Pengamat Pendidikan UGM Khawatir Learning Loss Akibat PJJ Berkepanjangan

Dipublikasikan oleh Dimas Dani Zaini

23 Februari 2024, 16.21

Sumber: kompas.com

KOMPAS.com - Pandemi Covid-19 belum berakhir. Namun pelajar dan mahasiswa harus mengikuti kebijakan pemerintah dalam melaksanakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau sekolah online. Meski berbagai teknologi telah didukung selama PJJ, namun masih terdapat kesenjangan yang membuat pembelajaran di rumah tidak efektif. Salah satu kekhawatirannya adalah jika home schooling dilanjutkan dalam jangka waktu yang lama, hal ini dapat mengakibatkan hilangnya kemampuan belajar atau penurunan pengetahuan dan keterampilan akademik. Inspektur Pendidikan Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. Dr. Budi Santoso Wignyosukarto, terdapat perbedaan penting ketika pembelajaran dilakukan secara tatap muka dan sekarang harus dilakukan secara online.

Perbedaan pembelajaran tatap muka dan online

Prof. Budi menjelaskan, proses pembelajaran yang panjang melibatkan interaksi yang intens dengan siswa. Selain itu, mahasiswa juga mempunyai waktu untuk kegiatan praktik untuk memahami realitas teori. Namun pada sekolah daring, semuanya terjadi dengan bantuan media video dan komunikasi virtual. “Ketika menemukan mahasiswa yang haus akan ilmu pengetahuan, maka muncullah produk-produk yang relatif serupa. “Tapi kalau ketemu siswa yang baru mau ijazah, hasilnya jelas berbeda,” kata Profesor Budi kepada Kompas.com, Jumat (2 Desember 2021).

Profesor Budi mengatakan, di masa pandemi, guru tidak bisa melihat catatan. Siswa hanya bisa mengerjakan soal. Saat PJJ, siswa dengan nilai C hampir jarang. Cara pelaksanaan ujian sebelum pandemi tidak bisa langsung dilaksanakan saat ini, karena siswa bisa mengunduh jawaban soal ujian yang sama dengan teman pintarnya. Meskipun guru mempunyai waktu yang terbatas untuk ujian online. “Jadi harus ada metode pengajaran yang kompatibel dengan model pembelajaran daring ini. Di luar negeri, jumlah mahasiswa dalam satu kelas hanya 20 orang. Metode evaluasinya mudah dilakukan, karena dosen punya waktu lebih banyak,” jelasnya. . Mantan Direktur Wilayah V Departemen Pelayanan Pendidikan Tinggi (L2Dikti).

Karakteristik kemampuan belajar

Prof. Budi mengatakan, salah satu tanda siswa mengalami learning loss pada pembelajaran jarak jauh adalah tidak mampu mengorganisasikan dan menjelaskan permasalahan berdasarkan ilmu yang dipelajarinya saat menulis tesis atau disertasi (TA). Akibatnya, para siswa tersebut kesulitan menyelesaikan soal-soal yang harus diselesaikan kelak saat mereka bekerja.

"Saat bersekolah, mereka frustasi karena ilmunya tidak sesuai standar. Kasus jalanan Anak-anak yang putus sekolah, merupakan salah satu contoh mereka yang mengalami kesulitan belajar. Mereka “menganggap sekolah hanya sebagai formalitas untuk mendapatkan ijazah sebagai kunci menuju jenjang selanjutnya. Bukan sebagai aset atau cadangan masa depan,” kata Prof. Budi.

Keberhasilan akademik sulit diukur.

Profesor Budi menegaskan, di masa pandemi dapat melahirkan mahasiswa yang mengikuti “pass is the large” . penting" sistem. Namun guru juga kesulitan mengukur keberhasilan pembelajaran. Jika biasanya satu mata pelajaran mendapat nilai 10 persen teratas, kini bisa naik hingga 80 persen. Dan pasti ada siswa yang tergolong haus ilmu karena ada tes yang benar-benar bagus dan jawabannya benar. Prof. Budi mencontohkan berapa banyak lulusan yang akan mendapat predikat Laudex dalam dua tahun ke depan. Jika angkanya lebih tinggi, belum tentu sistem PJJ yang diterapkan saat ini berhasil. “Kita harus buktikan di industri kalau produknya juga lebih bagus. Mahasiswa harus berusaha serius dalam mengikuti pembelajaran. Mereka harus menunjukkan keberhasilan dalam nilai yang diterimanya, yang juga mencerminkan keberhasilan mereka dalam menambah ilmunya.”, tambah Prof.Budi.

Tetapi bagi anak-anak yang sudah mampu beradaptasi dengan metode online ini, metode ini bisa lebih cepat dan lebih maju dibandingkan dengan apa yang mereka pelajari di perguruan tinggi. Sebab dia “mendapat” banyak informasi dan terbuka di dunia digital. Prof. Budi berharap pemerintah dapat memperkuat jaringan komunikasi untuk mencegah putus sekolah. Dengan cara ini diharapkan masyarakat akan lebih mudah mendapatkan sarana komunikasi yang terjangkau.

Disadur dari Artikel : kompas.com