Tragedi Kecelakaan Sea King Pulau Nias 2005: Kisah Kepahlawanan dan Penghargaan atas Misi Kemanusiaan

Dipublikasikan oleh Dimas Dani Zaini

27 Maret 2024, 10.29

Sumber: id.wikipedia.org

Kecelakaan Sea King Pulau Nias tahun 2005 adalah jatuhnya helikopter Westland WS-61 Sea King (nomor ekor N16-100, tanda panggil "Shark 02") dari Skuadron 817 RAN Angkatan Laut Kerajaan Australia pada pukul 16:00 tanggal 2 April 2005. Sebelas orang di dalam helikopter. Kecelakaan itu terjadi ketika 'Hiu 02' mencoba mendarat di lapangan sepak bola dekat desa Tuindrao di Kecamatan Adraya, Pulau Nias, Indonesia. "Hiu 02" sedang menjalankan misi kemanusiaan di pulau yang baru saja dilanda gempa.

Korban

Kecelakaan tersebut menewaskan sembilan orang, enam di antaranya anggota RAN dan tiga anggota keluarga kerajaan. Angkatan Udara Australia (RAAF). Dua orang selamat: seorang kapten laut dan seorang kapten angkatan udara.

Peristiwa

Ketika jenazah tiba di Australia pada tanggal 5 April 2005, tentara mendarat. Bandara Sidney. Keluarga korban didampingi Gubernur Jenderal Australia, Presiden Indonesia Michael Jeffrey, Perdana Menteri Australia Susilo Bambang Yudhoyono, Kepala Staf Angkatan Darat John Howard, Jenderal Peter Cosgrove, dan Kepala Staf. Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara.

Semua korban menerima pemakaman militer. Upacara peringatan nasional bagi para korban kecelakaan "Hiu 02" diadakan di Gedung Parlemen Australia di Canberra pada hari Jumat tanggal 15 April 2005. Acara hari ini dihadiri oleh keluarga, teman dan kolega dari sembilan orang yang tewas dan dua orang yang selamat. Misionaris Australia Uskup Tom Frame memberikan penghormatan kepada Angkatan Pertahanan. Mereka yang berkesempatan berbicara pada acara tersebut adalah: Perdana Menteri Australia, John Howard; Kim Beazley, Pemimpin Oposisi; dan Imron Cotan, Duta Besar Indonesia untuk Australia. Misa juga diadakan di markas Pasukan Pertahanan Australia di Canberra dan instalasi militer lainnya di seluruh Australia.

Penghargaan

Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, turut menyematkan tanda kehormatan tertinggi di setiap peti jenazah korban kecelakaan ini. Dua korban selamat juga dianugerahi tanda kehormatan setelahnya.

Pemberian tanda kehormatan Indonesia menyoroti masalah pemberian penghargaan serupa oleh Pemerintah Australia karena para anggota militer yang mengalami musibah ini terlibat dalam operasi kemanusiaan, bukan operasi militer. Masalah ini teratasi dengan mengubah alasan pemberian Humanitarian Overseas Service Medal sehingga semua tentara yang ikut misi kemanusiaan di Indonesia layak mendapatkan penghargaan ini, termasuk sembilan korban tewas dan dua korban selamat.

Pada tanggal 17 Maret 2008, aksi salah satu korban selamat, mantan Leading Seaman Shane Warburton, diganjar penghargaan keberanian tertinggi kedua di Australia, Star of Courage. Menteri Pertahanan Joel Fitzgibbon mengatakan bahwa aksi Warburton untuk menyelamatkan rekannya dalam situasi berbahaya adalah tindakan kepahlawanan yang patut dianugerahi penghargaan. Fitzgibbon mengatakan bahwa tindakan Warburton sangat berani karena ia sendiri mengalami cedera parah akibat kecelakaan ini.

Pada tanggal 26 Mei 2009, empat pria Indonesia – Benar Giawa, Adiziduhu Harefa, Motani Harefa, dan Seti Eli Ndruru – dianugerahi Bravery Medal di Kedutaan Besar Australia di Jakarta atas peran mereka dalam penyelamatan para korban "Shark 02". Mereka akan mengeluarkan korban yang selamat dari lokasi kecelakaan sehingga militer Australia dapat segera memberikan pertolongan pertama.

Disadur dari Artikel : id.wikipedia.com