Skema Pengumpulan Terpisah: Panduan Praktis untuk Pengelolaan Sampah Organik dan Pengembangan Tanah

Dipublikasikan oleh Dias Perdana Putra

02 April 2024, 10.37

google.com

Skema pengumpulan terpisah 

Skema pengumpulan terpisah adalah pendekatan sistematis untuk memisahkan sampah berdasarkan jenisnya agar memudahkan proses pengolahan lebih lanjut. Hal ini secara khusus diterapkan di negara-negara seperti Jerman, di mana pendekatan ini memiliki peran penting dalam manajemen sampah yang efisien.

Meskipun Jerman merupakan salah satu negara penghasil sampah perkotaan terbesar di Eropa, negara ini memiliki tingkat pengolahan sampah yang tinggi. Sekitar 47% dari total sampah didaur-ulang, 17% dijadikan kompos, 35% dibakar untuk menghasilkan energi, dan hanya sekitar 1% dari total sampah yang akhirnya dibuang di tempat pembuangan akhir (landfill).

Pendekatan ini membantu mengurangi jumlah sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir, mengurangi dampak lingkungan negatif dari pembakaran sampah, dan memanfaatkan sumber daya yang terbarukan dari sampah organik melalui proses pengomposan. Dengan demikian, skema pengumpulan terpisah menjadi bagian integral dari upaya Jerman dalam mengelola sampah dengan lebih efektif dan berkelanjutan.

Inisiasi kebijakan

Pengelolaan sampah di Jerman melibatkan kerjasama antara pemerintah nasional, federal, dan lokal. Kementerian Lingkungan Jerman menetapkan prioritas dan rancangan undang-undang nasional serta mengawasi perencanaan strategis terkait sampah. Di tingkat federal, pemerintah punya peran dalam pengelolaan sampah sesuai dengan undang-undang nasional. Sedangkan di level regional, pemerintah daerah seperti distrik dan kota mengatur pengelolaan sampah rumah tangga berdasarkan aturan Recycling Management and Waste Act. Ini mencakup berbagai aspek seperti pengumpulan, pengangkutan, dan pembangunan fasilitas pembuangan sampah.

Pusat legislatif mengenai pengelolaan sampah di Jerman diatur dalam Waste Management Act 2012, yang menekankan pada pencegahan, penggunaan kembali, daur ulang, dan pembuangan sampah dalam hierarki yang teratur. Praktik pengelolaan sampah di Jerman bertujuan untuk mengurangi sampah dan meningkatkan daur ulang. Pemerintah federal mengembangkan regulasi untuk wilayah mereka, sementara pemerintah lokal mengimplementasikan aturan tersebut sesuai dengan kebutuhan masing-masing kota.

Jerman menjadi pelopor di Eropa dalam kebijakan pembatasan tempat pembuangan sampah pada tahun 1990. Mereka juga mengadopsi sistem pengumpulan sampah terpisah, termasuk jenis kertas, logam, plastik, kaca, dan sampah organik, sejalan dengan regulasi Uni Eropa. Selain itu, orang Jerman juga melakukan pengumpulan terpisah untuk barang bekas, kemasan, sampah elektronik, baterai, dan limbah berbahaya sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Latar belakang

Tata pelaksanaan pengumpulan sampah terpisah telah menjadi jelas bagi masyarakat Jerman, yang merupakan hasil dari perkembangan panjang dalam pengelolaan, teknologi, dan regulasi sampah di negara ini. Kerangka hukum terkait pengelolaan sampah di Jerman dimulai pada awal abad ke-19, ketika wilayah-wilayah tertentu mulai menerapkan aturan terkait pembuangan sampah. Perhatian akan hubungan antara kebersihan kota dan penyebaran penyakit seperti kolera mendorong pemahaman akan pentingnya sistem drainase dan pembuangan sampah, yang akhirnya diatur melalui peraturan oleh pemerintah setempat.

Peraturan pembuangan sampah nasional pertama Jerman pada tahun 1972 telah mengalami beberapa perubahan dan penyesuaian, mencapai puncaknya pada regulasi pengelolaan sampah yang berlaku saat ini, yaitu kreislaufwirtschaftsgesetz (KrWG). Pengelolaan sampah di Jerman telah mengalami transformasi signifikan dari masa awalnya, di mana hanya sebagian besar sampah dibuang, menjadi pengelolaan yang komprehensif, di mana sampah diolah secara menyeluruh. Proses perubahan ini membutuhkan waktu yang panjang karena melibatkan pergeseran paradigma dalam masyarakat Jerman.Pengelolaan sampah di Jerman saat ini bertujuan untuk menjaga sumber daya alam, mengolah sampah dengan cara yang ramah lingkungan, dan memperkuat keberlanjutan lingkungan serta perlindungan iklim dan efisiensi sumber daya alam.

Pola pemilahan

Pengelolaan sampah di Jerman menjadi salah satu yang paling efisien di Eropa, dengan setiap warga memiliki tanggung jawab untuk memisahkan sampah secara terpisah. Pada awal setiap tahun, pemerintah mengirimkan buku kecil yang berisi informasi tentang jadwal pengangkutan sampah untuk berbagai jenis sampah kepada setiap rumah tangga.

Pemisahan sampah dilakukan melalui berbagai tempat sampah dengan warna yang berbeda, yang tersebar di sekitar tempat tinggal, kampus, sekolah, dan tempat umum seperti stasiun kereta api. Meskipun warna tempat sampah bisa berbeda-beda di setiap distrik di Jerman, namun umumnya warna tersebut membedakan jenis sampah yang ada di dalamnya. Berikut ini adalah deskripsi umum tentang warna tempat sampah dan jenis sampah yang mereka wakili:

- Tempat sampah berwarna biru digunakan untuk membuang sampah dari bahan kertas dan karton seperti majalah, selebaran, buku, dan kemasan karton. Di samping itu, terdapat juga tempat pengumpulan kertas dan karton bekas yang bisa ditukar dengan uang.

- Tempat sampah berwarna kuning digunakan untuk membuang sampah dari bahan selain kertas, karton, dan kaca yang dapat didaur ulang, seperti kaleng kosong, sampah aluminium, kemasan plastik, polistirena, dan karton minuman. Sampah botol, meskipun plastik, tidak dibuang di tempat sampah kuning ini jika bisa dipakai ulang.

- Tempat sampah berwarna hitam atau abu-abu digunakan untuk membuang sampah reguler yang tidak dapat didaur ulang, seperti sampah toilet, popok, dan puntung rokok. Sampah berbahaya seperti sisa cat dan baterai dikumpulkan secara terpisah.

Selain itu, sampah botol kaca dipisahkan berdasarkan warna botol kaca tersebut ke dalam tempat sampah botol kaca dengan warna yang sama, seperti putih, coklat, atau hijau. Ini dilakukan karena bahan kaca yang berbeda dari warna yang berbeda tidak bisa didaur ulang bersama. Namun, sampah botol kaca yang rusak tidak dibuang di tempat sampah botol kaca, melainkan di tempat sampah hitam atau abu-abu.

Sampah botol berjaminan

Botol dengan jaminan adalah jenis botol, baik dari plastik maupun kaca, yang bisa digunakan kembali (biasanya untuk minuman). Di Jerman, sampah botol seperti ini disebut pfandflaschen. Mereka tidak boleh dibuang di tempat sampah kuning atau tempat sampah botol kaca, tapi harus dibawa ke tempat pengembalian botol, biasanya di pasar swalayan, untuk ditukar dengan uang jaminan. Uang jaminan untuk botol kaca adalah delapan sen per botol, dan sepuluh sen per botol untuk botol plastik.

Air minum dalam botol menjadi populer di Jerman, sehingga jumlah sampah botol bisa sangat besar. Mengembalikan botol-botol dengan jaminan ke tempat pengembalian bisa memakan waktu, terutama di daerah perkotaan. Orang-orang sering kali meninggalkan sampah botol di dekat tempat sampah umum, dan pengumpul sampah botol akan senang menerima mereka. Mereka kemudian membawa botol-botol tersebut ke tempat pengembalian untuk mendapatkan uang jaminan.Di kota Karlsruhe, bahkan tersedia yang disebut cincin pintar sebagai tempat khusus untuk meletakkan sampah botol dengan jaminan, sehingga memudahkan pengumpul sampah dalam pekerjaan mereka.

Sampah organik

Salah satu inovasi terbaru dalam pengelolaan sampah di Jerman adalah pemisahan sampah organik sejak tahun 2015 berdasarkan Peraturan Sampah Organik. Di bawah peraturan ini, setiap rumah tangga di Jerman dilengkapi dengan tempat sampah khusus untuk sampah organik. Sampah dari kebun dan sisa makanan dibuang ke tempat sampah organik yang berbeda, yang kemudian diolah menjadi kompos setelah proses fermentasi. Tujuannya adalah untuk mendaur ulang material organik dan mencegah penumpukan pengotor di tanah. Menurut Kementerian Lingkungan Jerman, kompos yang dihasilkan dari sampah organik memiliki 95% lebih sedikit pengotor dibandingkan dengan kompos dari campuran sampah rumah tangga.

Schuch dan Morscheck menambahkan bahwa pemisahan sampah organik menghasilkan kompos berkualitas tinggi yang cocok untuk pertanian dan perkebunan. Pemisahan jenis sampah organik juga membantu meningkatkan efisiensi dalam proses pemilahan, daur ulang, dan insinerasi karena setiap jenis sampah organik memiliki karakteristik yang berbeda. Sampah organik yang terurai di tempat pembuangan sampah merupakan penyumbang utama gas metana yang berkontribusi terhadap efek rumah kaca. Oleh karena itu, daur ulang kompos dan pemisahan sampah organik merupakan kontribusi terhadap konservasi energi dan perlindungan lingkungan.

Sampah organik, atau biomull, dimasukkan ke dalam tempat sampah berwarna coklat atau hijau. Ini mencakup sisa makanan, sayuran, buah-buahan, kulit telur, ampas kopi, dan sampah kebun seperti rumput. Kertas yang digunakan untuk membungkus makanan atau membersihkan sisa makanan juga termasuk dalam kategori ini. Oleh karena itu, kemasan pizza dan piring kertas untuk kentang goreng bukan termasuk sampah kertas yang dibuang di tempat sampah biru, melainkan harus dibuang di tempat sampah coklat atau hijau.

Kotoran endapan

Kotoran endapan, termasuk yang berasal dari rumah tangga, teridentifikasi memiliki kandungan fosfor yang tinggi, yang merupakan bahan rawan menurut European Commission. Menurut data dari Kementerian Lingkungan Jerman, separuh dari kotoran endapan di perkotaan telah diproses menjadi pupuk untuk pertanian dan penataan taman. Sementara sisanya digunakan sebagai bahan bakar sekunder di tempat pengolahannya, dicampur dengan bahan semen, atau dibuang di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Pemerintah Jerman telah mengembangkan teknik pengelolaan berkelanjutan untuk mengelola kotoran endapan ini melalui program yang disebut Resource Efficiency Programme/ProgRess (program sumber efisiensi).

Insinerasi

Pembakaran sampah dilakukan setelah upaya pencegahan dan daur ulang dilakukan terlebih dahulu. Insinerator, tempat pembakaran sampah, mengubah sampah menjadi energi melalui proses pembakaran yang menghasilkan listrik, air panas, dan uap panas. Listrik yang dihasilkan dialirkan ke jaringan untuk didistribusikan kepada pengguna akhir. Air panas dapat dialirkan ke jaringan distrik pemanas atau pendingin untuk memanaskan atau mendinginkan bangunan seperti rumah, rumah sakit, atau kantor. Sedangkan uap panas dapat digunakan oleh industri terdekat untuk mendukung kegiatan produksi mereka.

Tata-tertib

Setiap kota di Jerman memiliki sistem pengangkutan sampahnya sendiri, termasuk jadwal pengambilan sampah dan penanganan sampah berbahaya. Tempat sampah dijaga agar tidak terlalu penuh, dan jika terlalu penuh, petugas pengangkut sampah bisa menolak untuk mengosongkannya. Tempat-tempat sampah sering dikunci untuk mencegah orang lain membuang sampah di tempat yang bukan milik mereka, karena pengangkutan sampah di Jerman adalah layanan berbayar yang memerlukan biaya yang cukup besar bagi setiap rumah tangga.

Biaya untuk pembuangan berbagai jenis sampah di Jerman dapat ditemukan di sekitar tempat pengangkutan sampah. Biaya ini dihitung berdasarkan berat, dengan biaya untuk sampah makanan dan sampah daur ulang biasanya lebih rendah daripada jenis sampah lainnya.

Untuk barang-barang besar seperti lemari, sofa, atau televisi yang akan dibuang, ada layanan yang disebut "spermull". Layanan ini disediakan oleh pemerintah kota dan diadakan tiga kali setiap tahun. Barang-barang yang akan dibuang ditempatkan di tempat pengumpulan sampah hingga waktu tertentu, ketika petugas spermull akan mengangkutnya. Barang-barang yang masih layak pakai atau dalam kondisi baik di tempat pengumpulan ini bisa diambil oleh orang lain untuk digunakan atau dijual di pasar barang bekas.

Teknologi pemisahan

Sampah yang telah terpisah dipilah lebih lanjut dalam proses pemisahan yang dilakukan oleh agen dari sektor publik maupun swasta di Jerman. Perusahaan pengelolaan sampah biasanya menggunakan salah satu atau lebih dari lima metode berikut ini dalam proses pemisahan lanjut:

  1. Pemisah Trommel/Drum: Proses ini memisahkan sampah berdasarkan ukuran partikel. Sampah dimasukkan ke dalam drum besar yang memiliki lubang dengan ukuran tertentu pada sisinya. Drum kemudian diputar, sehingga material yang lebih kecil dari lubang drum akan keluar, sedangkan yang lebih besar akan tertinggal di dalam drum.

  2. Pemisah Arus Eddy: Metode ini khusus untuk memisahkan sampah berbahan logam. Arus Eddy terjadi ketika bahan konduktor terpapar oleh perubahan medan magnet. Dalam proses ini, elektromagnet digunakan untuk membedakan bahan logam dari bahan non-logam.

  3. Pemisahan Induksi: Sampah ditempatkan pada konveyor berjalan, di mana serangkaian sensor terletak di bawahnya. Sensor menempatkan material sesuai dengan jenisnya, dan kemudian jenis-jenis material dipisahkan dengan menggunakan sistem jet udara yang terhubung dengan sensor.

  4. Sensor Inframerah Dekat (Near Infrared Sensor/NIR): Proses ini memisahkan material dengan menyinarinya. Ketika material terpapar sinar, akan memantulkan sinar tersebut dalam spektrum inframerah. Sensor inframerah dekat dapat membedakan material berdasarkan cara material tersebut memantulkan sinar.

  5. Teknologi Sinar-X: Metode ini memisahkan sampah berdasarkan densitas atau kepadatan jenis sampah menggunakan sinar-X.

Kunci keberhasilan

Menurut pandangan organisasi amal bernama We Future Cycle, kunci keberhasilan skema pengumpulan sampah terpisah di Jerman adalah penerapannya yang konsisten di seluruh negeri, dengan menggunakan tipe tempat sampah yang sama untuk semua, baik untuk rumah tangga maupun bisnis. Beberapa faktor lain yang disebut sebagai faktor keberhasilan pengelolaan sampah di Jerman meliputi:

  1. Konsistensi warna tempat sampah.
  2. Pengawasan di lokasi pengumpulan, termasuk penempelan stiker untuk material yang salah dan denda untuk ketidaksesuaian dalam pengumpulan terpisah.
  3. Pembayaran per pembuangan menggunakan kode batang (barcode), dengan harga ditentukan berdasarkan jenis material.
  4. Penggunaan organisme pencerna organik dalam pengelolaan sampah makanan.
  5. Pengelolaan sampah melalui proses daur ulang dan target kuota pembaruan energi di Jerman hingga mencapai 65%. Target ini bertujuan untuk mengurangi pembuangan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang memiliki dampak buruk terhadap iklim.
  6. Inisiatif untuk konservasi sumber daya alam dan iklim, seperti peminimalan gas metana dan emisi gas karbon dioksida, serta upaya penggantian bahan bakar fosil pada kendaraan.
  7. Dukungan pemerintah Jerman terhadap teknologi yang andal dan inovatif dalam pengelolaan sampah.
  8. Upaya Jerman dalam mengelola sampah juga berkontribusi pada penciptaan lapangan kerja, karena diperlukan tenaga kerja dalam setiap tahap operasinya, mulai dari pengumpulan dan pengangkutan, hingga pemrosesan dan daur ulang di tingkat industri. Ini membawa manfaat bagi masyarakat Jerman dalam bidang sosial, lingkungan, dan ekonomi.

Disadur dari: https://id.wikipedia.org/wiki/Skema_pengumpulan_terpisah