapi ketika kita bicara data emisi karbon, persoalannya ternyata tidak sesederhana “hitung saja”. Justru inti kritik orasi ini adalah bahwa pengelolaan dan pengolahan data emisi karbon bersifat kompleks dan simpang siur. Perhitungan mungkin terlihat mudah di atas kertas, namun ketika organisasi mencoba benar-benar memotret emisi secara utuh, mereka akan terseret ke labirin data: tersebar di banyak unit, formatnya berbeda, sumbernya bervariasi, dan kadang tidak sinkron.
Kita bisa melihat kenapa banyak laporan keberlanjutan di Indonesia terdengar normatif. Mereka dipenuhi foto kegiatan lingkungan dan kalimat-kalimat komitmen, tetapi miskin penjelasan tentang nilai emisi yang konkret serta perbaikannya dari tahun ke tahun. Ini bukan sekadar masalah komunikasi, melainkan masalah sistem. Kalau datanya tidak tertata, laporan memang hanya bisa jadi narasi.
Dari sini, sustainable information system menjadi gagasan yang sangat praktis: sistem informasi yang tidak hanya membuat organisasi lebih cepat, tetapi juga membuat organisasi lebih bertanggung jawab.
Dalam konteks mahasiswa, topik ini terasa relevan karena banyak generasi muda yang terlibat dalam isu lingkungan, tetapi sering tidak tahu bagaimana mengubah kepedulian menjadi sistem kerja. Dalam konteks pekerja, topik ini bahkan lebih keras: semakin banyak industri dituntut membuktikan emisinya melalui standar global, sehingga “punya data yang bisa dipercaya” bukan lagi pilihan, melainkan syarat bertahan.
2. Green ICT dan Green by ICT: Dua Wajah Teknologi yang Sering Tertukar
Salah satu bagian paling penting dari orasi ini adalah pembedaannya terhadap dua istilah yang sering terdengar mirip, tetapi sebenarnya membawa orientasi yang berbeda: Green ICT dan Green by ICT.
Di dunia sistem informasi, Green ICT mengacu pada penggunaan perangkat dan sumber daya teknologi informasi yang ramah lingkungan. Sederhananya, ini tentang membuat teknologi itu sendiri lebih hemat energi, lebih efisien, dan tidak boros sumber daya. Contohnya bisa berupa server yang lebih efisien, penggunaan energi yang lebih rendah, manajemen pendinginan pusat data yang lebih baik, atau kebijakan perangkat keras yang lebih berkelanjutan.
Sedangkan Green by ICT adalah pemanfaatan teknologi informasi untuk membantu mengurangi emisi karbon di luar teknologi itu sendiri. Artinya, teknologi menjadi alat untuk mengurangi emisi dalam sistem yang lebih luas: misalnya efisiensi rantai pasok, optimalisasi transportasi, pengurangan perjalanan lewat sistem kerja jarak jauh yang efektif, pemantauan energi dalam gedung, atau otomatisasi proses yang mengurangi pemborosan material.
Perbedaan dua istilah ini penting karena sering terjadi kesalahan berpikir dalam organisasi. Banyak organisasi merasa sudah “go green” hanya karena mereka mengganti lampu kantor dengan LED atau membeli perangkat hemat energi. Itu baik, tetapi belum tentu menyentuh inti emisi terbesar dalam sistem mereka. Di sisi lain, organisasi bisa saja membangun sistem digital yang canggih untuk efisiensi bisnis, tetapi justru membuat konsumsi energi TIK membengkak karena pusat data membesar dan penggunaan komputasi meningkat.
Di sinilah sustainable information system harus bekerja sebagai penyeimbang: ia tidak boleh hanya memilih salah satu, tetapi memetakan keduanya sebagai dua tanggung jawab yang berjalan bersama.
Orasi ini juga menyebutkan panduan dari World Bank yang mengusulkan perhitungan emisi karbon sektor TIK dengan fokus pada emisi operasional saja. Secara praktis, ini seperti “jalan cepat” untuk memulai: hitung berapa lama komputer digunakan, server berjalan, AC dipakai, dan seterusnya. Dengan pendekatan seperti itu, perhitungan emisi pusat data menjadi lebih mudah.
Namun, Prof. Kridanto juga mengingatkan bahwa kompleksitas emisi tidak bisa selalu dipangkas sesederhana itu. Ada masalah besar yang sering luput ketika organisasi menghitung emisi: emisi yang melekat pada produk atau komponen yang digunakan. Dalam bahasa yang lebih familiar untuk industri, ini terkait emisi pada rantai pasok. Emisi bukan hanya dari aktivitas operasional langsung, tetapi juga dari barang dan jasa yang dipakai organisasi.
Di sini muncul dilema yang sering terjadi dalam praktik. Kalau organisasi hanya menghitung emisi operasional, mereka memang bisa bergerak cepat dan punya angka awal. Tetapi angkanya bisa menipu karena tidak menggambarkan keseluruhan jejak karbon. Sebaliknya, jika organisasi mencoba menghitung semuanya sejak awal, mereka bisa tersandung kompleksitas data dan akhirnya tidak jalan sama sekali.
Sustainable information system seharusnya membantu organisasi keluar dari dilema itu.
Cara berpikirnya adalah: mulai dengan kerangka yang masuk akal, lalu bangun sistem data yang makin matang. Tidak harus sempurna sejak tahun pertama, tetapi harus jelas arahnya.
Dalam orasi ini, Prof. Kridanto mengusulkan perlunya tata kelola emisi karbon dan bahkan membayangkan perlunya sistem terintegrasi yang mirip ERP untuk emisi. Gagasannya sederhana: kalau organisasi bisa menyusun sistem terintegrasi untuk keuangan, supply chain, dan HR, mengapa tidak bisa untuk data emisi?
Jawabannya bukan tidak bisa. Tantangannya adalah kemauan dan desain arsitekturnya.
Karena berbeda dengan data keuangan yang biasanya sudah rapi dalam sistem, data emisi sering berserakan: di gedung, di vendor listrik, di transportasi, di aktivitas pengguna, di pembelian perangkat, bahkan di kebiasaan manusia sehari-hari. Maka sustainable information system harus dimulai dari satu fondasi: arsitektur data yang memetakan sumber dan aliran data emisi.
Bagian ini membuat sustainable information system terasa bukan sebagai topik abstrak, tetapi sebagai proyek nyata: merapikan data, mengurangi simpang siur, dan membuat keputusan berbasis angka yang bisa diverifikasi.
3. Mengukur Emisi Aktivitas Mahasiswa: Dari Isu Global ke Kebijakan Kampus yang Nyata
Di banyak forum, isu emisi karbon sering terasa jauh dari kehidupan sehari-hari. Ia terdengar seperti urusan konferensi internasional, target negara, atau negosiasi antar pemerintah. Tetapi orasi Prof. Kridanto Surendro justru menarik isu itu turun ke level yang lebih dekat: aktivitas individu dalam institusi pendidikan, khususnya mahasiswa.
Ini langkah yang menarik, karena kampus sering menempatkan diri sebagai agen perubahan sosial, tetapi jarang mengukur jejak karbon aktivitas internalnya secara serius. Padahal kampus adalah kota kecil. Ada gedung, listrik, ruang kelas, laboratorium, transportasi harian, konsumsi perangkat elektronik, hingga aktivitas belajar mandiri yang terus berulang. Semua itu menghasilkan emisi. Yang membedakan kampus dengan industri adalah karakter aktivitasnya, bukan ketiadaan emisinya.
Dalam penelitian yang disebutkan di orasi, Prof. Kridanto dan tim membatasi kontribusi emisi mahasiswa pada dua kategori utama: Scope 2 dan Scope 3. Scope 2 dipahami sebagai pemanfaatan fasilitas elektronik di kampus seperti penggunaan kelas dan laboratorium. Scope 3 mencakup aktivitas mahasiswa yang terkait dengan proses belajar-mengajar, termasuk kuliah, ujian, praktikum, belajar mandiri, transportasi, dan aktivitas terkait lainnya.
Pembatasan ini penting karena ia menunjukkan metode yang realistis. Mengukur emisi secara total dari kehidupan mahasiswa bisa sangat kompleks. Tetapi dengan membuat batas yang masuk akal dan sesuai konteks kampus, pengukuran menjadi mungkin dilakukan tanpa menunggu sistem sempurna.
Penelitian ini dilakukan dalam periode Agustus 2022 sampai Mei 2023 dengan melibatkan 1.071 mahasiswa dari program studi Teknik Informatika, Sistem dan Teknologi Informasi, serta Magister Informatika.
Hasilnya memberikan angka yang cukup tegas: total emisi karbon yang diperoleh sebesar 612.813 kg per tahun. Jika dibagi per mahasiswa, emisinya sekitar 570,2 kg per tahun, dengan emisi rata-rata harian sebesar 3,08 kg per hari.
Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Ia mengubah isu keberlanjutan dari sesuatu yang abstrak menjadi sesuatu yang bisa dibayangkan.
3,08 kg per hari mungkin terdengar kecil jika berdiri sendiri. Tapi ketika dikalikan ribuan mahasiswa, hasilnya menjadi sangat besar. Dan di situlah pesan utamanya muncul: emisi bukan hanya soal pabrik, kendaraan besar, atau industri energi. Emisi juga lahir dari rutinitas yang dianggap normal.
Yang lebih penting, angka ini bisa menjadi dasar kebijakan.
Prof. Kridanto menyebut bahwa dari hasil penelitian, dapat diusulkan beberapa kebijakan untuk mengurangi konsumsi energi dan menciptakan lingkungan ITB yang bersih.
Dalam konteks kampus, kebijakan seperti ini sebenarnya bisa mengambil banyak bentuk, misalnya:
pengaturan penggunaan ruang kelas dan laboratorium agar lebih efisien
optimasi jadwal agar mengurangi kebutuhan ruang kosong dengan listrik menyala
kebijakan transportasi dan akses kampus yang mendorong pilihan lebih rendah emisi
strategi hybrid learning yang tidak sekadar “online”, tapi benar-benar menekan pemborosan energi dan mobilitas yang tidak perlu
standardisasi perangkat dan praktik penggunaan energi di lingkungan akademik
Namun, inti dari semua kebijakan itu adalah satu: kebijakan tidak bisa berdiri tanpa data.
Di sinilah sustainable information system berperan sebagai pengubah permainan. Karena tanpa sistem yang rapi, kampus hanya akan mengulang pola “komitmen tanpa ukuran”. Dan ketika tidak ada ukuran, tidak ada cara untuk menilai apakah kebijakan berhasil atau hanya menjadi simbol.
Orasi ini juga menyinggung bahwa banyak sustainability report perusahaan di Indonesia masih normatif: menampilkan foto-foto perbaikan lingkungan, tetapi tidak menjelaskan nilai emisi karbon serta bagaimana perbaikan terjadi dari waktu ke waktu.
Fenomena ini tidak terjadi hanya di perusahaan, tetapi juga berpotensi terjadi di kampus. Kita bisa melakukan banyak kegiatan “hijau”, tetapi jika tidak ada sistem data, kita tidak pernah benar-benar tahu apakah emisi kita turun atau hanya berpindah bentuk.
Dan di sinilah isu emisi mahasiswa menjadi contoh yang kuat. Ia menunjukkan bahwa pengukuran bisa dimulai dari satu unit aktivitas, lalu berkembang menjadi sistem yang lebih luas. Kampus tidak harus menunggu “sistem nasional” untuk mulai bertanggung jawab pada data internalnya.
4. Net Zero Emission Framework dan AI: Ketika Sistem Informasi Tidak Hanya Menghitung, Tapi Memprediksi
Salah satu bagian paling menarik dalam orasi Prof. Kridanto adalah gagasannya bahwa sustainable information system seharusnya tidak berhenti pada pencatatan emisi karbon. Ia harus bergerak menuju pengelolaan yang lebih matang: terintegrasi, terencana, dan mampu memprediksi.
Di sini, Prof. Kridanto menjelaskan bahwa untuk mengatasi kompleksitas pengumpulan dan pengelolaan data emisi karbon secara terintegrasi, digunakan rancangan kerja Net Zero Emission Framework yang disusun secara top-down pada level platform kecerdasan bisnis.
Lalu muncul kalimat yang menjadi pembeda besar: platform ini memanfaatkan kecerdasan buatan, pembelajaran mesin, dan informasi kuantum untuk pemrosesan dan prediksi emisi karbon. Yang dilakukan bukan hanya mencatat dan menghitung, tetapi memprediksi berapa besar emisi karbon yang akan terjadi pada periode tertentu.
Pernyataan ini membawa kita pada satu perubahan mendasar dalam cara organisasi mengelola keberlanjutan.
Selama ini, emisi sering dikelola seperti laporan keuangan yang terlambat. Kita menghitung setelah kejadian, lalu menyimpulkan “tahun ini naik” atau “tahun ini turun”. Tetapi untuk benar-benar menurunkan emisi, organisasi membutuhkan pendekatan proaktif. Mereka perlu tahu tren, memprediksi lonjakan, dan merancang intervensi sebelum masalah membesar.
Dalam bahasa sistem informasi, ini berarti pergeseran dari descriptive analytics menuju predictive analytics. Dari “apa yang terjadi” menuju “apa yang mungkin terjadi”.
Namun, prediksi tidak bisa lahir dari sistem yang datanya berantakan.
Itulah sebabnya orasi ini menekankan kebutuhan arsitektur emisi karbon. Prof. Kridanto menyebut bahwa pengelolaan data emisi karbon tidak sederhana, data bersifat kompleks, tersebar, dan simpang siur. Karena itu perlu upaya membuat arsitektur emisi karbon sebagai rencana pengembangan aplikasi.
Arsitektur data ini pada dasarnya adalah peta yang menjawab pertanyaan besar:
data emisi datang dari mana?
siapa pemilik data?
bagaimana data dikumpulkan?
format apa yang digunakan?
seberapa sering data diperbarui?
bagaimana data dibersihkan dan divalidasi?
bagaimana data diolah menjadi indikator yang bisa dipakai pimpinan?
Tanpa arsitektur, organisasi akan melakukan pengukuran yang tidak konsisten. Satu unit memakai metode A, unit lain memakai metode B. Hasilnya tidak bisa dibandingkan. Lalu organisasi terjebak dalam laporan yang terlihat “ada angka”, tetapi angka itu tidak bisa dipercaya.
Selain arsitektur, orasi ini juga menekankan pentingnya tata kelola (governance).
Prof. Kridanto mengutip pandangan bahwa tata kelola adalah sistem di mana entitas dapat diarahkan dan dikendalikan sesuai harapan. Ini relevan, karena data emisi bukan hanya data teknis. Ia data yang menyentuh kepentingan banyak pihak: keuangan, operasional, reputasi, dan kepatuhan terhadap standar.
Tanpa tata kelola, sistem informasi emisi akan mengalami masalah klasik:
data tidak lengkap karena unit enggan melapor
data tidak konsisten karena definisinya berbeda-beda
data tidak dipakai karena pimpinan tidak percaya
data tidak ditindaklanjuti karena tidak ada SOP keputusan
Karena itu, gagasan Prof. Kridanto tentang sistem terintegrasi yang “mirip ERP untuk emisi karbon” terdengar sangat logis.
ERP mengintegrasikan proses keuangan, SDM, logistik, dan produksi dalam satu sistem. Jika organisasi bisa mengintegrasikan uang dan inventori, seharusnya organisasi juga bisa mengintegrasikan jejak karbon. Bedanya, sistem emisi memerlukan definisi yang lebih rumit karena jejak karbon tersebar dalam rantai aktivitas dan rantai pasok.
Orasi ini juga menyebut gagasan Informatika Energi dari Richard T. Watson tahun 2010, yang mengakui peran sistem informasi dalam mengurangi konsumsi energi dan emisi karbon. Ini penting sebagai konteks akademik: sustainable information system bukan ide yang muncul tiba-tiba, tetapi bagian dari evolusi pemikiran bahwa masalah lingkungan bukan hanya masalah teknologi energi, tetapi juga masalah informasi.
Pada akhirnya, bagian ini menguatkan satu kesimpulan analitis:
Sustainable information system bukan sistem informasi yang “bertema hijau”, tetapi sistem informasi yang mampu menciptakan keputusan yang lebih tepat tentang emisi.
Ia menuntut data yang rapi, arsitektur yang jelas, tata kelola yang tegas, dan kemampuan analitik yang naik kelas dari sekadar perhitungan menuju prediksi.
Dan jika sistem seperti ini bisa berjalan di kampus, ia akan menjadi contoh yang kuat bahwa keberlanjutan bukan hanya urusan korporasi besar, tetapi bisa dimulai dari institusi pendidikan sebagai tempat lahirnya pengetahuan dan kebijakan berbasis data.
5. Sustainable Information System untuk Organisasi: Dari ESG dan SDGs ke Keputusan Operasional yang Bisa Dipertanggungjawabkan
Setelah emisi karbon mahasiswa dipetakan dan kerangka Net Zero Emission Framework diperkenalkan, orasi Prof. Kridanto Surendro sebenarnya mendorong kita ke satu pertanyaan yang lebih besar: apa dampaknya bagi organisasi secara keseluruhan?
Karena jika sustainability hanya berhenti pada slogan atau kampanye, organisasi tidak akan berubah. Perubahan baru terjadi ketika keberlanjutan masuk ke mekanisme kerja sehari-hari: anggaran, target, prosedur, dan sistem evaluasi.
Di sinilah sustainable information system menjadi penting. Ia berfungsi sebagai mesin yang mengubah “komitmen hijau” menjadi keputusan operasional yang bisa dipertanggungjawabkan.
Untuk memahami urgensinya, kita perlu melihat bagaimana tekanan global terhadap organisasi berkembang. ESG (Environmental, Social, Governance) bukan lagi istilah untuk laporan tahunan. Ia berubah menjadi cara investor, regulator, dan pasar menilai kredibilitas perusahaan. SDGs juga bukan sekadar proyek sosial, tetapi sering menjadi kerangka komunikasi global tentang kontribusi organisasi terhadap pembangunan berkelanjutan.
Namun, masalahnya tetap sama: tanpa sistem data, ESG dan SDGs mudah berubah menjadi narasi kosong.
Orasi ini menyoroti fenomena yang banyak orang sebenarnya sudah rasakan tetapi jarang disebut langsung: banyak laporan keberlanjutan perusahaan di Indonesia masih normatif. Laporan tersebut sering menampilkan dokumentasi kegiatan dan pernyataan komitmen, tetapi belum menjelaskan nilai emisi karbon secara jelas serta bagaimana nilai itu berubah dari waktu ke waktu. Ini membuat sustainability report lebih dekat dengan komunikasi reputasi daripada alat manajemen.
Di titik ini, sustainable information system bekerja sebagai koreksi.
Sistem informasi yang berkelanjutan tidak bertugas membuat laporan terlihat menarik, tetapi memastikan data emisi dan dampaknya benar-benar tercatat, tervalidasi, dan bisa digunakan untuk mengambil keputusan.
Dalam praktik organisasi, ini akan memengaruhi banyak area.
Pertama, organisasi akan dipaksa mendefinisikan apa yang dimaksud dengan emisi, dan bagaimana emisi dihitung.
Tanpa definisi yang konsisten, angka akan selalu bisa diperdebatkan. Itulah sebabnya orasi ini menekankan kompleksitas data emisi yang simpang siur. Jika sumber data tersebar dan formatnya berbeda-beda, maka organisasi cenderung menghasilkan perhitungan yang tidak konsisten antar unit.
Kedua, organisasi akan dipaksa membangun arsitektur data emisi.
Arsitektur di sini bukan sekadar diagram teknis, tetapi peta tanggung jawab dan aliran informasi. Ia menetapkan siapa pemilik data, siapa yang menginput, siapa yang mengolah, siapa yang memverifikasi, dan siapa yang menggunakan data tersebut untuk keputusan. Dengan arsitektur, emisi tidak lagi menjadi isu yang “ditaruh di divisi lingkungan”, tetapi menjadi isu lintas unit yang bisa ditelusuri.
Ketiga, organisasi akan masuk ke tahap yang lebih dewasa: pengendalian, bukan hanya pengukuran.
Banyak organisasi hari ini berada pada fase awal: mereka baru belajar menghitung emisi. Tetapi menghitung emisi saja belum mengurangi emisi. Pengurangan emisi membutuhkan kontrol, dan kontrol membutuhkan sistem.
Di sinilah pendekatan yang memanfaatkan kecerdasan buatan dan pembelajaran mesin menjadi relevan. Dalam orasi, ditegaskan bahwa platform yang dikembangkan tidak hanya menghitung emisi, tetapi memprediksi emisi pada periode tertentu. Ini mengubah pola pikir organisasi: dari reaktif menjadi proaktif.
Jika organisasi tahu bahwa emisi bulan depan diprediksi naik karena pola konsumsi energi tertentu, organisasi bisa merancang intervensi: menata ulang jadwal operasional, mengoptimalkan penggunaan energi, atau mengubah kebijakan penggunaan fasilitas.
Keempat, sustainable information system membuat keberlanjutan lebih “terasa” bagi pekerja.
Salah satu alasan sustainability sering gagal diterapkan adalah karena pekerja tidak tahu apa yang harus mereka ubah. Mereka hanya mendengar target besar seperti net zero 2050, tetapi tidak melihat hubungan antara pekerjaan harian dengan target itu.
Ketika data emisi dipecah menjadi aktivitas dan proses, hubungan itu mulai terlihat. Misalnya, konsumsi listrik gedung, pemakaian AC, jadwal laboratorium, mobilitas harian, atau penggunaan perangkat. Semua ini bukan hal abstrak. Semua ini adalah perilaku organisasi.
Maka sustainable information system sebenarnya bukan hanya alat teknis, tetapi alat perubahan perilaku kolektif. Ia membuat organisasi bisa mengatakan, “di titik ini emisi kita naik,” dan “di titik itu emisi kita turun,” dengan alasan yang bisa ditelusuri.
Kelima, sistem ini menjadi jembatan antara kebijakan dan audit.
Dalam dunia bisnis, komitmen yang serius selalu harus bisa diaudit. Begitu perusahaan masuk ke rantai pasok global, tuntutan audit akan semakin kuat. Dan audit tidak bisa dipenuhi dengan cerita, tetapi dengan data.
Sustainable information system membantu organisasi menjawab pertanyaan audit dengan lebih tegas: data apa yang dipakai, bagaimana dikumpulkan, bagaimana dihitung, dan bagaimana konsisten antar periode.
Jika kita rangkum, orasi ini membawa pesan bahwa keberlanjutan tidak akan stabil jika bergantung pada kampanye. Keberlanjutan baru stabil jika ia masuk ke sistem informasi organisasi.
6. Kesimpulan: Sistem Informasi Berkelanjutan Adalah Infrastruktur Data untuk Masa Depan Rendah Karbon
Orasi Prof. Kridanto Surendro memperlihatkan bahwa krisis iklim bukan hanya isu energi dan lingkungan, tetapi juga isu informasi. Target global seperti pengurangan emisi sebelum 2030 dan net zero 2050 menuntut organisasi memiliki kemampuan yang lebih serius dalam mengelola data.
Tetapi data emisi karbon bukan data yang sederhana. Dalam orasi ini ditekankan bahwa pengelolaan dan pengolahan data emisi karbon bersifat kompleks, tersebar, dan simpang siur. Karena itu, organisasi tidak bisa mengandalkan pendekatan manual atau laporan normatif. Mereka membutuhkan sistem informasi yang dirancang secara khusus untuk keberlanjutan.
Perbedaan antara Green ICT dan Green by ICT menunjukkan bahwa teknologi informasi punya dua tanggung jawab sekaligus: membuat infrastrukturnya sendiri lebih hemat energi, dan membantu menurunkan emisi di sistem organisasi yang lebih luas. Sustainable information system berada di tengah keduanya, sebagai pendekatan yang tidak hanya mendigitalisasi proses, tetapi memastikan digitalisasi menghasilkan dampak rendah karbon yang terukur.
Penelitian emisi aktivitas mahasiswa menjadi contoh konkret bahwa pengukuran bisa dilakukan dengan batas yang realistis, misalnya melalui Scope 2 dan Scope 3. Hasilnya menunjukkan emisi tahunan yang besar dan emisi rata-rata harian per mahasiswa yang cukup signifikan jika dilihat secara kolektif. Data seperti ini mengubah keberlanjutan dari isu moral menjadi isu operasional yang bisa dikelola melalui kebijakan kampus.
Orasi ini juga menunjukkan arah yang lebih maju: pembangunan Net Zero Emission Framework berbasis kecerdasan bisnis yang memanfaatkan kecerdasan buatan dan pembelajaran mesin untuk memproses serta memprediksi emisi karbon. Pendekatan ini menandai pergeseran dari sekadar menghitung emisi menjadi memprediksi dan mengendalikan emisi.
Pada akhirnya, sustainable information system dapat dibaca sebagai bentuk infrastruktur baru: infrastruktur data untuk masa depan rendah karbon. Organisasi yang mampu membangun arsitektur data emisi, tata kelola yang jelas, serta analitik yang matang akan lebih siap menghadapi tuntutan global. Organisasi yang tidak siap akan tertinggal, bukan karena tidak peduli, tetapi karena tidak memiliki sistem yang memadai untuk membuktikan dan mengendalikan dampaknya.
Bagi mahasiswa, artikel ini menunjukkan bahwa sistem informasi bukan hanya alat bisnis, tetapi alat keberlanjutan yang semakin penting di masa depan. Bagi pekerja, artikel ini menegaskan bahwa keberlanjutan tidak bisa lagi diperlakukan sebagai urusan “bagian lain”, tetapi harus masuk ke inti sistem kerja, karena tuntutan data dan audit akan semakin keras.
Dan bagi institusi seperti kampus, keberlanjutan adalah kesempatan untuk menjadi contoh: membangun sistem berbasis data yang bukan hanya mengurangi emisi, tetapi juga mendidik generasi yang terbiasa membuat keputusan berbasis bukti.
Daftar Pustaka
Institut Teknologi Bandung. Orasi Ilmiah Guru Besar ITB Prof. Kridanto Surendro: Sustainable Information System. 2024.
Watson, R. T. Energy Informatics: A New Discipline. 2010.
World Bank. Digital Development dan pedoman pendekatan emisi sektor TIK. (diakses 2026).
UNFCCC. Net Zero dan jalur pembatasan pemanasan global 1,5°C. (diakses 2026).
GHG Protocol. Corporate Accounting and Reporting Standard (Scope 1, 2, 3). (diakses 2026).
Sustainability
Dipublikasikan oleh Guard Ganesia Wahyuwidayat pada 21 Desember 2025
1. Pendahuluan: Pengadaan Publik sebagai Tuas Kebijakan yang Terabaikan
Dalam banyak diskursus kebijakan, pengadaan publik sering diperlakukan sebagai fungsi administratif semata—mekanisme untuk membeli barang dan jasa dengan biaya serendah mungkin. Pendekatan ini mengabaikan fakta bahwa belanja negara merupakan salah satu instrumen kebijakan paling kuat dalam membentuk arah pasar, struktur industri, dan pola produksi nasional.
Skala pengadaan publik menjadikannya aktor ekonomi yang signifikan. Ketika negara menetapkan kriteria pengadaan, ia tidak hanya menentukan siapa yang menang tender, tetapi juga sinyal apa yang dikirimkan kepada produsen dan penyedia jasa. Dalam konteks keberlanjutan, pilihan kriteria pengadaan menentukan apakah pasar didorong untuk berinovasi menuju efisiensi sumber daya atau justru mempertahankan praktik lama yang boros dan berumur pendek.
Artikel ini merujuk pada materi Sustainable Public Procurement, yang menekankan bahwa pengadaan berkelanjutan bukan sekadar kebijakan lingkungan, melainkan alat transformasi ekonomi. Dengan mengintegrasikan pertimbangan siklus hidup, dampak lingkungan, dan nilai sosial, pengadaan publik dapat menggeser logika pasar dari harga terendah menuju nilai jangka panjang.
Dengan pendekatan analitis, artikel ini membahas pengadaan publik sebagai instrumen negara yang bersifat strategis. Fokusnya bukan pada prosedur teknis, tetapi pada implikasi struktural: bagaimana perubahan logika pengadaan memengaruhi insentif pasar, kapasitas industri, dan efektivitas kebijakan keberlanjutan.
2. Mengapa Logika Harga Terendah Gagal secara Struktural
Logika harga terendah berangkat dari asumsi bahwa persaingan harga akan menghasilkan efisiensi. Dalam praktik pengadaan publik, asumsi ini sering kali tidak terpenuhi. Harga terendah pada tahap pengadaan kerap menyembunyikan biaya yang muncul di kemudian hari, baik dalam bentuk biaya pemeliharaan, kegagalan fungsi, maupun dampak lingkungan dan sosial.
Pendekatan ini menciptakan bias jangka pendek. Penyedia didorong menekan biaya awal, sering kali dengan mengorbankan kualitas, daya tahan, dan efisiensi penggunaan sumber daya. Akibatnya, negara justru menghadapi biaya total yang lebih tinggi sepanjang umur aset. Dalam sektor infrastruktur dan layanan publik, efek ini sangat signifikan karena aset beroperasi dalam jangka panjang.
Selain itu, logika harga terendah mendistorsi insentif pasar. Produsen yang berinvestasi pada teknologi bersih, material tahan lama, atau praktik kerja yang lebih baik sering kali kalah bersaing karena biaya awal yang lebih tinggi. Pasar kemudian memberi sinyal negatif terhadap inovasi berkelanjutan, memperlambat transformasi industri.
Kegagalan struktural ini juga berdampak pada kapasitas institusi. Aparatur pengadaan terjebak pada kepatuhan prosedural, bukan pencapaian hasil kebijakan. Selama keberhasilan diukur dari harga terendah, ruang untuk mempertimbangkan nilai jangka panjang menjadi sempit. Kondisi ini menunjukkan bahwa masalah pengadaan berkelanjutan bukan kekurangan niat, melainkan kerangka logika yang keliru.
3. Life Cycle Costing dan Pergeseran Pengadaan Berbasis Nilai
Pergeseran dari logika harga terendah menuju nilai jangka panjang membutuhkan kerangka evaluasi yang berbeda. Di sinilah Life Cycle Costing (LCC) menjadi instrumen kunci. LCC memperluas perspektif pengadaan dari biaya awal menuju total biaya sepanjang umur barang atau layanan, termasuk operasi, pemeliharaan, dan akhir masa pakai.
Pendekatan ini mengubah cara negara menilai efisiensi. Produk dengan harga awal lebih tinggi dapat menjadi pilihan rasional jika menghasilkan biaya operasional lebih rendah, umur pakai lebih panjang, atau dampak lingkungan yang lebih kecil. Dalam konteks pengadaan publik, LCC membantu menginternalisasi biaya yang selama ini tersembunyi dan sering dibebankan pada anggaran masa depan.
Namun penerapan LCC bukan sekadar persoalan teknis perhitungan. Ia menuntut perubahan budaya pengadaan. Aparatur perlu beralih dari kepatuhan prosedural menuju penilaian berbasis hasil. Hal ini memerlukan kapasitas analitis, data yang andal, dan keberanian kebijakan untuk menerima bahwa efisiensi tidak selalu identik dengan harga terendah.
Lebih jauh, pengadaan berbasis nilai membuka ruang inovasi. Ketika kriteria pengadaan menghargai kinerja jangka panjang, pasar terdorong mengembangkan solusi yang lebih efisien dan berkelanjutan. Dengan demikian, LCC tidak hanya meningkatkan kualitas belanja negara, tetapi juga mengubah sinyal ekonomi yang diterima pelaku usaha.
4. Dampak Pengadaan Berkelanjutan terhadap Pasar dan Kapasitas Industri
Pengadaan publik memiliki efek pengungkit yang kuat terhadap pasar. Ketika negara secara konsisten menerapkan kriteria keberlanjutan dan nilai jangka panjang, produsen dan penyedia jasa akan menyesuaikan strategi mereka. Dalam jangka menengah, pengadaan berkelanjutan dapat membentuk pasar awal bagi produk dan layanan yang lebih efisien dan inovatif.
Dampak ini sangat relevan bagi pengembangan kapasitas industri domestik. Pengadaan yang hanya berfokus pada harga sering kali mendorong persaingan berbasis biaya rendah, yang sulit dimenangkan oleh produsen yang berinvestasi pada kualitas dan inovasi. Sebaliknya, pengadaan berkelanjutan memberi ruang bagi industri untuk meningkatkan standar produksi dan memperkuat daya saing jangka panjang.
Namun terdapat risiko jika transisi tidak dikelola dengan baik. Persyaratan keberlanjutan yang diterapkan secara kaku tanpa dukungan kapasitas dapat mengecualikan pelaku usaha kecil dan menengah. Oleh karena itu, pengadaan berkelanjutan perlu disertai kebijakan pendukung, seperti pendampingan, pengembangan standar bertahap, dan mekanisme kemitraan.
Dari perspektif kebijakan industri, pengadaan berkelanjutan merupakan alat strategis untuk menyelaraskan belanja negara dengan tujuan pembangunan. Ia memungkinkan negara bertindak sebagai pembeli cerdas yang tidak hanya memenuhi kebutuhan jangka pendek, tetapi juga membentuk struktur pasar yang lebih tangguh dan berkelanjutan.
5. Kapasitas Institusi dan Tantangan Implementasi Pengadaan Berkelanjutan
Transformasi pengadaan publik menuju pendekatan berkelanjutan sangat ditentukan oleh kapasitas institusi. Perubahan logika dari harga terendah ke nilai jangka panjang menuntut aparatur pengadaan memiliki kemampuan analitis, pemahaman risiko, dan keberanian pengambilan keputusan yang lebih besar dibandingkan praktik konvensional.
Salah satu tantangan utama adalah budaya kepatuhan yang terlalu sempit. Dalam banyak sistem birokrasi, keberhasilan pengadaan diukur dari minimnya temuan administratif, bukan dari kualitas hasil kebijakan. Kondisi ini mendorong aparatur memilih opsi paling aman secara prosedural, meskipun tidak optimal secara ekonomi dan lingkungan. Tanpa perubahan indikator kinerja, pengadaan berkelanjutan sulit berkembang.
Ketersediaan data juga menjadi kendala. Penilaian berbasis LCC dan nilai jangka panjang membutuhkan informasi biaya operasional, umur pakai, dan dampak lingkungan yang andal. Ketika data ini tidak tersedia atau tidak terstandar, aparatur cenderung kembali pada harga awal sebagai satu-satunya pembanding yang dianggap objektif.
Selain itu, koordinasi antar lembaga sering kali terbatas. Pengadaan berkelanjutan menyentuh berbagai kepentingan—keuangan, industri, lingkungan, dan sosial—yang tidak selalu selaras. Tanpa kerangka koordinasi yang jelas, kebijakan pengadaan berisiko terfragmentasi dan kehilangan daya dorongnya.
Tantangan-tantangan ini menunjukkan bahwa pengadaan berkelanjutan bukan sekadar perubahan aturan, tetapi agenda reformasi institusional. Investasi pada kapasitas SDM, sistem informasi, dan tata kelola menjadi prasyarat agar perubahan logika pengadaan dapat dijalankan secara konsisten.
6. Kesimpulan Analitis: Pengadaan Publik sebagai Tuas Transformasi Pasar
Pembahasan ini menegaskan bahwa pengadaan publik merupakan tuas kebijakan yang sangat strategis dalam mendorong keberlanjutan. Skala belanja negara memberi kekuatan untuk membentuk insentif pasar, memengaruhi arah inovasi, dan meningkatkan kualitas produksi. Namun potensi ini tidak akan terwujud selama pengadaan terjebak dalam logika harga terendah.
Artikel ini menunjukkan bahwa kegagalan pendekatan harga terendah bersifat struktural. Ia mengabaikan biaya jangka panjang, mendistorsi insentif pasar, dan melemahkan kapasitas industri untuk bertransformasi. Pergeseran menuju pengadaan berbasis nilai, dengan dukungan LCC dan kriteria keberlanjutan, menawarkan alternatif yang lebih rasional dan berkelanjutan.
Pengadaan berkelanjutan juga memiliki implikasi kebijakan yang lebih luas. Ia memungkinkan negara menyelaraskan belanja publik dengan tujuan pembangunan ekonomi, lingkungan, dan sosial secara simultan. Dalam kerangka ini, pengadaan tidak lagi dipahami sebagai fungsi administratif, tetapi sebagai instrumen aktif desain pasar.
Ke depan, tantangan utamanya adalah konsistensi dan kapasitas implementasi. Tanpa reformasi institusional dan dukungan kebijakan lintas sektor, pengadaan berkelanjutan berisiko menjadi wacana normatif tanpa dampak nyata. Sebaliknya, jika dijalankan secara sistematis, pengadaan publik dapat menjadi salah satu pendorong paling efektif dalam transisi menuju ekonomi yang lebih berkelanjutan.
Daftar Pustaka
United Nations Environment Programme. (2011). Buying for a Better World: A Guide on Sustainable Procurement for the UN System. UNEP.
United Nations Environment Programme. (2013). Sustainable Public Procurement: A Global Review. UNEP.
United Nations Environment Programme. (2017). Public Procurement for Sustainable Development. UNEP.
Sustainability
Dipublikasikan oleh Ririn Khoiriyah Ardianti pada 15 Mei 2025
PENDAHULUAN
Dalam upaya global untuk mencapai keberlanjutan, berbagai industri mulai mengadopsi strategi yang lebih ramah lingkungan. Paper berjudul Sustainability Approaches in Industrial Sectors: Evaluating Environmental and Economic Impacts yang diterbitkan dalam jurnal Sustainability membahas berbagai metode yang digunakan untuk meningkatkan efisiensi sumber daya serta mengurangi dampak lingkungan dari kegiatan industri. Studi ini memberikan wawasan mengenai bagaimana prinsip keberlanjutan diterapkan di berbagai sektor, serta mengevaluasi manfaat ekonomi dan lingkungan dari pendekatan tersebut.
TANTANGAN DAN PELUANG DALAM PENERAPAN KEHIDUPAN BERKELANJUTAN
1. Tantangan dalam Implementasi Keberlanjutan
Banyak industri menghadapi berbagai tantangan dalam mengadopsi praktik berkelanjutan, seperti:
2. Peluang dalam Keberlanjutan Industri
Meski terdapat tantangan, penerapan praktik keberlanjutan juga menawarkan berbagai peluang, seperti:
STRATEGI INDUSTRI UNTUK KEHIDUPAN BERKELANJUTAN
Paper ini mengevaluasi beberapa strategi utama yang digunakan oleh berbagai industri untuk mencapai keberlanjutan:
1. Circular Economy dan Pengurangan Limbah
2. Energi Terbarukan dan Efisiensi Energi
3. Digitalisasi dan Industri 4.0
4. Desain Produk Berkelanjutan
ANALISIS DAMPAK: LINGKUNGAN DAN EKONOMI
1. Dampak Lingkungan
Studi menunjukkan bahwa penerapan strategi keberlanjutan dapat:
2. Dampak Ekonomi
Selain manfaat lingkungan, keberlanjutan juga memiliki dampak positif terhadap ekonomi:
STUDI KASUS: IMPLEMENTASI KEBERLANJUTAN DI INDUSTRI MANUFAKTUR
Salah satu studi kasus dalam paper ini menyoroti sebuah perusahaan manufaktur global yang berhasil mengurangi emisi karbonnya hingga 35% dalam satu dekade melalui:
Hasil ini menunjukkan bahwa keberlanjutan tidak hanya memungkinkan perusahaan memenuhi regulasi lingkungan, tetapi juga meningkatkan efisiensi produksi dan profitabilitas.
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
Paper ini menegaskan bahwa penerapan strategi keberlanjutan di sektor industri memiliki dampak positif yang signifikan terhadap lingkungan dan ekonomi. Meskipun terdapat tantangan dalam implementasinya, manfaat jangka panjangnya jauh lebih besar, termasuk pengurangan emisi, efisiensi biaya, dan peningkatan daya saing.
Beberapa rekomendasi utama dari penelitian ini meliputi:
Dengan menerapkan pendekatan ini, industri dapat berkontribusi lebih besar dalam mewujudkan ekonomi yang lebih hijau dan berkelanjutan.
SUMBER
Paper ini dapat diakses di jurnal Sustainability dengan DOI.
Sustainability
Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 09 Mei 2025
Dalam era di mana efisiensi dan keberlanjutan menjadi pusat perhatian global, sektor konstruksi tidak bisa tertinggal. Dua pendekatan terdepan, yaitu lean construction dan green building, mulai diadopsi luas sebagai solusi untuk mengurangi limbah, meningkatkan efisiensi, dan mengurangi dampak negatif lingkungan. Tapi bagaimana integrasi dua konsep ini bisa membantu daerah konflik seperti Jalur Gaza, yang memiliki dinamika sosial dan ekonomi yang unik?
Penelitian oleh El-Sawalhi et al. (2018) menggali potensi besar dari pendekatan lean dan green di proyek konstruksi di Gaza. Studi ini tidak hanya mengevaluasi kesadaran dan pemahaman pelaku industri konstruksi, tapi juga memetakan manfaat nyata dari penerapan kedua prinsip ini di wilayah yang penuh tantangan tersebut.
H2: Apa Itu Lean dan Green dalam Konstruksi?
Lean Construction
Konsep lean construction berakar dari filosofi manufaktur Jepang (Toyota Production System), yang menekankan pengurangan limbah dan peningkatan alur kerja. Dalam dunia konstruksi, lean berarti meminimalkan kegiatan yang tidak menambah nilai (non-value-added activities), seperti waktu tunggu, gerakan yang tidak perlu, atau pekerjaan ulang.
Green Building
Sementara itu, green building lebih fokus pada keberlanjutan, seperti efisiensi energi, konservasi air, pemilihan material ramah lingkungan, dan pengurangan dampak lingkungan sepanjang siklus hidup bangunan.
Meski fokus keduanya berbeda, lean dan green memiliki tujuan yang selaras: efisiensi dan keberlanjutan.
H2: Studi Kasus Gaza: Realita di Lapangan
Profil Responden dan Proyek
Dalam studi ini, 119 responden dari tiga kelompok utama—kontraktor (43,7%), konsultan (28,6%), dan pemilik proyek (27,7%)—memberikan pandangan mereka melalui kuesioner. Lebih dari 65% dari mereka memiliki pengalaman di atas lima tahun dan sekitar 73% terlibat dalam proyek dengan nilai di atas satu juta dolar dalam lima tahun terakhir. Ini menunjukkan bahwa mayoritas partisipan cukup berpengalaman dan menangani proyek-proyek skala menengah hingga besar.
H2: Tingkat Kesadaran terhadap Lean dan Green di Gaza
Lean Construction: Masih Belum Dipahami Secara Luas
Mayoritas responden sepakat bahwa ada kesenjangan besar dalam pengetahuan dan penerapan lean construction. Pernyataan seperti “Saya memiliki pengetahuan sebelumnya tentang lean construction” mendapatkan Relative Importance Index (RII) terendah di antara semua indikator—hanya 65,21 secara keseluruhan. Sebaliknya, manfaat potensial dari lean, seperti efisiensi biaya proyek, diakui tinggi oleh para kontraktor (RII = 72,31).
Green Building: Lebih Dikenal Tapi Belum Diutamakan
Kesadaran terhadap green building sedikit lebih tinggi, terutama dari sisi manfaat jangka panjang seperti “mengurangi biaya siklus hidup bangunan” yang mendapatkan RII tertinggi (75,29). Namun, pernyataan terkait komitmen institusi dalam mengurangi dampak lingkungan mendapatkan RII terendah (65,88), menunjukkan bahwa meski green lebih dikenal, penerapannya belum menjadi prioritas institusional.
H2: Manfaat Penerapan Lean di Gaza
1. Mengurangi Pekerjaan Tak Bernilai Tambah
Poin “mengurangi pekerjaan yang tidak menambah nilai” mendapat skor tertinggi (RII = 80,34). Ini menunjukkan bahwa semua pihak—pemilik, konsultan, dan kontraktor—menyadari urgensi eliminasi pemborosan dalam proses konstruksi.
2. Meningkatkan Koordinasi Antar Tim
Kerja sama antar spesialisasi mendapat pengakuan penting oleh pemilik proyek (RII = 82,42). Ini relevan mengingat banyaknya konflik dan miskomunikasi di proyek konstruksi Gaza.
H2: Manfaat Penerapan Green di Gaza
1. Penghematan Air: Prioritas Utama
Air adalah isu krusial di Gaza. Tidak mengherankan jika “penggunaan air yang rasional” menjadi manfaat paling utama menurut semua kelompok (RII = 83,53).
2. Efisiensi Energi
“Pengurangan konsumsi energi” juga sangat dihargai (RII = 82,52), menunjukkan kesadaran akan biaya energi yang tinggi dan pentingnya efisiensi dalam bangunan.
Namun, ironisnya, manfaat seperti “menjaga status lingkungan Gaza” berada di peringkat terbawah menurut kontraktor (RII = 77,62), menunjukkan bahwa keuntungan ekonomi jangka pendek masih lebih diutamakan.
H2: Integrasi Lean dan Green: Kombinasi Efektif
1. Penghematan Biaya Proyek
Integrasi lean dan green diyakini akan menghasilkan penghematan biaya signifikan (RII = 85,38). Hal ini menjadi argumen kuat untuk mendorong adopsi kedua pendekatan ini secara bersamaan.
2. Eliminasi Limbah
Kedua metode sama-sama berfokus pada pengurangan limbah. Pernyataan “keduanya mengarah pada eliminasi limbah” mendapat RII kedua tertinggi (80,67), menunjukkan sinergi antara efisiensi operasional (lean) dan keberlanjutan lingkungan (green).
H2: Tantangan dan Rekomendasi
Kendala Utama
Rekomendasi Strategis
H2: Penutup – Jalan Menuju Masa Depan yang Lebih Efisien dan Berkelanjutan
Studi El-Sawalhi dkk. menunjukkan bahwa Gaza memiliki potensi besar untuk mengadopsi pendekatan lean dan green secara luas. Meski kesadaran masih dalam taraf sedang, manfaat yang dirasakan oleh para pelaku konstruksi cukup signifikan. Dengan tantangan infrastruktur dan sumber daya yang kompleks, pendekatan ini bukan hanya pilihan bijak, tapi bisa menjadi kebutuhan dasar.
Mengintegrasikan efisiensi (lean) dan keberlanjutan (green) bukan hanya strategi proyek jangka pendek, tetapi investasi jangka panjang untuk masa depan konstruksi yang lebih cerdas, hemat, dan ramah lingkungan—tidak hanya di Gaza, tapi di seluruh dunia.
Sumber Asli:
El-Sawalhi, N. I., Jaber, B. M., & Al Shukri, A. (2018). Towards Lean and Green Thinking in Construction Projects at Gaza Strip. Organization, Technology and Management in Construction: An International Journal, 10, 1827–1838. DOI: 10.2478/otmcj-2018-0011
Jika Anda ingin saya bantu membuat versi HTML atau mengintegrasikan dengan sistem website/blog Anda, cukup beri tahu!
Sustainability
Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 09 Mei 2025
Industri konstruksi saat ini menghadapi tekanan besar untuk berubah: menekan biaya, mempercepat waktu pelaksanaan, dan tentu saja, menjaga keberlanjutan. Solusinya? Menggabungkan tiga pendekatan utama—Lean Construction (LC), Building Information Modeling (BIM), dan prinsip keberlanjutan—dalam satu kerangka kerja terpadu.
Penelitian terkini oleh Moradi dan Sormunen (2024) memberikan peta jalan menuju integrasi ini, melalui studi sistematis terhadap lebih dari 200 publikasi internasional. Artikel ini akan membedah temuan utama mereka, menyajikannya dalam bahasa yang mudah dipahami, serta memberi pandangan kritis dan kontekstualisasi terhadap praktik nyata.
H2: Apa Itu LC, BIM, dan Sustainability dalam Dunia Konstruksi?
Lean Construction: Efisiensi di Setiap Langkah
LC berfokus pada pengurangan pemborosan (waste) dan peningkatan nilai bagi klien. Konsep ini lahir dari prinsip manufaktur lean Toyota, dan kini diadopsi luas dalam manajemen proyek konstruksi melalui pendekatan seperti Last Planner System dan Value Stream Mapping.
BIM: Desain Virtual untuk Kinerja Nyata
BIM bukan hanya model 3D bangunan, tetapi sebuah ekosistem digital yang memungkinkan kolaborasi antar pemangku kepentingan secara real-time. Ia memperkuat kepercayaan terhadap informasi proyek dan mendukung perencanaan visual berbasis data.
Sustainability: Membangun Tanpa Mengorbankan Masa Depan
Prinsip ini menuntut konstruksi yang hemat sumber daya, ramah lingkungan, dan berorientasi jangka panjang—baik dari sisi ekonomi, sosial, maupun ekologis.
H2: Studi Kasus Meta – Analisis 227 Penelitian
Penelitian ini menganalisis 227 publikasi relevan (124 artikel jurnal dan 103 prosiding konferensi) untuk menemukan:
Yang menarik, sebagian besar temuan ini berakar pada faktor manusia—menunjukkan bahwa keberhasilan teknologi bergantung pada kesiapan SDM.
H2: Tantangan Utama dalam Integrasi LC, BIM, dan Sustainability
8 Rintangan Utama
Tantangan-tantangan ini menunjukkan bahwa inovasi teknologi tidak akan berjalan tanpa reformasi budaya kerja dan model bisnis di industri konstruksi.
H2: Faktor Pendukung Sukses (Enablers)
Untuk menjawab tantangan di atas, Moradi dan Sormunen mengidentifikasi empat enabler kunci:
Studi ini menegaskan pentingnya model kontraktual yang memungkinkan komunikasi terbuka dan pembagian risiko yang adil.
H2: Teknik dan Tools Andalan: Dari “Last Planner” hingga “Target Value Design”
Tiga teknik unggulan untuk integrasi efektif adalah:
Menariknya, ketiganya menekankan pentingnya komunikasi lintas fungsi sejak tahap awal proyek.
H2: Manfaat Nyata dari Integrasi LC-BIM-Sustainability
5 Keuntungan Utama yang Diidentifikasi
Studi ini menegaskan bahwa jika ketiga pendekatan diterapkan secara sinergis, manfaatnya melebihi sekadar penjumlahan manfaat masing-masing metode secara individu.
H2: Perspektif Industri – Bagaimana Praktik Nyata Mengimplementasikannya?
Istanbul Grand Airport (IGA) – Studi Kasus Nyata
IGA menggunakan integrasi LC dan BIM pada mega-proyeknya, menghasilkan penghematan waktu hingga 15% dan biaya 10%. Penggunaan BIM untuk simulasi logistik dan LC untuk mengelola tahapan kerja secara harian membuktikan bahwa integrasi keduanya bukan teori belaka.
UK Offsite Housing Project
Proyek hunian di Inggris menggabungkan lean dan BIM dalam lingkungan modular. Hasilnya: pengurangan pekerjaan ulang (rework) hingga 30% dan peningkatan produktivitas sebesar 20%.
H2: Kritik dan Opini: Apakah Integrasi Ini Solusi Ajaib?
Meskipun integrasi LC-BIM-Sustainability tampak menjanjikan, ada beberapa catatan kritis:
Namun, mengingat tantangan industri saat ini—seperti krisis iklim, kekurangan tenaga kerja, dan permintaan efisiensi tinggi—pendekatan ini bisa menjadi standar masa depan jika disertai dukungan regulasi dan edukasi yang memadai.
H2: Rekomendasi Strategis untuk Pelaku Industri
Penutup: Inovasi Konstruksi Harus Dimulai dari Manusia
Penelitian ini menyampaikan satu pesan kuat: inovasi teknologi dan proses hanya efektif jika manusianya siap. Tanpa perubahan budaya kerja, dukungan regulasi, dan investasi dalam kompetensi, bahkan teknologi tercanggih pun tidak akan membawa perubahan berarti.
Sumber Asli
Moradi, S., & Sormunen, P. (2024). Integrating Lean Construction with BIM and Sustainability: A Comparative Study of Challenges, Enablers, Techniques, and Benefits. Construction Innovation, 24(7), 188–203. DOI: 10.1108/CI-02-2023-0023
Sustainability
Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 09 Mei 2025
Mencari Bahan Bangunan yang Lebih Bijak dan Terjangkau
Di tengah perubahan iklim global, tingginya harga bahan bangunan, dan meningkatnya kebutuhan akan perumahan yang terjangkau, industri konstruksi ditantang untuk lebih bijak dalam memilih material. Pilihan ideal seharusnya tidak hanya kuat dan tahan lama, tetapi juga murah, mudah diakses, serta memiliki dampak lingkungan yang rendah.
Salah satu jawabannya mungkin selama ini terabaikan: laterit. Tanah merah yang banyak ditemukan di wilayah tropis ini ternyata punya potensi luar biasa sebagai bahan bangunan yang ramah lingkungan dan hemat biaya. Dalam penelitian berjudul “Sustainable Environment: Laterite as Sustainable Building Materials in Construction Industry” oleh Muntari Mudi Yar’Adua dan Abbas Usman Kakale, dijelaskan secara rinci bagaimana laterit bisa menjadi tulang punggung pembangunan berkelanjutan, khususnya di negara berkembang seperti Nigeria.
Mengenal Laterit dan Keunggulannya
Laterit adalah jenis tanah yang terbentuk dari pelapukan batuan di daerah tropis, kaya akan kandungan besi dan aluminium. Warna merah kecokelatannya khas, dan sifat fisiknya cukup kuat jika diproses dengan benar. Salah satu daya tarik utama laterit adalah keberadaannya yang melimpah di berbagai daerah, terutama di Afrika dan Asia. Artinya, laterit bisa diperoleh secara lokal tanpa perlu biaya transportasi yang besar.
Keunggulan utama laterit terletak pada sifat termalnya yang baik. Di siang hari, bangunan dari laterit tetap sejuk, dan saat malam hari atau musim dingin, ia membantu menjaga kehangatan ruangan. Ini menjadikannya sangat cocok untuk iklim tropis atau subtropis yang panas dan lembap. Selain itu, material ini tahan terhadap serangan serangga dan jamur, serta tahan api.
Studi Kasus: Penggunaan Laterit di Nigeria
Penelitian ini dilakukan di tiga negara bagian di Nigeria: Katsina, Kano, dan Kaduna. Wilayah ini dipilih karena memiliki aktivitas konstruksi yang aktif serta ketersediaan sumber laterit yang melimpah. Berdasarkan hasil wawancara dan kuesioner yang disebarkan kepada pelaku industri konstruksi, ditemukan bahwa sebagian besar responden menganggap penggunaan laterit sangat penting dari segi ekonomi.
Rata-rata tanggapan menunjukkan bahwa faktor ekonomi adalah alasan paling kuat dalam pemanfaatan laterit, dengan skor signifikan 4,25 dari skala Likert lima poin. Artinya, dari sudut pandang praktisi konstruksi lokal, laterit bukan hanya solusi alternatif, tapi justru bisa menjadi pilihan utama dalam menurunkan biaya pembangunan.
Energi dan Dampak Lingkungan
Salah satu argumen terkuat dalam mendukung penggunaan laterit adalah efisiensi energinya. Untuk memproduksi satu meter kubik batu bata laterit, hanya dibutuhkan sekitar lima kilowatt-jam energi. Bandingkan dengan bata bakar yang membutuhkan sekitar seribu kilowatt-jam, atau blok beton yang memerlukan antara empat ratus hingga lima ratus kilowatt-jam. Perbedaannya sangat mencolok.
Dalam konteks keberlanjutan, semakin sedikit energi yang digunakan dalam produksi material, semakin kecil pula jejak karbon yang dihasilkan. Ini membuat laterit menjadi pilihan logis dalam mendukung pembangunan yang ramah lingkungan.
Manfaat Sosial dan Budaya
Selain manfaat ekonomi dan lingkungan, laterit juga membawa dampak sosial yang positif. Karena mudah diproses dan tidak membutuhkan teknologi tinggi, laterit membuka peluang kerja bagi tenaga kerja lokal yang tidak memiliki keterampilan formal tinggi. Proyek pembangunan yang menggunakan laterit lebih mungkin melibatkan masyarakat setempat secara langsung, baik dalam penggalian, pencetakan, maupun pembangunan.
Ada pula nilai budaya yang melekat pada penggunaan laterit. Di banyak wilayah di Nigeria dan Afrika Barat, rumah-rumah tradisional dari laterit telah berdiri selama ratusan tahun. Salah satu contohnya adalah Minaret Gobarau di Katsina, sebuah bangunan berusia lebih dari seribu tahun yang dibangun seluruhnya menggunakan laterit dan masih berdiri kokoh hingga kini.
Tantangan yang Masih Harus Diatasi
Meskipun potensinya besar, masih ada beberapa hambatan dalam pemanfaatan laterit secara luas. Salah satu yang paling mencolok adalah ketiadaan standar nasional mengenai kualitas dan teknik penggunaan laterit dalam konstruksi modern. Akibatnya, banyak proyek besar—terutama yang didanai pemerintah atau sektor swasta—enggan menggunakan laterit karena dianggap tidak memenuhi standar teknis.
Selain itu, ada persepsi bahwa laterit adalah material kelas dua, cocok hanya untuk proyek kecil di pedesaan. Persepsi ini perlu diubah melalui edukasi dan kampanye yang menunjukkan bahwa laterit bisa setara atau bahkan lebih baik dari bahan konvensional dalam kondisi tertentu.
Karakteristik Bahan Bangunan Berkelanjutan
Sebuah material bisa dikategorikan sebagai bahan bangunan berkelanjutan jika memenuhi beberapa kriteria utama. Pertama, material tersebut sebaiknya tersedia secara lokal untuk mengurangi emisi dari transportasi. Kedua, proses produksinya harus rendah energi dan tidak menghasilkan limbah berbahaya. Ketiga, material tersebut sebaiknya bisa didaur ulang atau digunakan ulang, serta aman bagi kesehatan penghuni bangunan.
Laterit memenuhi semua kriteria tersebut. Ia tersedia di banyak wilayah, tidak beracun, dan bisa digunakan ulang dalam berbagai bentuk. Bahkan, dalam beberapa komunitas tradisional, laterit digunakan kembali dari bangunan lama yang dibongkar dan dibentuk menjadi blok atau bata baru.
Penggunaan Laterit di Negara Berkembang dan Maju
Meskipun lebih umum di negara berkembang, beberapa proyek di negara maju juga mulai memanfaatkan laterit karena nilai keberlanjutannya. Di wilayah tropis Prancis dan Amerika Selatan, laterit digunakan dalam pembangunan rumah rendah energi dan proyek infrastruktur pedesaan. Di Sri Lanka dan India, laterit banyak digunakan untuk perumahan skala kecil dan bangunan umum seperti sekolah atau puskesmas.
Ini menunjukkan bahwa laterit bukan hanya solusi darurat untuk daerah miskin, tetapi juga material masa depan yang relevan secara global.
Rekomendasi dari Hasil Penelitian
Para penulis artikel menyarankan beberapa langkah penting untuk mengoptimalkan pemanfaatan laterit. Pertama, dibutuhkan pengembangan standar nasional yang mengatur kekuatan, ketahanan, dan aplikasi laterit secara teknis. Kedua, perlu ada pelatihan bagi tukang dan kontraktor lokal agar bisa mengolah laterit secara efisien dan estetis. Ketiga, pemerintah dan organisasi profesi sebaiknya mendorong penggunaan laterit dalam proyek-proyek perumahan berkelanjutan sebagai bagian dari kebijakan pembangunan nasional.
Kesimpulan: Saatnya Beralih ke Bahan Lokal yang Lebih Bijak
Laterit adalah bukti nyata bahwa solusi untuk tantangan besar bisa datang dari hal yang sederhana dan lokal. Dengan harga yang murah, ketersediaan yang luas, dan dampak lingkungan yang rendah, laterit layak dipertimbangkan sebagai bahan utama dalam pembangunan masa depan, khususnya di daerah tropis dan berkembang.
Namun, untuk mewujudkannya, perlu ada kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, akademisi, dan komunitas lokal. Jika semua pihak bekerja sama, tidak mustahil kita bisa melihat transformasi besar dalam industri konstruksi—dari yang bergantung pada bahan impor mahal, menjadi sistem yang mengandalkan bahan lokal berkelanjutan seperti laterit.
Sumber asli
Yar’Adua, M. M., & Kakale, A. U. (2016). Sustainable Environment: Laterite as Sustainable Building Materials in Construction Industry. International Journal of Advances in Mechanical and Civil Engineering, 3(2), 70–73.