Mengenal Apa itu Pencemaran Udara Beserta Sumbernya

Dipublikasikan oleh Dias Perdana Putra

25 Maret 2024, 16.51

Polusi udara dari oven kokas (wikipedia.en)

Pencemaran udara

Pencemaran udara adalah kondisi di mana atmosfer tercemar oleh zat-zat yang disebut polutan, yang dapat membahayakan kesehatan manusia, makhluk hidup lainnya, serta menyebabkan kerusakan pada iklim dan material. Polutan udara dapat berupa gas (seperti amonia, karbon monoksida, sulfur dioksida, dinitrogen oksida, metana, dan klorofluorokarbon), partikulat (baik organik maupun anorganik), dan molekul biologis. Polusi udara dapat menyebabkan berbagai penyakit pada manusia, seperti infeksi saluran pernapasan, penyakit jantung, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), stroke, dan kanker paru-paru.

Paparan polusi udara juga dapat berdampak pada gangguan kognitif, penurunan skor IQ, depresi, serta dapat merugikan kesehatan perinatal. Dampak buruk kualitas udara pada kesehatan manusia terutama terjadi pada sistem pernapasan dan kardiovaskular. Reaksi individu terhadap polusi udara bergantung pada jenis polutan yang terpapar, tingkat paparan, status kesehatan, dan faktor genetika individu.

Polusi udara luar ruangan, khususnya yang disebabkan oleh pembakaran bahan bakar fosil, menjadi penyebab signifikan kematian manusia setiap tahunnya. Secara global, polusi udara menyebabkan sekitar 7 juta kematian setiap tahunnya dan merupakan salah satu risiko kesehatan lingkungan terbesar di dunia. Polusi udara dalam ruangan dan kualitas udara perkotaan yang buruk juga dianggap sebagai dua masalah polusi terburuk di dunia.

Dampak ekonomi dari polusi udara juga signifikan, dengan perkiraan kerugian sebesar $5 triliun per tahun bagi perekonomian dunia. Berbagai teknologi dan strategi pengendalian polusi telah dikembangkan untuk mengurangi dampak negatifnya, dan undang-undang serta peraturan internasional dan nasional telah diterapkan untuk membatasi pelepasan polutan udara. Meskipun demikian, penanganan masalah polusi udara masih dianggap kurang memadai atau diabaikan dalam beberapa kasus.

Sumber polusi udara

Sumber-sumber polusi udara dapat berasal dari aktivitas manusia (antropogenik) maupun proses alami. Sumber antropogenik meliputi pembangkit listrik berbahan bakar fosil dan biomassa, lokasi minyak dan gas yang mengalami kebocoran metana, pembakaran biomassa tradisional seperti kayu, limbah tanaman, dan kotoran, fasilitas manufaktur, kendaraan bermotor, serta strategi pengelolaan pertanian dan hutan menggunakan pembakaran terkendali.

Selain itu, terdapat sumber polusi udara dari proses selain pembakaran, seperti emisi dari cat, hair spray, pernis, dan semprotan aerosol lainnya. Endapan sampah di tempat pembuangan sampah juga menghasilkan metana, dan senjata nuklir, gas beracun, perang kuman, dan peroketan merupakan contoh sumber daya militer yang berkontribusi terhadap polusi udara. Emisi dari produksi daging atau peternakan juga dapat berkontribusi besar terhadap polusi udara, bersama dengan emisi pertanian dan lahan pertanian yang dipupuk.

Sementara itu, sumber polusi udara alami meliputi debu dari lahan luas tanpa vegetasi, metana yang dikeluarkan oleh hewan melalui pencernaan makanan, gas radon dari peluruhan radioaktif di kerak bumi, asap dan karbon monoksida dari kebakaran hutan, serta produksi senyawa organik volatil (VOC) oleh vegetasi pada hari-hari hangat. Aktivitas vulkanik juga dapat menjadi sumber polusi udara alami dengan menghasilkan partikulat belerang, klorin, dan abu.

Faktor emisi

Faktor emisi polutan udara adalah nilai yang digunakan untuk menghubungkan jumlah polutan yang dilepaskan ke udara dengan aktivitas yang menyebabkan pelepasan polutan tersebut. Biasanya, berat polutan dibagi dengan satuan berat, volume, jarak, atau waktu aktivitas yang menghasilkan polutan. Contohnya, bisa dalam bentuk kilogram partikulat yang diemisikan per ton batubara yang terbakar. Dengan kriteria ini, estimasi emisi dari berbagai sumber polusi menjadi lebih mudah. Biasanya, komponen-komponen ini adalah rata-rata dari semua data yang tersedia dengan kualitas yang dapat diterima, dan dianggap sebagai rata-rata jangka panjang.

Di antara 12 senyawa dalam daftar polutan organik persisten, dioksin dan furan adalah dua di antaranya yang sengaja diciptakan melalui pembakaran bahan organik, seperti pembakaran plastik secara terbuka. Senyawa ini juga dikenal sebagai pengganggu endokrin dan dapat mengubah gen manusia.

Polutan

Polutan udara adalah zat-zat dalam udara yang dapat memiliki dampak besar terhadap manusia dan ekosistem. Zat-zat ini bisa berupa partikel padat, tetesan cair, atau gas, dan sering kali tersebar dalam bentuk aerosol, yakni partikel padat atau tetesan cair yang terbawa oleh gas. Polutan bisa berasal dari alam atau hasil kegiatan manusia. Mereka dibagi menjadi dua kategori utama: primer dan sekunder. Polutan primer biasanya dihasilkan secara langsung dari proses alami atau kegiatan manusia, seperti debu dari letusan gunung berapi atau gas karbon monoksida dari knalpot kendaraan. Sementara itu, polutan sekunder terbentuk di udara ketika polutan primer bereaksi atau berinteraksi, contohnya adalah ozon di permukaan tanah. Ada juga polutan yang bersifat primer dan sekunder, yang berarti mereka bisa dihasilkan secara langsung maupun terbentuk dari polutan primer lainnya.

Polutan primer

Polutan udara yang dihasilkan oleh aktivitas manusia memiliki berbagai macam jenis, termasuk:

Berbagai jenis polutan udara yang dihasilkan oleh aktivitas manusia memiliki karakteristik dan dampak yang berbeda-beda. Amonia, misalnya, merupakan gas dengan bau menyengat yang utamanya dihasilkan oleh limbah pertanian, meskipun memiliki peran penting sebagai nutrisi bagi tanaman, namun juga bersifat berbahaya dan kaustik. Gas CO2, yang dikeluarkan terutama dari pembakaran bahan bakar fosil, penting bagi kehidupan tanaman tetapi juga menjadi penyebab utama pemanasan global, dengan potensi dampak negatifnya pada kesehatan manusia dan lingkungan. Di sisi lain, karbon monoksida (CO) adalah gas beracun yang dihasilkan oleh pembakaran bahan bakar, sementara nitrogen oksida (NOx) dapat menyebabkan masalah pernapasan dan polusi udara di kota-kota. Materi partikulat seperti debu dari gunung berapi dan emisi kendaraan bermotor dapat menyebabkan penyakit jantung dan gangguan pernapasan. Senyawa organik persisten, radikal bebas, dan polutan radioaktif merupakan contoh lain dari polutan udara yang dapat menyebabkan ancaman serius bagi kesehatan manusia dan ekosistem. Semua ini menunjukkan pentingnya kesadaran akan dampak polusi udara dan upaya bersama untuk menguranginya demi kesehatan dan kelestarian lingkungan.

Polutan sekunder

Ozon di permukaan tanah (O3) adalah salah satu polutan yang terbentuk ketika NOx dan VOC bereaksi. Ozon ini merupakan bagian penting dari lapisan troposfer dan juga lapisan ozon di stratosfer. Reaksi fotokimia dan kimia yang melibatkan ozon mempengaruhi banyak aktivitas kimia di atmosfer, baik pada siang maupun malam hari. Polutan ini dihasilkan dalam jumlah besar oleh aktivitas manusia, terutama dari pembakaran bahan bakar fosil. Selain itu, peroksiasetil nitrat (C2H3NO5) juga terbentuk serupa dari NOx dan VOC.

Kabut asap fotokimia merupakan partikel yang terbentuk dari campuran gas kontaminan primer dan bahan kimia lainnya. Asap adalah salah satu jenis polusi atmosfer yang dapat dihasilkan oleh pembakaran batu bara dalam jumlah besar, serta oleh emisi otomotif dan industri. Di atmosfer, asap ini dipengaruhi oleh sinar UV dari matahari, yang menghasilkan polutan sekunder yang kemudian bergabung dengan emisi primer untuk membentuk kabut asap fotokimia. Dengan demikian, ozon dan kabut asap fotokimia merupakan contoh lain dari polutan udara yang dihasilkan oleh aktivitas manusia dan memiliki dampak yang signifikan pada kualitas udara dan kesehatan manusia.

Polutan lainnya 

Banyak bahan kimia lain yang termasuk dalam kategori polutan udara berbahaya. Di Amerika Serikat, beberapa dari mereka diatur berdasarkan Undang-Undang Udara Bersih, sementara di Eropa, regulasi mereka didasarkan pada berbagai arahan, termasuk Petunjuk "Kerangka Kerja" Udara, 96/62/EC, yang menangani penilaian dan pengelolaan kualitas udara ambien. Selain itu, Petunjuk 98/24/EC mengatur risiko terkait dengan bahan kimia di tempat kerja, sedangkan Petunjuk 2004/107/EC mencakup logam berat dan hidrokarbon aromatik polisiklik di udara sekitar. Melalui regulasi ini, upaya dilakukan untuk mengendalikan dan mengurangi paparan terhadap bahan kimia berbahaya tersebut, sehingga melindungi kesehatan manusia dan lingkungan dari dampak negatifnya.

Paparan

Risiko pencemaran udara ditentukan oleh dua faktor utama: bahaya polutan dan jumlah paparan polutan tersebut. Paparan polusi udara bisa diukur untuk individu, kelompok tertentu, atau keseluruhan populasi. Sebagai contoh, jika kita ingin mengetahui seberapa banyak suatu wilayah terpapar oleh polusi udara yang berbahaya, kita harus mempertimbangkan berbagai faktor seperti lingkungan mikro dan kelompok umur. Paparan ini, yang sering dihitung sebagai paparan inhalasi, mencakup paparan harian di berbagai lingkungan, baik dalam ruangan maupun luar ruangan, dengan memperhitungkan faktor-faktor seperti usia dan kondisi fisik. Misalnya, paparan anak-anak dan orang dewasa dapat berbeda karena kecepatan pernapasan yang berbeda.

Paparan juga bisa bervariasi tergantung pada aktivitas yang dilakukan, seperti berada di lalu lintas atau di rumah. Kadang-kadang, paparan polutan tertentu seperti karbon hitam bisa didominasi oleh paparan dari lalu lintas, bahkan jika paparan tersebut singkat karena konsentrasinya tinggi di sekitar jalan-jalan utama. Sebagian besar paparan harian terjadi dalam waktu singkat dengan konsentrasi tinggi, namun dampak kesehatannya masih belum sepenuhnya dipahami. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah merevisi pedoman mereka untuk menetapkan tingkat paparan yang aman terhadap polusi udara, mengakui bahwa bahkan paparan rendah dapat merugikan kesehatan manusia. Ini menunjukkan perlunya langkah-langkah lebih lanjut untuk melindungi masyarakat dari dampak negatif polusi udara.

Kualitas udara dalam ruangan

Kurangnya ventilasi dalam ruangan dapat menyebabkan penumpukan polusi udara di tempat-tempat di mana orang menghabiskan sebagian besar waktunya. Gas radon, yang merupakan karsinogen, dapat dilepaskan dari tanah dan terperangkap di dalam rumah. Bahan bangunan seperti karpet dan kayu lapis dapat melepaskan gas formaldehida. Selain itu, cat dan pelarut juga dapat melepaskan senyawa organik yang mudah menguap saat mengering. Penggunaan pengharum ruangan, dupa, dan barang beraroma lainnya juga dapat menyebabkan polusi udara di dalam ruangan.

Kebakaran kayu yang terkendali di dalam ruangan dapat menambahkan jumlah partikulat asap yang berbahaya ke udara. Penggunaan pestisida dan semprotan kimia lainnya di dalam ruangan tanpa ventilasi yang memadai juga dapat menyebabkan kematian akibat polusi dalam ruangan. Keracunan karbon monoksida dan kematian sering kali disebabkan oleh kerusakan ventilasi atau pembakaran arang di dalam ruangan yang kurang terkendali. Meskipun penggunaannya telah dilarang di banyak negara, penggunaan asbes di masa lalu meninggalkan potensi bahaya di banyak daerah. Asbestosis, yang merupakan kondisi medis inflamasi kronis yang mempengaruhi jaringan paru-paru, dapat terjadi setelah paparan asbes dalam jangka panjang dan berat. Sumber biologis polusi udara juga ditemukan di dalam ruangan, termasuk bulu hewan peliharaan, debu dari serpihan kulit manusia, tungau debu di tempat tidur, dan enzim serta kotoran dari karpet dan furnitur. Di dalam ruangan, kurangnya sirkulasi udara juga dapat menyebabkan penumpukan polutan yang terbawa oleh udara lebih banyak daripada yang terjadi di luar ruangan.

Disadur dari: https://en.wikipedia.org/wiki/Air_pollution