Menjelajahi Karakteristik Umum Arsitektur Austronesia

Dipublikasikan oleh Muhammad Ilham Maulana

18 April 2024, 08.33

Sumber: en.wikipedia.org

Arsitektur Austronesia, meskipun beragam, sering kali menunjukkan ciri-ciri yang sama yang menunjukkan asal usul yang sama. Di berbagai subkelompok linguistik, istilah Proto-Austronesia dan Proto-Malayo-Polinesia yang direkonstruksi untuk "rumah", "bangunan", atau "lumbung" menunjukkan kesamaan-kesamaan ini. Contohnya adalah *Rumaq untuk "rumah", *balay untuk "bangunan umum" atau "rumah komunitas", *lepaw untuk "gubuk" atau "lumbung", *kamaliR untuk "rumah bujangan" atau "rumah laki-laki", dan *banua untuk "tanah berpenghuni" atau "wilayah komunitas". Bukti linguistik ini menyoroti keterkaitan budaya Austronesia melalui warisan arsitektur mereka.

Desa Sama-Bajau biasanya dibangun langsung di atas perairan dangkal

Salah satu ciri khas arsitektur Austronesia adalah lantai yang ditinggikan, ditopang oleh tiang-tiang. Desain ini, yang digunakan untuk rumah dan bangunan lainnya, menawarkan beberapa keuntungan termasuk perlindungan terhadap banjir dan kemampuan pertahanan selama konflik. Tiang-tiang rumah biasanya ditutup dengan cakram yang lebih besar untuk mencegah hama masuk. Struktur Austronesia umumnya ditemukan di lahan basah dan di sepanjang badan air, meskipun mereka juga dapat dibangun di daerah dataran tinggi atau bahkan langsung di perairan dangkal.

Rumah bale yang ditinggikan dari orang Ifugao dengan tiang rumah tertutup diyakini berasal dari desain lumbung tradisional

Praktik membangun di atas tiang diyakini berasal dari lumbung padi yang ditinggikan, yang merupakan simbol status yang signifikan di antara leluhur Austronesia yang membudidayakan padi. Selain itu, lumbung padi sering kali berfungsi sebagai kuil keagamaan, menyimpan ukiran roh leluhur dan dewa-dewa setempat.

Atap bernada tinggi dengan atap pelana berornamen adalah fitur umum lainnya, dengan atap pelana yang sangat penting. Atap-atap ini, yang menyerupai perahu, menyoroti hubungan maritim budaya Austronesia. Motif perahu tersebar luas, dengan beberapa rumah dibangun di atas platform yang menyerupai katamaran. Elemen-elemen bangunan Austronesia sering kali meminjam terminologi dari perahu dan berlayar, yang mencerminkan hubungan kuat mereka dengan tradisi maritim.

Rumah Tongkonan orang Toraja dengan atap pelana khas yang mengingatkan pada perahu

Bangunan Austronesia memiliki makna spiritual, dengan komponen-komponen tertentu yang berfungsi sebagai "penarik ritual" yang mewujudkan esensi spiritual rumah. Loteng rumah, biasanya di atas perapian, dianggap sakral dan digunakan untuk menyimpan benda-benda penting yang terkait dengan roh leluhur dan dewa.

Meskipun arsitektur Austronesia sebagian besar menggunakan bahan yang mudah rusak seperti kayu, bambu, dan serat tanaman, arsitektur ini menunjukkan keahlian yang luar biasa melalui teknik penyambungan dan penenunan yang rumit. Bukti arkeologis dari struktur prasejarah Austronesia masih terbatas, tetapi representasi kontemporer dalam seni dan bukti linguistik memberikan wawasan yang berharga ke dalam tradisi arsitektur mereka.

Rumah pertemuan Bai orang Palauan dengan atap pelana yang didekorasi dengan warna-warni

Di Indonesia modern, gaya arsitektur yang beragam secara kolektif berada di bawah kategori rumah adat, atau rumah tradisional. Selain itu, kemiripan antara arsitektur Austronesia dan arsitektur tradisional Jepang menunjukkan kemungkinan adanya kontak prasejarah antara orang Austronesia dan orang-orang Jepang selatan. Hubungan ini menjelaskan sejarah arsitektur Austronesia yang kaya dan kompleks serta warisannya yang abadi.

Gudang Māori pataka

 

Disadur dari: en.wikipedia.org