Penjelasan Mengenai Kentang

Dipublikasikan oleh Muhammad Ilham Maulana

28 Februari 2024, 10.26

Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/File:Patates.jpg

Penjelajah Spanyol dan Portugis pertama kali mengenalkan dan membudidayakan kentang di Eropa setelah membawanya dari Amerika Selatan, tempat asalnya, di mana tanaman ini telah dibudidayakan oleh masyarakat selama ribuan tahun. Kentang adalah tanaman tahunan yang cenderung pendek dan tidak berbonggol kayu, serta menyukai iklim sejuk. Cocok untuk ditanam di dataran tinggi di daerah tropis. Bunganya bersambung dan tersusun secara sempurna, dengan ukuran yang cukup besar, memiliki diameter sekitar 3 cm, dan berwarna bervariasi, mulai dari ungu hingga putih.

Persebaran

Kentang memiliki asal-usulnya di lembah-lembah dataran tinggi di Chili, Peru, dan Meksiko. Bangsa Spanyol memperkenalkan jenis kentang ini dari Peru ke Eropa pada tahun 1565. Setelah itu, kentang menyebar ke negara-negara lain, termasuk Indonesia. Di Indonesia, kentang pertama kali muncul sekitar tahun 1794, dengan penanaman awal di sekitar Cimahi. Kemudian, kentang juga ditemukan di Priangan dan Gunung Tengger. Pada tahun 1812, kentang sudah dikenal dan dijual di Kedu, sementara di Sumatra, tanaman ini sudah dikenal setahun sebelumnya, yaitu pada tahun 1811. Kentang biasanya tumbuh di daerah pegunungan dengan ketinggian antara 1000 hingga 2000 meter di atas permukaan laut, terutama pada tanah humus. Tanah yang berasal dari bekas letusan gunung berapi yang memiliki struktur remah adalah yang lebih disukai untuk pertumbuhan kentang.

Deskripsi Tanaman

Tanaman kentang adalah tanaman tahunan non-kayu yang biasanya mencapai ketinggian sekitar 60 sentimeter (24 inci), meskipun ini dapat bervariasi tergantung pada varietas tertentu. Daunnya tersusun bergantian di sepanjang batang dan terdiri dari enam hingga delapan anak daun simetris dengan satu anak daun yang tidak berpasangan di bagian atas. Panjang anak daun ini biasanya 10 cm (3,9 inci) hingga 30 cm (12 inci) dan lebar 5 cm (2,0 inci) hingga 15 cm (5,9 inci), dan dapat menunjukkan berbagai tingkat bulu atau trikoma tergantung pada kultivarnya. Bunga tanaman kentang bisa berwarna putih, merah muda, merah, biru, atau ungu, dengan benang sari berwarna kuning. Meskipun serangga seperti lebah terutama memfasilitasi penyerbukan silang antara tanaman kentang, beberapa pembuahan sendiri juga dapat terjadi.

Tanaman kentang menghasilkan umbi sebagai sarana untuk menyimpan nutrisi. Umbi ini bukanlah akar seperti yang diyakini secara tradisional, melainkan batang yang berkembang dari rimpang yang menebal di ujung stolon, yang merupakan cabang yang muncul dari simpul bawah tanah. Umbi ini memiliki "mata" di permukaannya, yang berfungsi sebagai titik pertumbuhan tunas vegetatif. Selain itu, lubang-lubang kecil yang disebut lentisel memungkinkan terjadinya pertukaran udara di permukaan umbi. Umbi berkembang sebagai respons terhadap panjang hari yang lebih pendek, meskipun sifat ini telah berkurang pada varietas komersial.

Setelah berbunga, tanaman kentang menghasilkan buah kecil berwarna hijau yang menyerupai tomat ceri, masing-masing berisi sekitar 300 biji kecil. Namun, buah ini, seperti bagian tanaman lainnya kecuali umbinya, mengandung alkaloid solanin yang beracun dan tidak layak dikonsumsi. Varietas kentang baru biasanya ditanam dari benih kentang asli (TPS) daripada umbi benih, sehingga memungkinkan dihasilkannya berbagai varietas yang berbeda.

Budidaya

Kentang dan kerabat liarnya tidak dapat melakukan penyerbukan sendiri, yang berarti mereka tidak menghasilkan buah yang layak jika melakukan penyerbukan sendiri. Hal ini menjadi tantangan dalam pemuliaan tanaman, karena semua tanaman yang diproduksi secara seksual haruslah hibrida. Namun, gen yang bertanggung jawab atas kompatibilitas diri telah diidentifikasi, dan mutasi untuk menonaktifkannya telah dipelajari. Kemajuan teknologi seperti CRISPR-Cas9 telah memungkinkan pengenalan sifat-sifat kompatibilitas diri ke dalam kentang diploid, memfasilitasi upaya pemuliaan yang lebih cepat dan lebih terfokus.

Pemuliaan kentang hibrida diploid telah muncul sebagai bidang genetika yang menjanjikan, dengan potensi untuk mencapai homozigositas simultan dan fiksasi alel donor. Spesies kentang liar yang berguna untuk tujuan pemuliaan antara lain Solanum desmissum dan S. stoloniferum.

Biosintesis Pati

Biosintesis pati pada kentang berkaitan erat dengan fotosintesis dan ketersediaan sukrosa. Gen yang terlibat dalam sintesis pati diaktifkan bersamaan dengan aktivitas sukrosa sintase, dengan kedua proses tersebut menunjukkan ritme diurnal yang sesuai dengan suplai sukrosa dari daun.

Manfaat dan Racun

Kentang diakui secara internasional sebagai makanan pokok karena kandungan karbohidratnya, sementara di Indonesia masih dianggap sebagai sayuran mewah. Namun, kentang memiliki nilai gizi tinggi, mengandung berbagai vitamin seperti A, B-kompleks, C, dan asam folat, serta mineral seperti zat besi, fosfor, dan kalium. Kentang juga mengandung zat solanin yang memiliki manfaat sebagai obat penenang, antikejang, antijamur, dan pestisida. Namun, jika terpapar cahaya terlalu lama, kentang dapat menghasilkan solanin secara berlebihan, menyebabkan berbagai bahaya seperti gangguan sistem saraf, terbakar tenggorokan, sakit kepala, hingga paralisis. Solanin bisa beracun dalam dosis tertentu dan pengobatannya meliputi memberi arang aktif, mencuci lambung, dan memberikan cairan infus. Untuk mencegah solanin, kentang sebaiknya disimpan dalam tempat gelap, dimasak pada suhu tinggi, dan menghindari konsumsi kentang yang berkecambah dan berwarna hijau di bawah kulit.


Disadur dari: https://en.wikipedia.org/wiki/Potato