Targetkan Penurunan Biaya 20 Persen, Kemenhub Benahi Logistik Perkotaan

Dipublikasikan oleh Muhammad Farhan Fadhil

03 Maret 2022, 19.00

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi (www.dephub.go.id)

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) akan melakukan pembenahan sistem logistik perkotaan di Indonesia. Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi mengatakan salah satu tujuan dari dilakukannya pembenahan sistem logistik yaitu untuk menurunkan target biaya logistik.  

“Perlu dibentuk sistem logistik perkotaan yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi serta lebih ramah lingkungan," kata Budi dalam keterangan yang dikutip Kompas.com, Selasa (28/9/2021).  

Berdasarkan data Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat bahwa biaya logistik tahun 2020 di Indonesia menjadi yang termahal di kawasan ASEAN yaitu mencapai 23,5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) dan dari persentase tersebut sebanyak 8,5 persen disumbangkan oleh transportasi darat.

"Biaya logistik di Indonesia itu masih menjadi yang termahal di ASEAN karena sistem logistik kita yang perlu dibenahi," ujarnya.

Selain itu, saat ini pertumbuhan layanan logistik dan kendaraan barang di daerah perkotaan juga berdampak buruk bagi kondisi jalan raya dan menciptakan kemacetan lalu lintas dan juga berkontribusi pada kerusakan lingkungan perkotaan secara keseluruhan.

Permasalahan lainnya, yaitu adanya kemudahan dan manfaat yang ditawarkan melalui belanja e-commerce turut memicu dampak negatif kualitas hidup di perkotaan dengan adanya aktivitas-aktivitas logistik perkotaan.  

Misalnya tingginya mobilitas kendaraan di jalan raya perkotaan mulai angkutan motor hingga truk angkutan yang menimbulkan kemacetan lalu lintas dan juga adanya pelanggaran dimensi kendaraan angkutan barang.

Kontribusi angkutan barang terhadap memburuknya lingkungan perkotaan pun semakin nyata. Kebisingan atau polusi suara di perkotaan juga menjadi salah satu produk sampingan dari angkutan barang yang patut mendapat perhatian.

Sesuai kajian Alliance for Logistics Innovation through Collaboration in Europe (ALICE), angkutan barang di perkotaan menghasilkan emisi yang mencapai 25 persen Karbon dioksida (CO2) dan 30 persen hingga 50 persen Nitrogen okside (NOx) serta beberapa partikel penyerta.

“Perkembangan industri logistik terus mengalami perubahan tren dan teknologi yang semakin pesat, yang juga menimbulkan permasalahan baru. Hal ini perlu direspon dengan cepat oleh dunia industri dan para penyedia jasa logistik,” tutur dia.  

Budi mengingatkan jajarannya lebih sigap dalam menentukan kebijakan dan mendorong seluruh pemangku kepentingan untuk memberikan rekomendasi yang positif untuk meningkatkan konektivitas logistik, membantu memulihkan perekonomian serta untuk memperbaiki lingkungan.

Sementara itu, Kepala BPTJ Polana B Pramesti mengatakan, beberapa program pembenahan sistem logistik di darat yang telah digagas dan tertuang di dalam Rencana Induk Transportasi Jabodetabek.

Program ini menargetkan penurunan biaya logistik menjadi 20 persen dari produk domestik bruto (PDB).

BPTJ membutuhkan dukungan dari berbagai pihak dan sektor, termasuk berbagai perubahan lingkungan strategis yang mempengaruhi logistik perkotaan. "Di antaranya revolusi industri 4.0 telah menciptakan tren baru dalam berbelanja yang mulai jamak dipraktikkan oleh kaum urban,” ucap Polana. 

Sumber Artikel: kompas.com

 

Artikel lainnya