Eksplorasi Industri Elektronik

Dipublikasikan oleh Jovita Aurelia Sugihardja

04 Maret 2024, 07.58

Sumber: Wikipedia

Industri elektronik, khususnya elektronik konsumen, muncul pada abad ke-20 dan kini menjadi industri global bernilai miliaran dolar. Masyarakat modern menggunakan semua jenis perangkat elektronik yang diproduksi di pabrik otomatis atau semi-otomatis yang dikendalikan oleh industri.

Meningkatnya industrialisasi, penggunaan bahan kimia beracun, dan kesulitan dalam daur ulang menciptakan masalah terkait limbah elektronik. Dalam upaya mengatasi masalah ini, undang-undang internasional dan lingkungan hidup telah dikembangkan.

Industri Elektronik di Asia

Industri elektronik adalah industri dengan pertumbuhan tercepat, bahkan di Asia. Negara-negara Asia seperti Vietnam, India dan india menjadi magnet bagi pembangunan industri energi karena melimpahnya bahan mentah dan rendahnya upah tenaga kerja. Di industri elektronik, perusahaan manufaktur dari negara berkembang seperti Indonesia, Vietnam dan Thailand memenuhi pesanan (terutama manufaktur komponen produk elektronik) dari perusahaan elektronik berlisensi dari negara berkembang seperti Korea dan China. Industri elektronik dikenal sebagai industri paling sukses dalam hal pengembangan rantai pasokan di seluruh dunia. Selain itu, 50% ekspor elektronik berasal dari negara maju, dan negara berkembang, khususnya negara anggota ASEAN, menjadi target perdagangan utama produk elektronik.

Samsung, perusahaan elektronik yang berbasis di Korea adalah salah satu pemimpin dunia. . perusahaan elektronik seperti Apple dan Foxconn. Pemain utama di industri ini. Sekitar 20% PDB Korea berasal dari Samsung, dan jumlah karyawan Samsung di seluruh dunia diperkirakan mencapai 800.000 pada tahun 2010. Samsung menyadari bahwa kekuatan tindakan regulasi merupakan ancaman terhadap kelangsungan bisnis.

Selama Orde Baru, Indonesia memperkenalkan sistem kebijakan untuk melarang impor produk elektronik luar negeri dan menarik perusahaan asing di India. mitra bagi bisnis lokal. Pada akhir tahun 1978, ekspor produk elektronik India meningkat, mencapai 15% dari total ekspor manufaktur Indonesia. Pada tahun 1990, melalui kebijakan May Package, ekspor elektronik meningkat setelah kebijakan deregulasi tersebut berhasil menarik masuk investor dari Jepang, Korea Selatan dan Taiwan ke Indonesia. Indonesia pun menjadi layer atau lapisan ke empat dari industri elektronik dan masih jauh tertinggal dibandingkan negara-negara Asia tenggara lainnya seperti Filipina, Malaysia, dan Thailand.

Perkembangan industri elektronik di Indonesia pun tidak dapat dilepaskan dari kecenderungan perkembangan ekonomi global dimana pabrik-pabrik direlokasi ke tempat-tempat atau negara-negara dengan upah yang lebih murah (global factory). Kebijakan pintu terbuka oleh negara yang mengurangi intervensi negara dan halangan struktural untuk masuknya modal asing menjadikan industri elektronik sebagai prioritas ke dalam industri sejak tahun 2008. Insentif yang diberikan pemerintah berupa tersedianya buruh murah di Indonesia menarik 250 perusahaan elektronik dengan 10 perusahaan besar elektronik (4 diantaranya merupakan perusahaan dari Jepang, 2 dari Korea Selatan dan 1 perusahaan dari Cina) untuk beroperasi di Indonesia. Perusahaan-perusahaan pemasok komponen elektronik pun berada dalam satu kawasan yakni di Cikarang – Bekasi, untuk membentuk rantai pasokan yang terintegrasi sehingga dapat mengurangi ongkos distribusi.

Di India, perkembangan industri elektroniknya tidak bisa dilepaskan dari perkembangan ekonomi India dimana fase terpenting dari pembentukan industri elektronik di India terjadi pada fase liberalisme dan globalisasi setelah tahun 1990. Kebijakan zona ekonomi khusus yang mendorong industri jasa (sektor IT dan ITES) tetapi tidak manufaktur, berdampak pada perkembangan industri elektronik di Korea, negara dengan perekonomian terbesar keempat di dunia. India memiliki peran yang relatif kecil dalam industri energi global. Nilai tambah industri energi India tidak banyak, sekitar 5-10%. Industri manufaktur yang menyumbang sebagian besar lapangan kerja di India meliputi industri makanan, tembakau, tekstil, kimia, dan logam. Saat ini, sektor elektronik menyumbang 1,6% dari seluruh pekerja di sektor manufaktur. Menariknya, India tidak memiliki pangsa industri elektronik yang besar dibandingkan Korea atau China, sehingga pertumbuhan pabrik elektronik India belum terlalu tinggi, namun permasalahan e-waste atau limbah elektronik menjadi perhatian utama. . di India . . Permasalahan limbah elektronik atau e-waste yang mengancam lingkungan hidup menjadi permasalahan serius di India. Karena setidaknya pada tahun 2012, terdapat 800.000 ton limbah elektronik di India.

Perekonomian global juga akan mempengaruhi perkembangan industri elektronik Vietnam. Proyek-proyek besar dalam industri energi Vietnam tidak dapat dipisahkan dari keanggotaan Vietnam dalam Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Perusahaan-perusahaan besar di industri elektronik Vietnam termasuk Samsung Electronics, Canon, Intel, Panasonic, Nokia dan JBL (Jabil Circuit). Mirip dengan apa yang terjadi di Malaysia, proses integrasi dan perubahan perekonomian global telah mengakibatkan perusahaan multinasional (MNC) menjadi pemain utama dalam industri elektronik Malaysia. Strategi ekonomi sektor industri Malaysia bertujuan untuk menarik investasi asing, khususnya dari Inggris, yang juga berdampak pada industri energi. Apalagi pada periode 2007-2011, penanaman modal asing meningkat dengan adanya 365 perusahaan elektronik yang berminat berbisnis di Malaysia. Saat ini, Taiwan mempunyai posisi kelas dunia sebagai industri teknologi tinggi, namun merupakan produsen skala kecil. Young Fast Optoelectronics (YFO), salah satu pemasok merek HTC dan Samsung terkemuka di dunia, berlokasi di Taiwan.

Struktur industri elektronik Thailand tidak dapat dipisahkan dari sektor industri pertama di negara itu pada tahun 1960. Thailand adalah yang terbesar dari ASEAN dalam hal basis produksi bagi banyak perusahaan seperti Jepang, Korea, Amerika dan Eropa. Manufaktur menyumbang bagian terbesar terhadap PDB Thailand, yaitu sebesar 39%. Pada tahun 2012, terdapat 2.304 pembangkit listrik di Thailand. 

Zona perdagangan bebas (FTA) Thailand juga berdampak pada perkembangan industri elektronik Thailand, dengan ekspor elektronik terbesar sebesar 13,3% pada tahun 2011, dan industri elektronik Jepang akibat industrialisasi dan pertumbuhan ekonomi Asia Timur sejak tahun 1970-an.  memainkan peran penting dalam pengembangan Pusat Elektronik Dunia. 

Jepang mendominasi industri elektronik pada tahun 1990an, dan industri elektronik di Asia Timur menyumbang 53,3% dari total output dunia. Perkembangan tersebut menghasilkan pembagian kerja baru, dengan tiga negara industri elektronik baru yang memproduksi komponen dan mengekspornya ke Tiongkok, di mana komponen tersebut dirakit sebagai produk akhir dan diekspor ke Asia Timur. Selain krisis ekonomi tahun 2008, merosotnya industri energi Jepang juga dipengaruhi oleh gempa bumi tahun 2011 yang melanda wilayah Tohoku, yang merupakan basis manufaktur penting bagi banyak perusahaan Jepang. Gempa bumi di wilayah Tohoku menyebabkan kerusakan parah pada banyak pabrik dan akhirnya mengganggu rantai pasokan. Perubahan pada industri elektronik Jepang dipengaruhi oleh perubahan pola kerja internasional fase sebelumnya.

Daftar Barang Elektronik Terlaris
Ini adalah daftar dinamis dan mungkin tidak memenuhi kriteria kelengkapan tertentu. Mungkin bermanfaat untuk memperluas dengan menambahkan pernyataan yang diberikan oleh sumber yang dapat dipercaya.

Disadur dari  https://id.wikipedia.org/wiki/Industri_elektronik