Biaya Logistik di RI Mahal karena Distribusi Barang harus Gota-ganti Kapal

Dipublikasikan oleh Muhammad Farhan Fadhil

03 Maret 2022, 19.09

Gambar: KOMPAS/Bambang P. Jatmiko

Ketika pengusaha mengirim barang dari Medan ke Sorong menggunakan kapal laut, sebelum tiba di tujuan barang tersebut harus singgah dulu di sejumlah pelabuhan karena harus berganti kapal.

Beberapa pelabuhan yang harus disinggahi dan harus berganti kapal di antaranya di Tanjung Priok, lalu di Makassar ganti kapal lagi, baru kemudian tiba di Sorong.

"Kondisi inilah yang menyebabkan biaya (cost) distribusi barang jadi mahal," ujar Dirut PT Pelindo IV Prasetyadi sebagaimana dikutip dari Antara, Senin (13/9/2021).

Dia menuturkan, terintegrasinya Pelindo I-IV, akan mendorong penyederhanaan layanan angkutan barang.

Dengan demikian, distribusi barang dari Sabang hingga ke Merauke dan sebaliknya tidak perlu lagi gonta-ganti kapal ketika sandar di pelabuhan transit di wilayah Pelindo.

Hingga saat ini pelabuhan laut di Indonesia dikelola oleh PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) yang dioperasikan dengan empat perusahaan berbeda yakni Pelindo I, II, III dan IV.

Pelindo I berpusat di Medan dengan wilayah kerja Aceh, Sumatera Utara, Riau dan Kepulauan Riau. Pelindo II membawahi 10 provinsi mulai dari Sumatera Barat hingga Jawa Barat dengan 12 pelabuhan dengan kantor pusat di Jakarta.

Sedangkan Pelindo III berpusat di Surabaya dengan membawahi Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, sementara Pelido IV membawahi daerah lainnya di Indonesia bagian Timur.

Menurut Prasetyadi, integrasi kepelabuhanan ini bertujuan untuk mengembangkan konektivitas maritim, standarisasi pelayanan pelabuhan serta akan berdampak pada peningkatan kinerja dan efisiensi bagi BUMN Pelabuhan dalam berkompetisi secara global.

Prasetyadi mengatakan, integrasi Pelindo akan meningkatkan kinerja pelabuhan, konektivitas maritim dan ekonomi nasional. Sebelumnya, Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo menyatakan bahwa integrasi Pelindo menjadi suatu keharusan untuk mendorong pertumbuhan dan pemerataan ekonomi nasional.

Selama ini dengan empat perusahaan di wilayah operasi regional yang berbeda, menyulitkan BUMN merencanakan alur dan investasi yang bisa mendukung efisiensi biaya logistik nasional. Termasuk menjadi penyebab operasional pelabuhan belum terstandarisasi.

Dengan integrasi, Pelindo diyakni akan memiliki kontrol dan kendali strategis yang lebih baik dan ujung-ujungnya biaya logistik dapat ditekan.

Biaya Logistik

Selama ini biaya logistik Indonesia berkisar 23 persen atau lebih tinggi dibandingkan negara-negara lain seperti China yang hanya 15 persen dan Malaysia hanya 13 persen.

Setidaknya ada lima penyebab tingginya biaya logistik di Indonesia yakni regulasi pemerintah yang tidak kondusif, efisiensi "value chain" darat yang rendah, efisiensi "value chain" yang rendah, operasi dan infrastruktur pelabuhan tidak optimal serta suply-demand yang tidak seimbang.

Sementara saat Pelindo terintegrasi menjadi BUMN Pelabuhan ke depan dapat lebih fokus sesuai dengan lini bisnisnya yang dikelompokkan dalam klaster-klaster bisnis yakni klaster peti kemas, non peti kemas, logistik & hinterland development dan marine, equipment & port services.

Tujuan dari pengelompokan klaster-klaster bisnis ini akan meningkatkan kapabilitas dan keahlian yang akan berdampak pada peningkatan kepuasan pelanggan melalui kualitas layanan di lapangan.

Sumber Artikel: kompas.com

 

Artikel lainnya