Mengungkap Rahasia di Balik Sumber Sekunder: Kunci Menuju Penelitian yang Kaya Informasi

Dipublikasikan oleh Muhammad Ilham Maulana

24 April 2024, 19.24

cuitandokter.com

Data sekunder merujuk pada informasi yang dikumpulkan oleh pihak lain selain peneliti utama. Sumber umum data sekunder dalam ilmu sosial meliputi hasil sensus, data pemerintah, catatan organisasi, dan data yang awalnya dikumpulkan untuk tujuan penelitian lainnya. Menggunakan data sekunder dalam analisis dapat menghemat waktu yang biasanya dibutuhkan untuk pengumpulan data. Terutama dalam kasus data kuantitatif, penggunaan data sekunder dapat memberikan akses ke basis data yang lebih besar dan berkualitas lebih tinggi yang mungkin tidak dapat dikumpulkan oleh peneliti secara individu.

Analisis data sekunder juga dianggap sangat penting dalam memahami perubahan sosial dan ekonomi, karena seringkali sulit untuk melakukan survei baru yang dapat mencakup perubahan historis dengan tepat. Meskipun demikian, dalam riset pemasaran, data sekunder mungkin kurang berguna karena bisa saja sudah tidak relevan atau tidak akurat. Dalam rangka mengoptimalkan penggunaan data, peneliti harus mempertimbangkan keunggulan dan keterbatasan dari sumber data sekunder yang mereka gunakan.

Klasifikasi sumber

Klasifikasi sumber-sumber melibatkan pengkategorian sumber-sumber tersebut sebagai sumber primer atau sekunder berdasarkan sifat simbolisnya, yang mengacu pada benda-benda yang dimaksudkan untuk mengkomunikasikan informasi. Sumber-sumber simbolis biasanya mencakup dokumen tertulis seperti surat, catatan, laporan, dan seni grafis, tetapi tidak termasuk benda-benda non-komunikatif seperti pecahan tembikar atau sisa-sisa makanan.

Membedakan antara sumber primer dan sekunder bersifat subjektif dan bergantung pada konteksnya, sehingga sulit untuk membuat definisi yang tepat. Beberapa sumber dapat diklasifikasikan sebagai sumber primer atau sekunder, tergantung pada situasinya. Misalnya, sebuah teks sejarah yang membahas dokumen-dokumen lama untuk menarik kesimpulan baru dapat dianggap sebagai sumber primer untuk kesimpulan baru, namun tetap menjadi sumber sekunder untuk dokumen lama. Demikian pula, sebuah obituari atau survei artikel jurnal dapat berperan sebagai sumber primer dan sekunder.

Klasifikasi suatu sumber sebagai sumber primer atau sekunder dapat berubah dari waktu ke waktu, yang mencerminkan pergeseran pengetahuan dalam bidang studi. Sebagai contoh, sebuah dokumen yang merujuk pada isi surat yang hilang dapat dianggap sebagai sumber primer sampai surat tersebut ditemukan, dan setelah itu dokumen tersebut menjadi sumber sekunder.

Upaya untuk memodelkan komunikasi ilmiah dan keilmuan bergantung pada konsep-konsep seperti sumber primer dan sekunder. Model penyebaran informasi UNISIST, yang dikembangkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, memberikan kerangka kerja untuk memahami konsep-konsep ini dalam sistem sosial yang lebih besar dari pertukaran pengetahuan.

Dalam beberapa bahasa seperti bahasa Jerman, ada perbedaan antara Sekundärliteratur (literatur sekunder) untuk sumber sekunder dan Sekundärquelle (sumber sekunder) untuk historiografi. Sekundärquelle dapat merujuk pada Primärquelle (sumber primer) yang hilang, seperti notulen yang sudah tidak ada lagi, sehingga sumber primernya tidak dapat diakses oleh para peneliti.

Memahami Klasifikasi Sumber di Berbagai Bidang

Perbedaan antara sumber primer dan sekunder memainkan peran penting dalam berbagai disiplin ilmu, mulai dari sains dan kedokteran hingga humaniora dan sejarah. Mari selidiki bagaimana sistem klasifikasi ini beroperasi di berbagai bidang studi.

Sains, Teknologi, dan Kedokteran:
Dalam konteks ilmiah, sumber sekunder sering disebut sebagai "literatur sekunder" dan dapat berupa artikel review atau meta-analisis. Sumber primer, sebaliknya, adalah makalah penelitian asli yang ditulis oleh ilmuwan yang melakukan penelitian. Materi utama ini mencakup bagian seperti Tujuan, Metode, Hasil, dan Kesimpulan dalam makalah penelitian yang dipublikasikan di jurnal ilmiah. Namun, sumber sekunder juga dapat mencakup ringkasan literatur yang ada, deskripsi penyakit atau pengobatan di buku referensi, atau survei pekerjaan sebelumnya di lapangan.

Ilmu Perpustakaan dan Informasi:
Sumber sekunder dalam bidang ini adalah sumber yang merangkum atau memberikan komentar terhadap sumber primer dalam konteks tertentu. Mereka berfungsi untuk meningkatkan pemahaman atau interpretasi informasi atau ide yang diteliti.

Matematika:
Dalam matematika, sumber sekunder sangat penting untuk membuat ide-ide matematika yang kompleks dan bukti-bukti dari sumber primer lebih mudah diakses oleh masyarakat. Sumber tersier juga dapat digunakan untuk memenuhi peran pengantar.

Humaniora dan Sejarah:
Dalam sejarah dan humaniora, sumber sekunder biasanya berupa buku atau jurnal ilmiah yang ditulis oleh penerjemah atau cendekiawan di kemudian hari. Sumber-sumber ini menawarkan perspektif mengenai peristiwa atau gagasan sejarah dari sudut pandang selanjutnya. Sejarawan sangat bergantung pada sumber-sumber primer, seperti dokumen arsip, untuk penulisan ilmiah asli, dan membacanya bersamaan dengan interpretasi sekunder.

Hukum:
Dalam bidang hukum, klasifikasi sumber sangatlah penting karena persuasif suatu sumber sering kali bergantung pada sejarahnya. Sumber primer meliputi kasus, undang-undang, konstitusi, dan teks hukum otoritatif lainnya, sedangkan sumber sekunder berupa buku, artikel, dan ensiklopedia. Penulis hukum umumnya lebih suka mengutip sumber primer karena memiliki nilai otoritatif dan preseden.

Sejarah keluarga:
Dalam penelitian sejarah keluarga, sumber sekunder diartikan sebagai catatan atau pernyataan yang dibuat oleh orang yang bukan saksi mata atau seseorang yang tidak mempunyai hubungan dekat dengan peristiwa atau keadaan. Hal ini mencakup kisah-kisah yang ditulis lama setelah peristiwa tersebut terjadi, di mana kesalahan ingatan menjadi faktor yang signifikan.

Otobiografi:
Otobiografi dapat berfungsi sebagai sumber sekunder dalam sejarah atau humaniora bila digunakan untuk memberikan informasi tentang topik selain kehidupan subjek. Misalnya, catatan peristiwa sejarah yang ditulis bertahun-tahun kemudian mungkin mencerminkan persepsi yang ada dibandingkan opini masa kini.

Kesimpulannya, klasifikasi sumber ke dalam kategori primer dan sekunder berbeda-beda antar disiplin ilmu, namun memiliki tujuan yang sama untuk memastikan keakuratan, keandalan, dan kontekstualitas dalam penelitian dan interpretasi ilmiah.
 

Disadur dari: en.wikipedia.org