Teknologi Biosensor Elektrokimia Guna Deteksi Penyakit Secara Dini

Dipublikasikan oleh Muhammad Ilham Maulana

20 Maret 2024, 10.20

Sumber: research.lppm.itb.ac.id

Deteksi penyakit secara dini memiliki peran penting dalam mengurangi gejala dan memungkinkan perawatan yang tepat sejak dini. Namun, seringkali diagnosa terlambat dapat menyebabkan penyebaran penyakit yang meluas atau gejala akut pada pasien. Sebagai contoh, penyakit Alzheimer dapat berkembang di otak selama beberapa dekade sebelum menunjukkan gejala. Begitu juga dengan COVID-19, banyak pasien yang tanpa gejala dapat menjadi penyebaran potensial virus.

Diagnosis yang tertunda seringkali terjadi di daerah terpencil, terpencil, dan terluar. Selain itu, proses diagnosis membutuhkan waktu dan biaya yang tidak terjangkau oleh semua orang.

Oleh karena itu, teknologi di bidang diagnosis medis perlu menghasilkan tes yang lebih sederhana, cepat, murah, dan dapat diakses oleh semua orang, termasuk masyarakat umum tanpa keterampilan khusus. Untuk itu, riset dan pengembangan teknologi biosensor menjadi sangat penting. Biosensor adalah alat yang mampu mendeteksi biomolekul, virus, atau bakteri di dalam tubuh, makanan, dan lingkungan sekitar.

Biosensor saat ini cenderung menggunakan sampel darah, yang tidak nyaman bagi banyak pasien. Oleh karena itu, pengembangan biosensor ditujukan untuk menggunakan sampel yang lebih mudah diambil, seperti air liur, keringat, atau air seni.

Selain itu, pengembangan biosensor juga bertujuan meningkatkan sensitivitas dan batas deteksi alat. Sensitivitas dalam konteks ini mengacu pada kemampuan alat dalam merespons perubahan jumlah target dalam sampel, sedangkan batas deteksi adalah jumlah terkecil dari target yang dapat dideteksi oleh alat.

Biosensor elektrokimia menawarkan sensitivitas tinggi, batas deteksi rendah, dan fleksibilitas dalam penggunaan. Konfigurasi alat ini melibatkan elektroda atau transistor yang dimodifikasi dengan molekul yang dapat menangkap target yang ingin dideteksi.

Pengembangan biosensor elektrokimia di ITB telah berhasil menciptakan alat untuk mendeteksi berbagai penyakit, seperti glukosa, dopamin, dan protein Hepatitis B. Tim peneliti berusaha untuk mengembangkan teknologi ini lebih lanjut, termasuk untuk deteksi penyakit lainnya.

Pandemi COVID-19 menunjukkan pentingnya pengembangan teknologi biosensor sebagai bagian dari solusi diagnosa. Pengembangan biosensor elektrokimia ke depannya perlu mempertimbangkan produksi massal, stabilitas, dan kemudahan penggunaan. Teknologi ini diharapkan dapat menjadi alat penting dalam mendiagnosis penyakit secara cepat, terutama di daerah terpencil atau terluar.


Disadur dari: research.lppm.itb.ac.id