Apa itu Stress dan Akibat yang Ditimbulkan

Dipublikasikan oleh Dias Perdana Putra

28 Februari 2024, 10.45

Ilustrasi : Pixabay

Stres

Stres merupakan salah satu penyakit mental yang dapat menyerang seseorang karena adanya tekanan. Tekanan ini terjadi karena individu tidak mampu memuaskan kebutuhan dan keinginannya. Penyebab stres ini bisa datang dari dalam atau dari luar.

Meskipun stres sering kali dibicarakan dalam konteks negatif, stres tidak selalu berarti buruk. Karena stres mempunyai nilai positif ketika ada peluang untuk membuahkan hasil. Misalnya, banyak profesional melihat tekanan beban kerja dan tenggat waktu sebagai tantangan positif yang meningkatkan kualitas kerja dan kepuasan kerja.

Stres itu baik dan buruk. Para peneliti berpendapat bahwa stres tantangan, stres yang berasal dari tantangan di lingkungan kerja, berbeda dengan stres obstruktif, atau stres yang menghalangi Anda mencapai tujuan. Meskipun penelitian tentang tantangan dan mengatasi stres masih dalam tahap awal, bukti awal menunjukkan bahwa stres karena tantangan memiliki efek negatif yang lebih sedikit dibandingkan dengan mengatasi stres.

Para ahli dapat mendefinisikan stres dari berbagai sudut pandang. Pertama, badan memiliki respons non-spesifik terhadap suatu permintaan. Kedua, adanya situasi yang mempengaruhi kondisi mental seseorang untuk meraih peluang tersebut, dan ada pula kasus dimana terdapat batasan atau hambatan dalam meraih peluang tersebut. Ketiga, karena adanya keseimbangan antara kebutuhan fisik dan psikis serta kemampuan seseorang dalam memenuhi kebutuhan tersebut, maka bila kebutuhan tersebut tidak terpenuhi dapat mengakibatkan penyakit yang serius. Terakhir, stres diartikan sebagai respons fisik dan mental seseorang terhadap perubahan lingkungan yang menimbulkan ketakutan atau ancaman.

Sumber-sumber potensi stres

Faktor lingkungan mempunyai dampak yang signifikan terhadap desain struktural suatu organisasi dan juga mempengaruhi tingkat stres karyawan dan organisasi secara keseluruhan. Misalnya, perubahan dalam siklus bisnis dapat menciptakan ketidakpastian perekonomian dan kekhawatiran terhadap kelangsungan bisnis dan resesi. Berbagai faktor dapat menyebabkan stres dalam suatu organisasi, termasuk tekanan untuk menghindari kesalahan, beban kerja, atasan yang sulit, dan interaksi negatif dengan rekan kerja. Faktor-faktor tersebut dapat dikelompokkan menjadi tuntutan pekerjaan, kebutuhan pekerjaan, dan tuntutan kepribadian.

Stres kerja yang dialami individu dipengaruhi oleh sejumlah faktor yang terjadi di luar pekerjaan. Dalam konteks organisasi, persyaratan pekerjaan mencakup desain pekerjaan, metode kerja, dan tata letak fisik pekerjaan. Misalnya, situasi kerja yang negatif atau format kerja yang membingungkan dapat meningkatkan kecemasan dan stres. Tuntutan pekerjaan mengacu pada tekanan yang dihadapi individu dalam tugas yang mereka lakukan di organisasi, dan konflik pekerjaan dapat menciptakan ekspektasi yang sulit dipenuhi.

Tuntutan manusia mencakup tekanan yang timbul dari hubungan antarpribadi dan dukungan sosial. Kurangnya dukungan teman sebaya atau kurangnya hubungan interpersonal dapat menjadi sumber stres, terutama bagi orang-orang dengan kebutuhan sosial yang tinggi. Selain itu, faktor pribadi seperti masalah keluarga, masalah keuangan pribadi, serta kepribadian dan kepribadian juga dapat berkontribusi terhadap masalah tersebut. Kesulitan dalam hubungan keluarga, masalah keuangan, perbedaan kepribadian, dll. sangat mempengaruhi tingkat stres yang dialami karyawan. Penelitian menunjukkan bahwa karakteristik pribadi, seperti kepribadian, dapat memengaruhi reaksi seseorang terhadap stres kerja, menyoroti peran kompleks karakteristik pribadi dalam pengalaman pekerja.

Akibat

Stres memanifestasikan dirinya dalam berbagai cara. Misalnya, penderita stres mungkin mengalami gejala seperti tekanan darah tinggi, stomatitis, mudah tersinggung, kesulitan mengambil keputusan sehari-hari, kehilangan nafsu makan, dan kecelakaan. Dampak stres dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kategori besar: gejala fisik, gejala psikologis, dan gejala perilaku.

Efek gejala stres umumnya merupakan gejala fisiologis. Penelitian menunjukkan bahwa stres mengubah metabolisme, meningkatkan detak jantung dan pernapasan, meningkatkan tekanan darah, menyebabkan sakit kepala, dan meningkatkan risiko penyakit jantung. Stres yang berhubungan dengan pekerjaan dapat menyebabkan ketidakpuasan kerja. Ketidakpuasan adalah efek psikologis yang sederhana namun sangat nyata dari stres. Namun, stres juga dapat terwujud dalam berbagai kondisi mental lainnya, seperti kecemasan, kekhawatiran, kemarahan, kebosanan, dan penundaan.

Gejala stres perilaku mencakup perubahan tingkat produktivitas, kehilangan, dan pergantian karyawan. Perubahan siklus, kebiasaan makan, merokok, minum alkohol, merokok, bangun tidur dan tidur tidak teratur. Ada banyak penelitian yang menganalisis hubungan stres-pekerjaan. Model yang paling banyak dipelajari dalam literatur stres kerja adalah hubungan U terbalik. Ide utamanya adalah stres rendah hingga sedang menstimulasi tubuh dan meningkatkan daya tanggapnya. Model berbentuk U terbalik ini menunjukkan respons stres dan perubahan intensitas stres seiring waktu.

Mengatasi

Stres dapat diatasi atau diringankan dampaknya dengan cara:

  • mengkonsultasikan masalah yang sedang dihadapi kepada psikiater atau rekan kerja atau teman dekat
  • melakukan olahraga ringan
  • mengkonsumsi bahan makanan kaya gizi
  • menonton acara komedian atau lawak
  • bermain game
  • meditasi
  • santai

Disadur dari : https://id.wikipedia.org/wiki/Stres