Limbah Toxic: Mengklasifikasikan dan Efek Kesehatan

Dipublikasikan oleh Dias Perdana Putra

28 Maret 2024, 15.22

Valley of the Drums , situs limbah beracun di Kentucky, Amerika Serikat, 1980 (wikipedia.en)

Limbah beracun

Limbah beracun merujuk pada segala jenis bahan yang tidak diinginkan dan memiliki potensi untuk menyebabkan bahaya jika terhirup, tertelan, atau terserap melalui kulit. Banyak limbah beracun dihasilkan oleh industri, sementara produk konsumen seperti televisi, komputer, dan telepon juga mengandung bahan kimia beracun yang dapat mencemari udara, tanah, dan air. Pembuangan limbah semacam itu menjadi permasalahan besar dalam kesehatan masyarakat.

Mengklasifikasikan bahan beracun

Bahan beracun seringkali merupakan produk samping dari industri seperti manufaktur, pertanian, konstruksi, otomotif, laboratorium, dan rumah sakit. Bahan-bahan ini dapat mengandung logam berat, radiasi, patogen berbahaya, atau racun lainnya. Seiring dengan revolusi industri, limbah beracun semakin melimpah, menyebabkan permasalahan global yang serius. Pembuangan limbah ini menjadi semakin penting dengan adanya kemajuan teknologi yang mengandung komponen kimia beracun.

Telepon seluler, komputer, televisi, dan panel surya adalah beberapa produk yang mengandung bahan kimia beracun. Limbah-limbah ini jika tidak dibuang dengan benar dapat mencemari udara, tanah, dan air. Sebuah bahan dianggap beracun jika dapat menyebabkan kematian atau bahaya jika terhirup, tertelan, atau terserap melalui kulit.

Limbah beracun bisa mengandung berbagai macam zat berbahaya seperti bahan kimia, logam berat, radiasi, patogen berbahaya, atau racun lainnya. Bahkan, rumah tangga juga bisa menjadi sumber limbah berbahaya melalui barang-barang seperti baterai, peralatan komputer bekas, serta sisa cat atau pestisida.

Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) telah mengidentifikasi 11 zat utama yang berpotensi membahayakan kesehatan manusia. Di antaranya adalah arsenik, asbes, kadmium, kromium, limbah klinis, sianida, timbal, merkuri, PCB, POPs, serta asam dan basa kuat.Limbah beracun dan berbahaya yang sering diabaikan berasal dari produk rumah tangga seperti aki bekas, pestisida, cat, dan oli mobil. Limbah-limbah ini dapat bersifat reaktif, mudah terbakar, dan korosif.

Di Amerika Serikat, limbah beracun diatur berdasarkan Resource Conservation and Recovery Act (RCRA). Limbah beracun dan berbahaya harus ditangani dengan hati-hati dan dibuang di fasilitas yang ditunjuk, serta seringkali ada hari pengumpulan limbah beracun rumah tangga di banyak kota. Beberapa bahan yang tidak diterima di tempat pembuangan sampah biasa termasuk amunisi, limbah komersial, bahan peledak, jarum suntik, limbah medis, bahan radioaktif, dan detektor asap.

Efek kesehatan

Limbah beracun sering mengandung zat-zat karsinogen, dan paparan terhadap zat-zat tersebut dapat meningkatkan risiko kanker pada individu yang terpapar. Contohnya, kelompok kasus polisitemia vera, sebuah jenis kanker darah langka, ditemukan di sekitar lokasi pembuangan limbah beracun di timur laut Pennsylvania pada tahun 2008.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Jurnal Penilaian Risiko Manusia & Ekologis memeriksa kesehatan individu yang tinggal di dekat tempat pembuangan sampah kota. Mereka menemukan bahwa tinggal di dekat tempat pembuangan sampah dapat meningkatkan risiko terkena beberapa jenis kanker. Penelitian ini dilakukan di Massachusetts barat dalam radius 1 mil dari TPA Regional North Hampton.

Zat-zat beracun tersebut bisa terkubur di dalam tanah, di limpasan sungai, di air tanah yang digunakan untuk air minum, atau di air banjir, seperti yang terjadi setelah Badai Katrina. Beberapa zat beracun, seperti merkuri, dapat bertahan lama di lingkungan dan terakumulasi. Merkuri, misalnya, dapat terakumulasi di ekosistem air tawar dan laut dan berakhir di ikan predator, yang kemudian menjadi sumber merkuri dalam makanan manusia.

Di Amerika Serikat, jutaan orang tinggal di dekat lokasi limbah beracun, dan orang kulit hitam Amerika memiliki kemungkinan 75 persen lebih tinggi untuk tinggal di dekat fasilitas penghasil limbah. Orang yang tinggal di dalam atau dekat komunitas dengan Superfund atau situs berbahaya memiliki risiko tinggi terhadap masalah kesehatan mental dan fisik sepanjang hidup, termasuk kanker, cacat lahir, dan cacat perkembangan. Banyak orang yang tinggal di dekat situs tersebut membiarkan bahan kimia dan racun masuk ke dalam pasokan air terdekat dan mempengaruhi kualitas udara dan kondisi tanah.Perubahan iklim, seperti hujan badai yang hebat, banjir, dan angin topan, juga dapat mengganggu lokasi pembuangan limbah beracun, memungkinkan senyawa organik yang tidak stabil kembali ke lingkungan.

Negara-negara berpendapatan rendah hingga menengah sering kali memiliki sumber daya yang terbatas dalam menghadapi limbah beracun. Mereka mungkin memiliki peraturan yang tidak memadai, informalitas dalam banyak industri, pengawasan yang buruk, dan pembuangan kontaminan yang tidak tepat. Sebagai contoh, timbal masih digunakan untuk kerajinan keramik, meskipun alternatif yang lebih aman telah tersedia. Timbal yang terlepas dapat masuk ke dalam tanah dan sumber air, menyebabkan dampak kesehatan negatif seperti masalah perilaku pada remaja, penurunan IQ, dan gangguan reproduksi.

Penanganan dan pembuangan

Salah satu tantangan besar yang kita hadapi saat ini adalah bagaimana cara membuang limbah beracun dengan benar. Sebelum adanya undang-undang lingkungan hidup modern, seperti di AS pada tahun 1970-an, orang sering kali membuang limbah langsung ke sungai, laut, atau menguburkannya di tempat pembuangan sampah tanpa kontrol yang jelas. Namun, dengan berlakunya Undang-Undang Air Bersih AS pada tahun 1972 dan Resource Conservation and Recovery Act (RCRA) pada tahun 1976, program nasional dibentuk untuk mengatur penanganan dan pembuangan limbah berbahaya.

Industri pertanian, misalnya, menggunakan lebih dari 800.000 ton pestisida setiap tahunnya, yang mencemari tanah dan air tanah, mengancam persediaan air minum. Limbah beracun dari aktivitas seperti ini bisa mencemari laut melalui limpasan bahan kimia dari air hujan. Selain itu, tumpahan minyak dari kapal besar atau pipa bocor juga dapat mencemari lautan. Bahkan, pembuangan minyak bekas mobil oleh masyarakat sehari-hari ke saluran pembuangan air hujan dapat menyebabkan pencemaran.

Pembuangan limbah berbahaya umumnya dilakukan di tempat pembuangan akhir seperti Tempat Pembuangan Akhir (TPA), penampungan permukaan, atau sumur injeksi. Pembuangan ini diatur oleh peraturan lingkungan, dan biasanya melibatkan proses penyimpanan yang aman untuk mencegah pelepasan zat beracun ke lingkungan. Limbah organik bisa dimusnahkan dengan pembakaran pada suhu tinggi, tetapi limbah yang mengandung logam berat atau bahan radioaktif harus disimpan dengan hati-hati karena tidak bisa dimusnahkan. Ada berbagai metode penyimpanan yang digunakan, seperti penyimpanan dalam wadah tertutup atau di bawah tanah dengan lapisan pelindung seperti tanah liat.

Namun, biaya pengangkutan dan pemrosesan limbah beracun bisa mahal, sehingga ada kemungkinan orang menggunakan cara pembuangan yang tidak benar untuk menghindari biaya tersebut. Akibatnya, tindakan pembuangan yang tidak tepat bisa berujung pada denda atau hukuman penjara. Di masa depan, area yang pernah digunakan sebagai tempat pembuangan limbah beracun bisa direvitalisasi menjadi ruang hijau atau digunakan untuk keperluan komersial atau industri setelah proses pembersihan yang tepat.

Disadur dari: https://en.wikipedia.org/wiki/Toxic_waste