Perumahan Vertikal di Indonesia: Peluang dan Tantangan dalam Mewujudkan Hunian Terjangkau bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah

Dipublikasikan oleh Kania Zulia Ganda Putri

17 April 2024, 20.59

pexels.com

1. Perkenalan

Secara umum, pemerintah pusat Indonesia memperkirakan bahwa hampir 10% dari total penduduk tinggal di perumahan di bawah standar dengan fasilitas sanitasi yang tidak memadai. 25.000.000 orang atau 5.000.000 rumah tangga ini telah menjadi sasaran rumah susun. Kriteria pendapatan rendah digunakan oleh pemerintah untuk merujuk pada kondisi perumahan yang buruk. Ditambahkan pula backlog di Indonesia sekitar 13.500.000 unit.

Berdasarkan UU No. 20/2011, rumah susun atau rumah susun sebagaimana didefinisikan secara universal, paling tepat digambarkan sebagai bangunan bertingkat, yang terdiri dari unit-unit yang terstruktur secara fungsional baik secara horizontal maupun vertikal. Unit-unit ini dapat dimiliki dan ditinggali secara terpisah oleh masing-masing penghuni dan dilengkapi dengan unit bersama, tanah dan infrastruktur. Sejarah perumahan bertingkat atau vertikal di Indonesia, sebagai cikal bakal munculnya rumah susun, dimulai pada tahun 1950-an dengan pembangunan dan pengembangan kota satelit sub urban Jakarta. Pada saat itu, bentuk perumahan dikenal dengan nama rumah susun; shelter yang memiliki empat lantai, termasuk tempat tinggal staf Kementerian Luar Negeri dan petugas Kepolisian. Rumah susun ini didedikasikan untuk menampung pejabat publik dari masing-masing lembaga dan disebut juga perumahan pemerintah (rumah dinas) atau perumahan tenurial. Pada tahun 1970-an, dengan meningkatnya permintaan akan unit hunian, serta semakin terbatas dan mahalnya lahan di perkotaan, unit vertikal ini juga dimaksudkan untuk dapat menampung lebih banyak orang sekaligus menawarkan hunian yang terjangkau bagi masyarakat. Bentuk unit hunian ini adalah apartemen murah atau rumah susun (walk up flat) yang terdiri hingga lima lantai. Pada tahun 1980-an, rumah susun juga didedikasikan untuk masyarakat yang terkena dampak proyek pembaruan perkotaan, terutama dalam program peningkatan lingkungan. Barulah pada awal tahun 1990-an perumahan vertikal jenis ini banyak dibangun. Pembangunannya juga bercirikan jenis pembangunan apartemen mewah, yang diperuntukkan terutama bagi kelompok masyarakat mampu.

2. Tujuan, Metode dan Batasan

Penelitian ini ingin mengeksplorasi atau mengevaluasi penyediaan rumah susun selama 10 tahun ini dan relevansinya dengan peluang dan tantangan hidup vertikal bagi masyarakat berpenghasilan rendah di Indonesia. Pertanyaannya adalah apakah perumahan vertikal yang ditawarkan, khususnya rumah susun, dapat diterima oleh masyarakat dilihat dari berbagai aspek, dan permasalahan apa saja yang dihadapi dalam isu tersebut. Metode campuran digunakan dengan melakukan survei di beberapa lokasi perumahan rumah susun di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai salah satu kota atau daerah yang cukup banyak membangun rumah tersebut. Lokasinya adalah beberapa rumah susun di Kota Yogyakarta, serta Kabupaten Sleman dan Bantul yang dijadikan studi kasus. Ide dasarnya adalah pertama, masyarakat dahulu hidup dalam satuan horizontal, kemudian berpindah ke satuan vertikal. Alasan kedua adalah sebelum pindah ke unit yang direncanakan, masyarakat hidup dalam situasi di bawah standar.

3. Kerangka Teoritis

Konsep kehidupan vertikal

Secara umum penulis menyarankan agar istilah perumahan vertikal dapat diganti dengan pengertian perumahan bertingkat. Selain itu, Chandler, dkk. Dinyatakan bahwa perumahan vertikal jenis ini biasanya efisien, fleksibel dan menjadi solusi tempat tinggal yang baik bagi keluarga dan menarik bagi penghuni tunggal, dibandingkan dengan rumah tunggal, karena dapat menghemat biaya pemeliharaan sehari-hari. Hal ini juga terkait dengan kemampuan dan kemudahan beradaptasi dengan keadaan di perkotaan.

Proses hunian dan tempat tinggal

Tinggal di lingkungan yang berbeda, dalam hal ini berpindah dari rumah tapak ke rumah susun, juga berarti mendapatkan pengalaman yang berbeda. Masyarakat berpendapatan rendah yang seringkali tinggal di lingkungan bertingkat rendah dan infrastruktur yang kurang memadai atau minim, kemudian beralih ke perumahan vertikal dengan standar berbeda, baik dari segi fisik maupun sosial. Situasi baru juga mendorong adaptasi kebiasaan mereka dengan kondisi dan aspek proses kehidupan tetangga baru. Sejalan dengan itu, terdapat pula konsep adaptasi dan penyesuaian atau modifikasi pada perumahan. Sudut pandang ini juga akan berguna dalam mengidentifikasi respons masyarakat yang tinggal di rumah susun.

Adaptasi dan penyesuaian

Istilah adaptasi menunjukkan adanya hubungan antara perubahan perilaku dalam lingkungan yang biasanya mengarah pada pengurangan disonansi atau kesenjangan dalam sistem lingkungan untuk meningkatkan keselarasan interaksi serangkaian variabel. Secara umum proses penyesuaian diri terhadap lingkungan dapat berupa adaptasi dan penyesuaian diri. Bell menyatakan bahwa proses penyesuaian antara individu dengan lingkungannya dikenal dengan istilah adaptasi. Dalam kondisi ini seseorang mengubah tingkah lakunya sesuai dengan kondisi keadaan, khususnya situasi sosial. Sejalan dengan itu, proses perubahan lingkungan yang dilakukan individu disebut penyesuaian. Dalam situasi ini, seseorang sedang mencoba mengubah lingkungan fisik.

4. Latar Kontekstual: Perkembangan Rumah Susun di Provinsi Yogyakarta

Secara umum, pembangunan rumah susun di Indonesia sudah menjadi bagian dari kebijakan perumahan nasional. Rumah susun tersebut dibangun oleh pemerintah dalam rangka penyediaan perumahan formal atau perumahan rakyat. Perkembangan tersebut dilakukan melalui era yang berbeda-beda dengan kondisi dan tantangan masing-masing. Saat ini terdapat dua program penyediaan rumah susun bagi masyarakat berpendapatan rendah, yaitu terkait dengan pembaharuan perkotaan dan penyediaan rumah susun bagi masyarakat umum. Setiap program telah ditetapkan untuk dibangun atau dilaksanakan oleh berbagai kementerian atau lembaga yang bekerja sama dengan pemerintah daerah. Permasalahan utama perumahan di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, maupun di provinsi atau daerah lain di Indonesia adalah semakin meningkatnya kebutuhan akan fasilitas perumahan di perkotaan, dibandingkan dengan terbatasnya ketersediaan lahan. Kelangkaan ini menyebabkan meningkatnya harga tanah dan perumahan, terutama di pusat kota dan perkotaan lainnya. Pembangunan rumah susun berbiaya rendah telah menjadi solusi alternatif untuk mengakomodasi masyarakat yang tidak mampu mengakses perumahan pasar formal, sekaligus menjadi strategi untuk meningkatkan lingkungan di bawah standar.

5. Evaluasi Umum Tinggal di Rumah Susun

Sebagian besar warga mengaku senang tinggal di rusun tersebut. Mereka menyatakan bahwa tinggal di rumah susun memiliki banyak keuntungan dibandingkan dengan keadaan mereka sebelumnya. Dinyatakan lebih lanjut, terutama oleh masyarakat yang direlokasi, yang tinggal di rumah susun sebagai bagian dari program penataran, bahwa unit mereka saat ini secara umum sudah lebih baik. Warga mengatakan bahwa unit mereka layak huni secara fisik, karena mereka merasa aman (dalam hal kepemilikan), aman (karena berkurangnya kriminalitas), nyaman (dalam hal udara atau suhu yang baik), dan nyaman (terkait dengan ukuran unit yang memadai. ). Selain itu, kelengkapan fasilitas di dalam rusun juga disebut-sebut sebagai faktor positifnya. Biasanya walk-up flat dilengkapi dengan ruang sosial atau publik, tempat parkir, halaman dan atau fasilitas olah raga, sedangkan unitnya sendiri umumnya terdiri dari kamar tidur, kamar mandi, dapur, teras atau koridor luar ruangan dan tempat menjemur di bagian belakang.

6. Adaptasi Tinggal di Rusun

Secara umum, penghuni rumah susun berpendapat bahwa mereka tidak mengalami kesulitan dalam mengubah pengalaman hidup horizontal menjadi vertikal. Mereka mengatakan, tinggal di rumah susun berbeda dengan keadaan sebelumnya di rumah tapak, karena ada kondisi dan norma sosial baru. Namun sebagian besar dari mereka menyatakan mampu beradaptasi dan atau menyesuaikan unitnya meskipun ada beberapa keterbatasan. Tindakan penyesuaian dalam ruang yang terbatas ini adalah dengan memperluas unit, membagi unit secara horizontal dan vertikal, menciptakan ruang konsensus untuk melakukan aktivitas komunal, memanfaatkan ruang terbuka atau ruang `sisa' dan melakukan peralihan waktu penggunaan ruang komunal.

7. Temuan dan Komentar Lainnya

Selain penilaian di atas, ada juga beberapa isu terkait hidup dalam situasi vertikal yang dikemukakan oleh penghuni rumah susun dan terkadang didukung oleh pendapat masyarakat sekitar. Pertama, adanya cita-cita untuk tinggal di rumah tapak di masa depan. Dari survei tersebut, meskipun sebagian besar warga menyatakan senang tinggal di rumah susun, namun dikatakan bahwa tinggal di rumah vertikal hanya bersifat sementara. Mereka sadar bahwa mereka tidak bisa tinggal di sana secara permanen atau selamanya, mengingat kondisi sewa dan kebutuhan membesarkan anak ketika mereka besar nanti. Mereka tahu bahwa suatu saat mereka harus pindah, oleh karena itu mereka harus bersiap-siap, setidaknya dengan menabung, membangun rumah kecil di tempat lain, dan atau mencari kontrak rumah atau unit lanjutan. Berdasarkan survei kuantitatif, setidaknya ada satu orang di setiap rumah susun yang mempersiapkan diri untuk pindah, mengingat alasan menyewa sementara, membesarkan anak, dan atau situasi bahwa mereka telah membangun rumah di tempat lain.

8. Kesimpulan dan Rekomendasi

Dari pembahasan di atas, kesimpulannya dapat diringkas sebagai berikut. Pertama, dari temuan ini dapat dikatakan bahwa meskipun hidup dalam situasi vertikal relatif baru bagi sebagian besar dari mereka, para penghuninya senang tinggal di rumah susun. Indikatornya adalah mereka ingin kembali tinggal disana (menyewa lagi) setelah masa sewa selesai, mereka merasa nyaman (terkait dengan pendapat memiliki tempat yang lebih besar atau layak huni, merasakan udara atau suhu yang baik, dan merasakan ukuran ruangan yang lebih besar dan cukup. dibandingkan situasi bangunan atau rumah tapak sebelumnya), dan mereka merasa aman dan tenteram (dalam hal kepemilikan). Selain itu, alasan mereka memberikan penilaian positif terhadap tinggal di rumah susun adalah karena harga sewa yang murah dan lokasinya yang strategis.

Disadur dari: knepublishing.com