Arsitektur Indonesia: Rumah Gadang

Dipublikasikan oleh Muhammad Ilham Maulana

07 Maret 2024, 10.07

Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/File:Rumah_Gadang.jpg

Rumah Gadang, juga dikenal sebagai Rumah Bagonjong, adalah rumah adat tradisional orang Minangkabau di Sumatera Barat, Indonesia. Desain, konstruksi, dekorasi dalam dan luar, serta fungsi rumah tersebut mencerminkan budaya dan nilai-nilai masyarakat Minangkabau. Rumah Gadang berfungsi sebagai tempat tinggal, ruang pertemuan keluarga, dan untuk kegiatan seremonial. Di dalam masyarakat matrilineal Minangkabau, Rumah Gadang dimiliki oleh perempuan yang tinggal di sana; kepemilikan dialihkan dari ibu kepada anak perempuan.

Rumah-rumah ini memiliki struktur atap melengkung dramatis dengan puncak bertingkat, membentuk gonjong yang menyerupai tanduk. Jendela-jendela tertutup dibangun ke dalam dinding yang diukir dengan ukiran bunga yang kaya dan dihias dengan lukisan. Istilah Rumah Gadang biasanya merujuk kepada rumah komunal yang lebih besar, namun rumah-rumah kecil juga memiliki banyak elemen arsitektur yang sama.

Di Sumatera Barat, Rumah Gadang tradisional mencerminkan masyarakat Minangkabau, dan telah menjadi simbol budaya Minangkabau dan Sumatera Barat. Di seluruh wilayah, berbagai bangunan menggambarkan elemen-elemen desain Rumah Gadang, mulai dari struktur kayu vernakular yang dibangun untuk upacara adat, hingga bangunan modern seperti kantor pemerintah dan fasilitas umum. Saat ini, elemen arsitektur Rumah Gadang, terutama atap melengkungnya yang menyerupai tanduk, dapat ditemukan dalam bangunan modern, seperti kantor pemerintahan, pasar, hotel, fasad restoran di Padang, dan Bandara Internasional Minangkabau. Istano Basa, bagaimanapun, adalah contoh terbesar dan paling indah dari gaya tradisional ini.

Latar Belakang Rumah Gadang

Sumatera, pulau terbesar keenam di dunia, telah lama dikenal sebagai "pulau emas" karena sumber dayanya yang melimpah, termasuk teh, lada, karet, minyak, timah, dan mineral lainnya. Meskipun menghadapi deforestasi berskala besar, Sumatera masih memiliki jutaan hektar hutan hujan yang belum terjamah, yang menyediakan bahan bangunan penting. Namun, pasokan pohon kayu keras yang diperlukan untuk konstruksi ekstensif sekarang sangat terbatas.

Pulau ini merupakan rumah bagi beragam masyarakat, yang tercermin dalam berbagai rumah tradisional yang dikenal sebagai rumah adat. Rumah-rumah ini biasanya dibangun dari bahan-bahan lokal, dengan atap yang miring dan ditinggikan di atas panggung. Di antara gaya yang terkenal adalah rumah gadang Minangkabau, rumah jabu berbentuk perahu milik orang Batak di wilayah Danau Toba, dan rumah omo sebua yang ditegakkan oleh orang Nias.

Suku Minangkabau, yang merupakan penduduk asli Sumatera Tengah, memiliki budaya matrilineal di mana harta benda diwariskan dari ibu ke anak perempuannya, sementara urusan agama dan politik didominasi oleh kaum pria. Meskipun sangat Islami, mereka juga menganut tradisi etnis atau adat, yang berasal dari kepercayaan animisme dan Hindu-Buddha. Wanita biasanya memiliki properti, dan suami hanya diperbolehkan berada di dalam rumah dalam kondisi tertentu, dan sering kali kembali ke rumah saudara perempuan mereka untuk tidur. Banyak pria yang merantau, bepergian ke luar negeri untuk bekerja dan mengirimkan uang kembali ke rumah untuk pembangunan rumah adat yang baru.

Bentuk Rumah Gadang

Rumah Gadang, atau Rumah Bagonjong, adalah rumah adat tradisional orang Minangkabau di Sumatera Barat, Indonesia. Bangunan ini mencerminkan budaya dan nilai-nilai masyarakat Minangkabau. Rumah Gadang berfungsi sebagai tempat tinggal, ruang pertemuan keluarga, dan untuk kegiatan seremonial. Dalam masyarakat matrilineal Minangkabau, rumah ini dimiliki oleh perempuan yang tinggal di sana, dengan kepemilikan dialihkan dari ibu kepada anak perempuan.

Rumah Gadang memiliki atap melengkung dengan puncak bertingkat, membentuk ujung yang menyerupai tanduk kerbau. Biasanya memiliki tiga proyeksi bertingkat dengan tingkat lantai yang bervariasi. Bangunan ini didukung oleh tiang kayu yang tingginya bisa mencapai 3 meter dari permukaan tanah, seringkali dengan sebuah serambi di depan rumah yang digunakan sebagai area resepsi, ruang makan, dan tempat tidur untuk tamu. Berbeda dengan rumah-rumah Batak Toba yang atapnya menciptakan ruang tinggal, atap rumah Minangkabau ini beristirahat pada dinding konvensional. Area memasak dan penyimpanan seringkali berada di bangunan terpisah.

Material utama bangunan ini adalah kayu, dengan pengecualian dinding belakang yang terbuat dari anyaman bambu. Atapnya terdiri dari konstruksi kerangka dan balok silang, biasanya ditutupi dengan daun lontar yang kuat dan dikatakan tahan hingga seratus tahun. Ornamen atap terbuat dari anyaman daun lontar yang diikat dengan hiasan logam, membentuk puncak yang menyerupai tanduk kerbau. Tiang-tiang rumah disusun dalam lima baris yang membagi ruangan dalam menjadi empat ruang panjang yang disebut lanjar.

Rumah Gadang secara tradisional dihiasi dengan motif ukiran kayu yang mencerminkan adat dan budaya Minangkabau. Motif-motifnya meliputi desain bunga yang melimpah, seringkali didasarkan pada struktur geometris sederhana. Motif-motif ini didasarkan pada konsep estetika Minangkabau yang merupakan bagian dari pandangan dunia mereka, di mana ekspresi selalu didasarkan pada lingkungan alam. Ada sekitar 94 motif yang ditemukan pada rumah gadang, termasuk motif flora, fauna, dan manusia. 

Rumah Gadang memiliki variasi desain, seperti koto piliang yang mencerminkan struktur sosial aristokratik, dan bodi caniago yang mencerminkan struktur sosial demokratis. Bangunan-bangunan ini juga diadopsi dalam berbagai bangunan modern, seperti kantor pemerintahan dan rumah-rumah modern. Meskipun demikian, pengaruh Islam yang lebih ortodoks telah membawa variasi, seperti modifikasi pada tata letak interior. Di Negeri Sembilan, pemukiman Minangkabau telah mengadopsi konstruksi atap gaya Melayu, namun masih dianggap sebagai bangunan yang anggun dan indah.


Disadur dari: https://en.wikipedia.org/wiki/Rumah_Gadang