Prinsip Arsitektur: 10 Aturan Penting dari Desain Arsitektur

Dipublikasikan oleh Nurul Aeni Azizah Sari

17 April 2024, 22.29

Sumber: Pinterest

Ketika kita berpikir tentang arsitektur, kita sering membayangkan produk jadinya - bangunan dan struktur yang membentuk kota dan komunitas kita. Namun, apa yang dilakukan dalam pembuatan struktur ini? Apa yang memandu proses desain untuk memastikan bahwa produk akhirnya fungsional, menyenangkan secara estetika, dan sesuai dengan budaya?

Banyak jawaban yang dapat ditemukan dalam prinsip-prinsip arsitektur.

Dalam artikel ini, kita akan mempelajari berbagai prinsip yang mendasari desain arsitektur. Kita akan melihat prinsip-prinsip bentuk dan fungsi, organisasi spasial, material dan konstruksi, serta konteks dan budaya.

Dengan memahami prinsip-prinsip ini, kita dapat memperoleh apresiasi yang lebih dalam terhadap pemikiran dan perhatian yang masuk ke dalam penciptaan lingkungan binaan kita, dan pada akhirnya menjadi desainer yang lebih baik.

Bagaimana prinsip-prinsip arsitektur didefinisikan?
Prinsip-prinsip desain secara umum adalah pedoman atau aturan yang diikuti oleh para desainer saat membuat produk atau sistem. Prinsip-prinsip ini membantu memastikan bahwa produk akhir fungsional, estetis, dan efektif. Prinsip-prinsip desain dapat diterapkan pada berbagai bidang, termasuk desain grafis, desain pengalaman pengguna, desain produk, dan tentu saja arsitektur.

Prinsip-prinsip arsitektur dapat berfokus pada aspek yang berbeda dari proses desain. Sebagai contoh, prinsip-prinsip seperti kontras, keselarasan, dan pengulangan sering digunakan untuk menciptakan komposisi ketinggian yang menarik secara visual dan efektif. Dan ketika berfokus pada pengalaman pengguna, prinsip-prinsip seperti kegunaan dan aksesibilitas membantu memastikan bahwa bangunan mudah digunakan dan dapat diakses oleh berbagai macam pengguna.

Semua membantu memastikan bahwa produk akhir memenuhi kebutuhan penggunanya sekaligus meningkatkan lingkungan sekitar, dan pada akhirnya bertahan dalam ujian waktu dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

prinsip-prinsip arsitektur
Mengapa prinsip-prinsip tersebut penting?
Prinsip-prinsip arsitektur penting untuk sejumlah alasan; untuk menyebutkan beberapa di antaranya:

  • Fungsionalitas: Prinsip-prinsip desain membantu memastikan bahwa produk akhir berfungsi dan memenuhi kebutuhan penggunanya. Sebagai contoh, prinsip-prinsip seperti aliran dan pergerakan membantu memandu tata letak bangunan untuk memfasilitasi pergerakan orang di dalamnya.
  • Estetika: Prinsip-prinsip desain juga membantu menciptakan bangunan yang menyenangkan secara visual yang harmonis dan seimbang. Prinsip-prinsip seperti proporsi dan skala membantu memastikan bahwa bagian-bagian bangunan yang berbeda proporsional satu sama lain dan dengan struktur keseluruhan.
  • Kesesuaian budaya: Mematuhi prinsip-prinsip desain juga dapat membantu memastikan bahwa sebuah bangunan sesuai dengan budaya dan peka terhadap lingkungannya. Prinsip-prinsip seperti menghormati lingkungan sekitar dan kesesuaian budaya membantu memandu desain untuk mencerminkan budaya masyarakat di mana bangunan itu berada.
  • Daya tahan dan keberlanjutan: Prinsip-prinsip desain juga dapat membantu menciptakan bangunan yang tahan lama dan berkelanjutan, memastikan bahwa bangunan tersebut bertahan dalam ujian waktu dan memiliki dampak minimal terhadap lingkungan.

10 prinsip arsitektur
Ada beberapa prinsip utama yang penting untuk dipertimbangkan pada berbagai tahap pengembangan proyek, yang tentu saja dapat dikaitkan dan dikombinasikan dengan prinsip-prinsip penataan yang dibahas di sini.

01 - Prinsip Keseimbangan
Keseimbangan mengacu pada distribusi bobot visual dalam sebuah desain, dengan tujuan untuk menciptakan rasa stabilitas dan keseimbangan. Hal ini dapat dicapai melalui penggunaan simetri, di mana elemen pada satu sisi desain dicerminkan pada sisi lainnya, atau melalui penggunaan asimetri, di mana elemen disusun sedemikian rupa sehingga menciptakan rasa keseimbangan tanpa harus simetris secara sempurna.

Ada dua jenis keseimbangan utama dalam arsitektur: keseimbangan simetris dan keseimbangan asimetris. Keseimbangan simetris dicapai ketika bobot visual elemen di satu sisi desain seimbang dengan bobot visual elemen di sisi lainnya. Hal ini menciptakan rasa stabilitas dan keseimbangan.

Keseimbangan asimetris dicapai ketika bobot visual elemen di satu sisi desain seimbang dengan bobot visual elemen di sisi lainnya, meskipun elemen itu sendiri tidak simetris. Hal ini menciptakan kesan keseimbangan dan stabilitas, tetapi dengan komposisi yang lebih dinamis dan menarik secara visual.

02 - Prinsip Proporsi
Proporsi mengacu ke hubungan antara berbagai bagian desain yang berbeda, dengan tujuan menciptakan rasa kesatuan dan harmoni. Hal ini dapat dicapai melalui penggunaan rasio dan pengukuran yang seimbang satu sama lain, seperti Rasio Emas.

Golden Ratio, juga dikenal sebagai Golden Mean atau Proporsi Ilahi, adalah rasio matematis yang telah digunakan dalam seni, arsitektur, dan desain selama berabad-abad. Rasio ini sekitar 1:1,618, dan diyakini dapat menciptakan rasa keseimbangan dan harmoni dalam sebuah desain.

Proporsi adalah prinsip penting dalam arsitektur karena membantu menciptakan rasa kesatuan dan keterpaduan dalam sebuah desain. Dengan menggunakan proporsi secara efektif, arsitek dapat menciptakan struktur yang estetis dan harmonis, serta terasa menyatu dan kohesif.

Selain Golden Ratio, ada juga sistem proporsi lain yang dapat digunakan oleh arsitek dalam desain mereka, seperti sistem Modulor yang dikembangkan oleh Le Corbusier, atau sistem Vitruvian yang dikembangkan oleh Vitruvius. Sistem-sistem ini memberikan seperangkat panduan untuk mencapai keseimbangan dan harmoni dalam sebuah desain.

03 - Prinsip skala
Skala mengacu pada ukuran desain dalam kaitannya dengan lingkungan sekitarnya, dengan tujuan menciptakan rasa kesatuan dan keterpaduan. Hal ini dapat dicapai melalui penggunaan proporsi dan ukuran yang tepat, serta melalui penggunaan bahan dan tekstur yang seimbang dengan lingkungan sekitarnya.

Skala adalah prinsip penting dalam arsitektur karena membantu menciptakan rasa kesatuan dan keterpaduan antara struktur dan lingkungannya. Sebagai contoh, sebuah bangunan yang besar dan megah mungkin cocok untuk daerah pusat kota, namun mungkin tidak cocok untuk lingkungan perumahan.

Demikian pula, sebuah bangunan kecil dan intim mungkin terasa nyaman di lingkungan perumahan, tetapi mungkin dikerdilkan oleh bangunan di sekitarnya di pusat kota.

04 - Prinsip kesatuan
Kesatuan mengacu pada cara di mana berbagai elemen desain bekerja sama untuk menciptakan keseluruhan yang kohesif. Hal ini dapat dicapai melalui penggunaan keseimbangan, proporsi, dan prinsip-prinsip desain lainnya, serta melalui penggunaan bahan, warna, dan tekstur yang bekerja sama untuk menciptakan keseluruhan yang harmonis.

Kesatuan adalah prinsip penting dalam arsitektur karena membantu menciptakan rasa keterpaduan dan harmoni dalam sebuah desain. Ketika elemen-elemen yang berbeda dari sebuah desain bekerja sama dengan cara yang terpadu, maka akan tercipta rasa keteraturan dan kesatuan, dan hal ini akan meningkatkan daya tarik estetika secara keseluruhan dari sebuah struktur.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan oleh arsitek untuk menciptakan kesatuan dalam desain mereka. Salah satunya adalah melalui penggunaan pengulangan, di mana elemen-elemen serupa diulang-ulang di seluruh desain untuk menciptakan rasa kesatuan. Cara lainnya adalah melalui penggunaan kontras, di mana elemen yang berbeda digunakan dengan cara yang menciptakan rasa persatuan dan harmoni.

05 - Prinsip variasi
Variasi mengacu pada penggunaan berbagai elemen yang berbeda, seperti warna, tekstur, dan bentuk, untuk menambah daya tarik dan daya pikat visual pada suatu desain. Hal ini dapat dicapai melalui penggunaan berbagai bahan, tekstur, dan warna yang berbeda, serta melalui penggunaan bentuk dan bentuk yang berbeda.

Variasi adalah prinsip penting dalam arsitektur karena membantu menambah daya tarik dan daya tarik visual pada sebuah desain. Dengan menggunakan berbagai elemen yang berbeda dalam sebuah desain, arsitek dapat menciptakan struktur yang menarik secara visual dan menarik perhatian orang yang melihatnya.

Namun, penting bagi arsitek untuk menggunakan variasi dengan cara yang tetap menciptakan rasa kesatuan dan harmoni dalam sebuah desain. Terlalu banyak variasi dapat menciptakan rasa kekacauan dan perpecahan, sementara terlalu sedikit variasi dapat menghasilkan desain yang terasa monoton dan tidak menarik.

06 - Prinsip harmoni
Harmoni mengacu pada cara di mana berbagai elemen desain bekerja sama untuk menciptakan rasa kesatuan dan keteraturan. Hal ini dapat dicapai melalui penggunaan keseimbangan, proporsi, dan prinsip-prinsip desain lainnya, serta melalui penggunaan bahan, warna, dan tekstur yang bekerja sama untuk menciptakan keseluruhan yang harmonis.

Harmoni adalah prinsip penting dalam arsitektur karena membantu menciptakan rasa kesatuan dan keterpaduan dalam sebuah desain. Ketika elemen-elemen yang berbeda dari sebuah desain bekerja sama dengan cara yang harmonis, maka akan tercipta rasa keteraturan dan kesatuan, dan meningkatkan daya tarik estetika secara keseluruhan dari sebuah struktur.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan oleh arsitek untuk menciptakan harmoni dalam desain mereka. Salah satunya adalah melalui penggunaan pengulangan, di mana elemen-elemen yang serupa diulang di seluruh desain untuk menciptakan rasa kesatuan. Cara lainnya adalah melalui penggunaan kontras, di mana elemen yang berbeda digunakan dengan cara yang menciptakan rasa persatuan dan harmoni.

07 - Prinsip-prinsip organisasi ruang

  • Aspek penting lainnya dari arsitektur adalah pengaturan ruang hirarki dan keteraturan: Hirarki mengacu pada pengaturan ruang di dalam bangunan dan pentingnya setiap ruang dalam keseluruhan desain. Hal ini dapat dicapai melalui penggunaan ukuran, lokasi, dan elemen desain lainnya.
  • Sebagai contoh, sebuah bangunan mungkin memiliki pintu masuk utama yang lebih megah dan formal daripada pintu masuk lainnya, yang menunjukkan pentingnya bangunan tersebut. Tatanan mengacu pada cara di mana ruang-ruang yang berbeda diatur dalam hubungannya satu sama lain. Sebuah bangunan dengan urutan ruang yang jelas dan logis akan lebih mudah dinavigasi dan dipahami.
  • Aliran dan pergerakan: Aliran dan pergerakan mengacu pada cara orang bergerak di dalam bangunan dan bagaimana desain memfasilitasi pergerakan ini. Sebuah bangunan dengan pola sirkulasi yang jelas dan logis akan memandu orang melalui ruang-ruang yang berbeda dan membantu mereka mengorientasikan diri mereka di dalam bangunan. Hal ini dapat dicapai melalui penggunaan koridor, tangga, dan elemen sirkulasi lainnya.
  • Fleksibilitas dan kemampuan beradaptasi: Fleksibilitas dan kemampuan beradaptasi mengacu pada kemampuan bangunan untuk mengakomodasi perubahan kebutuhan dan penggunaan dari waktu ke waktu. Bangunan dengan desain yang fleksibel dan mudah beradaptasi dapat dengan mudah dimodifikasi untuk memenuhi perubahan kebutuhan penggunanya. Hal ini dapat dicapai melalui penggunaan elemen modular dan penggabungan ruang terbuka dan mudah beradaptasi.

08 - Prinsip-prinsip bahan dan konstruksi

Bahan dan teknik konstruksi yang digunakan dalam sebuah bangunan memiliki dampak yang signifikan terhadap penampilan dan kinerja keseluruhan.

  • Kekuatan dan stabilitas: Bahan dan metode konstruksi yang digunakan harus mampu mendukung beban yang akan ditanggung oleh struktur, termasuk beratnya sendiri, berat orang dan benda-benda di dalamnya, dan kekuatan eksternal seperti angin dan gempa bumi. Hal ini penting untuk memastikan bahwa struktur tersebut aman dan tidak runtuh atau mengalami masalah struktural lainnya.
  • Jenis bahan: dan metode konstruksi yang digunakan akan tergantung pada ukuran dan jenis struktur yang dibangun, serta lokasi dan iklim.
  • Estetika: Bahan dan konstruksi harus dipilih untuk menciptakan tampilan yang menarik dan menarik untuk struktur. Hal ini dapat melibatkan pemilihan bahan yang melengkapi lingkungan sekitar atau yang memiliki efek visual yang diinginkan, seperti batu bata atau batu untuk tampilan tradisional, atau baja tahan karat atau kaca untuk tampilan yang lebih modern.
  • Biaya: Bahan dan metode konstruksi harus dipilih dengan mempertimbangkan biaya, karena anggaran konstruksi biasanya akan menjadi faktor kunci dalam proses desain. Penting untuk mempertimbangkan biaya jangka panjang dari bahan dan metode konstruksi, termasuk biaya pemeliharaan dan perbaikan, selain biaya awal.
  • Fungsionalitas: Bahan dan konstruksi harus dipilih untuk memenuhi kebutuhan dan persyaratan spesifik struktur, seperti efisiensi energi, ketahanan terhadap api, dan aksesibilitas. Sebagai contoh, material yang memiliki nilai insulasi tinggi dapat digunakan untuk meningkatkan efisiensi energi, sementara material dengan ketahanan api yang tinggi dapat digunakan untuk meningkatkan keamanan jika terjadi kebakaran. Aksesibilitas juga dapat menjadi pertimbangan penting, seperti dalam kasus bangunan umum, di mana bahan dan metode konstrusi harus dipilih agar struktur mudah diakses oleh penyandang disabilitas.

09 - Prinsip-prinsip konteks dan budaya
Konteks dan budaya di mana sebuah bangunan berada juga merupakan pertimbangan penting dalam desain arsitektur.

  • Konteks: Desain sebuah bangunan atau struktur harus mempertimbangkan lingkungan sekitar, termasuk konteks fisik, budaya, dan sejarah. Hal ini berarti mempertimbangkan faktor-faktor seperti iklim lokal, topografi, dan material, serta lingkungan binaan yang ada dan tradisi budaya di daerah tersebut.

Sebagai contoh, jika sebuah bangunan dirancang di lokasi yang memiliki musim panas yang panas dan lembab, mungkin perlu untuk memasukkan fitur-fitur seperti peneduh atau ventilasi alami untuk membantu menjaga interior tetap sejuk. Atau, jika bangunan dirancang di lokasi dengan musim dingin, mungkin perlu untuk memasukkan isolasi dan langkah-langkah lain untuk membantu menjaga interior tetap hangat.

Desain juga harus mempertimbangkan lingkungan binaan yang ada dan mencoba untuk menyatu dengan arsitektur dan lanskap di sekitarnya, daripada menonjol sebagai kontras yang mencolok.

  • Budaya: Desain sebuah bangunan atau struktur juga harus mempertimbangkan konteks budaya dan kebutuhan masyarakat yang akan menggunakannya. Hal ini berarti mempertimbangkan faktor-faktor seperti tradisi, nilai, dan adat istiadat masyarakat, serta kebutuhan dan preferensi spesifik pengguna.

Sebagai contoh, jika sebuah bangunan dirancang untuk komunitas dengan tradisi budaya yang kuat, mungkin penting untuk memasukkan unsur-unsur budaya tersebut ke dalam desain, seperti gaya atau material arsitektur tertentu. Atau, jika bangunan dirancang untuk komunitas dengan latar belakang budaya yang beragam, mungkin penting untuk merancang ruang yang ramah dan dapat digunakan oleh orang-orang dengan budaya dan latar belakang yang berbeda.

  • Inklusivitas: Desain harus inklusif dan dapat diakses oleh orang-orang dari segala usia, kemampuan, dan latar belakang. Hal ini dapat mencakup penggunaan fitur-fitur seperti jalur landai, elevator, dan pintu yang lebar agar bangunan dapat diakses oleh para penyandang disabilitas, serta mendesain ruangan yang ramah dan dapat digunakan oleh orang-orang dari berbagai budaya dan latar belakang hal ini dapat membantu memastikan bahwa bangunan atau struktur dapat digunakan dan menyenangkan bagi semua orang, tanpa memandang usia, kemampuan, atau latar belakang budaya mereka.

10 - Prinsip Fungsionalitas
Prinsip-prinsip fungsionalitas dalam arsitektur dan desain mengacu pada cara-cara di mana sebuah bangunan atau struktur dirancang untuk memenuhi kebutuhan dan persyaratan khusus dari orang-orang yang akan menggunakannya. Beberapa pertimbangan utama dalam hal fungsionalitas dalam arsitektur dan desain meliputi:

  • Program: DePsain bangunan atau struktur harus didasarkan pada pemahaman yang jelas tentang program, atau fungsi dan aktivitas spesifik yang akan digunakan untuk bangunan atau struktur tersebut. Hal ini mungkin melibatkan pertimbangan faktor-faktor seperti jumlah orang yang akan menggunakan ruang, jenis kegiatan yang akan berlangsung, dan peralatan atau sumber daya yang akan dibutuhkan. Sebagai contoh, jika sebuah bangunan dirancang sebagai sekolah, desain harus mempertimbangkan kebutuhan khusus siswa dan guru, seperti ruang kelas, laboratorium, dan ruang khusus lainnya.
  • Fleksibilitas: Desain harus memungkinkan fleksibilitas dan kemampuan beradaptasi, sehingga bangunan atau struktur dapat dengan mudah dimodifikasi atau dikonfigurasi ulang untuk memenuhi kebutuhan atau persyaratan yang berubah. Hal ini dapat melibatkan perancangan ruang yang dapat dengan mudah dibagi atau digabungkan, atau yang dapat digunakan untuk berbagai tujuan. Misalnya, ruang konferensi yang dapat diubah menjadi ruang kelas atau ruang pertunjukan.
  • Aksesibilitas: Desain harus dapat diakses dan digunakan oleh orang-orang dari segala usia, kemampuan, dan latar belakang. Hal ini dapat mencakup penggunaan fitur-fitur seperti jalur landai, elevator, dan pintu yang lebar agar bangunan dapat diakses oleh para penyandang disabilitas, serta mendesain ruangan yang ramah dan dapat digunakan oleh orang-orang dari berbagai budaya dan latar belakang. Hal ini dapat membantu memastikan bahwa bangunan atau struktur dapat digunakan dan menyenangkan bagi semua orang, tanpa memandang usia, kemampuan, atau latar belakang budaya mereka.
    Efisiensi energi: Desain harus memasukkan langkah-langkah untuk meningkatkan efisiensi energi bangunan atau struktur, seperti insulasi, jendela hemat energi, dan langkah-langkah penghematan energi lainnya. Hal ini dapat membantu mengurangi biaya energi dan meminimalkan dampak lingkungan dari bangunan atau struktur.
  • Keselamatan dan keamanan: Desain harus memasukkan langkah-langkah untuk memastikan keselamatan dan keamanan orang-orang yang akan menggunakan bangunan atau struktur, seperti sistem pencegahan kebakaran, kamera keamanan, dan pintu keluar darurat. Hal ini dapat membantu melindungi penghuni bangunan jika terjadi keadaan darurat atau situasi tak terduga lainnya.

4 Prinsip utama tambahan dari arsitektur yang patut dipertimbangkan
01 - Prinsip kekuatan dan stabilitas
Prinsip-prinsip kekuatan dan stabilitas dalam arsitektur dan desain mengacu pada cara-cara di mana sebuah bangunan atau struktur dirancang untuk dapat menopang beban yang akan ditanggungnya, termasuk beratnya sendiri, berat orang dan benda-benda di dalamnya, dan kekuatan eksternal seperti angin dan gempa bumi. Beberapa pertimbangan utama dalam hal kekuatan dan stabilitas dalam arsitektur dan desain meliputi:

  • Kapasitas menahan beban: Bahan dan metode konstruksi yang digunakan harus mampu menopang berat bangunan atau struktur, serta berat orang dan benda-benda di dalamnya. Hal ini dapat melibatkan penggunaan material seperti baja, beton, atau kayu, serta metode konstruksi tertentu seperti rangka atau pasangan bata. Kapasitas penahan beban suatu bangunan atau struktur biasanya ditentukan oleh ukuran dan jenis struktur yang dibangun, serta lokasi dan iklim.
  • Integritas struktural: Desain bangunan atau struktur harus memastikan bahwa bangunan atau struktur tersebut memiliki struktur yang kuat dan stabil yang mampu menahan gaya yang akan dialaminya, seperti angin dan gempa bumi. Hal ini dapat melibatkan penggabungan elemen-elemen struktur seperti balok, kolom, dan pondasi, serta fitur-fitur desain seperti penguat lateral atau dinding geser. Integritas struktural bangunan atau struktur biasanya ditentukan oleh ukuran dan jenis struktur yang dibangun, serta lokasi dan iklim.
    Redundansi: Desain harus menggabungkan redundansi, atau penggunaan beberapa elemen struktur yang dapat memberikan dukungan cadangan jika terjadi kegagalan pada elemen utama. Hal ini dapat membantu meningkatkan stabilitas dan keamanan bangunan atau struktur secara keseluruhan, karena ini berarti ada beberapa lapisan dukungan jika terjadi kegagalan.

02 - Prinsip-prinsip daya tahan
Prinsip-prinsip daya tahan dalam arsitektur dan desain mengacu pada cara-cara di mana bangunan atau struktur dirancang untuk dapat menahan efek lingkungan di mana ia berada, termasuk fluktuasi suhu, kelembapan, dan paparan sinar matahari. Beberapa pertimbangan utama dalam hal daya tahan dalam arsitektur dan desain meliputi:

  • Bahan: Bahan-bahan yang digunakan dalam konstruksi bangunan atau struktur harus dipilih berdasarkan daya tahan dan kemampuannya untuk menahan pengaruh lingkungan. Hal ini dapat melibatkan penggunaan bahan yang tahan terhadap kelembaban, pembusukan, dan korosi, serta bahan yang mampu menahan fluktuasi suhu dan paparan sinar matahari. Sebagai contoh, bahan seperti beton, batu bata, dan batu mungkin lebih tahan lama daripada kayu atau plester di iklim tertentu, sementara bahan seperti baja tahan karat atau fiberglass mungkin lebih tahan terhadap korosi.
  • Metode konstruksi: Metode konstruksi yang digunakan harus dipilih berdasarkan kemampuannya untuk menciptakan struktur yang tahan lama dan awet. Hal ini dapat melibatkan penggunaan teknik seperti desain pondasi yang tepat dan kontrol kelembaban untuk membantu melindungi bangunan atau struktur dari elemen-elemennya. Sebagai contoh, desain pondasi yang tepat dapat membantu memastikan bahwa bangunan atau struktur mampu menahan gaya yang akan dialaminya, seperti angin dan gempa bumi, sementara langkah-langkah pengendalian kelembaban dapat membantu mencegah kerusakan akibat air atau kelembaban.
  • Pemeliharaan: Desain bangunan atau struktur harus mempertimbangkan kebutuhan perawatan jangka panjang bangunan atau struktur, termasuk kebutuhan untuk pembersihan rutin, perbaikan, dan penggantian bahan atau komponen. Hal ini dapat melibatkan perancangan ruang yang mudah dibersihkan dan dirawat, serta menggabungkan bahan dan sistem yang mudah diperbaiki atau diganti prinsip-prinsip arsitektur.

03 - Prinsip-prinsip keberlanjutan
Prinsip-prinsip keberlanjutan dalam arsitektur dan desain mengacu pada cara-cara di mana sebuah bangunan atau struktur dirancang untuk meminimalkan dampak lingkungan dan mampu beradaptasi dengan perubahan kebutuhan dan kondisi dari waktu ke waktu. Beberapa pertimbangan utama dalam hal keberlanjutan dalam arsitektur dan desain meliputi:

  • Bahan: Material yang digunakan dalam konstruksi bangunan atau struktur harus dipilih dengan tujuan untuk meminimalkan dampak lingkungan, termasuk energi yang terkandung, jejak karbon, dan potensi untuk digunakan kembali atau didaur ulang. Hal ini dapat melibatkan penggunaan material yang terbuat dari sumber daya terbarukan, seperti kayu atau bambu, atau material yang dapat dengan mudah didaur ulang atau digunakan kembali, seperti baja atau beton. Dengan memilih material yang ramah lingkungan dan memiliki jejak karbon yang rendah, arsitek dan desainer dapat membantu mengurangi dampak lingkungan secara keseluruhan dari bangunan atau struktur.
  • Efisiensi energi: Desain harus menggabungkan langkah-langkah untuk meningkatkan efisiensi energi bangunan atau struktur, seperti insulasi, jendela hemat energi, dan langkah-langkah penghematan energi lainnya. Hal ini dapat membantu mengurangi biaya energi dan meminimalkan dampak lingkungan dari bangunan atau struktur. Desain hemat energi juga dapat membantu meningkatkan kenyamanan dan kelayakan huni bangunan atau struktur, karena dapat membantu mengurangi kebutuhan pemanasan dan pendinginan.
  • Konservasi air: Desain harus menggabungkan langkah-langkah untuk menghemat air, seperti perlengkapan aliran rendah dan sistem pemanenan air hujan. Dengan menghemat air, arsitek dan desainer dapat membantu mengurangi dampak lingkungan secara keseluruhan dari bangunan atau struktur, serta mengurangi biaya air.
  • Kualitas udara dalam ruangan: Desain harus memasukkan langkah-langkah untuk meningkatkan kualitas udara dalam ruangan bangunan atau struktur, seperti penggunaan bahan non-toksik dan penggabungan ventilasi alami. Dengan meningkatkan kualitas udara dalam ruangan, arsitek dan desainer dapat membantu menciptakan lingkungan yang sehat dan nyaman bagi orang-orang yang menggunakan bangunan atau struktur tersebut.
  • Kemampuan beradaptasi: Desain harus memungkinkan untuk beradaptasi, sehingga bangunan atau struktur dapat dengan mudah dimodifikasi atau diperbarui dari waktu ke waktu untuk memenuhi kebutuhan atau persyaratan yang berubah. Hal ini dapat membantu memastikan bahwa bangunan atau struktur tetap relevan dan berguna dalam jangka panjang, daripada menjadi usang dan membutuhkan pembongkaran dan penggantian. Dengan mendesain untuk kemampuan beradaptasi, arsitek dan desainer dapat membantu menciptakan bangunan dan struktur yang dapat beradaptasi dengan perubahan kebutuhan dan kondisi dari waktu ke waktu.

04 - Prinsip-prinsip estetika
Prinsip-prinsip estetika dalam arsitektur dan desain mengacu pada cara-cara di mana sebuah bangunan atau struktur dirancang agar menarik dan menarik bagi orang-orang yang akan menggunakannya. Beberapa pertimbangan utama dalam hal estetika dalam arsitektur dan desain meliputi:

  • Proporsi: Ukuran dan skala bangunan atau struktur harus sesuai dengan lingkungan sekitar dan orang-orang yang akan menggunakannya. Proporsi mengacu pada hubungan antara berbagai elemen desain, seperti ukuran jendela dalam kaitannya dengan ukuran bangunan, atau ketinggian langit-langit dalam kaitannya dengan lebar ruangan. Dengan menggunakan proporsi yang tepat, arsitek dan desainer dapat menciptakan rasa harmoni dan keseimbangan dalam desain.
  • Keseimbangan: Desain harus menciptakan rasa keseimbangan dan harmoni, dengan semua elemen yang bekerja sama untuk menciptakan keseluruhan yang kohesif. Keseimbangan dapat dicapai melalui penggunaan simetri, di mana desain diseimbangkan di sekitar sumbu pusat, atau melalui penggunaan asimetri, di mana desain diseimbangkan melalui penggunaan elemen yang kontras.
  • Kesatuan: Desain harus menciptakan rasa kesatuan dan keterpaduan, dengan semua elemen yang bekerja sama untuk menciptakan keseluruhan yang kohesif. Kesatuan dapat dicapai melalui penggunaan elemen yang berulang, seperti pola atau warna, serta melalui penggunaan bahan dan elemen desain yang bekerja sama untuk menciptakan keseluruhan yang kohesif.
  • Kontras: Desain harus menggabungkan kontras, dengan bahan, warna, dan tekstur yang berbeda yang digunakan untuk menciptakan daya tarik dan daya tarik visual. Kontras dapat dicapai melalui penggunaan warna yang kontras, seperti hitam dan putih, atau melalui penggunaan tekstur yang kontras, seperti kasar dan halus.
  • Detail: Desain harus menyertakan perhatian pada detail, dengan elemen kecil yang dibuat secara halus yang menambah keseluruhan penampilan dan daya tarik bangunan atau struktur. Detail dapat dicapai melalui penggunaan pola yang rumit, sentuhan akhir yang dibuat dengan baik, atau elemen kecil lainnya yang dibuat dengan baik. Dengan memperhatikan detail, arsitek dan desainer dapat menciptakan bangunan dan struktur yang menarik secara visual dan memiliki rasa kehalusan dan keahlian prinsip-prinsip arsitektur.

Kesimpulannya
Singkatnya, prinsip-prinsip arsitektur adalah seperangkat pedoman yang membantu arsitek menciptakan bangunan yang fungsional, estetis, dan sesuai dengan budaya.

Prinsip-prinsip ini meliputi harmoni dan keseimbangan, proporsi dan skala, kesatuan dan variasi, hirarki dan keteraturan, aliran dan pergerakan, fleksibilitas dan kemampuan beradaptasi, daya tahan dan keberlanjutan, kesederhanaan dan kejujuran bahan, inovasi dan eksperimen, penghormatan terhadap lingkungan sekitar, kepekaan terhadap lingkungan, dan kesesuaian budaya.

Dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip ini, arsitek dapat menciptakan arsitektur yang memenuhi kebutuhan penggunanya dan meningkatkan lingkungan sekitarnya.

Tanya Jawab tentang prinsip-prinsip arsitektur
Apa saja 7 prinsip arsitektur?
7 prinsip arsitektur adalah:

  • Keseimbangan: Hal ini mengacu pada distribusi bobot visual dalam sebuah desain, dengan tujuan untuk menciptakan rasa stabilitas dan keseimbangan.
  • Proporsi: Hal ini mengacu pada hubungan antara bagian-bagian yang berbeda dari sebuah desain, dengan tujuan menciptakan rasa kesatuan dan harmoni.
  • Skala: Hal ini mengacu pada ukuran suatu desain dalam kaitannya dengan sekelilingnya, dengan tujuan untuk menciptakan rasa kesatuan dan keterpaduan.
  • Kesatuan: Hal ini mengacu pada cara di mana berbagai elemen desain bekerja sama untuk menciptakan keseluruhan yang kohesif.
  • Variasi: Hal ini mengacu pada penggunaan elemen yang berbeda, seperti warna dan tekstur, untuk menambah daya tarik dan daya tarik visual pada sebuah desain.
  • Harmoni: Hal ini mengacu pada cara di mana elemen-elemen yang berbeda dari sebuah desain bekerja sama untuk menciptakan rasa kesatuan dan keteraturan.
  • Fungsionalitas: Hal ini mengacu pada pertimbangan praktis dari sebuah desain, termasuk cara penggunaan sebuah struktur dan kebutuhan orang-orang yang akan menggunakannya.

Dengan mengikuti prinsip-prinsip ini, arsitek dapat menciptakan bangunan dan struktur yang fungsional dan estetis, dan meningkatkan kehidupan orang-orang yang menggunakannya.

Apa saja tiga prinsip dasar arsitektur?
Tiga prinsip dasar arsitektur adalah:

1. Fungsionalitas: Hal ini mengacu pada pertimbangan praktis dari sebuah desain, termasuk cara penggunaan struktur dan kebutuhan orang-orang yang akan menggunakannya.

2. Integritas struktural: Hal ini mengacu pada stabilitas dan kekuatan sebuah struktur, memastikan bahwa struktur tersebut mampu menahan gaya yang bekerja padanya, seperti gravitasi, angin, dan gempa bumi.

3. Estetika: Hal ini mengacu pada daya tarik visual dari sebuah desain, termasuk bentuk, warna, tekstur, dan elemen visual lainnya.

 

Disadur dari: microsolresources.com