Teknologi Biosensor Elektrokimia Guna Deteksi Penyakit Secara Dini

Dipublikasikan oleh Siti Nur Rahmawati

28 Juli 2022, 10.32

research.lppm.itb.ac.id

Mendeteksi adanya suatu penyakit secara dini adalah langkah penting guna meminimalkan gejala yang timbul dan bisa dilaksanakan tahap perawatan yang tepat sejak dini. Selama ini banyak kasus terjadinya penularan penyakit secara meluas atau gejala akut dialami seorang pasien diakibatkan dari terlambatnya dalam hal mendiagnosis berkaitan dengan keberadaan suatu penyakit pada seseorang atau munculnya mikroorganisme berbahaya di lingkungan sekitar. Contohnya adalah penyakit alzheimer yang bisa berkembang di dalam otak selama Z dekade sebelum menunjukkan gejala pada pasien. Contoh lainnya adalah banyaknya pasien tanpa gejala (asimtomatik), namun berpotensi sebagai media penularan covid-19. Maka dari itu, kemampuan mendeteksi sedini mungkin, baik pada pasien tanpa gejala ataupun belum terbentuknya gejala, bisa menawarkan solusi guna perawatan pada tahap awal yang akan mampu memberikan perbedaan signifikan pada seorang pasien.

Keterlambatan dalam hal diagnosis semakin dirasakan khususnya oleh masyarakat yang berlokasi di daerah 3T (tertinggal, terpencil, dan terluar). Sementara itu, sebagian besar proses diagnosis suatu penyakit membutuhkan waktu hitungan jam bahkan hari serta biaya yang sering kali tidak dapat dijangkau oleh seluruh kalangan.

Maka dari itu, teknologi di bidang diagnosis medis ke depan membutuhkan terobosan ham guna menghasilkan tes uji penyakit secara dini yang lebih sederhana, cepat, murah, dan bisa dipergunakan dimana saja dan oleh siapa saja, meliputi masyarakat umum tanpa perlu keterampilan khusus. Dalam menjawab tantangan tersebut, penelitian dan pengembangan teknologi biosensor menjadi sangat penting. Biosensor bisa didefinisikan sebagai alat yang bisa mendeteksi keberadaan suatu biomolekul, virus, set, dan bakteri di dalam tubuh, makanan, dan lingkungan sekitar. Uji kit guna memonitor kadar gula darah dan kolesterol, tes kehamilan, dan tes cepat covid-19 adalah beberapa contoh dari alat biosensor. Sebagian besar biosensor yang berada di pasaran sekarang ini bekerja dengan menggunakan sampel darah yang tak cukup nyaman untuk kebanyakan pasien, seperti pada pasien diabetes, yang setiap hari harus melakukan finger prick untuk memonitor kadar gula darah secara berkelanjutan dan sering kali proses pengambilan darah bisa menghasilkan infeksi dan lebam pada kulit. Maka dari itu, pengembangan biosensor sekarang ini diarahkan untuk bisa bekerja tidak hanya dengan sampel berupa darah, namun juga dapat menggunakan sampel air liur, keringat, dan air seni tergantung dari jenis biomolekul atau mikroorganisme yang ingin kita deteksi apakah bisa ditemukan dalam sampel tersebut atau tidak.

Selain membuat biosensor yang lebih bersahabat dengan pasien, yakni menggunakan sampel dengan sumber yang lebih mudah diambil dari tubuh, arah inovasi lainnya adalah meningkatkan sensitivitas dan limit deteksi dari alat biosensor. Definisi sensitivitas dalam hal ini agak berbeda dengan sensitivitas yang sering kita temui pada label tes uji cepat covid-19. Pada konteks tes uji cepat covid-19, angka sensitivitas yang beredar menunjukkan perban­dingan ketepatan tes uji pada pasien positif bila dibandingkan dengan pemeriksaan baku menggunakan tes swab PCR. Sedangkan itu, pada konteks biosensor secara umum, sensitivitas bisa dipahami sebagai rasio kemampuan perubahan respons alat terhadap perubahan jumlah molekul target pada sampel. Biosensor yang bisa memberikan respons 10 mikroampere dengan adanya perubahan 100 molekul tar­get, lebih sensitif bila dibandingkan dengan alat yang hanya merespons 1 mikroampere.


Disadur dari sumber research.lppm.itb.ac.id