Perubahan Iklim: Pengertian, Penyebab, dan Dampak

Dipublikasikan oleh Dias Perdana Putra

01 April 2024, 08.12

Sumber: id.wikipedia.org

Perubahan iklim

Perubahan iklim adalah perubahan dalam pola dan intensitas unsur-unsur iklim dalam jangka waktu yang sangat panjang. Bentuk perubahan ini berkaitan dengan perubahan dalam pola cuaca atau pergeseran kejadian cuaca. Salah satu penyebab utama perubahan iklim adalah pemanasan global, yang disebabkan oleh peningkatan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer Bumi yang mengubah peran efek rumah kaca. Aktivitas manusia juga dapat mempengaruhi iklim Bumi dan saat ini mendorong perubahan iklim melalui pemanasan global. Tidak ada kesepakatan umum dalam dokumen ilmiah, media, atau kebijakan mengenai istilah yang tepat untuk merujuk pada perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia; baik "pemanasan global" atau "perubahan iklim" dapat digunakan.

Perubahan iklim berdampak pada peningkatan tinggi permukaan air laut, meningkatnya jumlah bencana alam, pergeseran rentang geografis, dan kerusakan ekosistem. Dampak perubahan iklim akan dirasakan oleh manusia, hewan, tumbuhan, maupun mikroorganisme. Perubahan iklim juga memengaruhi lautan, daratan, dan lapisan udara.

Perubahan iklim terjadi melalui interaksi antara unsur-unsur iklim selama puluhan hingga jutaan tahun. Setiap unsur iklim memberikan pengaruh terhadap kondisi iklim dengan tingkat pengaruh yang berubah-ubah. Perubahan iklim dapat dimulai dalam skala kawasan perkotaan atau kabupaten hingga kawasan benua. Perubahan iklim dapat disebabkan oleh pengaruh eksternal seperti radiasi Matahari maupun pengaruh internal Bumi seperti peningkatan kadar karbon dioksida di atmosfer.

Istilah

Istilah "perubahan iklim" dapat merujuk pada perubahan dalam kondisi cuaca rata-rata atau perubahan dalam distribusi peristiwa cuaca rata-rata, seperti peningkatan atau penurunan jumlah peristiwa cuaca ekstrem. Perubahan iklim dapat terjadi dalam skala regional tertentu atau di seluruh wilayah Bumi.

Dalam konteks penggunaannya saat ini, terutama dalam kebijakan lingkungan, perubahan iklim mengacu pada perubahan iklim modern yang disebabkan oleh aktivitas manusia, yang dikenal sebagai pemanasan global antropogenik.

Perubahan iklim terjadi ketika perubahan dalam sistem iklim Bumi menghasilkan pola cuaca baru yang bertahan selama beberapa dekade hingga jutaan tahun. Sistem iklim Bumi terdiri dari lima bagian yang saling berinteraksi: atmosfer (udara), hidrosfer (air), kriosfer (es dan permafrost), biosfer (makhluk hidup), dan litosfer (kerak bumi dan mantel atas). Perubahan energi dalam sistem iklim, baik masuk maupun keluar, menentukan anggaran energi Bumi, yang pada gilirannya memengaruhi suhu Bumi. Variabilitas internal dalam sistem iklim dapat menghasilkan perubahan iklim, seperti pola siklus laut seperti El Nino Southern Oscillation atau Osilasi decadal Pasifik dan osilasi multidecadal Atlantik. Selain itu, perubahan iklim juga dapat dipicu oleh pemaksaan eksternal, seperti perubahan output matahari dan aktivitas vulkanik.

Bidang klimatologi menggabungkan berbagai bidang penelitian yang berbeda untuk memahami perubahan iklim. Data dari periode perubahan iklim kuno diperoleh melalui bukti fisik seperti inti es, cincin pohon purba, catatan geologis, dan geologi glasial. Sedangkan bukti dari perubahan iklim saat ini meliputi catatan suhu, penurunan luas es, dan peristiwa cuaca ekstrem.

Terminologi

Definisi umum dari perubahan iklim adalah perubahan dalam karakteristik statistik (terutama rata-rata dan penyebaran) dari sistem iklim dalam jangka waktu yang panjang, tanpa memperhatikan penyebabnya. Oleh karena itu, fluktuasi cuaca dalam periode yang lebih pendek seperti El Niño tidak dianggap sebagai perubahan iklim.

Secara umum, istilah "perubahan iklim" sering digunakan secara khusus untuk merujuk pada perubahan iklim antropogenik, yang disebabkan oleh aktivitas manusia, seperti pemanasan global. Dalam konteks kebijakan lingkungan, istilah perubahan iklim telah menjadi sinonim dengan pemanasan global yang disebabkan oleh manusia. Dalam literatur ilmiah, pemanasan global merujuk pada peningkatan suhu permukaan Bumi, sedangkan perubahan iklim mencakup pemanasan global dan faktor-faktor lain yang memengaruhi peningkatan konsentrasi gas rumah kaca.

Istilah "perubahan iklim" diusulkan oleh Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada tahun 1966 untuk menggambarkan semua bentuk variabilitas iklim dalam rentang waktu lebih dari 10 tahun, tanpa memperhatikan penyebabnya. Namun, selama tahun 1970-an, istilah tersebut mulai digunakan secara lebih spesifik untuk merujuk pada perubahan iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia. Hal ini terjadi karena menjadi jelas bahwa manusia memiliki potensi untuk secara signifikan memengaruhi iklim Bumi. Istilah "perubahan iklim" telah menjadi bagian dari judul Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) dan Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC). Saat ini, istilah "perubahan iklim" digunakan secara luas untuk mendeskripsikan proses tersebut, serta sebagai kata benda yang menggambarkan masalah tersebut secara keseluruhan.

Penyebab

Perubahan iklim terjadi ketika ada perubahan dalam sistem iklim Bumi yang menghasilkan pola cuaca baru yang berlangsung dalam jangka waktu yang panjang, mulai dari beberapa dekade hingga mungkin jutaan tahun. Sistem iklim Bumi terdiri dari lima komponen yang saling berinteraksi, yaitu atmosfer (udara), hidrosfer (air), kriosfer (es dan permafrost), biosfer (makhluk hidup), dan litosfer (kerak bumi dan mantel atas).

Sebagian besar energi yang diperoleh oleh sistem iklim Bumi berasal dari Matahari, dengan sebagian kecil lainnya berasal dari dalam Bumi. Keseimbangan energi antara energi yang masuk dan keluar dari sistem iklim menentukan anggaran energi Bumi. Ketika energi yang masuk melebihi energi yang keluar, maka anggaran energi Bumi menjadi positif dan menyebabkan pemanasan sistem iklim. Sebaliknya, jika energi yang keluar lebih banyak dari yang masuk, maka anggaran energi menjadi negatif dan menyebabkan pendinginan sistem iklim.

Saat ini, energi dari Matahari yang diterima oleh Bumi semakin meningkat, tetapi sebagian besar energi tersebut terhalang atau terpantulkan kembali ke angkasa oleh efek rumah kaca. Efek rumah kaca adalah fenomena di mana gas-gas di atmosfer, seperti karbon dioksida (CO2), menahan panas Matahari yang dipancarkan kembali dari permukaan Bumi, sehingga menyebabkan peningkatan suhu di atmosfer Bumi. Gas-gas ini bertindak seperti kaca pada rumah kaca, yang membiarkan cahaya masuk tetapi menahan panas di dalam. Sebagai akibatnya, panas dari Matahari yang seharusnya dipantulkan kembali ke angkasa menjadi terperangkap di atmosfer, menyebabkan suhu global Bumi meningkat.

Berikut ini adalah penyebab-penyebab makin tingginya konsentrasi gas-gas rumah kaca di atmosfer:

Penebangan dan pembakaran hutan

Pohon sangat penting karena mereka melakukan proses fotosintesis yang mengubah karbon dioksida menjadi oksigen yang kita hirup. Namun, seringkali manusia melakukan penebangan hutan untuk berbagai keperluan, seperti pembangunan pemukiman atau lahan pertanian. Selain itu, praktek pembakaran hutan juga umum terjadi, baik secara sengaja maupun tidak sengaja, yang menghasilkan gas-gas rumah kaca seperti karbon dioksida dan metana. Hal ini dapat menyebabkan peningkatan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer, yang berkontribusi pada pemanasan global dan perubahan iklim yang lebih luas. Oleh karena itu, menjaga kelestarian hutan sangat penting untuk menjaga keseimbangan lingkungan dan mengurangi dampak negatif terhadap iklim.

Penggunaan bahan bakar fosil

Penggunaan berlebihan bahan bakar fosil seperti minyak bumi dan batu bara bukan hanya mencemari udara dengan polusi, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer seperti karbon dioksida yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil tersebut.

Pencemaran laut

Lautan memiliki kapasitas besar untuk menyerap karbon dioksida, tetapi karena pencemaran oleh limbah industri dan sampah, laut menjadi tercemar dan mengalami kerusakan ekosistem. Akibatnya, kemampuan laut untuk menyerap karbon dioksida menjadi terganggu.

Industri pertanian

Pertanian industri menggunakan sejumlah besar pupuk buatan. Penggunaan pupuk ini menghasilkan pelepasan gas nitrous oxide ke atmosfer, yang merupakan salah satu jenis gas rumah kaca.

Jenis

Perubahan iklim tiba-tiba

Perubahan iklim yang terjadi secara tiba-tiba disebabkan oleh kondisi sistem iklim yang bersifat tidak linier. Proses ini berlangsung mendadak dan tidak dapat diprediksi sebelumnya. Suatu perubahan iklim dikatakan tiba-tiba ketika terjadi perubahan karakteristik iklim karena adanya pengaruh dari luar. Contoh peristiwa yang termasuk dalam perubahan iklim tiba-tiba adalah sirkulasi termohalin, pencairan gletser secara cepat, pelepasan material organik dari tanah atau batuan es yang bersuhu di bawah 0°C secara cepat, atau percepatan siklus karbon akibat peningkatan respirasi tanah.

Dampak

Peningkatan suhu Bumi

Kenaikan suhu Bumi yang terjadi sebagai bagian dari pemanasan global memiliki dampak yang signifikan, termasuk peningkatan konsumsi energi dan meningkatnya bencana penyakit pada manusia. Hal ini disebabkan oleh peningkatan penggunaan energi serta penurunan produksi tanaman atau gagal panen yang dapat meningkatkan ancaman kelaparan. Peningkatan suhu juga mengakibatkan penguapan air berlebihan, yang mengurangi ketersediaan air di permukaan Bumi. Selain itu, kenaikan suhu memicu kebakaran hutan yang menghasilkan kabut asap. Lonjakan jumlah kabut asap ini berkontribusi pada peningkatan wabah penyakit seperti malaria, demam berdarah, diare, dan gangguan pernapasan.

Perubahan curah hujan

Perubahan pola curah hujan menciptakan musim yang tidak stabil. Saat musim hujan tiba, curah hujan menjadi sangat tinggi, yang berujung pada banjir dan tanah longsor. Bencana alam tersebut mengakibatkan kerusakan pada lahan pertanian, mengakibatkan kekeringan dan kelangkaan air yang berkelanjutan. Situasi ini berdampak pada pasokan air bagi wilayah perkotaan dan pertanian, serta meningkatkan risiko kebakaran hutan.

Kenaikan suhu dan tinggi muka laut

Peningkatan suhu permukaan laut menyebabkan kerusakan pada terumbu karang dan perubahan arah arus laut. Hal ini memengaruhi pola migrasi ikan di laut dan berdampak pada hasil tangkapan para nelayan. Selain itu, kenaikan suhu permukaan laut juga menyebabkan luasan genangan air laut yang lebih besar, meningkatkan erosi pantai, dan mengancam kehidupan di wilayah pesisir dengan intrusi air laut yang lebih sering.

Pergeseran musim

Perubahan iklim menyebabkan pergeseran musim yang mengakibatkan terjadinya bencana kekeringan dan banjir. Musim kemarau menjadi lebih panjang dari biasanya, menyebabkan kekeringan terutama di Afrika, Eropa, Amerika Utara, dan Australia. Di sisi lain, musim hujan memiliki curah hujan yang sangat tinggi namun durasinya lebih singkat dari biasanya, sehingga meningkatkan risiko banjir dan longsor tanah.

Kesadaran pembangunan berkelanjutan

Perubahan iklim telah mendorong kesadaran akan pentingnya pembangunan berkelanjutan di kalangan masyarakat global. Dampak negatif yang dirasakan secara langsung oleh masyarakat telah membuka peluang untuk memanfaatkan perubahan iklim secara positif. Hal ini telah mendorong inovasi dan kreativitas baru dalam model bisnis dan politik. Dengan memprioritaskan pembangunan berkelanjutan, masyarakat dapat mengadopsi pendekatan modern dalam pengelolaan sumber daya alam, dengan mempertimbangkan kearifan lokal baik di tingkat nasional maupun global.

Disadur dari: https://id.wikipedia.org/wiki/Perubahan_iklim