Pengendalian Hama Utama dan Gulma Pada Tanaman Pangan

Dipublikasikan oleh Nadia Pratiwi

08 Mei 2024, 07.31

Sumber: brin.go.id

Pertanian memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami dan mengatasi tantangan utama yang dihadapi dalam budidaya tanaman pangan, salah satunya adalah hama dan gulma.

“Hama dan gulma merupakan dua faktor utama memberikan dampak negatif terhadap produktivitas tanaman. Hama dapat merusak tanaman, mengurangi hasil panen, bahkan menyebabkan kerugian finansial yang signifikan. Adapun gulma seringkali bersaing dengan tanaman untuk mendapatkan nutrisi, air, dan cahaya matahari sehingga menghambat pertumbuhan tanaman dan menurunkan kualitas asil panen,” ungkap Puji Lestari selaku Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan Badan Riset dan Inovasi Nasional BRIN saat memberi sambutan webinar Teras TP #1, Kamis (07/03). 

Puji menambahkan dalam menghadapi perubahan iklim dan tantangan global, peran periset dalam menjaga ketahanan pangan sangat penting. Butuh komitmen kita bersama untuk menciptakan lingkungan pertanian yang sehat dan berkelanjutan, di mana hama dan gulma tidak lagi menjadi ancaman serius bagi tanaman pangan kita. 

Pada kesempatan yang sama, Yudhistira Nugraha selaku Kepala Pusat Riset Tanaman Pangan (PRTP) mengungkapkan bahwa organisme pengganggu tanaman baik hama, penyakit, maupun gulma merupakan penghambat produksi. Saat ini, intensitas serangan hama semakin hari semakin meningkat karena adanya perubahan iklim.

“Pengendalian hama diharapkan tidak sampai merusak lingkungan. Beberapa alternatif teknologi seperti rekayasa lingkungan, menyediakan musuh alami, atau  menggunakan pestisida," ungkap Yudhistira.

Muhammad Yasin Peneliti Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN memaparkan materinya yang berjudul, Hama Utama Tanaman Jagung dan Pengendaliannya.

“Pada jagung, terdapat tiga hama utama jagung yaitu ulat grayak, hama penggerek batang, dan penggerek tongkol. Ulat grayak adalah serangga asli daerah tropis Amerika Serikat hingga Argentina. Larva ulat grayak dapat menyerang lebih dari 80 spesies tanaman termasuk tanaman jagung, padi sorgum, jewawut, tebu, sayuran, kapas. Penggerek batang jagung, selain jagung juga dapat menyerang tanaman sorgum dan gandum. Selain itu, ada penggerek tongkol jagung yang menjadi hama utama komoditas ini.

“Pengendalian hama terpadu (PHT) pada prinsipnya memadukan komponen-kompenen teknologi pengendalian seperti varietas tahan, waktu tanam, tanam serempak, eradikasi tanaman terinfeksi, pestisida sintetik, pengendalian nabati dan hayati.” imbuhnya.

Narasumber kedua Rohimatun Peneliti Ahli Muda, Pusat Riset Tanaman Pangan, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, dengan materi “Insektisida Nabati untuk Pengendalian Hama Tanaman Pangan dan Keamanan Hayatinya”.

Rohimatun menyampaikan, saat ini terlihat adanya peningkatan minat terhadap insektisida nabati yang disebabkan oleh meningkatnya kesadaran mengenai dampak negatif insektisida sintetik, meluasnya penerapan konsep PHT, berkembangnya pertanian organik, upaya pelestarian lingkungan dan perjanjian perdagangan internasional (sanitary and phytosanitary measures) yang membatasi kadar residu pestisida di dalam produk pertanian.

Selain itu, Rohimatun mengatakan bahwa insektisida nabati merupakan bahan kimia yang berasal dari tumbuhan yang dapat mengakibatkan satu atau lebih pengaruh biologi terhadap OPT, baik respon fisiologi seperti pertumbuhan dan perkembangan, maupun tingkah laku seperti aktivitas makan dan peneluran. Syarat penggunaan bahan organik untuk dapat digunakan sebagai insektisida nabati adalah aman terhadap lingkungan dan organisme berguna non target, tidak bersifat antagonis jika dicampur, dan bahan bakunya mudah didapat.

“Beberapa kategori insektisida nabati yaitu sebagai racun syaraf atau neurotoksik Piretrin, racun respirasi Rotenon, penghambat fungsi hormon serangga, penghambat makan, pengusir/repellent, pemikat/attractant, dan pemandul,” ujar Rohimatun.

“Kelebihan insektisida nabati antara lain relatif lebih aman terhadap organisme non target, relatif tidak berdampak negatif terhadap pertumbuhan dan viabilitas benih. Sedangkan kekurangannya ekstrak dengan pelarut air tidak tahan lama dan mutu bahan baku dipengaruhi oleh jenis tanaman dan lingkungan sehingga perlu standardisasi,” lanjutnya.

Kemudian paparan terakhir disampaikan oleh Askif Pasaribu dari APAC R&D Category Lead, UPL Ltd, dengan materi “Optimizing Food Crop Yield with Weed Management Technology”, dan setelah itu dilanjutkan dengan diskusi yang dipimpin oleh moderator Abdul Fattah Peneliti Ahli Madya, PR Tanaman Pangan, ORPP – BRIN. 

Sumber: https://brin.go.id/