Tantangan dan Peluang Industri Otomotif 2022

Dipublikasikan oleh Jovita Aurelia Sugihardja

19 Maret 2024, 09.10

Sumber: republika.co.id

REPUBLIKA.CO.ID, Di penghujung tahun 2021, industri otomotif menjadi salah satu industri yang bisa ditertawakan dengan tenang. Industri otomotif terus menunjukkan kinerja yang baik setelah pemotongan pajak alias pajak penjualan mobil mewah (PPnBM) diterima pada Maret hingga Agustus dan diperpanjang hingga akhir tahun ini.

Berdasarkan catatan Gaikindo, penjualan mobil mencapai 790.542 unit, melampaui target awal sebanyak 750.000 unit. Penjualan ritel mencapai 761.862 unit. Tren positif ini diperkirakan akan berlanjut hingga tahun 2022 dan akan terlihat dalam beberapa minggu mendatang. Gaikindo juga menargetkan penjualan sekitar 900.000 unit pada tahun depan.

Hal ini mendorong industri otomotif dan produk turunannya untuk terus berupaya memenuhi permintaan pasar yang tertunda selama pandemi. Bayangan PHK massal yang mengancam sektor padat modal ini secara bertahap memudar seiring dengan peningkatan upaya vaksinasi massal yang dilakukan pemerintah untuk mencapai targetnya pada akhir tahun ini.

Namun keberhasilan positif ini tidak berarti bahwa permasalahan yang ada saat ini dapat teratasi. Pandemi penyakit virus corona (Covid-19) terus berdampak pada dunia. Munculnya berbagai varian baru penyakit virus corona (Covid-19) yang melanda Afrika dan beberapa negara lain, termasuk Indonesia, memaksa pemerintah di banyak negara berupaya keras mencari obat penawarnya. Seolah-olah dua kali vaksinasi bukanlah solusi efektif untuk mengalahkan virus mematikan tersebut. Kita tetap perlu menjaga tingkat kewaspadaan yang tinggi jika ingin melanjutkan rencana bisnis yang telah kita susun.

Dalam kondisi normal baru ini, industri tampaknya dituntut untuk sigap mengeksekusi tantangan yang ada, sekaligus mewaspadai penyebaran varian baru yang tidak mudah dikalahkan. Hal ini sebenarnya tidak mudah karena memerlukan kerja sama dari semua pihak. Bukan hanya industri otomotif, namun juga pemerintah pusat dan daerah, pelaku bisnis, serta masyarakat di daerah terpencil yang minim informasi mengenai virus corona. Ini adalah salah satu tantangan terbesar yang dihadapi industri di Indonesia dan banyak negara lainnya.

Beradaptasi dengan keadaan normal baru melalui pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) merupakan strategi baru yang perlu dikembangkan dalam dunia bisnis modern. Teknologi digital, yang awalnya hanya sekedar bantuan sebelum pandemi, kini mengambil alih sebagian tugas manusia dan, dalam banyak kasus, memberikan kontribusi signifikan terhadap kesuksesan bisnis selama pandemi.

Pelayanan pelanggan yang dahulu hanya mengandalkan pertemuan antara penjual dan konsumen, kini sudah diambil alih oleh teknologi digital, dan kedatangannya tidak lama lagi. Faktanya, apa yang sebelumnya tidak terbayangkan oleh banyak orang kini telah menjadi kebiasaan baru masyarakat modern. Industri otomotif yang dipenuhi dengan teknologi terkini tentunya sangat terbantu dengan adanya teknologi digital tersebut. Sistem digital ini dapat digunakan untuk memproses berbagai transaksi penjualan, pelayanan, dan pembelian suku cadang serta bahan habis pakai lainnya.

Di sisi lain, keberadaan kendaraan listrik di dalam negeri dan kebijakan sosialisasi pemerintah untuk menggalakkan penggunaan kendaraan listrik juga menjadi isu. Kehadiran fasilitas pendukung seperti Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) dan berbagai model kendaraan listrik di Tanah Air selama beberapa tahun kini menandakan bahwa era kendaraan listrik telah dimulai di Tanah Air. Meski harga belum sepenuhnya terjangkau, namun  kesediaan sejumlah produsen untuk membangun pabrik mobil dan menjadikan Indonesia sebagai basis produksi, serta ketersediaan bahan baku baterai cukup menggembirakan bagi potensi pasar industri kendaraan listrik Tanah Air.

Disadur dari: https://www.republika.co.id/berita/r4akcc318/tantangan-dan-peluang-industri-otomotif-2022