Sampah Padat: Mengenal Jenis-Jenis dan Pengolahan Sampah Solid

Dipublikasikan oleh Dias Perdana Putra

27 Maret 2024, 06.10

Sumber: wikipedia.id

Pengertian Sampah Padat

Sampah padat adalah materi sisa dari aktivitas manusia yang berwujud padat. Menurut penelitian oleh Widyaningrum dan rekan-rekannya pada tahun 2016, sampah padat mencakup bahan-bahan yang berwujud padat, termasuk sampah organik, sampah anorganik, dan sampah spesifik yang memerlukan perlakuan khusus karena sifatnya. Sampah padat adalah salah satu jenis sampah yang dikelompokkan berdasarkan bentuk fisiknya. Jenis sampah ini berasal dari berbagai sumber seperti rumah tangga, industri, dan aktivitas domestik lainnya, yang biasanya kering dan tidak dapat bergerak sendiri kecuali diangkut. Secara umum, masyarakat sering menyebutkan "sampah" tanpa merinci jenisnya karena sampah padat adalah yang paling umum dijumpai.

Sampah padat menjadi perhatian global karena keberadaannya yang mudah ditemukan, tidak hanya di darat tetapi juga di perairan. Biasanya, sampah padat berasal dari aktivitas sehari-hari seperti sisa makanan, kertas, plastik, dan kemasan makanan atau minuman. Komposisi sampah padat ini berkaitan erat dengan gaya hidup masyarakat, di mana semakin maju gaya hidupnya, semakin bervariasi jenis sampah yang dihasilkan. Jika tidak dikelola dengan baik, sampah padat dapat menyebabkan masalah lingkungan seperti pencemaran udara dan air serta menjadi tempat berkembangbiaknya bakteri dan serangga yang membawa penyakit. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran dan tindakan bersama dari masyarakat untuk mengurangi masalah sampah padat.

Jenis Sampah Pada

Jenis sampah bervariasi tergantung pada bahan yang dikonsumsi. Umumnya, sampah dapat dibagi menjadi dua kategori utama: sampah organik atau yang dikenal sebagai sampah basah, dan sampah anorganik atau yang disebut sebagai sampah kering. Sampah basah adalah jenis sampah yang berasal dari organisme hidup, seperti daun-daun yang gugur dan sisa-sisa makanan dari dapur. Di sisi lain, sampah anorganik tidak dapat terurai secara alami, sementara sampah organik dapat mengalami dekomposisi dan menghilang secara alami dari lingkungan.

Sampah organik

Sampah organik merujuk pada bahan-bahan yang berasal dari makhluk hidup dan dapat diuraikan oleh mikroorganisme. Sampah padat ini cenderung mudah terurai melalui proses alami. Proses biologis, baik secara aerob (dengan oksigen) maupun anaerob (tanpa oksigen), mampu memecah sampah organik dengan baik. Sampah organik yang umumnya ditemui di sekitar kita, seperti sisa makanan, sayuran, kulit buah, limbah dapur, daun, ranting, serta limbah dari sektor pertanian dan perkebunan, semuanya termasuk dalam kategori sampah padat organik. Pasar tradisional dan rumah tangga merupakan sumber utama sampah organik ini karena adanya sisa makanan, sayuran, buah, dan bahan organik lainnya yang mengalami pembusukan atau tidak dapat dijual lagi.

Sampah anorganik atau non organik

Sampah padat non-organik merupakan jenis sampah padat yang terdiri dari bahan-bahan bukan hayati yang tidak dapat diurai oleh mikroorganisme. Biasanya, sampah padat non-organik sulit terurai secara alami oleh lingkungan atau mikroba, namun beberapa jenisnya mungkin dapat terurai dalam jangka waktu yang sangat lama. Sampah padat non-organik ini umumnya berasal dari produk sintetis atau hasil dari proses teknologi seperti penambangan atau manufaktur. Jenis sampah padat non-organik ini dapat dibagi menjadi beberapa kategori, termasuk sampah padat logam dan produk turunannya seperti plastik, kertas, kaca, keramik, dan detergen.

Selain itu, jenis sampah juga dapat dikelompokkan berdasarkan sifat fisiknya antara lain:

  1. Sampah padat basah, yaitu sampah padat yang mengandung kadar air serta mudah busuk. Terdiri dari bahan-bahan organik yang mempunyai sifat mudah membusuk seperti sisa makanan, buah dan sayuran.
  2. Sampah  padat kering, yaitu sampah padat yang tidak memiliki kadar air dan sifatnya tidak mudah busuk dimana tersusun dari bahan organik maupun anorganik. Sampah padat kering ini terdiri atas dua jenis yaitu metalik misalnya pipa besi tua, kaleng-kaleng bekas sedangkan non metalik seperti kertas, kayu, sisa-sisa kain, kaca, mika, keramik, dan batu-batuan.
  3. Sampah padat lembut atau kecil, yaitu sampah dengan partikel kecil, ringan dan mudah beterbangan. Sampah padat ini dapat membahayakan dan mengganggu pernafasan serta mata seperti debu.
  4. Sampah padat besar, yaitu sampah padat yang berukuran besar, contohnya seperti bekas peralatan rumah tangga.
  5. Sampah padat B3, sampah padat yang berbahaya dan beracun terhadap manusia, hewan, serta tanaman sehingga sampah jenis ini memerlukan penanganan khusus. Sampah padat ini misalnya baterai dan jarum suntik bekas (Kurniaty et al. 2016). 

Dampak Sampah Padat Terhadap Lingkungan

Sampah padat memberikan banyak dampak negatif yang akan sangat mengganggu kelestarian fungsi lingkungan baik lingkungan pemukiman, hutan, persawahan, sungai, dan lautan. 

Dampak pada Sungai

1.       Mencemari air

Air sungai yang semula bersih dan jernih, yang biasanya digunakan oleh masyarakat untuk kegiatan seperti mencuci atau bahkan sebagai sumber air minum, dapat tercemar ketika terdapat sampah padat di dalamnya. Akibatnya, air sungai yang tercemar tidak lagi dapat dipergunakan oleh masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari seperti mencuci atau bahkan untuk diminum.

2.     Menimbulkan bau tidak sedap

Sampah padat yang terlalu banyak yang terdapat di Sungai dapat menimbulkan tidak sedap yang dapat mengganggu lingkungan (Sulistiyorini 2018). Bau-bau tersebut timbul apabila terdapat tumpukan sampah padat di pinggiran sungai.

3.   Menyumbat aliran air sehingga dapat menyebabkan banjir

Sampah padat yang terlalu banyak dapat menyumbat air sungai untuk terus mengalir. Apabila air sungai tidak mengalir dengan baik dapat menyebabkan banjir ketika terjadi hujan lebat.

4.   Menyebabkan gatal

Air sungai yang berhasil mengalir melewati tumpukan sampah padat sudah pasti tercemar. Ketika air tersebut digunakan untuk mandi oleh masyarakat, bisa jadi masyarakat yang menggunakan air tersebut akan merasa gatal.

5.     Membahayakan makhluk hidup yang berada di sungai

Sampah padat yang terdapat di sungai akan terlihat seperti makanan bagi makhluk hidup yang berada di sungai. Hal tersebut dapat menyebabkan tersumbatnya saluran pencernaan bahkan menyebabkan kematian.

Dampak pada Daratan

1.     Merusak estetika lingkungan

Tumpukkan sampah padat yang menggunung dapat merusak estetika lingkungan.

2.     Mengganggu kesehatan

Sampah padat, terutama plastik, rentan terhadap reaksi kimia pada suhu tinggi, yang menyebabkan pelepasan senyawa mikroplastik ke lingkungan sekitar. Ini dapat mengakibatkan pertumbuhan bakteri yang cepat serta potensi penyebaran penyakit seperti diare pada manusia. Selain itu, pembakaran tidak sempurna dari sampah plastik dapat menghasilkan senyawa berbahaya seperti dioksin, yang jika terhirup manusia dapat menyebabkan berbagai penyakit serius seperti hepatitis, kanker, gangguan sistem saraf, dan pembengkakan hati.

3.   Menimbulkan bau tidak sedap

Sampah padat yang menumpuk dapat menimbulkan bau tidak sedap jika tidak dikelola dengan baik. 

Pengolahan Sampah Padat

Menurut Kurniaty et al. (2016) seperti yang dijelaskan dalam buku "Memproses Sampah" oleh Ir. Wied Harry Apriadji, proses pembuangan sampah melibatkan tiga tahap utama, yakni penampungan sampah, pengumpulan sampah, dan pembuangan sampah.

1.   Pembuatan Kompos

Kompos adalah hasil dari proses penguraian sebagian bahan organik oleh beragam mikroba dalam kondisi lingkungan tertentu yang hangat, lembab, dan bisa aerobik atau anaerobik. Proses ini dapat dipercepat secara buatan. Kompos ini bermanfaat untuk meningkatkan kesuburan tanah, mendorong pertumbuhan akar yang sehat, serta memperbaiki struktur tanah dengan meningkatkan kandungan bahan organik dan kemampuan menahan air.

Pembuatan kompos melibatkan pengaturan dan pengendalian proses alami tersebut agar kompos dapat terbentuk lebih cepat. Langkah-langkahnya termasuk mencampurkan bahan dengan seimbang, memberikan cukup air, mengatur sirkulasi udara, dan menambahkan aktivator pengomposan.

Kompos dapat berbentuk padat atau cair, dan pembuatannya dapat melibatkan kompos yang sudah jadi, kultur mikroorganisme, atau cacing tanah. Salah satu contoh kultur mikroorganisme yang sering digunakan adalah Effective Microorganism 4 (EM4), yang memiliki sifat genetik alami. Umumnya, EM4 bisa diproduksi sendiri dengan menggunakan bahan-bahan yang mudah ditemukan. Kompos yang dihasilkan dengan menggunakan EM4 juga dikenal dengan sebutan bokashi.

2.    Daur Ulang

Berbagai jenis limbah padat dapat diolah melalui proses daur ulang untuk menjadi produk baru, membantu mengurangi akumulasi sampah karena bahan yang tadinya dianggap limbah dapat dimanfaatkan kembali.

Namun, partisipasi masyarakat dalam mengurangi penggunaan plastik dan mendaur ulang masih rendah. Plastik sering kali dibakar untuk menghilangkannya, tanpa menyadari bahwa pembakaran yang tidak sempurna dapat menghasilkan dioksin, senyawa yang berpotensi menyebabkan penyakit seperti kanker, hepatitis, serta masalah pada hati dan sistem saraf.

Bahan-bahan yang telah didaur ulang dapat digunakan kembali untuk membuat produk baru dengan jenis yang serupa atau bahkan berbeda. Sebagai contoh, limbah kertas dapat diolah menjadi kertas baru, sedangkan limbah kaca seperti botol bisa didaur ulang menjadi botol kaca lainnya atau dicampur dengan aspal untuk membuat material jalan.

Kunci keberhasilan dalam pengolahan sampah adalah melalui pemilahan yang baik. Sampah perlu dipisahkan menjadi organik, anorganik, kaca, dan PET. Sampah organik dapat diubah menjadi kompos, sementara sampah anorganik yang tidak berguna bisa dimusnahkan melalui pembakaran, dan sampah anorganik yang masih berguna seperti kaca dan PET bisa didaur ulang. Proses pemilahan yang paling efektif dilakukan di tingkat awal, misalnya di rumah tangga, dan dukungan dari edukasi, regulasi, serta infrastruktur yang disediakan oleh pemerintah sangat penting dalam mendukung upaya ini.

3.    Penimbunan (Landfill)

Penimbunan adalah salah satu cara untuk mengelola limbah padat atau sampah dengan cara mengumpulkannya di tempat terbuka yang jauh dari kegiatan manusia. Proses ini melibatkan menimbun sampah di bawah permukaan tanah agar dapat terurai secara alami oleh tanah. Namun, penimbunan sampah di bawah tanah memiliki kekurangan yang dapat berdampak negatif pada lingkungan sekitarnya, seperti polusi tanah dan pencemaran air sumur.

4.    Pembakaran (Incineration)

Pembakaran merupakan salah satu metode pengolahan limbah padat yang menggunakan api untuk mengurangi volume limbah menjadi abu. Proses ini membantu mengurangi akumulasi limbah serta dapat mengurangi polusi lingkungan. Proses pembakaran limbah padat dimulai dengan pemisahan limbah menjadi tiga jenis, yaitu plastik dan barang elektronik, kayu, dan jenis lainnya. Limbah yang dapat dibakar terdiri dari kayu dan limbah lainnya, sedangkan plastik dan barang elektronik diolah secara berbeda karena mengandung bahan berbahaya jika dibakar. Limbah lainnya kemudian dipilah menjadi basah dan kering berdasarkan tingkat kelembabannya. Limbah basah dicampur dengan kayu untuk meningkatkan efisiensi pembakaran. Proses pembakaran berlangsung hingga limbah terurai sepenuhnya, menghasilkan energi panas, uap, dan emisi sebagai hasilnya.

Pembakaran limbah dapat dilakukan menggunakan mesin incinerator, yang ada dalam dua jenis, yakni yang tidak memanfaatkan energi panas dan yang menggunakan konversi energi panas. Mesin incinerator tanpa memanfaatkan energi panas cocok untuk pembakaran limbah dalam jumlah kecil, sekitar 0,2 hingga 1 ton per jam. Sementara itu, mesin incinerator yang menggunakan konversi energi panas dapat membakar limbah dalam jumlah yang lebih besar, hingga 40 ton per jam, dibandingkan dengan yang tidak memanfaatkan energi panas.

Disadur dari: https://id.wikipedia.org/wiki/Sampah_padat