Empat Karya Arsitektur Kontemporer Berbahan Kayu, Berkontribusi Rendah terhadap Emisi Gas Rumah Kaca

Dipublikasikan oleh Muhammad Ilham Maulana

09 Maret 2024, 10.32

Sumber: Forte Living di Melbourne, Australia(The New York Times)

James Eric Dodunias Liratupa, seorang profesor arsitektur di Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta, membahas karakteristik kayu dan dampaknya pada bangunan. Ini merupakan fokus utama dalam makalah yang disampaikannya pada bulan September 2021 dengan judul "Ekspresi Bahan Bangunan Kayu dalam Karya Arsitektur". James menganggap bahwa penggunaan kayu sebagai material konstruksi merupakan solusi untuk mencapai struktur berkelanjutan dalam arsitektur modern dan digital. Kayu juga dikenal dapat mengurangi polusi udara dan air dengan mengurangi emisi gas rumah kaca (CO2), sehingga menghasilkan lebih sedikit limbah dan menggunakan sumber daya lingkungan lebih sedikit dibandingkan dengan bahan bangunan lainnya.

Peningkatan penggunaan kayu dalam konstruksi memiliki potensi untuk mengurangi penggunaan bahan bangunan lain yang kurang ramah lingkungan, seperti beton, baja, dan batu bata. Hal ini disebabkan karena bahan-bahan tersebut tidak berasal dari bahan mentah terbarukan, membutuhkan banyak energi untuk diproduksi, dan memiliki emisi CO2 yang tinggi. Selain itu, kayu yang kini lebih kuat dari sebelumnya membuka peluang bagi pembangunan gedung pencakar langit yang ramah lingkungan. Contohnya, kayu laminasi silang (CLT), yang terbuat dari potongan kayu yang direkatkan pada sudut siku-siku, memiliki kestabilan yang memadai untuk digunakan dalam struktur besar.

Banyak bangunan modern saat ini memilih kayu sebagai bahan bangunannya, terutama dalam arsitektur postmodern. Penggunaan kayu rekayasa menjadi pilihan populer karena dapat disesuaikan dengan desain, kekuatan struktur, sifat, dan bentuk yang diinginkan, sehingga memenuhi kebutuhan dan preferensi pengguna kayu olahan. Sejumlah bangunan bergaya arsitektur postmodern yang menggunakan kayu sebagai bahan bangunan menjadi contoh nyata dari tren ini.

Microlibrary Warak KayuMicrolibrary Warak Kayu(Dok. SHAU)

1. Microlibrary Warak Kayu di Semarang

Microlibrary Warak Kayu di Semarang adalah sebuah perpustakaan kecil yang menarik perhatian dunia karena desainnya yang inovatif. Dengan luas 90 meter persegi dan tinggi 6,65 meter, perpustakaan ini menggabungkan desain rumah panggung tradisional Indonesia dengan sistem konstruksi fasad dari Jerman yang dikenal sebagai Zollinger Bauweise. Didesain oleh SHAU (Suryawinata Haizelman Architecture Urbanism) Indonesia, bangunan ini menggunakan kayu-kayu prefabrikasi dari limbah pabrik yang tidak terpakai. Dibiayai oleh perusahaan swasta dan didukung oleh Harvey Center, perpustakaan ini dikelola untuk digunakan oleh warga tanpa biaya.

Gedung Mjøstårnet di NorwegiaGedung Mjøstårnet di Norwegia(Ricardo Foto/Archdaily)

2. Mjøstårnet di Norwegia

Mjøstårnet di Norwegia meraih gelar 'Bangunan Kayu Tertinggi Dunia' pada tahun 2018. Bangunan mixed-use ini memiliki tinggi 85,4 meter dan terletak di Brumunddal, Norwegia. Didesain oleh Voll Arkitekter, struktur kayu ini menggunakan berbagai olahan kayu seperti glulam, balok, dan diagonal. Meskipun demikian, penggunaan beton juga diperbolehkan dalam beberapa bagian bangunan, tetapi tidak sebagai struktur utama.

Banyak arsitek kini berlomba-lomba untuk membangun gedung berbahan dasar kayu dibanding dengan baja dan besi. Selain karena strukturnya yang ringan, kayu juga mampu menyerap emisi karbonBanyak arsitek kini berlomba-lomba untuk membangun gedung berbahan dasar kayu dibanding dengan baja dan besi. Selain karena strukturnya yang ringan, kayu juga mampu menyerap emisi karbon(Steven Errico)

3. Brock Commons Tallwood House

Brock Commons Tallwood House di University of British Columbia adalah bangunan perumahan kayu tinggi pertama di Kanada. Dengan tinggi 53 meter dan 18 lantai, bangunan ini menggunakan struktur hibrida kayu dan beton. Bagian utama bangunan terbuat dari kayu glulam dan panel kayu lapis yang dilapisi secara menyilang.

4. Forte Living di Australia

Forte Living di Australia merupakan bangunan apartemen tertinggi pertama yang terbuat dari kayu. Dengan tinggi 32,2 meter dan 10 lantai, bangunan ini menggunakan kayu laminasi silang (CLT) untuk struktur utamanya. Meskipun demikian, lantai dasar dan lantai pertama dibangun dari beton geopolimer untuk menjauhkan kayu dari tanah.

Ini adalah contoh-contoh bangunan modern yang menggunakan kayu sebagai bahan utama konstruksinya, menunjukkan tren meningkatnya penggunaan material yang ramah lingkungan dalam industri konstruksi.


Disadur dari: https://www.kompas.com/properti/read/2021/09/25/100000521/4-karya-arsitektur-modern-berbahan-kayu-rendah-emisi-gas-rumah-kaca?page=all#page2