Fenomena "Asap" Pesawat yang Kerap Dihubungkan dengan Teori Konspirasi Senjata Biologis Chemtrail

Dipublikasikan oleh Dias Perdana Putra

03 April 2024, 08.56

Sumber: www.shutterstock.com

Fenomena contrail atau jejak kondensasi yang menyerupai "asap" dari pesawat sering kali dihubungkan dengan teori mengenai chemtrail (jejak zat kimia) di langit. Contrail, khususnya yang ditinggalkan oleh pesawat tempur, belakangan banyak dibicarakan sebagai potensi chemtrail. Chemtrail merupakan teori yang menyatakan bahwa pemerintah atau pihak tertentu sengaja menyebarkan zat kimia beracun ke atmosfer dari pesawat, dengan beberapa spekulasi bahwa ini bisa berupa jejak senjata biologis untuk berbagai tujuan, termasuk penyebaran virus dan pengendalian populasi.

Kepala Sub Bidang Layanan Informasi Penerbangan BMKG, Ismanto Heri, menegaskan bahwa informasi mengenai chemtrail masih belum terbukti kebenarannya. Menurutnya, jejak asap putih yang sering terlihat di langit adalah contrail atau jejak kondensasi pesawat terbang. Contrail terbentuk karena pengembunan udara dari asap pesawat yang mengandung uap air, yang kemudian mengalami kondensasi akibat suhu udara atmosfer yang rendah sehingga membentuk jejak di belakang pesawat. Ismanto menegaskan bahwa tidak ada bukti kuat mengenai keberadaan chemtrail di Indonesia.

Ismanto juga menjelaskan bahwa ada perbedaan yang dapat dilihat dengan jelas apabila zat kimia dilepaskan dari pesawat. Secara umum, jejak bahan kimia yang dilepaskan dengan sengaja memiliki karakteristik yang berbeda dari contrail, baik dalam sebaran maupun warna. Melansir pemberitaan pada Juli 2011, teori chemtrail sudah dikenal sejak tahun 1996 dan sering kali dikaitkan dengan teori konspirasi, termasuk di Amerika Serikat.

Di Indonesia, teori konspirasi mengenai chemtrail telah menjadi topik yang banyak diperbincangkan, terutama melalui media sosial. Berbagai klaim yang tidak berdasar sering kali tersebar dengan cepat, seperti dalam kasus video viral pada Juli 2021 yang menunjukkan jejak chemtrail di beberapa daerah. Meskipun pemerintah telah menepis klaim tersebut, isu chemtrail kembali mencuat belakangan ini melalui sebuah video yang juga viral di media sosial, namun tetap dibantah oleh pihak berwenang.

Dalam konteks ini, penting untuk diingat bahwa meskipun teori mengenai chemtrail menarik minat banyak orang, keberadaan bukti yang dapat mendukung klaim tersebut masih belum ditemukan secara luas. Penjelasan ilmiah yang diberikan menunjukkan bahwa jejak yang sering terlihat di langit sebenarnya adalah contrail, yang merupakan hasil dari proses alami dalam penerbangan pesawat. Dengan demikian, perlunya sikap skeptis dan kritis dalam menerima informasi terkait chemtrail menjadi semakin penting.

Melalui kasus-kasus seperti ini, munculnya teori konspirasi dan penyebaran hoaks di media sosial menjadi tantangan serius bagi pemahaman yang akurat tentang fenomena-fenomena ilmiah. Peran pemerintah dan pihak berwenang dalam menepis klaim yang tidak berdasar menjadi sangat penting untuk menghindari penyebaran informasi yang salah dan potensial merugikan masyarakat. Dengan demikian, edukasi masyarakat tentang proses ilmiah dan kritisisme terhadap informasi yang diterima menjadi kunci untuk menangani fenomena seperti chemtrail.

Disadur dari: nasional.kompas.com