Potret Perkebunan Teh Kayu Aro

Dipublikasikan oleh Nadia Pratiwi

24 April 2024, 11.33

Sumber: kompas/nasrul thahar

Teh Kayu Aro dikenal sebagai teh minuman ratu. Pada zaman Belanda, Teh Kayu Aro yang diekspor ke Eropa di antaranya untuk minum Ratu Belanda, Ratu Juliana, dan Ratu Wihelmina. Kualitasnya tinggi, aromanya wangi, rasanya enak.

Meski telah berusia enampuluh tahun, perkebunan Teh Kayu Aro (Kerinci, Jambi), masih mampu mengolah 5.500 ton teh kering setahun. Bagi pabrik teh yang dibangun tahun 1930, produk Kayu Aro tergolong paling besar di Indonesia bahkan Asia. Pabrik tua ini didukung perkebunan seluas 2.650 hektar di Kaki Gunung Kerinci.

Perkebunan Teh Kajoe Aro yang dibangun antara tahun 1925 dan 1928 oleh perusahaan Belanda, Namblodse Venotschaaf Handle Veriniging Amsterdam (NV HVA), ini semula digarap ramai-ramai oleh kuli atau pekerja-pekerja yang sengaja didatangkan dari Pulau Jawa. Penanaman pohon teh pertama dimulai tahun 1929.

Perkebunan teh Kayu Aro dengan luas tanaman 2.624,69 hektar berada di ketinggian 1.400-1.715 meter di atas permukaan laut dengan curah hujan 2.000 milimeter per tahun. Luas hak guna usaha (HGU) 3.014,60 hektar, lokasinya di Kecamatan Kayu Aro, 37 kilometer sebelah utara Sungaipenuh, ibu kota Kabupaten Kerinci.

Enam rasa teh terbaik Kajoe Aro adalah jenis broken oranye pecco (BOP), broken oranye pecco fanning (BOPF), pecco fanning (PF), broken tea (BT), broken pecco (BP), dan dust. Masing-masing memiliki rasa yang berbeda meski sama-sama digolongkan teh hitam.

Perbedaan rasa pada masing-masing jenis teh tercipta dari fermentasi pada suhu tertentu yang menghasilkan enzim-enzim berbeda pembentuk rasa dan warna. Rasa teh jenis dust, misalnya, sangat kuat dan kelat di lidah, sedangkan warnanya pekat. Rasa teh jenis BP dominan mentol. Kalau yang jenis BOP warnanya lebih jingga, rasanya tidak terlalu kelat.

Seluruh jenis teh ini diakui oleh para penikmatnya, sebagai teh dengan citarasa terbaik yang ada di dunia. Itu sebabnya teh Kayu Aro dikenal sebagai minuman Ratu Belanda, Wihelmina. Bahkan, 80 persen dari hampir enam juta kilogram produksi teh kering per tahun yang dihasilkan PTPN VI, diekspor ke Inggris.

Proses produksi menjadi teh siap digunakan dimulai dari pemetikan pucuk segar daun teh yang di kirim ke pabrik tiga kali sehari, yakni jam 09.30-10.30, 13.00-14.00, dan 16.00-17.00. daun pucuk segar yang dikirim tersebut kemudikan dimasukan ke dalam bak pelayuan. Pucuk segar di bak pelayuan disembur angin melalui kompresor selama 16-20 jam, hal ini bertujuan bobot pucuk teh berukurang menjadi 49-50 persen.

Selanjutnya pucuk teh dimasukkan ke mesin penggulungan selama 50 menit. Setelah itu, teh dilakukan pengayakan untuk memisahkan bagian yang kasar dan halus dengan memasukkan dalam mesin pengayakan. Teh hasil pengayakan yang masih kasar dimasukkan ke mesin penghalus, kemudian diayak lagi, jika masih terdapat yang tah kasar dilakukan pengepresan, kemudian diayak lagi.

Tahap selanjutnya dilakukan fermentasi dengan temperatur 26 derajat Celcius. Setelah fermentasi, teh dimasukkan ke tempat pengeringan 15-20 menit, kemudian dilakukan sortasi guna menentukan grade I (tujuh jenis), grade II (tujuh jenis), dan grade III. Jenis pada masing-masing grade dibedakan oleh partikel teh.

Teh Kajoe Aro diproses tanpa campuran kimia dan bermanfaat untuk kesehatan karena mengandung riboflavin yang membantu pertumbuhan, pencernaan, dan vitalitas; Polifenol sebagai antioksidan jenis biolavanoid yang 100 kali lebih efektif dari vitamin C. Ini juga 25 kali lebih efektif dari vitamin E yang sangat berguna mencegah kolesterol jahat pemicu pertumbuhan plak penyumbat pembuluh darah arteri.

Pada tahun 1959, melalui Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1959 tentang Penentuan Perusahaan Pertanian/Perkebunan milik Belanda yang dikenai naturalisasi, perkebunan tersebut diambil alih Republik Indonesia. Sejak itu perkebunan teh Kayu Aro mengalami perubahan atau status organisasi dan manajemen sesuai keadaan. Sejak 11 Maret 1996, perkebunan teh Kayu Aro menjadi salah satu unit kebun dari PTPN VI yang berkantor pusat di Kota Jambi.

Untuk memenuhi kebutuhan aroma dan cita rasa teh yang berkualitas di dalam negeri, sejak tahun 2000 pabrik teh PT. Perkebunan Nusantara VI (PT PN VI) Kebun Kayu Aro mulai memproduksi teh kayu aro dalam dua kemasan, Teh Celup Highland Tea Kajoe Aro dan Teh Seduh Highland Tea Kajoe Aro.

Kemasan kedua jenis teh itu berwarna dasar hijau, bagian muka dan belakang gambar cangkir putih berisi air teh warna coklat dengan latar belakang Gunung Kerinci. Kemasan teh celup berisi 25 tea bag (satu bag dua gram) per kotak, teh seduh berisi 250 gram dan 50 gram per kotak.

Meski telah berusia enampuluh tahun, perkebunan Teh Kayu Aro (Kerinci, Jambi), masih mampu mengolah 5.500 ton teh kering setahun. Bagi pabrik teh yang dibangun tahun 1930, produk Kayu Aro tergolong paling besar di Indonesia bahkan Asia. Pabrik tua ini didukung perkebunan seluas 2.650 hektar di Kaki Gunung Kerinci.

Salah satu obyek wisata menarik di Kerinci adalah perkebunan teh Kayu Aro. Perkebunan yang luasnya 3.020 hektar lebih ini merupakan hamparan perkebunan teh terluas di dunia. Selain itu, perkebunan teh ini merupakan perkebunan teh tertua di Indonesia, dibuka tahun 1925-1928. Pabrik pengolahan dibangun tahun 1932, merupakan pabrik teh terbesar di dunia yang masih aktif hingga kini. Teh hitam produksi perkebunan teh Kayu Aro juga dikenal sebagai teh yang terbaik di dunia.

KOMPAS/B JOSIE SUSILO HARDIANTO

Deretan kereta sapi merupakan pemandangan sehari-hari di kawasan perkebunan teh Kayu Aro, Jambi.

KOMPAS/B JOSIE SUSILO HARDIANTO

Para buruh pemetik teh tengah berjalan menuju kebun teh dengan membawa perbekalan dan cangkul.

KOMPAS/NELI TRIANA

Sekelompok petani tengah memetik pucuk-pucuk daun teh di kawasan Kayu Aro, Jambi. Kawasan ini dikenal sebagai daerah penghasil teh kualitas ekpor dengan bentangan luas lahan tanaman teh mencapai 12.000 hektar lebih. Terletak di kaki Gunung Kerinci dan dikelilingi pegunungan dalam gugusan Bukit Barisan, pemandangan indah selalu tersaji setiap hari. Gambar diambil Selasa (15/11/2005) Lintas Timur Barat – Lampung Sampai Sumatera Barat

KOMPAS/AGUS SUSANTO

Aktivitas pekerja di perkebunan teh Kabawetan di Kepahiang, Bengkulu, Rabu (24/7/2019).

KOMPAS/B JOSIE SUSILO HARDIANTO

Karung plastik digunakan oleh pekerja pemetik daun teh untuk menahan rembesan embun dan air agar tidak membasahi pakaian mereka.

KOMPAS/IRMA TAMBUNAN

Petani kebun teh kayu aro di kaki gunung kerinci, Kabupaten Kerinci, Jambi.

KOMPAS/B JOSIE SUSILO HARDIANTO

Para pekerja tengah memanggul daun teh yang telah dipetik.

KOMPAS/NASRUL THAHAR

Buruh pemetik daun (pucuk) teh di Perkebunan Teh, Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, Jambi sedang menimbang hasil di pinggir jalan, sebelum dimuat ke atas truk yang mengangkutnya ke pabrik. Di perkebunan ini terdapat sekitar 3.000 buruh pemetik pucuk teh dengan pendapatan rata-rata Rp 300.000/bulan. Setiap keluarga pemetik juga mendapat tunjangan beras 15 kg per orang.

KOMPAS/NASRUL THAHAR

Buruh pemetik daun (pucuk) teh di Perkebunan Teh, Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, Jambi sedang menimbang hasil di pinggir jalan, sebelum dimuat ke atas truk yang mengangkutnya ke pabrik. Di perkebunan ini terdapat sekitar 3.000 buruh pemetik pucuk teh dengan pendapatan rata-rata Rp 300.000/bulan. Setiap keluarga pemetik juga mendapat tunjangan beras 15 kg per orang.

KOMPAS/CHRIS PUDJIASTUTI

Salah satu proses dari pucuk daun teh menjadi teh siap seduh di pabrik teh Kayu Aro, Jambi.

KOMPAS/IWAN SETIYAWAN

Pekerja mengawasi proses produksi teh di Unit Usaha Kayu Aro PT Perkebunan Nusantara VI di Kabupaten Kerinci, Jambi, Jumat (26/1/2016). Pabrik yang sudah berdiri sejak 1925 ini memproduksi teh yang sebagian besar untuk memenuhi kebutuhan pasar ekspor.

 

Sumber: https://kompaspedia.kompas.id/