Perkebunan Untuk Minuman Teh

Dipublikasikan oleh Muhammad Ilham Maulana

27 Februari 2024, 09.20

Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Tea_in_different_grade_of_fermentation.jpg

Teh adalah minuman yang mengandung kafein, yang dibuat dengan cara menyeduh daun, pucuk daun, atau tangkai daun yang dikeringkan dari tanaman Camellia sinensis dengan air panas. Ada empat jenis utama teh yang berasal dari tanaman teh: teh hitam, teh oolong, teh hijau, dan teh putih.

Selain itu, istilah "teh" juga digunakan untuk minuman yang diseduh dari buah, rempah-rempah, atau tanaman obat lainnya, seperti teh rosehip, camomile, krisan, dan jiaogulan. Teh yang tidak mengandung daun teh disebut teh herbal. Teh mengandung kafein, teofilin, dan antioksidan dengan kadar lemak, karbohidrat, atau protein yang mendekati nol persen. Rasanya agak pahit, yang merupakan bagian dari kenikmatan minum teh.

Di Indonesia, teh bunga yang bercampur dengan kuncup bunga melati, dikenal sebagai teh melati atau teh wangi melati, sangat populer. Meskipun Indonesia merupakan salah satu negara penghasil teh terbesar di dunia, konsumsi teh per kapita di Indonesia masih rendah, sekitar 0,8 kilogram per tahun, dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia.

Proses Pengolahan dan pengelompokan Teh

Setelah dipetik, daun teh akan segera mengalami layu dan oksidasi jika tidak segera dikeringkan. Proses pengeringan ini mengakibatkan daun berubah warna menjadi gelap karena terjadi pemecahan klorofil dan pelepasan tanin. Selanjutnya, daun teh dipanaskan dengan uap panas untuk menguapkan kandungan air dan menghentikan proses oksidasi pada tahap yang diinginkan.

Proses ini sering disebut sebagai fermentasi, meskipun sebenarnya istilah tersebut tidak tepat. Pengolahan teh tidak melibatkan ragi atau produksi etanol seperti dalam proses fermentasi yang sebenarnya. Namun, jika pengolahan teh dilakukan dengan tidak benar, bisa menyebabkan pertumbuhan jamur dan terjadi proses fermentasi yang tidak diinginkan. Teh yang mengalami fermentasi dengan jamur harus dibuang karena dapat mengandung racun dan zat karsinogenik.

Berikut adalah pengelompokan teh berdasarkan tingkat oksidasi:

  1. Teh Putih: Terbuat dari pucuk daun yang tidak mengalami oksidasi dan dilindungi dari sinar matahari sebelum dipetik. Teh putih diproduksi dalam jumlah terbatas sehingga harganya relatif mahal. Meskipun kurang terkenal di luar Tiongkok, teh putih dalam kemasan sudah mulai populer.

  2. Teh Hijau: Daun teh diolah langsung setelah dipetik. Proses oksidasi minimal dan dihentikan dengan pemanasan menggunakan uap atau panggangan di atas wajan panas. Teh hijau bisa dijual dalam bentuk lembaran atau digulung menjadi bola kecil seperti "gunpowder".

  3. Oolong: Proses oksidasi dihentikan di tengah antara teh hijau dan teh hitam, biasanya memakan waktu 2–3 hari.

  4. Teh Hitam: Daun teh dioksidasi sepenuhnya selama 2 minggu hingga 1 bulan. Jenis teh ini paling umum di Asia Selatan dan sebagian besar negara di Afrika. Di Barat, disebut "teh hitam" karena warna daunnya yang menjadi gelap.

  5. Teh Pu-erh: Terdiri dari dua jenis, yaitu mentah dan matang. Teh pu-erh mentah bisa langsung digunakan atau disimpan untuk pematangan selama beberapa waktu. Teh pu-erh matang dibuat dengan mengendalikan kelembapan dan temperatur mirip dengan proses pengomposan.

Teh juga sering dikaitkan dengan manfaat kesehatan dan sering digunakan untuk diet. Berbagai jenis teh memiliki asosiasi dengan konsep keseimbangan yin dan yang dalam tradisi Tiongkok.

Sejarah Singkat Teh

Teh memiliki asal-usulnya di Tiongkok, di provinsi Yunnan, dimana pohon teh Tiongkok (Camellia sinensis) ditemukan. Di tengah iklim tropis dan subtropis Yunnan, kondisi hangat dan lembap menjadi lingkungan yang ideal bagi pertumbuhan tanaman teh. Legenda menyebutkan bahwa Shennong, yang dianggap sebagai pelopor pertanian dan ramuan obat-obatan, juga merupakan penemu teh. Teh awalnya digunakan sebagai bahan obat-obatan sebelum akhirnya dinikmati sebagai minuman.

Pada awalnya, teh digunakan di Tiongkok sebagai ramuan obat sebelum berkembang menjadi minuman yang dinikmati oleh berbagai lapisan masyarakat. Pada zaman Dinasti Han, proses pengolahan teh menjadi lebih sederhana dan teh dijadikan minuman yang diseduh, sering kali dicampur dengan ramuan lain. Lebih lanjut, teh menjadi bagian penting dalam tradisi penyambutan tamu di Tiongkok.

Pada abad ke-8 M, seorang anak yatim bernama Lu Yu menulis buku yang mendefinisikan tentang teh, yang menambah kepopuleran teh di Tiongkok. Di Jepang, konsumsi teh menyebar melalui pengaruh Tiongkok, terutama oleh seorang pendeta Buddha bernama Yeisei, yang membawa bibit teh dari Tiongkok. Di Jepang, teh menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat, terutama dalam praktik Zen Buddhisme.

Di Eropa, teh diperkenalkan oleh Portugis yang menjalin hubungan dagang dengan Tiongkok. Kemudian, popularitas teh meningkat di Eropa, khususnya di Belanda, meskipun pada awalnya dianggap sebagai minuman mahal. Di Amerika, teh pertama kali diperkenalkan oleh Peter Stuyvesant pada tahun 1650.

Di Indonesia, teh pertama kali diperkenalkan oleh Andreas Cleyer dari Jerman pada tahun 1664. Dibudidayakan di Jawa pada tahun 1827 dan berkembang pesat setelah varietas asal Assam diperkenalkan dari Sri Lanka pada tahun 1877. Melalui perjalanan yang panjang dan beragam, teh telah menjadi salah satu minuman yang sangat populer dan dicintai di seluruh dunia.


Disadur dari: https://id.wikipedia.org/wiki/Teh