Mengeksplorasi Kegiatan Agroindustri

Dipublikasikan oleh Muhammad Ilham Maulana

01 Maret 2024, 09.09

Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Tempat_penyimpanan_hasil_panen_berupa_biji-bijian.jpg

Agroindustri adalah sektor ekonomi yang menggunakan hasil pertanian sebagai bahan baku untuk diproses, dirancang, dan disediakan melalui peralatan serta jasa tertentu. Austin (1981) secara eksplisit mengungkapkan bahwa agroindustri adalah perusahaan yang melakukan proses pengolahan bahan nabati atau hewani melalui berbagai metode seperti perlakuan fisik atau kimiawi, penyimpanan, pengemasan, dan distribusi. Agroindustri melibatkan interelasi antara produksi, pengolahan, transportasi, penyimpanan, pendanaan, pemasaran, dan distribusi produk pertanian. Dalam kerangka sosial ekonomi, agroindustri termasuk dalam lima subsistem agribisnis yang terdiri dari penyediaan sarana produksi, usaha tani, pengolahan hasil, pemasaran, serta sarana dan pembinaan.

Industri Pengolahan Hasil Pertanian (IPHP) meliputi sektor-sektor seperti tanaman pangan, tanaman perkebunan, tanaman hasil hutan, perikanan, dan peternakan. Industri Peralatan dan Mesin Pertanian (IPMP) terbagi menjadi budidaya pertanian dan pengolahan. Sementara Industri Jasa Sektor Pertanian (IJSP) meliputi perdagangan, konsultasi, dan komunikasi dalam konteks teknologi perangkat lunak.

Agroindustri memiliki peran strategis sebagai penghubung antara sektor pertanian dan industri. Dengan pengembangan yang baik, agroindustri dapat meningkatkan berbagai aspek ekonomi seperti tenaga kerja, pendapatan petani, ekspor dan devisa, pangsa pasar, nilai tukar produk, dan penyediaan bahan baku industri.

Penerapan teknologi untuk agroindustri

Tantangan utama dalam pengembangan agroindustri di Indonesia adalah rendahnya kemampuan dalam mengolah produk pertanian. Sebagian besar komoditas pertanian yang diekspor masih berupa bahan mentah, hanya sekitar 25-29% yang diekspor dalam bentuk olahan. Hal ini mengurangi nilai tambah yang bisa didapat dari ekspor produk pertanian, sehingga pengolahan lebih lanjut menjadi penting untuk mengembangkan agroindustri di era globalisasi ini.

Teknologi yang digunakan dalam agroindustri mencakup teknologi pascapanen dan proses. Teknologi pascapanen terbagi menjadi tiga tahap, yaitu sebelum pengolahan, tahap pengolahan, dan pengolahan lanjut. Perlakuan pada tahap awal termasuk pembersihan, pengeringan, sortasi, pengemasan, transportasi, penyimpanan, pemotongan, dan lainnya. Pada tahap pengolahan, terdapat teknik seperti fermentasi, oksidasi, dan distilasi. Sedangkan tahap lanjut melibatkan pengubahan (kimiawi, biokimiawi, fisik) produk pertanian menjadi produk dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Contoh produk olahan dari teknologi ini termasuk lemak kakao, bubuk kakao, produk coklat dari kakao, kopi bakar, produk-produk kopi, minuman dari kopi, serta produk-produk teh. Selain itu, ada juga produk seperti ekstrak/oleoresin, minyak atsiri, dan aromaterapi yang dihasilkan dari proses pengolahan ini. Produk ini dapat digunakan langsung atau menjadi bahan baku untuk industri makanan, kimia, dan farmasi.

Pengembangan agroindustri

Pengembangan agroindustri di Indonesia telah terbukti mampu memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional. Bahkan di tengah krisis ekonomi pada tahun 1997-1998, agroindustri menjadi salah satu sektor yang memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Saat krisis melanda, meskipun banyak sektor lain mengalami kemunduran, agroindustri tetap bertahan dengan jumlah unit usaha yang beroperasi. Beberapa kelompok agroindustri yang berhasil berkembang saat itu adalah yang berbasis kelapa sawit, ubi kayu, dan pengolahan ikan. Keberhasilan ini dapat diatribusikan pada kenyataan bahwa sebagian besar agroindustri tidak bergantung pada impor bahan baku dan bahan tambahan serta memiliki peluang pasar ekspor yang besar.

Di sisi lain, ada juga kelompok agroindustri yang mengalami penurunan, seperti industri pakan ternak dan minuman ringan. Penurunan ini disebabkan oleh ketergantungan pada impor bahan baku dan penurunan daya beli masyarakat akibat krisis ekonomi. Namun, selama tiga tahun setelah krisis, beberapa komoditas berhasil mengalami pertumbuhan ekspor yang positif, seperti minyak sawit, karet alam, hasil laut, kakao, kopi, teh, holtikultura, dan makanan ringan/kering.

Untuk masa depan, terdapat potensi pengembangan agroindustri pada beberapa komoditas dan produk, termasuk produk berbasis pati, hasil hutan non-kayu, kelapa, minyak atsiri, dan hasil laut non-ikan. Agroindustri diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah hasil pertanian melalui penerapan teknologi, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Namun, perkembangan nilai ekspor agroindustri masih tertinggal dibandingkan dengan subsektor industri lainnya. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk pertumbuhan sektor pertanian yang lambat, orientasi pasar dalam negeri, kurangnya penelitian yang mendalam, dan kurangnya minat investor. Untuk mendorong kemajuan agroindustri, diperlukan kebijakan yang mendukung, pemberdayaan petani, penelitian teknologi pascapanen, alur informasi yang baik, serta kerjasama antara perguruan tinggi, lembaga penelitian, petani, dan industri.

Dengan dukungan yang tepat, agroindustri dapat menjadi motor penggerak ekonomi nasional dengan meningkatkan daya saing produk, perolehan devisa, lapangan kerja, kesejahteraan masyarakat, dan pelestarian lingkungan. Oleh karena itu, arah kebijakan pemerintah harus mengarah pada pembangunan agroindustri yang berkelanjutan dan berorientasi pada pertumbuhan ekonomi yang inklusif.


Disadur dari: https://id.wikipedia.org/wiki/Agroindustri