12 Terobosan Teknologi dari BPPT untuk Mengurangi Risiko Bencana

Dipublikasikan oleh Muhammad Ilham Maulana

12 Maret 2024, 10.05

Sumber: Webinar 'Kebijakan & Strategi Riset, dan Inovasi Teknologi Kebencanaan'. Dok: BPPT

Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki potensi risiko bencana alam, non-alam, sosial, dan akibat dari kurangnya teknologi yang tinggi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat terjadinya 4.650 bencana alam pada tahun 2020, dengan bencana alam hidrometeorologi menjadi yang paling dominan. Untuk mengurangi kerentanan dan potensi risiko bencana, diperlukan upaya peningkatan kapasitas melalui program penelitian, pengembangan, dan penerapan teknologi dalam bidang kebencanaan.

Badan Penelitian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sebagai lembaga penyelenggara ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia, aktif dalam pengembangan teknologi kebencanaan. Ini terwujud melalui pengenalan Sistem Deteksi Dini Tsunami Terpadu (InaTEWS), teknologi modifikasi cuaca, dan penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam penanggulangan tsunami serta kebakaran hutan dan lahan (Kalhuttra).

Hammam Riza, Kepala BPPT, menegaskan komitmennya dalam mendorong inovasi dan mengawal penerapan teknologi kebencanaan di Indonesia. Ia menyatakan bahwa BPPT akan terus bekerja sama dengan berbagai pihak untuk memperkaya ekosistem inovasi. Menurutnya, Indonesia harus siap dan mampu menunjukkan kepada dunia bahwa negara ini dapat bertahan dari bencana.

Dalam sebuah webinar bertema "Kebijakan dan Strategi Penelitian dan Inovasi Teknologi Kebencanaan", Hammam mengemukakan bahwa ekosistem inovasi bencana perlu mempertimbangkan isu-isu kunci dalam pengembangan teknologi. Hal ini mencakup sistem peringatan dini multi-ancaman berbasis komunitas, peramalan dampak, peringatan berbasis risiko, dan sistem peringatan multi-bahaya global.

Daftar 12 Inovasi Teknologi Kebencanaan yang Siap Diterapkan oleh Pusat Teknologi Reduksi Risiko Bencana (PTRRB) di BPPT meliputi:

  1. Indonesia Tsunami Early Warning System (Ina TEWS) untuk Sistem Peringatan Dini Bencana Tsunami;
  2. Flood Early Warning System (FEWS) untuk Sistem Peringatan Dini Bencana Banjir;
  3. Landslide Early Warning System (LEWS) untuk Sistem Peringatan Dini Bencana Longsor;
  4. SIJAGAT untuk Sistem Kaji Kerentanan Struktur Gedung Bertingkat;
  5. SIKUAT untuk Sistem Informasi Kesehatan Struktur Gedung Bertingkat;
  6. Simulan untuk Sistem Simulasi Perubahan Guna Lahan dalam Konteks Bencana Tsunami;
  7. Sistem Deteksi Dini Kebakaran Lahan dan Hutan;
  8. PEKA Tsunami untuk Penanganan Kebencanaan Menggunakan Kecerdasan Buatan dalam Sistem Prediksi Kejadian Tsunami;
  9. Karhutla untuk Kecerdasan Buatan dalam Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan;
  10. INDI untuk Indonesia Network for Disaster Information;
  11. Kajian Bencana Gagal Teknologi Sektor Industri;
  12. Biotextile untuk Perlindungan Tanah dan Erosi Tanah.

Kerugian Akibat Bencana

Peningkatan frekuensi bencana di Indonesia menyebabkan kerugian ekonomi, dengan rata-rata kerugian mencapai Rp 22,8 triliun tiap tahun. Menyadari hal tersebut, pemerintah saat ini fokus pada pemulihan ekonomi di semua sektor, terutama di masa pandemi ini. Hammam, seorang ahli, menilai bahwa kerugian akibat bencana dapat diminimalisir dengan kajian mendalam untuk setiap jenis bencana dan wilayah tertentu. BPPT telah memulai langkah-langkah untuk mengantisipasi hal ini melalui program-program seperti PEKA Tsunami dan PEKA Karhutla. Selain itu, paradigma penanggulangan bencana juga mengalami perubahan global, dengan adanya fokus pada isu-isu seperti SDGs, DRR, perubahan iklim, emisi nol, dan pelestarian lingkungan. Indonesia, sebagai tuan rumah pertemuan Global Platform for DRR di Bali pada tahun 2020, dihadapkan dengan tantangan baru untuk aktif berperan dalam mengurangi risiko bencana, baik secara nasional maupun global.

Infografis Waspada Bencana Alam Akibat La Nina

Infografis Waspada Bencana Alam Akibat La Nina. (Liputan6.com/Trieyasni)

Disadur dari: liputan6.com