Penemuan Terbaru: Identifikasi Spesies Cecak Jarilengkung Hamidyi di Kalimantan

Dipublikasikan oleh Muhammad Ilham Maulana

14 Maret 2024, 10.04

Sumber: Cyrtodactylus hamidyi (Cecak Jarilengkung hamidy)(dok. LIPI)

Tiga peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah dipilih sebagai Asian Science Diplomat 2021. Mereka adalah Dr. Edi Kurniawan, Dr. Masteria Yunovilsa Putra, dan Dr. Indri Badria Adilina. Pengumuman ini dilakukan pada acara "Announcement of The 2021 Awardees" yang diselenggarakan secara daring pada Jum'at (1/10) sore. Asian Science Diplomat (ASD) merupakan jaringan ilmuwan muda Asia, terutama dari ASEAN, yang bertugas dalam memajukan ilmu pengetahuan di wilayah Asia Tenggara.

Para peneliti berhasil menemukan dan mengidentifikasi spesies cecak baru, yaitu cecak jarilengkung hamidy, di Pulau Kalimantan (Borneo), Indonesia. Cecak ini memiliki nama ilmiah Cyrtodactylus hamidyi (C. hamidyi). Penemuan ini dipublikasikan dalam jurnal Zootaxa pada 25 Agustus 2021 setelah serangkaian penelitian yang panjang. Awal Riyanto, seorang peneliti Zoologi dari Museum Zoologicum Bogoriense, menjelaskan bahwa penemuan ini berasal dari pemeriksaan detail spesimen Cyrtodactylus dari Kalimantan yang disimpan di Museum Zoologicum Bogoriense (MZB) di Cibinong, Jawa Barat.

Awalnya, peneliti fokus pada mengungkap diversitas dan biogeografi cecak jarilengkung Indonesia. Namun, setelah pemeriksaan lebih lanjut, mereka berhasil mengidentifikasi beberapa spesies baru, termasuk C. hamidyi. Spesimen awalnya diberi label sebagai C. baluensis dan dikoleksi pada tahun 2011 dari Kalimantan Timur. Saat ini, tiga spesies baru lainnya sedang dalam tahap finalisasi penulisan manuskripnya.

Informasi tambahan: Ketiga spesimen berasal dari Tawau, Sabah, Malaysia. Riyanto menjelaskan bahwa sebagai seorang peneliti, ia tidak bisa terisolasi dalam dunia ilmu pengetahuan. Seorang peneliti harus memiliki jaringan yang luas untuk berdiskusi dalam bidang yang sama melintasi batas administratif negara. Hal ini ditunjukkan saat mempelajari spesimen dari Tawau, dimana Riyanto berhasil memperoleh data yang dibutuhkannya tanpa harus pergi ke Institute for Tropical Biology and Conservation, University Malaysia Sabah, atau Museum Sejarah Alam Osaka Jepang, tempat spesimen tersebut disimpan.

Penamaan C. Hamidyi
Menurut Riyanto, nama "hamidy" diberikan sebagai penghormatan kepada Dr. Amir Hamidy, seorang herpetolog Indonesia yang aktif dalam memahami keanekaragaman dan konservasi herpetofauna Indonesia. Ciri morfologi khas cecak jarilengkung
Riyanto menjelaskan bahwa secara morfologi, C. hamidy mirip dengan C. matsuii, tanpa perbedaan karakter diagnostik yang signifikan, meskipun berasal dari dua lokasi yang berbeda, Nunukan dan Tawau, dengan jarak sekitar 80 km di antara keduanya. Perbedaan utamanya terletak pada jumlah tuberkular punggung, pori-percloacal, dan jumlah baris sisi ventral, yang bervariasi sesuai dengan fluktuasi populasi berdasarkan jarak geografis. Berikut adalah ciri khas C. hamidy:

1. Panjang tubuh 63 mm,

2. Warna dasar tubuh coklat,

3. Corak semilunar pada bagian belakang kepala,

4. Garis melintang coklat gelap pada punggung yang dibatasi oleh pola jaringan putih,

5. Garis melintang tersebut terkadang membentuk garis vertebral,

6. Ekor dengan pola melintang coklat gelap bergantian dengan putih.


Disadur dari: www.kompas.com