Pengomposan: Panduan Komprehensif untuk Pengelolaan Sampah Organik dan Perbaikan Tanah (Part 2)

Dipublikasikan oleh Dias Perdana Putra

02 April 2024, 11.27

pexels.com

Kompos

Kompos merupakan hasil penguraian parsial atau tidak lengkap dari campuran bahan organik yang dapat dipercepat oleh populasi berbagai macam mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembap, dan aerobik atau anaerobik. Proses pengomposan adalah proses di mana bahan organik mengalami penguraian secara biologis oleh mikroba yang memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi. Pembuatan kompos melibatkan pengaturan dan pengendalian proses alami tersebut agar kompos dapat terbentuk lebih cepat. Hal ini meliputi pencampuran bahan yang seimbang, penyediaan air yang cukup, pengaturan aerasi, dan penambahan aktivator pengomposan. Kompos dapat digunakan sebagai mulsa organik atau bahan penutup permukaan lahan, serta dapat mengandung atau menjadi humus setelah terurai.

Sampah terdiri dari dua bagian, yaitu bagian organik dan anorganik. Rata-rata persentase bahan organik dalam sampah mencapai sekitar 80%, sehingga pengomposan menjadi alternatif penanganan yang sesuai. Kompos memiliki potensi besar untuk dikembangkan mengingat jumlah sampah organik yang terus meningkat dan menyebabkan polusi bau serta pelepasan gas metana ke udara. DKI Jakarta, misalnya, menghasilkan sekitar 6000 ton sampah setiap harinya, di mana sekitar 65% nya adalah sampah organik. Dari jumlah tersebut, sekitar 1400 ton dihasilkan oleh pasar-pasar di Jakarta, di mana sebagian besar adalah sampah organik. Melihat besarnya jumlah sampah organik yang dihasilkan oleh masyarakat, terdapat potensi besar untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk organik demi menjaga kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.

Kompos dari sampah dedaunan 

Kompos dari sampah dedaunan

Kompos dari jerami padi

Pendahuluan

Secara alami, bahan organik akan mengalami penguraian di alam dengan bantuan mikroba dan biota tanah lainnya. Namun, proses pengomposan alami tersebut berlangsung lambat. Untuk mempercepat proses ini, telah dikembangkan berbagai teknologi pengomposan, mulai dari yang sederhana hingga tingkat tinggi. Prinsip pengembangan teknologi pengomposan didasarkan pada proses penguraian bahan organik yang terjadi secara alami, yang kemudian dioptimalkan untuk berjalan lebih cepat dan efisien.

Teknologi pengomposan saat ini menjadi sangat penting dalam mengatasi masalah limbah organik, termasuk masalah sampah di kota-kota besar, limbah organik industri, serta limbah pertanian dan perkebunan.

Ada berbagai macam teknologi pengomposan, baik secara aerobik maupun anaerobik, dengan atau tanpa penggunaan aktivator pengomposan. Aktivator pengomposan yang umum digunakan antara lain PROMI (Promoting Microbes), OrgaDec, SuperDec, ActiComp, BioPos, EM4, Green Phoskko Organic Decomposer, dan SUPERFARM (Effective Microorganism), atau menggunakan cacing untuk membuat vermicompost. Setiap aktivator memiliki keunggulan dan karakteristiknya sendiri.

Pengomposan secara aerobik paling umum digunakan karena mudah dan murah untuk dilakukan, serta tidak membutuhkan kontrol proses yang terlalu rumit. Proses dekomposisi bahan dilakukan oleh mikroorganisme di dalam bahan itu sendiri dengan bantuan udara. Sedangkan pengomposan secara anaerobik memanfaatkan mikroorganisme yang tidak memerlukan udara dalam mendegradasi bahan organik.

Hasil akhir dari pengomposan ini sangat dibutuhkan untuk keperluan tanah pertanian, karena dapat membantu memperbaiki sifat kimia, fisika, dan biologi tanah, sehingga produksi tanaman meningkat. Kompos yang dihasilkan dapat digunakan untuk berbagai keperluan seperti memperkuat struktur lahan, mengemburkan tanah pertanian, sebagai penutup sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), reklamasi pantai pasca penambangan, sebagai media tanaman, serta mengurangi penggunaan pupuk kimia.

Bahan baku pengomposan dapat berupa semua material yang mengandung karbon dan nitrogen, seperti kotoran hewan, sampah hijauan, sampah kota, lumpur cair, dan limbah industri pertanian. Berbagai bahan tersebut dapat dijadikan bahan baku untuk proses pengomposan.

Jenis-jenis kompos

Kompos cacing (vermicompost) adalah jenis kompos yang dihasilkan dari proses pencernaan bahan organik oleh cacing. Pupuk ini terdiri dari kotoran cacing yang mengandung nutrisi yang bermanfaat untuk tanaman.

Kompos bagase merupakan pupuk organik yang dibuat dari ampas tebu, yaitu sisa penggilingan tebu di pabrik gula. Ampas tebu ini kemudian diolah menjadi pupuk yang kaya akan nutrisi yang baik untuk tanaman.

Kompos bokashi adalah jenis pupuk organik yang dibuat melalui proses fermentasi anaerobik. Bahan-bahan organik seperti sisa makanan, daun, atau jerami dicampur dengan mikroorganisme yang menghasilkan fermentasi. Hasil fermentasi ini kemudian digunakan sebagai pupuk organik untuk tanaman.

Manfaat Kompos

Kompos memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas tanah. Dengan meningkatkan kandungan bahan organik, kompos membantu memperbaiki struktur tanah dan meningkatkan kemampuan tanah untuk menyimpan air. Selain itu, kehadiran kompos juga merangsang aktivitas mikroba tanah yang bermanfaat bagi tanaman. Aktivitas mikroba ini membantu tanaman menyerap unsur hara dan melawan serangan penyakit. Tanaman yang dipupuk dengan kompos cenderung memiliki kualitas yang lebih baik daripada yang dipupuk dengan pupuk kimia. Hasil panen lebih tahan disimpan, lebih berat, lebih segar, dan lebih enak.

Kompos memiliki banyak manfaat yang ditinjau dari beberapa aspek:

Aspek Ekonomi:

  • Menghemat biaya untuk transportasi dan penimbunan limbah
  • Mengurangi volume/ukuran limbah
  • Memiliki nilai jual yang lebih tinggi daripada bahan asalnya

Aspek Lingkungan:

  • Mengurangi polusi udara karena pembakaran limbah
  • Mengurangi kebutuhan lahan untuk penimbunan

Aspek bagi tanah/tanaman:

  • Meningkatkan kesuburan tanah
  • Memperbaiki struktur dan karakteristik tanah
  • Meningkatkan kapasitas penyerapan air oleh tanah
  • Meningkatkan aktivitas mikrob tanah
  • Meningkatkan kualitas hasil panen (rasa, nilai gizi, dan jumlah panen)
  • Menyediakan hormon dan vitamin bagi tanaman
  • Menekan pertumbuhan/serangan penyakit tanaman
  • Meningkatkan retensi/ketersediaan hara di dalam tanah

Peran bahan organik dalam tanah sangat penting karena dapat memengaruhi sifat fisik, biologis, dan kimia tanah. Secara fisik, bahan organik merangsang granulasi, meningkatkan aerasi tanah, dan memperbaiki kemampuan menahan air. Di sisi biologis, bahan organik meningkatkan aktivitas mikroorganisme yang berperan dalam fiksasi nitrogen dan transfer hara seperti nitrogen, fosfor, dan sulfur. Sementara itu, secara kimia, bahan organik meningkatkan kapasitas tukar kation yang memengaruhi serapan hara oleh tanaman.

Studi-studi telah menunjukkan manfaat kompos bagi tanah dan pertumbuhan tanaman. Sebagai contoh, penelitian oleh Abdurohim (2008) menemukan bahwa kompos dapat meningkatkan kadar kalium dalam tanah lebih baik daripada pupuk NPK, sementara kadar fosfor tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan. Ini berdampak positif pada pertumbuhan tanaman tertentu seperti caisin (Brassica oleracea).

Penelitian lain oleh Handayani (2009) menunjukkan bahwa pupuk cacing (vermicompost) memberikan hasil pertumbuhan yang baik pada bibit Salam (Eugenia polyantha Wight) pada media tanam subsoil. Penambahan pupuk anorganik tidak memberikan efek yang signifikan pada pertumbuhan bibit, karena media tanam subsoil memiliki pH rendah sehingga penyerapan hara tidak optimal. Penggunaan kompos bagase pada tanaman tebu juga meningkatkan penyerapan nitrogen secara signifikan, meskipun tidak ada peningkatan yang signifikan pada penyerapan fosfor, kalium, dan sulfur. Namun, kombinasi kompos bagase dengan pupuk anorganik tidak meningkatkan pertumbuhan tanaman secara keseluruhan.

Dasar-dasar Pengomposan

Bahan-bahan yang Dapat Dikomposkan

Dalam prinsipnya, semua bahan organik padat dapat diolah menjadi kompos, seperti limbah rumah tangga, sampah pasar/kota, kertas, limbah peternakan, limbah pertanian, limbah agroindustri, limbah pabrik kertas, limbah pabrik gula, dan limbah pabrik kelapa sawit. Namun, beberapa bahan organik seperti tulang, tanduk, dan rambut sulit untuk dikomposkan. Efisiensi waktu dalam pembuatan kompos dinilai dari rasio karbon dan nitrogen di dalam bahan organik tersebut. Bahan organik dengan rasio C/N yang optimal, seperti ampas tebu dan kotoran ternak, memiliki waktu dekomposisi yang lebih singkat. Sebagai contoh, dalam penelitian Sinaga dkk. (2010), bahan organik dengan rasio C/N sebesar 35,68 dan kandungan air 50,37% memiliki waktu dekomposisi terpendek hanya dalam 28 hari.

Proses Pengomposan

Proses pengomposan dimulai segera setelah pencampuran bahan mentah. Secara umum, proses ini dapat dibagi menjadi dua tahap: tahap aktif dan tahap pematangan. Pada tahap awal, oksigen dan senyawa-senyawa yang mudah terdegradasi akan segera dimanfaatkan oleh mikrob mesofilik, menyebabkan suhu tumpukan kompos meningkat dengan cepat. Ini juga diikuti oleh peningkatan pH kompos. Suhu bisa mencapai 50 - 70 °C dan tetap tinggi selama beberapa waktu. Mikrob yang aktif pada tahap ini adalah mikrob termofilik, yang bekerja pada suhu tinggi. Pada saat ini, terjadi dekomposisi intensif bahan organik oleh mikrob, menghasilkan CO2, uap air, dan panas. Ketika sebagian besar bahan telah terurai, suhu akan mulai menurun secara bertahap. Ini menandai awal dari tahap pematangan kompos, di mana terjadi pembentukan kompleks humus. Selama proses ini, volume dan biomassa bahan akan menyusut, dengan penurunan volume hingga 30 – 40% dari volume atau bobot awal bahan.

Skema Proses Pengomposan Aerobik

Proses pengomposan dapat terjadi secara aerobik (menggunakan oksigen) atau anaerobik (tanpa oksigen). Penjelasan sebelumnya mengenai proses pengomposan mengacu pada proses aerobik, di mana mikroba menggunakan oksigen untuk mendekomposisi bahan organik. Namun, terdapat juga proses anaerobik di mana dekomposisi terjadi tanpa menggunakan oksigen. Namun, proses ini tidak diinginkan karena dapat menghasilkan bau yang tidak sedap. Proses anaerobik menghasilkan senyawa-senyawa berbau tidak sedap seperti asam organik (seperti asam asetat, asam butirat, asam valerat, putresin), amonia, dan H2S.

Gambar profil suhu dan populasi mikrob selama proses pengomposan

Tabel organisme yang terlibat dalam proses pengomposan

Proses pengomposan tergantung pada:

  • Karakteristik bahan yang dikomposkan
  • Aktivator pengomposan yang dipergunakan
  • Metode pengomposan yang dilakukan

Faktor yang memengaruhi proses Pengomposan

Setiap organisme yang terlibat dalam pendegradasi bahan organik memiliki kebutuhan yang berbeda-beda terkait kondisi lingkungan dan jenis bahan organik yang diuraikan. Jika kondisinya sesuai, maka organisme tersebut akan aktif dalam mendekomposisi limbah organik. Namun, jika kondisinya tidak sesuai, organisme tersebut bisa menjadi tidak aktif, beralih ke lingkungan lain, atau bahkan mati. Oleh karena itu, menciptakan kondisi lingkungan yang optimal sangat penting untuk memastikan keberhasilan proses pengomposan.

Faktor-faktor yang memperngaruhi proses pengomposan antara lain:

Rasio C/N

Rasio C/N yang efektif untuk proses pengomposan biasanya berkisar antara 30:1 hingga 40:1. Mikroorganisme memecah senyawa karbon sebagai sumber energi dan menggunakan nitrogen untuk sintesis protein. Dalam rentang rasio C/N antara 30 hingga 40, mikroorganisme memperoleh cukup karbon untuk energi dan nitrogen untuk sintesis protein. Namun, jika rasio C/N terlalu tinggi, mikroorganisme akan kekurangan nitrogen untuk sintesis protein, yang dapat mengakibatkan proses dekomposisi berjalan lambat.

Masalah umum dalam pengomposan terjadi ketika rasio C/N terlalu tinggi, terutama jika bahan baku utamanya adalah bahan yang mengandung banyak kayu (seperti sisa gergaji kayu, ranting, atau ampas tebu). Untuk menurunkan rasio C/N, diperlukan perlakuan khusus, seperti penambahan mikroorganisme selulotik atau kotoran hewan, karena kotoran hewan mengandung banyak senyawa nitrogen.

Ukuran Partikel

Aktivitas mikroorganisme terjadi di antara permukaan area dan udara. Semakin luas permukaan area, semakin meningkat kontak antara mikroorganisme dengan bahan organik, sehingga proses dekomposisi berlangsung lebih cepat. Ukuran partikel juga mempengaruhi porositas bahan, yang merupakan ruang antar partikel. Untuk meningkatkan luas permukaan, dapat dilakukan dengan mengurangi ukuran partikel bahan organik tersebut.

Aerasi

Pengomposan yang cepat terjadi dalam kondisi yang memiliki cukup oksigen (aerob). Aerasi, atau sirkulasi udara, secara alami terjadi saat suhu meningkat, menyebabkan udara hangat keluar dan udara yang lebih dingin masuk ke dalam tumpukan kompos. Tingkat aerasi dipengaruhi oleh porositas dan kelembapan bahan. Jika aerasi terhambat, maka proses anaerobik dapat terjadi, menghasilkan bau yang tidak sedap. Untuk meningkatkan aerasi, bisa dilakukan dengan melakukan pembalikan tumpukan kompos atau mengalirkan udara di dalamnya.

Porositas

Porositas adalah ruang di antara partikel di dalam tumpukan kompos. Untuk menghitung porositas, kita membagi volume rongga dengan volume total. Rongga-rongga ini biasanya diisi oleh air dan udara. Udara dari rongga-rongga ini menyediakan oksigen yang diperlukan untuk proses pengomposan. Namun, jika rongga-rongga terisi penuh oleh air, pasokan oksigen akan berkurang, mengganggu proses pengomposan.

Kelembaban (Moisture content)

Kelembapan memainkan peran penting dalam proses metabolisme mikroba dan secara tidak langsung mempengaruhi pasokan oksigen. Mikroba dapat menggunakan bahan organik jika bahan organik tersebut larut dalam air. Kadar kelembapan optimal untuk metabolisme mikroba biasanya berada dalam kisaran 40 hingga 60 persen. Jika kelembapan turun di bawah 40 persen, aktivitas mikroba akan menurun, dan bahkan lebih rendah lagi pada kelembapan di bawah 15 persen. Namun, jika kelembapan melebihi 60 persen, nutrien dapat tercuci, volume udara berkurang, dan akibatnya aktivitas mikroba menurun. Hal ini juga dapat menyebabkan fermentasi anaerobik yang menghasilkan bau yang tidak sedap.

Temperatur/suhu

Panas dihasilkan oleh aktivitas mikroba dalam proses pengomposan. Ada kaitan langsung antara peningkatan suhu dengan konsumsi oksigen. Semakin tinggi suhu, semakin banyak oksigen yang dikonsumsi, dan semakin cepat proses dekomposisi berlangsung. Suhu tumpukan kompos dapat meningkat dengan cepat. Ketika suhu berada dalam kisaran 30 hingga 60°C, itu menandakan bahwa pengomposan berlangsung dengan cepat. Namun, suhu yang melebihi 60°C dapat membunuh sebagian besar mikroba, meninggalkan hanya mikroba thermofilik yang tetap hidup. Suhu tinggi juga dapat membunuh patogen tanaman dan benih gulma.

pH

Proses pengomposan dapat berlangsung dalam rentang pH yang luas. pH optimal untuk pengomposan berkisar antara 6.5 hingga 7.5. pH kotoran ternak biasanya berada antara 6.8 hingga 7.4. Selama proses pengomposan, terjadi perubahan pada bahan organik dan pHnya. Misalnya, pelepasan asam secara temporer atau lokal dapat menurunkan pH (pengasaman), sementara produksi amonia dari senyawa nitrogen dapat meningkatkan pH pada tahap awal pengomposan. pH kompos yang telah matang umumnya mendekati netral.

Kandungan Hara

Kandungan P dan K juga penting dalam proses pengomposan dan bisanya terdapat di dalam kompos-kompos dari peternakan. Hara ini akan dimanfaatkan oleh mikrob selama proses pengomposan.

Kandungan Bahan Berbahaya

Beberapa bahan organik mungkin mengandung senyawa-senyawa yang berpotensi berbahaya bagi mikrob. Contohnya, logam berat seperti Mg, Cu, Zn, Nickel, Cr termasuk dalam kategori ini. Selama proses pengomposan, logam-logam berat tersebut akan mengalami imobilisasi.

Lama pengomposan

Lama waktu yang dibutuhkan untuk proses pengomposan bervariasi tergantung pada karakteristik bahan yang dikomposkan, metode pengomposan yang digunakan, serta apakah ada penambahan aktivator pengomposan atau tidak. Secara alami, pengomposan dapat memakan waktu antara beberapa minggu hingga 2 tahun untuk mencapai tingkat kematangan yang sempurna.

Tabel Kondisi yang optimal untuk mempercepat proses pengomposan (Ryak, 1992)

Strategi Mempercepat Proses Pengomposan

Pengomposan dapat dipercepat dengan beberapa strategi. Secara umum strategi untuk mempercepat proses pengomposan dapat dikelompokan menjadi tiga, yaitu:

  • Menanipulasi kondisi/faktor-faktor yang berpengaruh pada proses pengomposan.
  • Menambahkan Organisme yang dapat mempercepat proses pengomposan: mikrob pendegradasi bahan organik dan vermikompos (cacing).
  • Menggabungkan strategi pertama dan kedua.

Memanipulasi Kondisi Pengomposan

Strtegi ini banyak dilakukan di awal-awal berkembangnya teknologi pengomposan. Kondisi atau faktor-faktor pengomposan dibuat seoptimum mungkin. Sebagai contoh, rasio C/N yang optimum adalah 25-35:1. Untuk membuat kondisi ini bahan-bahan yang mengandung rasio C/N tinggi dicampur dengan bahan yang mengandung rasio C/N rendah, seperti kotoran ternak. Ukuran bahan yang besar-besar dicacah sehingga ukurannya cukup kecil dan ideal untuk proses pengomposan. Bahan yang terlalu kering diberi tambahan air atau bahan yang terlalu basah dikeringkan terlebih dahulu sebelum proses pengomposan. Demikian pula untuk faktor-faktor lainnya.

Menggunakan Aktivator Pengomposan

Strategi yang lebih canggih dalam pengomposan melibatkan pemanfaatan organisme yang dapat mempercepat prosesnya. Salah satu organisme yang sering digunakan adalah cacing tanah, yang menghasilkan proses pengomposan yang disebut vermikompos, dan kompos yang dihasilkan dikenal dengan sebutan kascing. Selain itu, mikroorganisme seperti bakteri, aktinomisetes, dan jamur juga sering dimanfaatkan. Saat ini, banyak aktivator pengomposan yang tersedia di pasaran, seperti MARROS Bio-Activa, Green Phoskko (GP-1), Promi, OrgaDec, SuperDec, ActiComp, EM4, Stardec, Starbio, dan lainnya.

Beberapa aktivator seperti Promi, OrgaDec, SuperDec, dan ActiComp merupakan hasil penelitian dari Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia (BPBPI) dan telah banyak digunakan oleh masyarakat. Sementara itu, MARROS Bio-Activa dikembangkan oleh peneliti mikroba tanah dalam sebuah perusahaan swasta. Aktivator ini menggunakan mikroba terpilih yang mampu mendegradasi limbah padat organik, seperti Trichoderma pseudokoningii, Cytopaga sp, Trichoderma harzianum, Pholyota sp, Agraily sp, dan FPP (fungi pelapuk putih). Mikroba ini aktif pada suhu tinggi (termofilik). Aktivator yang dikembangkan oleh BPBPI tidak memerlukan tambahan bahan lain dan tidak memerlukan pengadukan berkala. Namun, kompos perlu ditutup untuk menjaga suhu dan kelembapan agar proses pengomposan berjalan optimal dan cepat. Dengan penggunaan aktivator ini, pengomposan dapat dipercepat hingga 2 minggu untuk bahan-bahan lunak atau mudah dikomposkan, dan hingga 2 bulan untuk bahan-bahan keras atau sulit dikomposkan.

Memanipulasi Kondisi dan Menambahkan Aktivator Pengomposan

Strategi proses pengomposan yang saat ini banyak dikembangkan adalah mengabungkan dua strategi di atas. Kondisi pengomposan dibuat seoptimal mungkin dengan menambahkan aktivator pengomposan.

Pertimbangan untuk menentukan strategi pengomposan

Seringkali tidak dapat menerapkan seluruh strategi pengomposan di atas dalam waktu yang bersamaan. Ada beberapa pertimbangan yang dapat digunakan untuk menentukan strategi pengomposan:

  • Karakteristik bahan yang akan dikomposkan.
  • Waktu yang tersedia untuk pembuatan kompos.
  • Biaya yang diperlukan dan hasil yang dapat dicapai.
  • Tingkat kesulitan pembuatan kompos

Pengomposan secara aerobik

Peralatan

Peralatan yang diperlukan dalam pengomposan secara aerobik terdiri dari peralatan untuk penanganan bahan dan perlindungan keselamatan serta kesehatan bagi pekerja. Berikut adalah beberapa peralatan yang digunakan:

  • Terowongan Udara (Saluran Udara)

  • Sekop

  • Garpu/Cangkrang

  • Saringan/Ayakan:

  • Termometer

  • Timbangan

  • Sepatu Boot

  • Sarung Tangan

  • Masker

Kompos Bahan Organik dan Kotoran Hewan

Pengomposan juga dapat menggunakan alat mesin yang lebih maju dan modern. Salah satu contohnya adalah komposter tipe Rotary Kiln, yang berfungsi memberikan asupan oksigen (intensitas aerasi), menjaga kelembapan, suhu, serta membalik bahan secara praktis. Komposter tipe Rotary Kiln ini tersedia dalam berbagai kapasitas, mulai dari 1 ton setara dengan 3 m3 bahan sampah hingga 2 ton setara dengan 6 m3 bahan sampah. Prosesnya melibatkan pembalikan bahan dan pengontrolan aerasi dengan mengayuh pedal serta memutar aerator (exhaust fan). Penggunaan komposter Biophoskko dengan aktivator kompos Green Phoskko (GP-1) telah terbukti mampu meningkatkan kerja penguraian bahan organik (dekomposisi) oleh jasad renik menjadi hanya 5 sampai 7 hari.

Tahapan pengomposan

  1. Proses pengomposan: melibatkan beberapa langkah penting untuk menghasilkan kompos yang berkualitas. Berikut adalah tahapan proses pengomposan:

  2. Pemilahan Sampah: Tahap ini penting untuk memisahkan sampah organik dari sampah anorganik. Pemisahan ini harus dilakukan secara teliti agar proses selanjutnya dapat berjalan lancar dan menghasilkan kompos yang baik.

  3. Pengecil Ukuran: Sampah organik kemudian dikecilkan ukurannya untuk memperluas permukaan, sehingga dekomposisi menjadi kompos dapat berlangsung dengan lebih cepat dan efisien.

  4. Penyusunan Tumpukan: Bahan organik yang telah dipilah dan dikecilkan ukurannya disusun menjadi tumpukan. Desain penumpukan yang umum adalah memanjang dengan ukuran panjang x lebar x tinggi tertentu. Tiap tumpukan dapat dilengkapi dengan terowongan bambu untuk mengalirkan udara di dalamnya.

  5. Pembalikan: Tahap ini dilakukan untuk mengurangi panas berlebih, memasukkan udara segar ke dalam tumpukan, meratakan proses dekomposisi, dan membantu penghancuran bahan menjadi partikel kecil. Pembalikan juga membantu dalam meratakan pemberian air ke tumpukan.

  6. Penyiraman: Dilakukan terhadap bahan atau tumpukan yang terlalu kering (kelembapan kurang dari 50%). Penyiraman bisa dilakukan secara manual dengan mengompres segenggam bahan dari dalam tumpukan. Jika setelah ditekan tidak keluar air, maka tumpukan perlu ditambahkan air.

  7. Pematangan: Setelah sekitar 30–40 hari, suhu tumpukan akan mulai menurun hingga mendekati suhu ruangan. Pada tahap ini, tumpukan telah lapuk dan berwarna coklat tua atau kehitaman. Kompos memasuki tahap pematangan selama sekitar 14 hari.

  8. Penyaringan: Dilakukan untuk mendapatkan ukuran partikel kompos yang sesuai dengan kebutuhan dan untuk memisahkan bahan yang tidak dapat dikomposkan. Bahan yang belum terkomposkan dikembalikan ke dalam tumpukan baru, sedangkan yang tidak terkomposkan dibuang sebagai residu.

  9. Pengemasan dan Penyimpanan: Kompos yang telah disaring dikemas sesuai dengan kebutuhan pemasaran. Kemudian disimpan dalam gudang yang aman dan terlindung dari kemungkinan pertumbuhan jamur serta tercemar oleh bibit gulma dan benih lain yang tidak diinginkan yang mungkin terbawa oleh angin.

Kontrol proses produksi kompos

  • Proses pengomposan membutuhkan pengendalian agar memperoleh hasil yang baik.
  • Kondisi ideal bagi proses pengomposan berupa keadaan lingkungan atau habitat di mana jasad renik (mikroorganisme) dapat hidup dan berkembang biak dengan optimal.
  • Jasad renik membutuhkan air, udara (O2), dan makanan berupa bahan organik dari sampah untuk menghasilkan energi dan tumbuh.

Proses pengontrolan

Proses pengontrolan yang harus dilakukan terhadap tumpukan sampah adalah:

  • Monitoring Temperatur Tumpukan
  • Monitoring Kelembapan
  • Monitoring Oksigen
  • Monitoring Kecukupan C/N Ratio
  • Monitoring Volume

Mutu kompos

Kompos yang berkualitas adalah kompos yang telah terdekomposisi dengan baik dan tidak menimbulkan dampak negatif bagi pertumbuhan tanaman. Penggunaan kompos yang belum matang dapat menghambat pertumbuhan tanaman karena terjadi persaingan nutrisi antara tanaman dan mikroorganisme tanah.

Kompos yang baik memiliki beberapa ciri yang dapat dikenali, antara lain:

  1. Warna: Biasanya berwarna coklat tua hingga hitam, menyerupai warna tanah.

  2. Kelarutan: Tidak larut dalam air, meskipun sebagian kompos dapat membentuk suspensi.

  3. Rasio C/N: Memiliki rasio C/N sekitar 10–20, tergantung pada bahan baku dan tingkat humifikasi.

  4. Efektivitas: Memberikan efek baik ketika diaplikasikan pada tanah, mendukung pertumbuhan tanaman.

  5. Suhu: Suhunya sekitar sama dengan suhu lingkungan.

  6. Bau: Tidak berbau yang tidak sedap.

Dengan memperhatikan ciri-ciri tersebut, dapat dipastikan bahwa kompos yang digunakan akan memberikan manfaat yang optimal bagi tanaman dan lingkungan.

Disadur dari: https://id.wikipedia.org/wiki/Kompos